ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan makna cerita rakyat masyarakat Dayak Bulusu di Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan cerita rakyat sebagai bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi belum banyak didokumentasikan secara ilmiah sehingga keberadaannya berpotensi mengalami kepunahan seiring perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan metode folklor dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan tokoh adat dan tetua masyarakat sebagai informan, dokumentasi, serta studi pustaka. Analisis fungsi cerita rakyat menggunakan teori William R. Bascom, sedangkan analisis makna menggunakan pemikiran Alan Dundes. Objek penelitian terdiri atas dua cerita, yaitu cerita Jadu Lawang dan Yaki Bugang serta cerita Aki Ibuk yang berkaitan dengan Gong Solok/Dagas Sebengawang. Kedua cerita tersebut tergolong mitos karena dipercaya oleh masyarakat berkaitan dengan asal-usul manusia, leluhur, dan kehidupan awal masyarakat Dayak Bulusu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Dayak Bulusu memiliki empat fungsi, yaitu sebagai sistem proyeksi, alat pengesahan pranata kebudayaan, alat pendidikan, dan alat pengawas norma sosial. Selain itu, ditemukan empat makna yang terkandung dalam cerita, yaitu makna moral, sosial, budaya, dan spiritual. Dengan demikian, cerita rakyat Dayak Bulusu tidak hanya berfungsi sebagai warisan lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai, penguatan identitas budaya, dan pendidikan karakter bagi generasi muda. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam mendokumentasikan dan melestarikan sastra lisan masyarakat Dayak Bulusu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
WISLIANTO, 2026* Prosesi ritual adat kematian suku Dayak Agabag di Desa Kalampising Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan (Kajian Folklor). (Dibimbing oleh Muhammad Ilham, S.S.,M.Pd dan Rita Kumala Sari, S.Pd.,M.Pd) Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses ritual kematian tradisional masyarakat Dayak Agabag di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, serta menjelaskan makna dan fungsi ritual tersebut berdasarkan analisis folklor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dokumentasi, dan pencatatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual pemakaman tradisional masyarakat Dayak Agabag masih dilestarikan dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Dalam kajian folklor, ritual ini mencakup tiga bentuk folklor: folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan. Folklor lisan disampaikan melalui doa, cerita, dan nasihat adat. Unsur folklor sebagian lisan terlihat dalam ritual seperti Antingug Da Agung, Angaju Da Bangkai, Upacara Adat/Lumulu, serta Ampid atau Amakan. Sementara itu, folklor bukan lisan tercermin melalui penggunaan gong, lungun, bangkalan, dan peralatan tradisional lainnya. Ritual kematian ini bermakna sebagai wujud penghormatan kepada mendiang dan leluhur, serta mengandung nilai-nilai seperti gotong royong, saling membantu, dan dukungan terhadap komunitas. Selain itu, ritual ini berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, pewarisan nilai-nilai adat kepada generasi muda, penguatan identitas masyarakat Dayak Agabag, serta pemeliharaan tatanan sosial dalam kehidupan mereka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sebagian besar praktik agribisnis padi ladang di Desa Nawang Baru, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau, masih bertumpu pada pengetahuan adat masyarakat Dayak Kenyah yang diwariskan lintas generasi, namun kajian yang mengaitkan pengetahuan tersebut dengan seluruh subsistem agribisnis sekaligus dimensi keberlanjutannya masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan kearifan lokal pada tiap subsistem agribisnis padi ladang, dan (2) menganalisis perannya terhadap keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian dilakukan pada Maret–Mei 2026 dengan pendekatan kualitatif deskriptif di lokasi yang dipilih secara purposive. Sebanyak 30 informan dijaring melalui snowball sampling, diawali dari kepala desa dan tetua adat, dengan data dihimpun lewat wawancara mendalam dan observasi, lalu dianalisis mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Temuan menunjukkan bahwa praktik adat hadir pada kelima subsistem: pemilihan lahan dan penentuan waktu tanam lewat Ungun Tau pada subsistem hulu, pertukaran benih dan pengendalian hama alami pada usahatani, pengeringan serta penyimpanan di lumbung adat pada subsistem hilir, musyawarah penentuan harga pada pemasaran, hingga peran kelembagaan adat pada subsistem