ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sebagian besar praktik agribisnis padi ladang di Desa Nawang Baru, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau, masih bertumpu pada pengetahuan adat masyarakat Dayak Kenyah yang diwariskan lintas generasi, namun kajian yang mengaitkan pengetahuan tersebut dengan seluruh subsistem agribisnis sekaligus dimensi keberlanjutannya masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan kearifan lokal pada tiap subsistem agribisnis padi ladang, dan (2) menganalisis perannya terhadap keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian dilakukan pada Maret–Mei 2026 dengan pendekatan kualitatif deskriptif di lokasi yang dipilih secara purposive. Sebanyak 30 informan dijaring melalui snowball sampling, diawali dari kepala desa dan tetua adat, dengan data dihimpun lewat wawancara mendalam dan observasi, lalu dianalisis mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Temuan menunjukkan bahwa praktik adat hadir pada kelima subsistem: pemilihan lahan dan penentuan waktu tanam lewat Ungun Tau pada subsistem hulu, pertukaran benih dan pengendalian hama alami pada usahatani, pengeringan serta penyimpanan di lumbung adat pada subsistem hilir, musyawarah penentuan harga pada pemasaran, hingga peran kelembagaan adat pada subsistem penunjang. Praktik-praktik tersebut terindikasi berkontribusi pada efisiensi biaya usaha (ekonomi), penguatan solidaritas dan modal sosial warga (sosial), serta pembatasan eksploitasi lahan dan hutan (lingkungan), meski kontribusi ekologisnya lebih menonjol pada subsistem hulu hingga hilir dibanding pemasaran dan kelembagaan. Dominasi informan berusia lanjut mengindikasikan adanya risiko kesenjangan regenerasi pengetahuan, sehingga dokumentasi dan pewarisan kearifan lokal kepada generasi muda perlu terus diupayakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis penerapan nilai-nilai kearifan lokal serta partisipasi masyarakat dalam tata kelola keuangan desa guna mendukung transparansi dan akuntabilitas di Desa Wa'Yanud Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan informan yang terdiri atas Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kaur Keuangan, Ketua BPD, dan Tokoh Adat Desa Wa'Yanud. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal dan partisipasi masyarakat telah menjadi bagian dari tata kelola keuangan Desa Wa'Yanud. Pada tahap perencanaan, nilai musyawarah diterapkan melalui pelibatan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan menentukan prioritas pembangunan. Nilai musyawarah mendukung keterbukaan dalam proses perencanaan tata kelola keuangan desa. Pada tahap pelaksanaan, partisipasi masyarakat diwujudkan melalui budaya Feruyung dan Malui sebagai bentuk gotong royong, kebersamaan, dan saling membantu. Pada tahap pelaporan, pemerintah desa menyusun dokumen pelaporan dan menyampaikan informasi mengenai pengelolaan keuangan desa. Pada tahap pertanggungjawaban, pengelolaan keuangan didukung oleh pencatatan transaksi, kelengkapan dokumen, pengawasan BPD, serta nilai kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Secara keseluruhan, integrasi nilai-nilai kearifan lokal dan partisipasi masyarakat mendukung tata kelola keuangan Desa Wa'Yanud yang partisipatif, transparan, dan akuntabel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran diorama berbasis kearifan lokal Kalimantan Utara berdasarkan hasil validasi ahli serta mengetahui tingkat kemenarikan media berdasarkan respon siswa. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang meliputi tahap Analysis (analisis), Design (perancangan), Development (pengembangan), Implementation (implementasi), dan Evaluation (evaluasi). Produk yang dikembangkan berupa media pembelajaran diorama tiga dimensi tipe terbuka yang menyajikan keragaman budaya Kalimantan Utara, meliputi rumah adat, pakaian adat, tarian tradisional, dan makanan khas dari Suku Tidung, Suku Dayak, dan Suku Bulungan, serta dilengkapi dengan buku pendamping. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa lembar validasi ahli media, ahli materi, ahli bahasa, dan angket respon siswa. Hasil validasi menunjukkan bahwa media pembelajaran diorama memperoleh persentase kelayakan sebesar 95,71% dari ahli media, 100% dari ahli materi, dan 100% dari ahli bahasa, yang seluruhnya termasuk dalam kategori sangat layak. Hasil uji coba terbatas memperoleh persentase respon siswa sebesar 87,67%, sedangkan hasil uji coba lapangan memperoleh persentase kemenarikan sebesar 92,21% dengan kategori sangat menarik. Berdasarkan hasil validasi ahli dan uji coba kepada siswa, media pembelajaran diorama berbasis kearifan lokal Kalimantan Utara dinyatakan sangat layak dan sangat menarik untuk digunakan dalam pembelajaran IPAS pada materi Keragaman Budaya Indonesia kelas IV-B SDN 006 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis kearifan lokal Kota Tarakan pada materi Sumber Daya Alam kelas IV sekolah dasar yang memenuhi aspek kelayakan, kemenarikan, dan keefektifan dalam pembelajaran IPA. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum tersedianya LKPD yang mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran serta berfungsi sebagai lembar kerja langsung peserta didik. Penelitian ini merupakan Research and Development dengan model ADDIE. Penelitian dilaksanakan di SDN 017 Tarakan. Subjek penelitian terdiri atas ahli materi dan soal, ahli media, ahli bahasa, praktisi guru, 9 peserta didik pada uji coba terbatas, dan 21 peserta didik pada uji coba lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, angket, dan tes. Data dianalisis menggunakan persentase kelayakan, persentase kemenarikan, uji normalitas, uji paired sample t-test, dan analisis N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD memperoleh persentase kelayakan sebesar 93,63% dari ahli materi dan soal, 93,75% dari ahli media, 94,67% dari ahli bahasa, dan 96,67% dari praktisi guru dengan kategori sangat layak. Hasil kemenarikan memperoleh persentase 97,09% pada uji coba terbatas dan 98,02% pada uji coba lapangan dengan kategori sangat menarik. Nilai rata-rata pre-test sebesar 56,24 meningkat menjadi 81,57 pada post-test. Hasil paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi 0,001 0,05 yang menunjukkan bahwa penggunaan LKPD mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik secara signifikan sehingga menunjukkan adanya keefektifan LKPD dalam pembelajaran. Hasil tersebut diperkuat oleh nilai N-Gain sebesar 0,62 dengan kategori sedang. Setelah dikonversi ke dalam bentuk persentase, diperoleh nilai sebesar 62% yang menunjukkan tingkat keefektifan termasuk dalam kategori cukup efektif. Dengan demikian, LKPD berbasis kearifan lokal Kota Tarakan dinyatakan sangat layak, sangat menarik, dan cukup efektif digunakan dalam pembelajaran IPA.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Desa Long Alango merupakan dusun kecil berada di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Masyarakat di Desa Long Alango memiliki pengetahuan terkait pemanfaatan tumbuhan liar sebagai bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, bagian organ tumbuhan, cara pengolahan, dan upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Long Alango. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan teknik pendekatan etnobotani melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif. Hasil penelitian ini menemukan ada 16 jenis spesies berasal dari 15 famili yang dimanfaatkan sebagai bahan makan oleh masyarakat Dayak Kenyah Lepu’ Ma’ut, famili yang paling banyak ditemukan adalah famili Solanaceae dengan jumlah 2 spesies, yaitu Solanumsp. (terong pipit) dan Solanum sp. (terong asam). Sementara itu, famili lainnya masing-masing hanya terdiri dari 1 spesies. Dari ke 16 spesies terdapat 2 spesies yang menggunakan bagian batang, 2 spesies menggunakan bagian pangkal daun, 5 spesies menggunakan bagian daun, sedangkan 6 spesies menggunakan bagian buah, 3 spesies menggunakan bagian bunga, 5 spesies menggunakan bagian tunas, dan 1 spesies menggunakan bagian umbi. Bagian yang paling banyak digunakan adalah bagian buah dan bagian yang paling sedikit digunakan adalah bagian umbi. Tumbuhan liar ditemukan di beberapa tempat, yaitu di hutan, ladang, pekarangan, dan pinggir jalan. Cara pengolahan tumbuhan liar tersebut dilakukan dengan direbus, ditumis, dibakar, dijadikan sambal, difermentasi, serta dikonsumsi langsung sebagai lalapan dan ada juga beberapa bagian tanaman yang direbus kemudian di tumis contohnya seperti bunga papaya dan daun pepaya. Selain itu, masyarakat juga melakukan upaya konservasi melalui pemanfaatan secara bijaksana, menjaga kawasan hutan adat, serta mewariskan pengetahuan lokal kepada generasi berikutnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tumbuhan liar sebagai bahan makanan merupakan bagian