ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KAJIAN ETNOBOTANI PADA RANGKAIAN UPACARA ADAT PERNIKAHAN SUKU BUGIS BONE DI NUNUKAN SERTA MANFAATNYA BAGI PEMBELAJARAN BIOLOGI Abstrak Bagi masyarakat suku Bugis Bone di Nunukan, tumbuhan bukan sekadar pelengkap dalam upacara adat pernikahan, melainkan sebagai makna simbolis yang diwariskan secara turun-temurun. Sayangnya, pengetahuan tersebut sebagian besar masih tersimpan dalam ingatan para tetua dan belum banyak didokumentasikan secara ilmiah. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap jenis tumbuhan, bagian tumbuhan, dan fungsi setiap bagian tumbuhan yang digunakan dalam rangkaian upacara adat pernikahan tersebut, sekaligus menelaah manfaatnya bagi pembelajaran biologi. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilaksanakan di Kelurahan Nunukan Barat, Kabupaten Nunukan. Data diperoleh melalui wawancara dengan empat narasumber, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahannya diuji dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menemukan 21 spesies tumbuhan dari 12 famili, dengan Arecaceae dan Musaceae sebagai famili yang paling banyak dimanfaatkan. Buah menjadi bagian yang paling sering digunakan (33%), disusul daun (19%), sedangkan kulit batang paling jarang digunakan (4%). Sebagian besar tumbuhan berfungsi sebagai perlengkapan upacara (14 spesies) dan sajian makanan (12 spesies), selebihnya sebagai hiasan dan pembungkus makanan, dan setiap tumbuhan membawa makna simbolik bagi kedua mempelai. Ketika suatu tumbuhan sulit diperoleh, masyarakat menggantinya dengan tumbuhan sejenis atau menanamnya sendiri di pekarangan. Temuan ini dapat menjadi sumber belajar kontekstual pada materi Keanekaragaman Hayati kelas X sekolah menengah atas, terutama untuk melatih peserta didik mengenali tumbuhan lokal yang dekat dengan kehidupan mereka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hasil belajar siswa pada pelajaran Biologi kelas XI SMA Negeri 1 Tanjungselor masih tergolong rendah. Kondisi tersebut berkaitan dengan proses pembelajaran yang masih berpusat pada guru sehingga keterlibatan siswa dalam pembelajaran relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe talking stick terhadap hasil belajar siswa pada pelajaran Biologi kelas XI SMA Negeri 1 Tanjungselor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian quasi experiment dan desain Non Equivalent Control Group Design. Sampel penelitian terdiri atas 72 siswa kelas XI BIO 3 dan XI BIO 4 yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kelas XI BIO 3 sebagai kelas eksperimen diberikan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick, sedangkan kelas XI BIO 4 sebagai kelas kontrol diberikan pembelajaran konvensional. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kognitif berupa pretest dan posttest. Data dianalisis menggunakan Analysis of Covariance (ANCOVA) dengan bantuan SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pretest kelas eksperimen sebesar 34,56 dan kelas kontrol sebesar 33,40, sedangkan rata-rata posttest kelas eksperimen sebesar 85,26 dan kelas kontrol sebesar 78,36. Hasil uji ANCOVA menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,006 0,05, sehingga terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe talking stick terhadap hasil belajar siswa. Penerapan model pembelajaran tersebut dapat menjadi salah satu alternatif dalam pembelajaran Biologi untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih interaktif dan mendorong keterlibatan siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sekolah berbasis pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memadukan kurikulum nasional dengan pendidikan keagamaan, sehingga berpotensi membentuk persepsi siswa yang khas terhadap mata pelajaran Biologi. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi siswa SMA terhadap mata pelajaran Biologi di sekolah berbasis pesantren, dikaji berdasarkan aspek kognitif dan afektif dengan merujuk pada konsep persepsi sebagai proses individu dalam menerima, memahami, dan memaknai suatu objek berdasarkan pengalaman belajarnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek dua puluh siswa kelas XI dan XII MIA SMA Muhammadiyah Boarding School Tarakan yang ditentukan melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik model Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kognitif siswa memahami Biologi sebagai ilmu kehidupan yang bermanfaat dan penting bagi masa depan, meskipun sebagian mengalami kesulitan pada materi abstrak seperti sel, enzim, dan metabolisme. Secara afektif, siswa menunjukkan respons yang cenderung positif namun bervariasi, disertai preferensi terhadap praktikum dan media visual. Persepsi terhadap integrasi Biologi dengan nilai keislaman juga beragam. Dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa terhadap Biologi di sekolah berbasis pesantren bersifat multidimensi, dipengaruhi oleh pengalaman belajar serta konteks keagamaan lingkungan pesantren.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) terhadap keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Biologi pada materi ekosistem. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Sebatik Tengah pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment berupa Nonequivalent Control Group Design. Sampel penelitian terdiri atas 68 siswa, yaitu 34 siswa kelas XC sebagai kelas kontrol dan 34 siswa kelas XD sebagai kelas eksperimen yang dipilih melalui Purposive Sampling. Instrumen penelitian meliputi tes uraian keterampilan berpikir kritis dan angket respon siswa. Data dianalisis menggunakan Uji ANCOVA. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai Pretest kelas kontrol dan eksperimen masing-masing sebesar 42,44 dan 41,65. Setelah perlakuan, rata-rata nilai Posttest kelas kontrol sebesar 56,38, sedangkan kelas eksperimen sebesar 73,74. Hasil ANCOVA menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p 0,05), yang mengindikasikan bahwa model PjBL berpengaruh signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Hasil angket respon siswa memperoleh persentase 85,82% dengan kategori sangat baik, yang menunjukkan respon positif terhadap penerapan model PjBL dalam pembelajaran Biologi. Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) terbukti meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Biologi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) di Kota Tarakan tidak hanya memiliki fungsi ekologis yang penting, tetapi juga berpotensi sebagai sarana pendidikan lingkungan. Namun, pengelolaan kawasan di tengah wilayah perkotaan ini dihadapkan pada berbagai kendala. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran dan tantangan pengelola KKMB Kota Tarakan, serta menganalisis potensi kawasan tersebut sebagai sumber pembelajaran biologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam bersama informan pengelola kawasan, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran pengelola dalam menjaga kelestarian KKMB telah berjalan melalui manajemen kawasan secara rutin, yang mencakup pemeliharaan vegetasi mangrove dari sampah, perlindungan populasi bekantan (Nasalis larvatus) melalui pemantauan bulanan dan pemberian pakan tambahan, pengawasan aktivitas pengunjung, serta pelaksanaan edukasi lingkungan. Dalam pelaksanaannya, pengelola menghadapi tantangan berupa gangguan dari luar seperti tumpukan sampah plastik yang masuk ke kawasan, keterbatasan sumber daya manusia, dan minimnya fasilitas pendukung. Selain itu, terdapat kendala yuridis berupa tumpang tindih status kepemilikan lahan yang menghambat perbaikan aset fisik. Meskipun demikian, KKMB memiliki potensi dan keselarasan yang kuat untuk diintegrasikan sebagai sumber pembelajaran biologi yang kontekstual. Kawasan ini sangat relevan untuk mendukung materi ekosistem, keanekaragaman hayati, interaksi makhluk hidup, dan pelestarian lingkungan. Disimpulkan bahwa pengelola telah menjalankan fungsi manajemen konservasi dengan baik di tengah berbagai tantangan, dan kawasan ini sangat potensial untuk dimanfaatkan secara maksimal sebagai laboratorium alam bagi dunia pendidikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan busana adat dan aksesoris merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Suku Dayak yang mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam. Namun, pengetahuan tersebut belum banyak didokumentasikan dan belum terintegrasi dalam pembelajaran biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan dan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dalam pembuatan busana adat dan aksesoris Suku Dayak di Desa Setarap, Kabupaten Malinau, mengetahui proses pemanfaatannya, serta mengkaji relevansinya dengan pembelajaran biologi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive dan snowball sampling, melibatkan tokoh adat serta pengrajin yang memiliki pengetahuan tentang pembuatan busana adat dan aksesoris. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 spesies tumbuhan yang tergolong dalam 9 famili yang dimanfaatkan, yaitu Talun (Artocarpus corneri), Rotan Sega (Calamus caesius), Bambu Petung (Dendrocalamus asper), Ulin (Eusideroxylon zwageri), Rudraksa (Elaeocarpus ganitrus), Tas (Goniothalamus velutinus), Sang (Itaya amicorum), Adau (Nauclea orientalis), Pandan (Pandanus tectorius), Bambu Talang (Schizostachyum brachycladium), dan Meranti (Shorea sp.). Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi kulit batang, batang, daun, akar, dan biji, dengan kulit batang sebagai bagian yang paling banyak dimanfaatkan. Proses pembuatannya meliputi pengambilan bahan, pemotongan, pengeringan, pengolahan, pembentukan, dan perakitan. Hasil penelitian ini relevan dengan materi keanekaragaman hayati pada pembelajaran Biologi Fase E SMA sebagai sumber belajar berbasis etnobotani dan kearifan lokal
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Breast cancer (BC) merupakan kanker dengan kasus paling tinggi kedua didunia setelah kanker paru-paru dan tertinggi pertama di negara Indonesia. Salah satu penyebab BC adalah adanya mutasi pada protoonkogen sehingga gen abnormal berubah menjadi gen onkogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis gen onkogen pada sel BC, mengeksplorasi fungsi gen bersifat onkogen, dan mengkaji potensi penerapannya pada pembelajaran biologi di tingkat SMA. Jenis penelitian systematic review ini menggunkan metode penelitian PRISMA-P. Artikel yang digunakan berasal dari artikel internasional melalui basis data Scopus dengan melewati kriteria yang ditentukan peneliti dengan rentang waktu 2016-2026. Proses analisis data penelitian ini menggunakan uji statistik Shiny GO 0.85.1 melalui data ensambl Gene Cards untuk menganalisis proses biologi, komponen seluler, dan fungsi molekuler onkogen pada BC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 286 artikel, namun hanya 135 artikel yang berhubungan dengan gen yang bersifat onkogen pada BC. Onkogen tersebut sangat berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan BC melalui proses hematopoietic progenitor cells, mengatur migrasi, invasi dengan melibatkan nukleus dan aparatus golgi, melibatkan apoptosis dan hilangnya kontrol siklus sel agar metastasis dapat terjadi, serta terdistribusi di kromosom X dan hampir seluruh kromosom autosom kecuali kromosom 20. Hasil penelitian berpotensi untuk diterapkan sebagai sumber belajar pada pembelajaran biologi SMA kelas XII melalui modul ajar dengan metode pembelajaran Case Based Learning (CBL) pada sub bab materi pewarisan sifat tepatnya pada materi mutasi gen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Head and Neck Squamous Cell Carcinoma (HNSCC) merupakan jenis kanker ganas keenam tertinggi di dunia (>900.000 kasus baru/tahun 2020). Salah satu penyebab kanker mampu bermetastasis karena di sebabkan oleh peran onkogen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi jenis-jenis gen yang bersifat onkogen pada HNSCC dan, menganalisis fungsi biologinya dalam sel HNSCC, serta mengkaji potensi penerapannya pada pembelajaran biologi. Ekplorasi menggunakan metodologi systematic riview melalui PRISMA-P terdapat 98 artikel dari basis data Scopus (2016–2026), yang selanjutnya menghasilkan 56 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan 55 gen onkogen yang teridentifikasi dari artikel tersebut. Analisis data menggunakan ShinyGO 0.85.1 melalui data Ensembl pada GeneCard mengungkapkan tiga aspek utama yaitu proses biologis (angiogenesis dan vasculature development), komponen seluler (serine protease inhibitor