penunjang. Praktik-praktik tersebut terindikasi berkontribusi pada efisiensi biaya usaha (ekonomi), penguatan solidaritas dan modal sosial warga (sosial), serta pembatasan eksploitasi lahan dan hutan (lingkungan), meski kontribusi ekologisnya lebih menonjol pada subsistem hulu hingga hilir dibanding pemasaran dan kelembagaan. Dominasi informan berusia lanjut mengindikasikan adanya risiko kesenjangan regenerasi pengetahuan, sehingga dokumentasi dan pewarisan kearifan lokal kepada generasi muda perlu terus diupayakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tradisi tato Dayak Kenyah Lepo’ Ke di Desa Long Tebulo merupakan warisan budaya yang mengandung nilai filosofis, spiritual, dan sosial, tetapi semakin terancam oleh modernisasi, pengaruh agama, dan melemahnya pewarisan budaya sehingga perlu didokumentasikan melalui kajian folklor. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kajian folklor melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap dua informan yang dipilih secara purposive dan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Temuan penelitian mengidentifikasi lima motif tato tradisional, yaitu Kalung Ilak, Kalung Tebuku, Kalung Besulan, Kalung Kabuk, dan Kalung Se'. Adapun makna yang terkandung didalam jenis-jenis tato yang telah diteliti, dari kelima jenis makna tato yang telah diteliti terdapat dua jenis makna tato yang digunakan oleh para tetua adat dan bangsawan yaitu, tato kalung ilak dan kalung kabuk yang bermakna sebagai kehormatan puncak tertinggi dalam struktur dan memilliki kekuasaan tertinggi pada suku Dayak lepo’ke, sedangkan untuk tiga makna tato yaitu kalung tebuku, kalung besulan dan kalung se’ tato yang bermakna sebagai bagaimana perjalanan hidup seseorang dan digunakan sebaagai bentuk eksistensi kelas mengah kebawah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penguatan Lembaga Adat Dayak Kenyah Kecamatan Kayan Selatan Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Merang Ding Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran lembaga adat DayakKenyahdalampenyelesaiansengketatanahdiKeca Selatanserta merumuskanstrategipenguatankele fektifdandiakuidala msistemhukumnasional matanKayan mbagaanadatagarlebih e . Lembaga adat memiliki fungsi penting sebagai penjaga nilai-nilai keadilan, keseimbangan, dan harmoni sosial dalam masyarakat adat, terutama ketika terjadi sengketa yang berkaitan dengan hak atas tanah ulayat.Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis nor perundang matif, dengan menggunakan pendekatan-undangandanpendekatankonseptual.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa le mbagaadatDayakKenyah memiliki peran sentral dalam penyelesaian sengketa tanah melalui mekanisme musyawarah adat, mediasi antar pihak, serta penerapan sanksi adat yang menekankan keseimbangan dan pemulihan hubungan sosial. Namun, efektivitas lembaga adat masih terbatas akibat lemahnya legitimasi formal, minimnya dukungan administratif, dan belum adanya integrasi yang kuat antara keputusan adat dengan sistem hukum nasional. Sebagai rekomendasi, diperlukan penguatan kele melaluipengakuan huku mbagaan adat m yang lebih tegas, peningkatan kapasitas x kelembagaan, danpembentukan foru mkoordinasi antara le mbagaadat danpemerintahdaerah. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat peran lembaga adat Dayak Kenyah sebagai mitra strategis dalam penyelesaian sengketa tanah dan pembangunan hukum yang berkeadilan berbasis kearifan lokal di wilayah Kayan Selatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penguatan Lembaga Adat Dayak Kenyah Kecamatan Kayan Selatan Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Merang Ding Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran lembaga adat DayakKenyahdalampenyelesaiansengketatanahdiKeca Selatanserta merumuskanstrategipenguatankele fektifdandiakuidala msistemhukumnasional matanKayan mbagaanadatagarlebih e . Lembaga adat memiliki fungsi penting sebagai penjaga nilai-nilai keadilan, keseimbangan, dan harmoni sosial dalam masyarakat adat, terutama ketika terjadi sengketa yang berkaitan dengan hak atas tanah ulayat.Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis nor perundang matif, dengan menggunakan pendekatan-undangandanpendekatankonseptual.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa le mbagaadatDayakKenyah memiliki peran sentral dalam penyelesaian sengketa tanah melalui mekanisme musyawarah adat, mediasi antar pihak, serta penerapan sanksi adat yang menekankan keseimbangan dan pemulihan hubungan sosial. Namun, efektivitas lembaga adat masih terbatas akibat lemahnya legitimasi formal, minimnya dukungan administratif, dan belum adanya integrasi yang kuat antara keputusan adat dengan sistem hukum nasional. Sebagai rekomendasi, diperlukan penguatan kele melaluipengakuan huku mbagaan adat m yang lebih tegas, peningkatan kapasitas x kelembagaan, danpembentukan foru mkoordinasi antara le mbagaadat danpemerintahdaerah. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat peran lembaga adat Dayak Kenyah sebagai mitra strategis dalam penyelesaian sengketa tanah dan pembangunan hukum yang berkeadilan berbasis kearifan lokal di wilayah Kayan Selatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Masa nifas merupakan periode kritis yang membutuhkan asupan nutrisi optimal untuk mendukung pemulihan ibu, penyembuhan luka, dan produksi ASI. Namun, di berbagai komunitas adat, pemenuhan nutrisi bagi ibu pascapersalinan seringkali dibatasi oleh pantangan makanan yang diwariskan, termasuk di kalangan masyarakat Dayak Lundayeh. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif pantangan makanan bagi ibu pascapersalinan di suku Dayak Lundayeh, termasuk jenis pantangan, metode pengolahan makanan, pola konsumsi yang dibutuhkan, pergeseran praktik antargenerasi, dan perspektif budaya dan kesehatan terhadap fenomena tersebut. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan informan purposive sampling yang dikombinasikan dengan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur mendalam dan dokumentasi dengan tujuh informan, yang terdiri dari sesepuh desa, ibu nifas, ketua adat, dan bidan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pantangan makanan meliputi berbagai jenis sayuran, makanan laut, daging, buah asam, dan makanan pedas, serta pembatasan metode pengolahan makanan yang harus diolah kering. Pola konsumsi wajib bubur panas disertai jahe merah dan kopi juga ditemukan, serta pergeseran pantangan makanan di antara generasi yang tidak lagi tinggal bersama orang tua ataupun mertua. Studi ini menyimpulkan bahwa pantangan makanan pascapersalinan adalah fenomena multidimensional yang membutuhkan pendekatan pendidikan gizi yang peka terhadap budaya lokal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan media layanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang inovatif untuk mendukung pengembangan nilai-nilai sosial siswa SMP. Penelitian bertujuan mengembangkan serta mengetahui tingkat kelayakan media Big Book Legenda Busang Mayun Dayak Kenyah sebagai media pendukung layanan BK klasikal. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) model Borg & Gall yang dimodifikasi sampai tahap revisi desain, meliputi potensi dan masalah, pengumpulan informasi, desain produk, validasi desain, dan revisi desain. Subjek validasi terdiri atas ahli materi, ahli media, dan ahli bahasa. Data dikumpulkan melalui angket validasi dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif serta kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media memperoleh persentase kelayakan sebesar 96,25% dari ahli materi, 91,25% dari ahli media, dan 87,5% dari ahli bahasa dengan kategori sangat layak. Media yang dikembangkan mengintegrasikan nilai empati, kerja sama, toleransi, dan tanggung jawab melalui cerita rakyat Dayak Kenyah, ilustrasi visual, serta fitur QR Code audio cerita. Oleh karena itu, media Big Book Legenda Busang Mayun Dayak Kenyah dinyatakan sangat layak digunakan sebagai media pendukung layanan BK klasikal dan dapat menjadi alternatif media berbasis kearifan lokal dalam pengembangan nilai-nilai sosial siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep, prinsip, dan prosedur matematika yang terkandung dalam kebudayaan anyaman Dayak Lundayeh serta mengungkap pandangan guru dan siswa terhadap etnomatematika tersebut sebagai konteks pembelajaran matematika. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan landasan etnografi yang dilaksanakan di Desa Wisata Pulau Sapi dan SMKN 1 Malinau, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Subjek penelitian terdiri atas tokoh adat Dayak Lundayeh, pengrajin anyaman, guru matematika, dan siswa kelas XI SMKN 1 Malinau. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, observasi, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis dengan tahapan pengorganisasian data, pembacaan keseluruhan data, pengkodean, penentuan tema, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Anyaman Dayak Lundayeh memuat berbagai konsep matematika, meliputi konsep geometri (kerucut pada rong basung, balok pada bakang, dan poligon heksagon pada motif anyaman), pola berulang, simetri (simetri lipat dan simetri putar), translasi, serta pengukuran (panjang, diameter, dan ketebalan bahan). (2) Prinsip matematika yang ditemukan meliputi prinsip geometri (hubungan antara unsur-unsur bangun ruang), prinsip pola (pengulangan motif secara teratur dan konsisten), prinsip simetri (keseimbangan bentuk dan keteraturan motif), dan prinsip pengukuran (penggunaan ukuran yang seragam dalam proses pembuatan anyaman). (3) Prosedur matematis tampak pada tahapan sistematis pembuatan rong basung dan bakang, mulai dari penentuan ukuran, pengukuran bahan, pembentukan rangka bangun ruang, hingga penyusunan pola anyaman. (4) Guru dan siswa memiliki pandangan positif terhadap penerapan etnomatematika anyaman Dayak Lundayeh dalam pembelajaran matematika; mereka menilai bahwa integrasi budaya lokal menjadikan pembelajaran lebih menarik, kontekstual, dan memudahkan pemahaman konsep, khususnya pada materi geometri, transformasi geometri, pola, dan pengukuran. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebudayaan anyaman Dayak Lundayeh mengandung unsur etnomatematika yang kaya dan berpotensi besar untuk dijadikan media serta sumber belajar matematika berbasis kearifan lokal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan unsur-unsur etnomatematika pada Tari Arang Anak Tengelayat Suku Dayak Abai serta mengetahui persepsi siswa terhadap pengintegrasiannya dalam pembelajaran matematika di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode etnografi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sentaban, Kecamatan Malinau Barat, Kabupaten Malinau, dan SMP Negeri 4 Malinau Barat pada. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan analisis video. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari pembina budaya Dayak Abai, pelatih Tari Tengelayat, dan empat siswa dari latar belakang suku berbeda. Analisis data meliputi tahapan menyusun dan mempersiapkan untuk dianalisis, membaca ulang dan memahami semua data, melakukan pengkodean, mengelompokkan kode menjadi tema atau kategori, menghubungkan tema, menginterpretasikan makna tema dan deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa unsur etnomatematika yang ditemukan pada gerakan tari, formasi tari, pengukuran jarak antar-penari dan susunan penari. Pada gerakan, terdapat konsep rotasi pada gerakan putaran abai dan refleksi pada gerakan menyilangkan tangan dengan pasangan, konsep sudut lebih dari 90 derajat pada rentangan tangan, dan garis sejajar pada gerakan kedua tangan yang direntangkan ke depan. Pada formasi tari menunjukkan adanya konsep lingkaran, persegi panjang, jajargenjang, garis lurus, garis paralel, sudut dan transformasi geometri pada setiap perpindahan formasi. Pada pengaturan jarak antarpenari terdapat konsep pengukuran melalui penerapan jarak dua rentang lengan. Pada susunan penari, penari diurutkan berdasarkan tinggi yang menunjukkan konsep pola urutan. Unsur-unsur tersebut dapat dipetakan ke dalam materi Transformasi Geometri (kelas IX), Bangun Datar, Garis dan Sudut, serta Pengukuran (kelas VII). Seluruh siswa memberikan persepsi positif yang dikelompokkan menjadi tiga tema utama, yaitu pembelajaran yang lebih menyenangkan, kemudahan memahami konsep melalui contoh nyata, serta tumbuhnya motivasi belajar dan apresiasi terhadap budaya lokal. Persepsi positif ini tidak hanya berasal dari siswa suku Dayak Abai, tetapi juga dari siswa suku lain, yang membuktikan bahwa Tari Tengelayat berpotensi menjadi media pembelajaran matematika yang inklusif dan lintas budaya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan busana adat dan aksesoris merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Suku Dayak yang mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam. Namun, pengetahuan tersebut belum banyak didokumentasikan dan belum terintegrasi dalam pembelajaran biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan dan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dalam pembuatan busana adat dan aksesoris Suku Dayak di Desa Setarap, Kabupaten Malinau, mengetahui proses pemanfaatannya, serta mengkaji relevansinya dengan pembelajaran biologi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive dan snowball sampling, melibatkan tokoh adat serta pengrajin yang memiliki pengetahuan tentang pembuatan busana adat dan aksesoris. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 spesies tumbuhan yang tergolong dalam 9 famili yang dimanfaatkan, yaitu Talun (Artocarpus corneri), Rotan Sega (Calamus caesius), Bambu Petung (Dendrocalamus asper), Ulin (Eusideroxylon zwageri), Rudraksa (Elaeocarpus ganitrus), Tas (Goniothalamus velutinus), Sang (Itaya amicorum), Adau (Nauclea orientalis), Pandan (Pandanus tectorius), Bambu Talang (Schizostachyum brachycladium), dan Meranti (Shorea sp.). Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi kulit batang, batang, daun, akar, dan biji, dengan kulit batang sebagai bagian yang paling banyak dimanfaatkan. Proses pembuatannya meliputi pengambilan bahan, pemotongan, pengeringan, pengolahan, pembentukan, dan perakitan. Hasil penelitian ini relevan dengan materi keanekaragaman hayati pada pembelajaran Biologi Fase E SMA sebagai sumber belajar berbasis etnobotani dan kearifan lokal