penting dari kearifan lokal masyarakat Dayak Kenyah Lepu’ Ma’ut dan memiliki peran dalam mendukung ketahanan pangan serta pelestarian pengetahuan tradisional masyarakat. Long Alango Village is a small hamlet located in Bahau Hulu Subdistrict, Malinau Regency, North Kalimantan. The community in Long Alango Village possesses knowledge regarding the utilization of wild plants as food to meet their daily needs. This study aimed to identify the types of plants, the plant parts used, processing methods, and conservation efforts undertaken by the community of Long Alango Village. The research employed a descriptive qualitative method using an ethnobotanical approach through semi-structured interviews and participatory observation. This study revealed that there are 16 plant species from 15 families utilized as food by the Dayak Kenyah Lepu' Ma'ut community. The most commonly found family was Solanaceae, comprising 2 species: Solanum sp. (small eggplant) and Solanum sp. (sour eggplant). Meanwhile, the other families each consisted of only 1 species. Of the 16 species, 2 species utilize the stem, 2 species utilize the leaf base, 5 species utilize the leaves, 6 species utilize the fruit, 3 species utilize the flowers, 5 species utilize the shoots, and I species utilizes the tuber. The most commonly used part is the fruit, and the least commonly used part is the tuber. Wild plants were found in several locations, including forests, fields, backyards, and roadsides. These wild plants were prepared by boiling, stir-frying, roasting, making into chili paste, fermenting, and directly consuming them. In addition, the community also engaged in conservation efforts through wise utilization, protecting customary forest areas, and passing down local knowledge to the next generation. This study demonstrates that the utilization of wild plants as food is an essential part of the local wisdom of the Dayak Kenyah Lepu' Ma'ut community and plays a role in supporting food security and the preservation of traditional knowledge.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
ABSTRAK PERAN KEARIFAN LOKAL DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI PENDIDIKAN PADA MASYARAKAT ADAT DAYAK KENYAH (STUDI KASUS: DESA LONG AMPUNG SOPIAH Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kearifan lokal dalam meningkatkan partisipasi pendidikan pada masyarakat adat Dayak Kenyah di Desa Long Ampung. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana keterlibatan masyarakat adat dalam meningkatkan partisipasi pendidikan, dan (2) bagaimana kearifan lokal masyarakat adat Dayak Kenyah berperan dalam bidang pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual untuk menganalisis data dan menjawab rumusan masalah yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat Dayak Kenyah menjadi faktor penting dalam mendukung dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi aktif masyarakat dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai budaya dan tradisi yang dijunjung tinggi mampu menguatkan motivasi masyarakat untuk mengakses dan berkontribusi dalam proses pendidikan. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa integrasi kearifan lokal dalam program pendidikan dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kualitas dan partisipasi pendidikan di komunitas adat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
ABSTRAK Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis Kearifan Lokal Masyarakat Hukum Adat Desa Long Uro dalam Pelestarian Sumber Daya Alam. Berdasarkan latar belakang, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bentuk kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat hukum adat Desa Long Uro dalam upaya pelestarian sumber daya alam dan peran masyarakat hukum adat dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Penelitan ini menggunakan tipe penelitian hukum normatif, dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan peraturan perundang-undangan (Statute approach). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, kearifan lokal Tana’ Ulen adalah wilayah suci yang dilindungi oleh masyarakat adat Kayan untuk menjaga keseimbangan alam. Di dalamnya, hanya kegiatan adat yang diperbolehkan, sementara eksploitasi sumber daya alam dibatasi. Hukum adat mengatur pengelolaan sumber daya dengan sanksi sosial bagi pelanggaran, serta melindungi keanekaragaman hayati. Tana’ Ulen juga berfungsi sebagai media pendidikan untuk generasi muda tentang pentingnya pelestarian alam. Selain itu, Tana’ Ulen memiliki dimensi spiritual, di mana kerusakan alam dianggap sebagai pelanggaran terhadap dunia gaib yang akan mendatangkan bencana. Dengan demikian, Tana’ Ulen mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Masyarakat hukum adat berperan penting dalam menjaga ekosistem dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan melalui kearifan lokal, hukum adat, dan pengelolaan berbasis komunitas. Mereka melestarikan lingkungan dengan sistem adat, serta menerapkan kontrol sosial melalui sanksi adat. Selain itu, mereka turut beradvokasi melawan eksploitasi lingkungan dan bekerja sama dengan pemerintah serta LSM dalam pelestarian alam. Dukungan terhadap hak dan peran masyarakat adat sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penyelesaian Sengketa Batas Lahan Pertanian Dan Perkebunan Dalam Masyarakat Adat Dayak Kenyah Berbasis Kearifan Lokal Di Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara IBAN APUI Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model penyelesaian sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan dalam masyarakat adat Dayak Kenyah berbasis kearifan lokal di kawasan perbatasan Kalimantan Utara. Sengketa batas lahan dalam masyarakat adat Dayak Kenyah tidak hanya berkaitan dengan aspek kepemilikan fisik, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, budaya, dan spiritual yang melekat pada nilai-nilai adat. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengidentifikasi karakteristik sengketa batas lahan yang terjadi serta menggambarkan mekanisme penyelesaian sengketa yang dilakukan melalui lembaga adat dan kearifan lokal. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana karakteristik sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan yang terjadi dalam masyarakat adat Dayak Kenyah di wilayah perbatasan; dan (2) bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan berbasis kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat adat Dayak Kenyah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis empiris dengan pendekatan sosiologis dan antropologis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta studi dokumentasi terhadap dokumen adat, peraturan perundang-undangan, dan literatur terkait. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan dalam masyarakat adat Dayak Kenyah memiliki karakteristik yang dipengaruhi oleh pola pemanfaatan lahan adat, penetapan batas berdasarkan penanda alam dan tradisi warisan leluhur, serta adanya konflik nilai antara hukum adat dan hukum nasional. Mekanisme penyelesaian sengketa yang dilakukan masyarakat Dayak Kenyah berbasis kearifan lokal dilaksanakan melalui lembaga adat, dengan tahapan mediasi, musyawarah, dan penetapan keputusan adat yang mengedepankan restorasi hubungan sosial, pemulihan keharmonisan, serta pemeliharaan nilai-nilai komunitas. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan model penyelesaian sengketa batas lahan yang mengintegrasikan nilai kearifan lokal, prinsip keadilan restoratif, dan keterkaitan antara hukum adat dan hukum nasional sebagai landasan penyelesaian sengketa yang kontekstual dan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Industri batik Kabupaten Malinau merupakan kegiatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal yang menggabungkan nilai budaya dari lebih dari sebelas etnis asli Kalimantan Utara, khususnya suku Dayak, Kenyah, dan Lundayeh, ke dalam produk batik bermotif khas daerah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis peran industri batik dalam mendukung perekonomian daerah Kabupaten Malinau, dan (2) mengidentifikasi strategi pengembangan usaha industri batik yang relevan dan aplikatif bagi pelaku industri maupun pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Responden penelitian berjumlah enam orang yang dipilih secara purposif, terdiri dari lima pelaku usaha batik aktif dan satu perwakilan pemerintah daerah. Adapun strategi pengembangan usaha yang teridentifikasi mencakup lima prioritas utama: penguatan akses bahan baku lokal melalui pengembangan pewarna alami dari tanaman endemik Kalimantan Utara; penguatan kapasitas permodalan melalui skema KUR khusus pengrajin skala kecil; profesionalisasi pemasaran berbasis platform digital; regenerasi pengrajin melalui integrasi keterampilan membatik