complex), dan fungsi molekuler (transcription coregulator binding). Hasil temuan ini menunjukkan bahwa gen-gen onkogenik ini berkontribusi secara signifikan pada perkembangan HNSCC dengan mendorong proliferasi sel, migrasi, penghindaran sistem imun, dan pembentukan pembuluh darah baru. Temuan penelitian diterapkan sebagai sumber belajar pada pembelajaran biologi ke dalam Modul Ajar Biologi untuk kelas XII pada sub bab materi pewarisan sifat tepatnya pada materi mutasi gen, yang berbasis Case-Based Learning yang relevan dengan tujuan pembelajaran ke-10 (menjelaskan peristiwa mutasi dan sebab-sebab terjadinya mutasi) pada Kurikulum Merdeka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penggunaan smartphone yang semakin intensif di kalangan siswa memberikan berbagai manfaat dalam pembelajaran, namun juga berpotensi menimbulkan distraksi digital yang dapat mengganggu konsentrasi belajar. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat penggunaan smartphone, tingkat distraksi digital siswa, serta hubungan penggunaan smartphone dengan distraksi digital siswa pada pembelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Tarakan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis deskriptif korelasional. Sampel penelitian berjumlah 72 siswa kelas XI Kesehatan 1 dan 2 yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner penggunaan smartphone dan kuesioner distraksi digital yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, uji test–retest reliability, dan uji korelasi Pearson dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan tingkat penggunaan smartphone siswa berada pada kategori tinggi (97,2%) dan sangat tinggi (2,8%). Tingkat distraksi digital siswa berada pada kategori sangat terganggu (41,7%) dan ekstrem terganggu (58,3%). Hasil uji korelasi Pearson memperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,632 dengan signifikansi 0,001 (0,05), yang menunjukkan adanya hubungan positif, signifikan, dan kuat antara penggunaan smartphone dengan distraksi digital siswa. Semakin tinggi penggunaan smartphone, semakin tinggi pula distraksi digital siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan smartphone dalam pembelajaran perlu dikelola secara bijak agar dapat mendukung proses belajar tanpa mengurangi fokus siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui proses pembuatan Tamba makanan khas Dayak Bulusu, (2) mendeskripsikan keunikan makanan khas Tamba di suku Dayak Bulusu dan (3) menganalisis keterkaitan antara makanan tradisional Tamba dengan materi pembelajaran Biologi di SMA. Penelitian dilaksanakan di Desa Maning, Kujau, Behakung, Mendupo, Kecamatan Betayan Kabupaten Tana Tidung Provinsi Kalimantan Utara. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan naratif, penelitian ini menggali informasi yang jelas tentang Tamba, cara pengolahannya dan pentingnya Tamba di perayaan adat suku Dayak Bulusu. Subjek penelitian dipilih menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi yang melibatkan delapan orang responden. Analisis data dilakukan melalui teknik pengkodean, yaitu dengan mentranskripsikan data lapangan terkait proses pengolahan Tamba, keunikan, penyajiannya di perayaan adat suku Dayak Bulusu serta pengintegrasiannya di pembelajaran Biologi. Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel. gambar, dan uraian naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan Tamba yaitu ikan disiangi, disayat, dicuci, ditiriskan, diberi garam, dimarinasi, dibalur dengan karbohidrat, dimasukkan dalam wadah tertutup lalu disimpan. Jenis bahan karbohidrat yang dapat digunakan adalah singkong yang dihaluskan atau nasi. Tamba memiliki keunikan yaitu dapat dikonsumsi secara mentah, memiliki bau yang khas, merupakan salah satu cara pengawetan tradisional saat bahan baku melimpah, diolah secara tradisional tanpa bakteri starter, dan menjadi makanan khas di setiap perayaan adat Suku Dayak Bulusu. Sebagai makanan fermentasi dan menjadi kearifan lokal, Tamba dapat. diintegrasikan dengan pembelajaran Biologi melalui materi Bioteknologi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan pembelajaran biologi berbasis kearifan lokal yang