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang berdampak serius terhadap korban, keluarga, dan tatanan sosial masyarakat. Di Indonesia, penanganan KDRT telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Namun, dalam masyarakat adat, khususnya di wilayah pedesaan, penyelesaian KDRT tidak selalu ditempuh melalui mekanisme hukum negara, melainkan melalui hukum adat yang hidup dan dipatuhi oleh masyarakat. Hal ini mencerminkan adanya pluralisme hukum dalam praktik penegakan hukum di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian penyelesaian KDRT melalui Lembaga Adat Dayak Kenyah di Desa Lidung Payau, Kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, dengan ketentuan UU PKDRT, serta untuk mengkaji peran lembaga adat tersebut dalam menyelesaikan kasus KDRT. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, serta literatur yang relevan dengan hukum adat dan perlindungan korban KDRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme penyelesaian KDRT melalui adat Dayak Kenyah menekankan prinsip musyawarah, keseimbangan, keharmonisan, dan pemulihan hubungan sosial. Penyelesaian dilakukan secara bertahap, dimulai dari musyawarah keluarga besar, sidang adat yang dipimpin oleh tetua adat, hingga penjatuhan sanksi adat berupa denda adat, permintaan maaf terbuka, dan ritual pemulihan. Pendekatan ini mencerminkan keadilan restoratif yang berorientasi pada pemulihan korban, tanggung jawab pelaku, dan terjaganya harmoni komunitas. Secara substantif, mekanisme adat tersebut sejalan dengan tujuan UU PKDRT dalam mencegah kekerasan berulang dan memulihkan korban. Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa penyelesaian adat memiliki keterbatasan, terutama dalam kasus KDRT berat seperti kekerasan fisik berat dan kekerasan seksual. Dalam kasus demikian, penyelesaian adat tidak dapat menggantikan kewajiban negara untuk melakukan penegakan hukum pidana demi menjamin perlindungan hukum yang optimal bagi korban. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyelesaian KDRT di Desa Lidung Payau idealnya dilakukan melalui harmonisasi antara hukum adat dan hukum negara. Lembaga adat berperan sebagai mekanisme pemulihan sosial dan budaya, sedangkan hukum negara menjamin perlindungan hak korban dan penegakan hukum. Sinergi kedua sistem hukum ini penting untuk mewujudkan keadilan substantif yang berlandaskan perlindungan korban dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Desa Long Alango merupakan dusun kecil berada di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Masyarakat di Desa Long Alango memiliki pengetahuan terkait pemanfaatan tumbuhan liar sebagai bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, bagian organ tumbuhan, cara pengolahan, dan upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Long Alango. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan teknik pendekatan etnobotani melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif. Hasil penelitian ini menemukan ada 16 jenis spesies berasal dari 15 famili yang dimanfaatkan sebagai bahan makan oleh masyarakat Dayak Kenyah Lepu’ Ma’ut, famili yang paling banyak ditemukan adalah famili Solanaceae dengan jumlah 2 spesies, yaitu Solanumsp. (terong pipit) dan Solanum sp. (terong asam). Sementara itu, famili lainnya masing-masing hanya terdiri dari 1 spesies. Dari ke 16 spesies terdapat 2 spesies yang menggunakan bagian batang, 2 spesies menggunakan bagian pangkal daun, 5 spesies menggunakan bagian daun, sedangkan 6 spesies menggunakan bagian buah, 3 spesies menggunakan bagian bunga, 5 spesies menggunakan bagian tunas, dan 1 spesies menggunakan bagian umbi. Bagian yang paling banyak digunakan adalah bagian buah dan bagian yang paling sedikit digunakan adalah bagian umbi. Tumbuhan liar ditemukan di beberapa tempat, yaitu di hutan, ladang, pekarangan, dan pinggir jalan. Cara pengolahan tumbuhan liar tersebut dilakukan dengan direbus, ditumis, dibakar, dijadikan sambal, difermentasi, serta dikonsumsi langsung sebagai lalapan dan ada juga beberapa bagian tanaman yang direbus kemudian di tumis contohnya seperti bunga papaya dan daun pepaya. Selain itu, masyarakat juga melakukan upaya konservasi melalui