dalam kurikulum muatan lokal SMP dan SMK; serta pelembagaan kolaborasi multipihak dalam forum industri batik yang terstruktur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa industri batik Kabupaten Malinau memiliki potensi besar sebagai pilar ekonomi kreatif berbasis budaya yang berkelanjutan. Namun realisasi potensi tersebut membutuhkan kerja kolektif yang terkoordinasi dari seluruh pemangku kepentingan, didukung oleh kebijakan yang konsisten dan program pembinaan yang berkesinambungan dari pemerintah daerah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi ritual, makna, dan peran masyarakat dalam tradisi Selamatan Bumi masyarakat adat Jawa di Desa Karang Agung, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Tradisi Selamatan Bumi merupakan warisan budaya turun-temurun yang berfungsi sebagai media ungkapan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Penelitian ini menggunakan landasan teori folklor yang dikemukakan oleh Endraswara dan Danandjaja, dengan fokus pada bentuk folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat, serta dokumentasi kegiatan ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi Selamatan Bumi terdiri atas beberapa tahapan prosesi, seperti penetapan tanggal, pembacaan doa (dongani), ikrar, pemotongan tumpeng, hingga pertunjukan kesenian tradisional. Temuan data menunjukkan terdapat 15 bentuk folklor sebagian lisan dan 16 bentuk folklor bukan lisan yang memiliki makna simbolik dan nilai filosofis. Tradisi ini berperan sebagai sarana pelestarian budaya, penguatan solidaritas sosial, serta media pendidikan nilai-nilai kearifan lokal. Dengan demikian, Selamatan Bumi masih relevan dan penting untuk dilestarikan di tengah perubahan sosial masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kondisi yang ditemukan di SDN 008 Tarakan yaitu kegiatan pembelajaran literasi di kelas IV masih didominasi oleh penggunaan buku teks dan Lembar Kerja Siswa (LKS), serta kurangnya media pembelajaran yang menarik dan berbasis budaya lokal, sehingga berdampak pada rendahnya minat baca dan keterlibatan siswa dalam kegiatan literasi. Selain itu, buku bacaan yang digunakan belum mengintegrasikan bahasa daerah sebagai bagian dari penguatan identitas budaya siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku cerita bergambar dwibahasa berbasis kearifan lokal Suku Tidung serta mengetahui kelayakan, manfaat, dan respon guru serta siswa terhadap media yang dikembangkan pada pembelajaran literasi siswa kelas IV-B di SDN 008 Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development) dengan model ADDIE, yang meliputi tahap Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku cerita bergambar dwibahasa yang dikembangkan dinyatakan sangat layak digunakan, berdasarkan hasil validasi ahli media, ahli bahasa Indonesia, dan ahli bahasa Tidung. Selain itu, hasil angket respon guru menunjukkan kategori sangat tertarik, serta hasil angket ketertarikan siswa menunjukkan kategori sangat tinggi, yang mengindikasikan bahwa media mampu meningkatkan minat baca dan pemahaman siswa terhadap materi bacaan. Berdasarkan hasil uji coba dan implementasi, dapat disimpulkan bahwa buku cerita bergambar dwibahasa berbasis kearifan lokal Suku Tidung layak dan praktis digunakan sebagai media pembelajaran literasi di sekolah dasar. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang kontekstual serta berkontribusi dalam pelestarian budaya dan bahasa daerah melalui kegiatan literasi di sekolah. Kata kunci: Buku Cerita Bergambar Dwibahasa, Kearifan Lokal, Literasi, Model ADDIE, Penelitian dan Pengembangan. The preliminary study result at SDN 008 Tarakan showed that literacy learning activities in grade IV were still dominated by the use of textbooks and Student Worksheets (LKS), as well as the lack of interesting and local culture-based learning media, resulting in low reading interest and student involvement in literacy activities. In addition, the reading books used had not been integrated with local languages as part of strengthening students' cultural identity. The purpose of this study was to develop a bilingual picture story book based on the local wisdom of the Tidung Tribe and to determine the feasibility, benefits, and responses of teachers and students to the media developed in literacy learning for grade IV-B students at SDN 008 Tarakan. This study employed the Research and Development method with