terintegrasi dengan studi etnozoologi dalam implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur dan studi dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas guru biologi dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dari empat SMA yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembelajaran biologi melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, terutama pada materi keanekaragaman hayati. Integrasi etnozoologi diwujudkan melalui pemanfaatan fauna lokal dan endemik sebagai sumber belajar kontekstual, termasuk kegiatan observasi lapangan pada ekosistem mangrove. Namun demikian, implementasi pembelajaran ini masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan waktu, pendanaan, sarana dan prasarana, serta motivasi peserta didik. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui penilaian proyek, presentasi, penggunaan rubrik, dan penilaian kualitatif. Penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran biologi berbasis kearifan lokal terintegrasi etnozoologi berpotensi meningkatkan relevansi pembelajaran biologi, memperkuat identitas budaya peserta didik, serta mendukung implementasi Kurikulum Merdeka yang kontekstual dan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Agro Wisata Karungan Tarakan merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Tarakan. Keberadaan destinasi wisata ini, berpotensi mengancam habitat tumbuhan yang ada di area tersebut, salah satunya adalah Pteridophyta. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis, menganalisis indeks keanekaragaman tumbuhan paku dan potensi implementasi tumbuhan paku teresterial dan epifit di Agro Wisata Karungan Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode survey dan jelajah dengan tekhnik purposive sampling, dan dianalisis menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian di Agro Wisata Karungan Kelurahan Mamburungan Timur, Tarakan menujukkan bahwa ditemukan sebanyak 20 spesies tumbuhan paku (Pteridophyta) yang meliputi 13 spesies tumbuhan paku teresterial dan 7 spesies tumbuhan paku epifit dari 12 family yang terdiri dari family Aspleniaceae, Nephrolepidaceae, Blechnaceae, Athyriaceae, Dryopteridaceae, Thelypteridaceae, Polypodiaceae, Lygodiaceae, Pteridaceae, Gleicheniaceae, Lycopodiaceae, dan Cyatheaceae. Analisis data penelitian dan kurikulum pembelajaran ditingkat SMA menunujukkan bahwa pengetahuan keanekaragaman tumbuhan paku dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi di SMA dan potensi implementasi penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber belajar dalam bentuk flipbook untuk mendukung proses pembelajaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keanekaragaman anggrek memiliki nilai ekologis, ekonomi dan edukatif. Namun informasi mengenai keanekaragaman anggrek di Kawasan Hutan Bukit Mas Kota Tarakan masih terbatas sehingga belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber bahan ajar. Habitat anggrek tersebar dari daratan rendah sampai daratan tinggi. Pertumbuhan anggrek dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang dimana pada kawasan Hutan Bukit Mas, faktor intensitas cahaya yang rendah dapat menyebabkan kurangnya pertumbuhan anggrek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks keanekaragaman anggrek di Kawasan Hutan Bukit Mas serta mengetahui potensinya sebagai bahan ajar pada pembelajaran biologi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode jelajah (eksploratif) dengan teknik purposive sampling yaitu memperhatikan aksesibilitas dan keberadaan anggrek yang tumbuh alami di sepanjang jalur Kawasan Hutan Bukit Mas, khususnya disisi kanan dan kiri jalur joging yang telah dibuat oleh pengelola kawasan. Data sampel anggrek yang ditemukan terdapat 579 individu yang meliputi dua spesies yaitu Bromheadia finlaysoniana (Lindl) berjumlah 576 individu dan Dendrobium crumenatum Sw berjumlah 3 individu. Hasil perhitungan nilai indeks keanekaragaman pada anggrek Bromheadia finlaysoniana (Lindl) sebesar 0,912 dan anggrek Dendrobium crumenatum Sw sebesar 0,636 yang keduanya dalam kategori rendah. Hasil penelitian ini dapat berpotensi sebagai bahan ajar dalam pembelajaran biologi