pemanfaatan secara bijaksana, menjaga kawasan hutan adat, serta mewariskan pengetahuan lokal kepada generasi berikutnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tumbuhan liar sebagai bahan makanan merupakan bagian penting dari kearifan lokal masyarakat Dayak Kenyah Lepu’ Ma’ut dan memiliki peran dalam mendukung ketahanan pangan serta pelestarian pengetahuan tradisional masyarakat. Long Alango Village is a small hamlet located in Bahau Hulu Subdistrict, Malinau Regency, North Kalimantan. The community in Long Alango Village possesses knowledge regarding the utilization of wild plants as food to meet their daily needs. This study aimed to identify the types of plants, the plant parts used, processing methods, and conservation efforts undertaken by the community of Long Alango Village. The research employed a descriptive qualitative method using an ethnobotanical approach through semi-structured interviews and participatory observation. This study revealed that there are 16 plant species from 15 families utilized as food by the Dayak Kenyah Lepu' Ma'ut community. The most commonly found family was Solanaceae, comprising 2 species: Solanum sp. (small eggplant) and Solanum sp. (sour eggplant). Meanwhile, the other families each consisted of only 1 species. Of the 16 species, 2 species utilize the stem, 2 species utilize the leaf base, 5 species utilize the leaves, 6 species utilize the fruit, 3 species utilize the flowers, 5 species utilize the shoots, and I species utilizes the tuber. The most commonly used part is the fruit, and the least commonly used part is the tuber. Wild plants were found in several locations, including forests, fields, backyards, and roadsides. These wild plants were prepared by boiling, stir-frying, roasting, making into chili paste, fermenting, and directly consuming them. In addition, the community also engaged in conservation efforts through wise utilization, protecting customary forest areas, and passing down local knowledge to the next generation. This study demonstrates that the utilization of wild plants as food is an essential part of the local wisdom of the Dayak Kenyah Lepu' Ma'ut community and plays a role in supporting food security and the preservation of traditional knowledge.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
ABSTRAK PERAN KEARIFAN LOKAL DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI PENDIDIKAN PADA MASYARAKAT ADAT DAYAK KENYAH (STUDI KASUS: DESA LONG AMPUNG SOPIAH Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kearifan lokal dalam meningkatkan partisipasi pendidikan pada masyarakat adat Dayak Kenyah di Desa Long Ampung. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana keterlibatan masyarakat adat dalam meningkatkan partisipasi pendidikan, dan (2) bagaimana kearifan lokal masyarakat adat Dayak Kenyah berperan dalam bidang pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual untuk menganalisis data dan menjawab rumusan masalah yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat Dayak Kenyah menjadi faktor penting dalam mendukung dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi aktif masyarakat dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai budaya dan tradisi yang dijunjung tinggi mampu menguatkan motivasi masyarakat untuk mengakses dan berkontribusi dalam proses pendidikan. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa integrasi kearifan lokal dalam program pendidikan dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kualitas dan partisipasi pendidikan di komunitas adat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
ABSTRAK KEDUDUKAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM WARIS ADAT DAYAK KENYAH LEPOQ TUKUNG LAWAI GARING Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kedudukan hukum anak angkat dalam keluarga menurut hukum adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung, serta untuk mengetahui apakah anak angkat memiliki kedudukan sebagai ahli waris dalam sistem kewarisan adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual, serta didukung oleh hasil wawancara dengan tokoh adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung untuk memperkuat argumentasi hukum. Data yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, yang kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menitikberatkan pada asas-asas hukum adat, prinsip keadilan, dan nilai-nilai kekerabatan masyarakat adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan anak angkat dalam hukum adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung didasarkan pada pengakuan sosial dan ritual adat yang menjadikan anak angkat sebagai bagian penuh dari keluarga angkat. Setelah melalui proses adat secara sah, anak angkat memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan anak kandung dalam kehidupan keluarga, termasuk dalam hal pewarisan. Dalam sistem hukum waris adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung, anak angkat diakui sebagai ahli waris, dengan bagian yang dapat disesuaikan berdasarkan kesepakatan keluarga dan pertimbangan keadilan menurut adat setempat. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa hukum adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung mengandung nilai-nilai kekeluargaan dan keseimbangan yang tinggi, di mana pengangkatan anak tidak hanya memiliki makna sosial, tetapi juga konsekuensi hukum dalam sistem kewarisan adat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penyelesaian Sengketa Batas Lahan Pertanian Dan Perkebunan Dalam Masyarakat Adat Dayak Kenyah Berbasis Kearifan Lokal Di Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara IBAN APUI Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model penyelesaian sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan dalam masyarakat adat Dayak Kenyah berbasis kearifan lokal di kawasan perbatasan Kalimantan Utara. Sengketa batas lahan dalam masyarakat adat Dayak Kenyah tidak hanya berkaitan dengan aspek kepemilikan fisik, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, budaya, dan spiritual yang melekat pada nilai-nilai adat. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengidentifikasi karakteristik sengketa batas lahan yang terjadi serta menggambarkan mekanisme penyelesaian sengketa yang dilakukan melalui lembaga adat dan kearifan lokal. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana karakteristik sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan yang terjadi dalam masyarakat adat Dayak Kenyah di wilayah perbatasan; dan (2) bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan berbasis kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat adat Dayak Kenyah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis empiris dengan pendekatan sosiologis dan antropologis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta studi dokumentasi terhadap dokumen adat, peraturan perundang-undangan, dan literatur terkait. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan dalam masyarakat adat Dayak Kenyah memiliki karakteristik yang dipengaruhi oleh pola pemanfaatan lahan adat, penetapan batas berdasarkan penanda alam dan tradisi warisan leluhur, serta adanya konflik nilai antara hukum adat dan hukum nasional. Mekanisme penyelesaian sengketa yang dilakukan masyarakat Dayak Kenyah berbasis kearifan lokal dilaksanakan melalui lembaga adat, dengan tahapan mediasi, musyawarah, dan penetapan keputusan adat yang mengedepankan restorasi hubungan sosial, pemulihan keharmonisan, serta pemeliharaan nilai-nilai komunitas. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan model penyelesaian sengketa batas lahan yang mengintegrasikan nilai kearifan lokal, prinsip keadilan restoratif, dan keterkaitan antara hukum adat dan hukum nasional sebagai landasan penyelesaian sengketa yang kontekstual dan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KARAKTERISTIK PRODUK FERMENTASI TELU DARI IKAN PATIN (PANGASIUS SP.) SEBAGAI MAKAN KHAS SUKU DAYAK DI KALIMANTAN UTARA Abstrak Ikan patin (Pangasius sp.) merupakan salah satu ikan konsumsi air tawar yang umum dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Patin di Indonesia dapat dikonsumsi menjadi berbagai pengolahan baik secara moderen maupun tradisional. Salah satu pengolahan tradisional yang banyak dilakukan di Indonesia adalah produk fermentasi. Tujuan fermentasi pangan awalnya adalah untuk mengawetkan pangan yang bersifat musiman dan mudah rusak. Telu merupakan fermentasi ikan air tawar melalui proses penggaraman dan penambahan karbohidrat seperti beras atau singkong rebus, kemudian didiamkan selama kurang lebih satu minggu. Telu biasa dikomsumsi oleh masyarakat di daerah Kabupaten Malinau sebagai makanan tradisional khas suku Dayak Lundayeh. Proses pembuatan telu ikan patin mengacu pada tata cara tradisional yang dilakukan oleh suku dayak di Kalimantan utara. Telu ikan patin yang dihasilkan selanjutnya dikarakterisasi melalui kadar protein, kadar garam, nilai pH, dan asam amino. Hasil pengujian pada Daging fermentasi telu menunjukkan nilai Kadar Protein: 19,68, Kadar Garam: 0,16, pH: 4,75, Asam Amino: 489.610,98. Dengan demikian, produk telu fermentasi menunjukkan kualitas nutrisi dan keamanan yang baik, serta memperoleh manfaat dari proses fermentasi berupa peningkatan ketersediaan protein dalam bentuk asam amino.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Etnomatematika Tari Sumazau Murut Sila Nu Vulosmu Pada Suku Dayak Tahol ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini untuk (1) mendeskripsikan unsur matematika SMP yang ada di dalam Tari Sumazau Suku Dayak Tahol, (2) mengetahui pandangan siswa jika etnomatematika pada Tari Sumazau Suku Dayak Tahol dijadikan konteks dalam pembelajaran matematika SMP. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Subjek pada penelitian ini terdiri dari pembina, dua penari Sanggar Tari Ansilulum dan tiga siswa SMPN 1 Lumbis. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Setelah data terkumpul kemudian dilakukan analisis data dengan menggunakan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan data yang diperoleh kemudian dilakukan pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi teknik. Adapun temuan pertama penelitian ini yaitu etnomatematika khususnya pada gerakan dan pola lantai Tari Sumazau Suku Dayak Tahol berupa konsep sudut, garis sejajar, garis lurus dan bangun datar jajar genjang, translasi, refleksi, dan lingkaran. Temuan kedua yaitu pandangan peserta didik SMPN 1 Lumbis yang merasa bahwa pembelajaran Matematika akan sangat menarik dan menyenangkan apabila etnomatematika dalam tari Sumazau digunakan dalam pembelajaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan tumpang tindih antara wilayah ulayat masyarakat adat Dayak Tenggalan dengan kawasan hutan lindung serta Hak Guna Usaha (HGU), yang menimbulkan ketidakpastian hukum dan potensi pelanggaran hak masyarakat adat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kedudukan pengakuan masyarakat adat Dayak Tenggalan atas wilayah ulayat yang berbenturan dengan kawasan hutan lindung dan HGU serta untuk menganalisis konsekuensi hukum yang timbul dari tumpang tindih tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis empiris yang dilengkapi dengan penelitian lapangan (fieldresearch). Data diperoleh melalui kajian peraturan perundang-undangan, dokumen hukum terkait, serta wawancara dengan para pemangku kepentingan. Analisis data dilakukan secara kualitatif untuk menghasilkan pemahaman mendalam mengenai aspek hukum pengakuan dan implikasi tumpang tindih wilayah ulayat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat adat Dayak Tenggalan dalam peraturan perundang-undangan masih terbatas dan belum mengakomodasi secara memadai keberadaan wilayah ulayat yang tumpang tindih dengan kawasan hutan lindung dan HGU.Tumpang tindih tersebut mengakibatkan konflik kepentingan yang berdampak pada pembatasan akses masyarakat adat terhadap sumber daya alam serta berpotensi menimbulkan pelanggaran hak asasi. Konsekuensi hukum dari kondisi ini meliputi ketidakjelasan status hukum wilayah ulayat, risiko sengketa administratif, dan pelanggaran terhadap prinsip penghormatan hak masyarakat adat. Penelitian ini merekomendasikan perlunya harmonisasi regulasi dan penguatan mekanisme pengakuan hukum terhadap hak ulayat masyarakat adat dalam tata kelola hutan untuk mewujudkan kepastian hukum serta keadilan bagi masyarakat adat Dayak Tenggalan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
NOPITA, 2026 Makna Simbol Ukiran Pada Rumah Adat Dayak Gaai Di Desa Long Buang Kecamatan Peso Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara (kajian Semiotik). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan (dibimbing oleh Muhammad Ilham, S. S., M.Pd dan Dr. Asih Riyanti, M.Pd) Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan makna pada ukiran rumah Adat suku Dayak Gaai Di Desa Long Buang Kecamatan Peso. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah masyarakat suku Dayak Gaai. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan teknik catat. Jumlah data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu sebanyak 22 data. Data penelitian terdiri dari 6 data berupa ukiran, 2 data berupa gambar, 6 data berupa benda, 1 data berupa pahatan, 6 data berupa warna, 3 data berupa arsitektur. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori segitiga makna, maka di peroleh kesimpulan bahwa data yang berada di dalam rumah adat tersebut memiliki makna yang berbeda. Emdal, Giyong, Tekhung Emnuk, Ong Tehun memiliki makna yang dapat memanggil Roh nenek moyang, Mengkai Madoh, Smeak masin, Elbung memiliki makna yang religius sebagai tanda terima kasih masyarakat suku Dayak Gaai kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang layak. Guleng memiliki makna simbol yang yang menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat ditempat terkenal akan banyak tradisi.