the ADDIE model, which includes the Analyze, Design, Develop, Implement, and Evaluate stages. The results of the study indicated that the bilingual picture story book developed was declared very suitable for use, based on the validation results of media experts, Indonesian language experts, and Tidung language experts. In addition, the results of the teacher response questionnaire showed a very good category, and the results of the student interest questionnaire showed a very high category, which indicated that the media was able to increase students' interest in reading and understanding of reading materials. Based on the results of the trial and implementation, it can be concluded that the bilingual picture storybook based on the local wisdom of the Tidung Tribe is feasible and practical to use as a literacy learning medium in elementary schools. This research is expected to be an alternative contextual learning medium and contribute to the preservation of regional culture and language through literacy activities in schools. Keywords: Bilingual Picture Story Books, Local Wisdom, Literacy, ADDIE Model, Research and Development
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan pembelajaran biologi berbasis kearifan lokal yang terintegrasi dengan studi etnozoologi dalam implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur dan studi dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas guru biologi dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dari empat SMA yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembelajaran biologi melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, terutama pada materi keanekaragaman hayati. Integrasi etnozoologi diwujudkan melalui pemanfaatan fauna lokal dan endemik sebagai sumber belajar kontekstual, termasuk kegiatan observasi lapangan pada ekosistem mangrove. Namun demikian, implementasi pembelajaran ini masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan waktu, pendanaan, sarana dan prasarana, serta motivasi peserta didik. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui penilaian proyek, presentasi, penggunaan rubrik, dan penilaian kualitatif. Penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran biologi berbasis kearifan lokal terintegrasi etnozoologi berpotensi meningkatkan relevansi pembelajaran biologi, memperkuat identitas budaya peserta didik, serta mendukung implementasi Kurikulum Merdeka yang kontekstual dan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berbentuk handout berbasis kearifan lokal Kalimantan Utara pada mata pelajaran IPAS untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar. Selain itu, penelitian ini juga ditujukan untuk mengetahui tingkat kelayakan media yang dikembangkan melalui hasil validasi dari ahli desain, ahli bahasa, dan ahli materi, serta menilai tingkat ketertarikan berdasarkan angket respon siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang mencakup lima tahapan, yaitu: Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi. Instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data meliputi observasi, wawancara, lembar validasi, angket respon siswa, serta dokumentasi. Hasil validasi menunjukkan bahwa penilaian dari ahli desain sebesar 94%, dari ahli bahasa sebesar 85,7% kategori “sangat layak”, dan dari ahli materi sebesar 80% kategori “layak”. Uji coba terbatas memperoleh persentase 81,79%, sedangkan uji coba lapangan mencapai 82,79%, keduanya termasuk kategori sangat menarik. Berdasarkan hasil validasi dan respon siswa, pengembangan materi ajar berbentuk handout berbasis kearifan lokal Kalimantan Utara dinyatakan sangat layak serta menarik untuk digunakan dalam pembelajaran IPAS kelas IV Sekolah Dasar
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hutan mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis tinggi, namun saat ini menghadapi ancaman kerusakan serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran masyarakat adat Tidung dalam konservasi serta pemanfaatan berkelanjutan hutan mangrove di Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni 2025 dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan etnografi. Subjek penelitian ditentukan secara purposif, meliputi tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga yang terlibat aktif dalam kegiatan konservasi. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara semi-terstruktur, observasi partisipan, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta divalidasi menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat Tidung berperan penting dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove melalui penerapan kearifan lokal. Aturan adat “Maliu” melarang penebangan sembarangan dan tindakan yang merusak lingkungan. Selain itu, masyarakat aktif melakukan penanaman kembali serta pengawasan kolektif terhadap kawasan pesisir. Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan secara seimbang dan berkelanjutan, seperti pemanfaatan hasil perikanan untuk pangan dan ekonomi, serta penggunaan kayu, nipah, dan tanaman obat untuk kebutuhan sehari-hari. Praktik ini mencerminkan harmoni antara kepentingan ekonomi, sosial-budaya, dan kelestarian lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk menghasilkan modul pembelajaran berbasis kearifan lokal dengan mengangkat pohon kapur sebagai materi pembelajaran pada BAB V “Ini Khas Daerahku” untuk siswa kelas IV SDN 003 Malinau Selatan Hilir. Modul dikembangkan sebagai solusi atas kurangnya bahan ajar kontekstual yang memuat potensi lokal di lingkungan sekolah, khususnya di Desa Setarap, Malinau Selatan Hilir. Dengan metode Research & Development (R&D) menggunakan model ADDIE, tahapan ini mencakup Analysis, Design, Development, Implementation, Dan Evaluation. Berdasarkan hasil validasi modul yang dihasilkan masuk dalam kategori sangat layak, dengan rata-rata kevalidan memperoleh presentase skor sebesar 90,96%, berdasarkan penilaian dari ahli media, ahli materi, ahli bahasa dan praktisi. Selain itu hasil angket respon peserta didik untuk kemenarikan modul memperoleh skor 88,13% yang juga termasuk dalam kategori sangat menarik. Modul ini mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam bentuk teks, gambar, ilustrasi, serta kegiatan belajar kontekstual, dan dapat digunakan secara mandiri oleh siswa. Dengan demikian, modul ini dinyatakan layak dan menarik untuk dimanfaatkan pada kegiatan pembelajaran IPAS.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Budidaya padi ladang di Desa Long Beluah masih dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan kearifan lokal masyarakat Dayak Ga'ai dan hasil panen yang diperoleh umumnya hanya digunakan untuk konsumsi pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kearifanlokal pada budidaya padi ladang suku Dayak Ga'ai di Desa Long Beluah Kecamatan Tanjung Palas Barat Kabupaten Bulungan, dan mendeskripsikan sistem pembagian kerja pada budidaya padi ladang suku Dayak Ga'ai di Desa Long Beluah Kecamatan Tanjung Palas Barat Kabupaten Bulungan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode penentuan informan secara purposive method.Informan ditentukan berdasarkan kriteria seperti petani yang menanam padi ladang,pengalaman usaha tani minimal 1 tahun, luas minimal 1 ha. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokaI tercermin dalam penggunaan benih lokal seperti padi cina, bungkirip, miu, batu bulan, hatu bulan, mayang, imban, ketan putih, ketan hitam,langsat, lawas, lanuk, puput, mas, pulan, dan senuan, serta pemanfaatan alat-alat tradisional seperti ani-ani (lekapan), rotan (ngan), tempat simpan benih (sa'aw), dan tempat injak padi dari kayu dan rotan. Sistem pembagan kerja dilakukan secara turun-temurun berdasarkan jenis kelamin, di mana laki-laki bertugas membuka lahan, menugal,mengangkut dan menyimpan hasil panen, serta menjaga ladang. Perempuan bertugas memilih benih,menanam,merawat tanaman, memanen, menjemur padi, dan menanam tumpang sari. Sistem gotong royong menjadi ciri khas dalam seluruh proses bertani, dari tanam hingga panen.Praktik bertani ini tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat Dayak Ga'ai.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kajian etnofarmakologi merupakan studi yang membahas tentang senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam tumbuhan dan pemanfaatannya dalam pengobatan tradisional. Untuk mengetahui lebih dalam tentang pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional maka dilakukan penelitian di Desa Setabu mengenai pemanfaatan tumbuhan akar kuning (Arcangelisia flava Merr.) yang menggunakan tumbuhan tersebut sebagai obat penyakit malaria dan penyakit lainnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dilakukan, melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Setabu mengolah batang dan akar tumbuhan akar kuning menjadi ramuan herbal yang direbus dan diminum untuk mengobati penyakit malaria, diare, demam, dan penyakit kuning. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun melalui pengalaman langsung sebagai akibat dari terbatasnya akses ke fasilitas Kesehatan. Data penelitian juga menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan akar kuning memiliki kaitan dengan pembelajaran IPA di SMP, terutama dalam materi ekologi, keanekaragaman hayati, dan pemahaman mengenai zat aditif alami. Temuan ini dapat memperkaya pembelajaran kontekstual berbasis kearifan lokal serta mendukung pelestarian budaya dan lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu tradisi kearifan lokal petani padi Adan Krayan sebelum perendaman benih adalah mengajak seluruh petani, melalui denominasi gereja, untuk membawa benih padi berkualitas guna didoakan di gereja, dengan harapan benih tersebut tumbuh subur, dilaksanakan secara intensif dengan metode pengelolaan pertanian padi sawah yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mendeskripsikan praktik budidaya usahatani padi Adan yang berkaitan dengan kearifan lokal. 2. Menganalisis strategi pengembangan usahatani yang meliputi strategi peningkatan produksi dan pemasaran. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara purposive (sengaja) artinya tempat lokasi penelitian sengaja dipilih karena terdapat petani yang berusahatani padi sawah Adan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, Dengan kearifan lokal, mempertahankan tradisi budidaya padi sawah dari orang tua yang terdahulu, terdapat beberapa istilah Bahasa lokal Dayak dalam penyebutan setiap kegiatan budidaya padi Adan seperti Ngarapen adalah budaya gotong royong petani Krayan, persiapan bibit disebutkan temina Ulun pade, jemur atau penjemuran disebutkan midang, kemudian ada penyiapan lahan dan pengendalian gulma dengan menggunakan kerbau, serta pengendalian hama dengan itik yg dimasukkan ke sawah. Strategi pengembangan usahatani yang meliputi strategi peningkatan produksi dan pemasaran adalah Temuan matriks EFAS dan matriks IFAS dicocokkan sehingga membentuk matriks IE, adalah dalam fase pertumbuhan stabilitas (diversivication) fokus pada peningkatan produksi, kualitas, dan perluasan pasar
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kearifan lokal adalah usaha manusia dengan akal budinya untuk bertindak dan bersikap. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pembelajaran SBdP berbasis kearifan lokal kelas IV di SD Negeri 009 Malinau. Penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan analisis data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini pada tahap perencanaan guru menentukan tema, buku dan modul seni rupa terkait pembelajaran kearifan lokal. Tahap pelaksanaan guru memberikan apersepsi terkait tarian zapin dan tarian dayak, setelah itu memberikan contoh gambar atau pola seni rupa batik secara individu, lalu guru membimbing siswa untuk mencoba membuat batik tidung dan batik pelita kanaan. Tahap evaluasi guru memberikan asesmen formatif terkait pengetahuan dan keterampilan. Yang ditentukan 60% siswa mampu membuat pola batik sesuai pengetahuannya, dan 40% siswa mampu mewarnai pola batik. Saran dari penelitian diharapkan siswa mengenal kearifan lokal di daerahnya dalam kegiatan belajar mengajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi belajar. Diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian yang serupa atau dengan pembelajaran tematik berbasis kearifan lokal untuk penelitian selanjutnya, untuk guru dalam proses pembelajaran kearifan lokal dapat dilakukan berkesinambungan dalam mata pelajaran SBdP, dan untuk sekolah meningkatkan kualitas sekolah dan lebih melengkapi fasilitas dan kebutuhan siswa agar siswa dapat tertarik dan termotivasi untuk belajar SBdP berbasis kearifan lokal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan modal penyelesaian sengketa tanah melalui lembaga adat di kecamatan kayan selatan. Jenis penelitian yang digunakan yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan pendekatan perundang-undangan. Hasil dari penelitian ini bahwa peran lembaga adat di kecamatan kayan selatan dalam menyelesakkan sengketa tanah adalah sebagai hakim perdamaian, dalam sidang adat berperan sebagai pengambilannkeputusan adat, dimana para pihak mengikat diri terhadap putusan yang diambil oleh pengurus lembaga adat.