pada mata pelajaran Keanekaragaman Hayati untuk siswa SMA/MA kelas X (fase E) kurikulum merdeka. Data ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi, studi kasus dan proyek pembelajaran berbasis masalah untuk menganalisis tngkat keanekaragaman yang rendah dan upaya pelestarian anggrek di lingkungan sekitar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi jenis tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat pernikahan Suku Bugis di Desa Tanjung Aru beserta pemanfaatannya, dan (2) mengetahui keterkaitan temuan tersebut dengan pembelajaran biologi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif, yang berfokus pada pemahaman terhadap fenomena sosial berupa pemanfaatan tumbuhan dalam ritual adat pernikahan masyarakat Suku Bugis di Desa Tanjung Aru. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Subjek penelitian dipilih menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik snowball sampling, yang melibatkan empat orang responden. Analisis data dilakukan melalui teknik pengodean, yaitu dengan mentranskripsikan data lapangan terkait jenis tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat serta pemanfaatannya. Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel, gambar, dan uraian naratif untuk mendukung penarikan kesimpulan. Adapun keterkaitannya dengan pembelajaran biologi dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Suku Bugis di Desa Tanjung Aru masih melaksanakan tahapan-tahapan ritual pernikahan, antara lain: mapettu ada, mappasau, mapasili, mappacci, maduppa botiing, mapanre temme, mappasikarawa, dan maparola. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan dalam ritual tersebut adalah buah, sedangkan bagian yang paling sedikit digunakan adalah biji dan bunga. Pengolahan tumbuhan dilakukan dengan cara dicuci, dan beberapa jenis tumbuhan digunakan tanpa proses pengolahan terlebih dahulu. Berdasarkan hasil analisis, keterkaitan antara penelitian ini dan pembelajaran biologi sangat relevan, khususnya pada kelas X Fase E. Penelitian ini sesuai dengan materi keanekaragaman makhluk hidup, interaksi, dan peranannya dalam ekosistem, yakni pada kompetensi dasar 3.1 (mengidentifikasi dan mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan ciri-cirinya) dan 3.2 (menjelaskan keanekaragaman hayati dan perannya dalam kehidupan).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tanaman Bulunangko (Coleus scutellarioides) oleh masyarakat Suku Toraja di Kampung Tator, Kabupaten Nunukan, serta menganalisis potensi integrasinya ke dalam pembelajaran Biologi di tingkat SMA. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman Bulunangko dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti batuk, demam, TBC, muntah darah, dan anemia. Selain itu, tanaman ini juga dikonsumsi sebagai sayuran harian. Bagian tanaman yang digunakan mencakup daun, pucuk, dan batang muda, dengan teknik pengolahan seperti peremasan, perendaman, serta pencampuran dengan madu atau telur ayam kampung. Pengetahuan mengenai penggunaan tanaman ini diwariskan secara turun-temurun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman Bulunangko dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Biologi berbasis potensi lokal dan penguatan literasi budaya, sehingga penting untuk dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya dan pengetahuan tradisional
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keberadaan udang air tawar pada ekosistem sungai tropis memiliki peran penting dalam menjaga kesimbangan ekologis serta berpotensi menjadi sumber belajar kontekstual dalam pendidikan biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan karakteristik morfologi serta habitat udang (Crustacea) yang ditemukan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Hutan Gunung Selatan Kota Tarakan, sekaligus mengkaji relevansinya sebagai sumber pembelajaran biologi. Penelitian menggunakan metode deskriptif-eksploratif dengan teknik purposive sampling pada empat stasiun pengamatan. Sebanyak 12 individu berhasil dikoleksi, masing-masing 1 individu (Stasiun I), 2 individu (Stasiun II), 4 individu (Stasiun III), dan 5 individu (Stasiun IV). Seluruh sampel teridentifikasi sebagai satu spesies, yaitu Macrobrachium rosenbergii (udang galah). Spesies ini ditemukan pada habitat beraliran lambat dengan substrat berpasir hingga sedikit berlumpur, disertai batuan berlumut dan vegetasi riparian yang rapat. Karakteristik habitat tersebut mendukung ketersediaan ruang berlindung dan sumber pakan bagi M. rosenbergii. Temuan ini memiliki implikasi pedagogis yang signifikan, karena dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar berbasis lingkungan pada materi Keanekaragaman Hayati di SMA serta pengayaan materi pada mata kuliah Invertebrata dan Ekologi Hewan di perguruan tinggi. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada dokumentasi keanekaragaman fauna perairan di Kota Tarakan, tetapi juga memperkuat integrasi potensi lokal dalam pembelajaran biologi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Identifikasi tumbuhan adalah proses untuk mengenali dan menentukan ciri-ciri morfologi tumbuhan. Rotan adalah jenis tanaman memanjat dari keluarga palma (Arecaceae) yang memiliki batang berbentuk silindris, fleksibel, dan biasanya berukuran panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis rotan. yang ada di Hutan Kabiran Desa Malinau Hulu dan menganalisis potensi hasil penelitian rotan sebagai pembelajaran biologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan metode jelajah secara purposive sampling di bantu dengan tabel pertelaan rotan. Identifikasi sampel menggunakan buku identifikasi rotan. Hasil penelitian ditemukan 7 spesies rotan yaitu Daemonorops jenkinsiana (Griff.) Mart., Korthalsia flagellaris Miquel, Calamus javensis Blume., Korthalsia rostrata Blume., Calamus scipionum Loureiro., Daemonorops sabut Becc., dan. Calamus caesius Blume. Hasil penelitian ini dapat diintegrasikan sebagai sumber belajar biologi pada materi keanekaragaman hayati dengan kompetensi dasar 3.2 Menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia beserta ancaman dan pelestariannya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepayang (Pangium edule Reinw.) adalah tumbuhan berkayu dari famili Achariaceae yang seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan sebagai pangan, rempah, bahan bangunan, dan pengawet ikan. Salah satu suku yang memanfaatkan tumbuhan Kepayang adalah suku Dayak Kenyah Lepo Ta’u yang berada di Desa Long Nawang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan tumbuhan Kepayang oleh masyarakat Suku Dayak Kenyah Lepo Ta’u di Desa Long Nawang, serta keterkaitannya dengan pembelajaran Biologi di tingkat SMA. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif dan pendekatan naratif. Sampel penelitian dipilih secara purposive dengan jenis snowball sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan tumbuhan Kepayang sebagai bahan makanan, konstruksi, dan kayu bakar. Buah Kepayang diolah menjadi cemilan, makanan fermentasi, dan non-fermentasi. Batang pohon dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, sedangkan rantingnya digunakan sebagai bahan bakar. Analisis data penelitian dan kurikulum pembelajaran IPA di tingkat SMP dan Biologi di tingkat SMA menunjukan bahwa pengetahuan lokal tentang pemanfaatan Kepayang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi di SMA untuk memperkaya pemahaman siswa tentang keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya. Kepayang (Pangium edule Reinw.), a woody plant from the family Achariaceae, is traditionally utilized in various forms as food, spices, construction materials, and fish preservatives. The Dayak Kenyah Lepo Ta'u people in Long Nawang Village are among the indigenous communities that incorporate Kepayang into their daily lives. This study aims to explore the ethnobotanical practices related to Kepayang in this community and investigate its pedagogical relevance to high school biology education. A qualitative narrative approach was applied, with purposive and snowball sampling techniques guiding participant selection. Data were collected through field observation, interviews, and document analysis. The findings reveal that Kepayang is used as a food ingredient, construction material, and fuel source. Its fruit is processed into snacks and fermented and non-fermented foods, while its wood is used in basic construction and its branches as firewood. A cross-analysis with the national science and biology curriculum at the junior and senior high school levels indicates that local knowledge surrounding Kepayang offers rich content for contextualizing biodiversity and ethnobotany in biology lessons, enhancing students' understanding of local biological resources and sustainable use.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Uji formalin dapat dilakukan menggunakan kulit terong ungu Penelitian ini bertujuan untuk: 1) bagaimana pengaruh kulit terong ungu terhadap uji formalin pada tahu putih, 2) mengidentifikasi kandungan formalin pada tahu putih yang dijual di pasar Kota Tarakan dan 3) mengindetefikasi potensi penerapan pada pembelajaran Biologi. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksprimen dengan memberikan 3 perlakuan indikator alami kadar konsentrasi ekstrak kulit terong ungu, penelitian ini dilakukan di Gedung SBSN Laboratorium Kimia Dasar. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yakni keseluruhan tahu putih yang dijual dipasar kota tarakan dan tanaman terong ungu sedangkan sampel yang digunakan yaitu perwakilan dari populasi yang diteliti. Instrumen penelitian observasi dan dekomentasi. Analisis data yang digunakan yaitu Uji Prasyarat (Uji Normalitas dan Uji homogenitas). Uji Hipotesis (Anova Satu Arah) dan Uji Lanjut (Duncan). Adapun potensi pembelajaran dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kadar konsentrasi ekstrak kulit terong ungu L1, L2 dan L3 dapat digunakan untuk deteksi formalin pada kadar 10%, 20% dan 30% yang diperoleh berdasarkan grafik rekapitulasi. Namun jika dilihat dari perubahan warna yang terjadi secara perlahan-lahan maka yang lebih mudah untuk diamati pada kadar 10g + 20ml air. Selanjutnya, Hasil uji pangan tahu putih yang dijual di pasar Kota Tarakan yaitu Pasar Rakyat, Pasar tenguyun, Pasar Guser da Pasar Pagun adalah negative formalin. Berdasarkan hasil analisis pemanfaatan hasil penelitian sebagai sumber belajar, maka penelitian ini dimanfaatkan sebagai sumber belajar bagi peserta didik kelas XI SMA dengan materi pembelajaran Makanan dan Sistem Pencernaan Makanan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Suku Dayak Kenyah sampai saat ini masih memanfaatkan tumbuhan sebagai obat tradisional. Inventarisasi tumbuhan obat tradisional merupakan upaya pelestarian tumbuhan yang berpotensi sebagai obat. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pemanfaatan tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai obat oleh Suku Dayak Kenyah di Kecamatan Kayan Selatan Kabupaten Malinau dan Potensinya sebagai Materi Tambahan dalam Pembelajaran Biologi. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Pengumpulan data melalui wawancara, eksplorasi dan identifikasi, studi pustaka, dokumentasi. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 34 jenis tumbuhan obat yang tergolong dalam 21 famili. Bagian organ tumbuhan yang digunakan adalah daun, akar, batang, biji, buah, rimpang, dan umbi. Cara pengolahan dengan cara direbus, diparut, ditumbuk, diremas, diasapkan/dipanggang, diseduh, diperas, dihaluskan dan tanpa diolah dan cara penggunaan yaitu diminum, dimakan langsung, dan dikumur. Jika penyakit di luar tubuh, penggunaannya langsung digosok, diusap, dioles, ditempelkan, dikompres, dimandikan. Khasiat/manfaat tumbuhan obat adalah untuk menambah darah, memulihkan tenaga, sakit perut, kram perut, demam, batuk, mimisan, sakit gigi, cacingan, benjolan, tumor, tekanan darah tinggi, kolestrol, asam urat, liver, maag, malaria, gula darah tinggi, reumatik, stroke, batu ginjal, kencing darah, usus buntu, bisul, gatal dan bengkak, panu, luka, pemulihan pasca melahirkan, dan keguguran. Jenis-jenis tumbuhan obat, bagian organ tumbuhan obat, cara pengolahan dan pemanfaatan tumbuhan obat, khasiat/manfaat tumbuhan obat ada potensinya dijadikan materi pelajaran biologi sesuai dengan Kompetensi dasar 3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri divisio dalam dunia tumbuhan dan peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi.