ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KAJIAN ETNOBOTANI PADA RANGKAIAN UPACARA ADAT PERNIKAHAN SUKU BUGIS BONE DI NUNUKAN SERTA MANFAATNYA BAGI PEMBELAJARAN BIOLOGI Abstrak Bagi masyarakat suku Bugis Bone di Nunukan, tumbuhan bukan sekadar pelengkap dalam upacara adat pernikahan, melainkan sebagai makna simbolis yang diwariskan secara turun-temurun. Sayangnya, pengetahuan tersebut sebagian besar masih tersimpan dalam ingatan para tetua dan belum banyak didokumentasikan secara ilmiah. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap jenis tumbuhan, bagian tumbuhan, dan fungsi setiap bagian tumbuhan yang digunakan dalam rangkaian upacara adat pernikahan tersebut, sekaligus menelaah manfaatnya bagi pembelajaran biologi. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilaksanakan di Kelurahan Nunukan Barat, Kabupaten Nunukan. Data diperoleh melalui wawancara dengan empat narasumber, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahannya diuji dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menemukan 21 spesies tumbuhan dari 12 famili, dengan Arecaceae dan Musaceae sebagai famili yang paling banyak dimanfaatkan. Buah menjadi bagian yang paling sering digunakan (33%), disusul daun (19%), sedangkan kulit batang paling jarang digunakan (4%). Sebagian besar tumbuhan berfungsi sebagai perlengkapan upacara (14 spesies) dan sajian makanan (12 spesies), selebihnya sebagai hiasan dan pembungkus makanan, dan setiap tumbuhan membawa makna simbolik bagi kedua mempelai. Ketika suatu tumbuhan sulit diperoleh, masyarakat menggantinya dengan tumbuhan sejenis atau menanamnya sendiri di pekarangan. Temuan ini dapat menjadi sumber belajar kontekstual pada materi Keanekaragaman Hayati kelas X sekolah menengah atas, terutama untuk melatih peserta didik mengenali tumbuhan lokal yang dekat dengan kehidupan mereka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan busana adat dan aksesoris merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Suku Dayak yang mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam. Namun, pengetahuan tersebut belum banyak didokumentasikan dan belum terintegrasi dalam pembelajaran biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan dan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dalam pembuatan busana adat dan aksesoris Suku Dayak di Desa Setarap, Kabupaten Malinau, mengetahui proses pemanfaatannya, serta mengkaji relevansinya dengan pembelajaran biologi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive dan snowball sampling, melibatkan tokoh adat serta pengrajin yang memiliki pengetahuan tentang pembuatan busana adat dan aksesoris. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 spesies tumbuhan yang tergolong dalam 9 famili yang dimanfaatkan, yaitu Talun (Artocarpus corneri), Rotan Sega (Calamus caesius), Bambu Petung (Dendrocalamus asper), Ulin (Eusideroxylon zwageri), Rudraksa (Elaeocarpus ganitrus), Tas (Goniothalamus velutinus), Sang (Itaya amicorum), Adau (Nauclea orientalis), Pandan (Pandanus tectorius), Bambu Talang (Schizostachyum brachycladium), dan Meranti (Shorea sp.). Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi kulit batang, batang, daun, akar, dan biji, dengan kulit batang sebagai bagian yang paling banyak dimanfaatkan. Proses pembuatannya meliputi pengambilan bahan, pemotongan, pengeringan, pengolahan, pembentukan, dan perakitan. Hasil penelitian ini relevan dengan materi keanekaragaman hayati pada pembelajaran Biologi Fase E SMA sebagai sumber belajar berbasis etnobotani dan kearifan lokal
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Desa Long Alango merupakan dusun kecil berada di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Masyarakat di Desa Long Alango memiliki pengetahuan terkait pemanfaatan tumbuhan liar sebagai bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, bagian organ tumbuhan, cara pengolahan, dan upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Long Alango. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan teknik pendekatan etnobotani melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif. Hasil penelitian ini menemukan ada 16 jenis spesies berasal dari 15 famili yang dimanfaatkan sebagai bahan makan oleh masyarakat Dayak Kenyah Lepu’ Ma’ut, famili yang paling banyak ditemukan adalah famili Solanaceae dengan jumlah 2 spesies, yaitu Solanumsp. (terong pipit) dan Solanum sp. (terong asam). Sementara itu, famili lainnya masing-masing hanya terdiri dari 1 spesies. Dari ke 16 spesies terdapat 2 spesies yang menggunakan bagian batang, 2 spesies menggunakan bagian pangkal daun, 5 spesies menggunakan bagian daun, sedangkan 6 spesies menggunakan bagian buah, 3 spesies menggunakan bagian bunga, 5 spesies menggunakan bagian tunas, dan 1 spesies menggunakan bagian umbi. Bagian yang paling banyak digunakan adalah bagian buah dan bagian yang paling sedikit digunakan adalah bagian umbi. Tumbuhan liar ditemukan di beberapa tempat, yaitu di hutan, ladang, pekarangan, dan pinggir jalan. Cara pengolahan tumbuhan liar tersebut dilakukan dengan direbus, ditumis, dibakar, dijadikan sambal, difermentasi, serta dikonsumsi langsung sebagai lalapan dan ada juga beberapa bagian tanaman yang direbus kemudian di tumis contohnya seperti bunga papaya dan daun pepaya. Selain itu, masyarakat juga melakukan upaya konservasi melalui pemanfaatan secara bijaksana, menjaga kawasan hutan adat, serta mewariskan pengetahuan lokal kepada generasi berikutnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tumbuhan liar sebagai bahan makanan merupakan bagian penting dari kearifan lokal masyarakat Dayak Kenyah Lepu’ Ma’ut dan memiliki peran dalam mendukung ketahanan pangan serta pelestarian pengetahuan tradisional masyarakat. Long Alango Village is a small hamlet located in Bahau Hulu Subdistrict, Malinau Regency, North Kalimantan. The community in Long Alango Village possesses knowledge regarding the utilization of wild plants as food to meet their daily needs. This study aimed to identify the types of plants, the plant parts used, processing methods, and conservation efforts undertaken by the community of Long Alango Village. The research employed a descriptive qualitative method using an ethnobotanical approach through semi-structured interviews and participatory observation. This study revealed that there are 16 plant species from 15 families utilized as food by the Dayak Kenyah Lepu' Ma'ut community. The most commonly found family was Solanaceae, comprising 2 species: Solanum sp. (small eggplant) and Solanum sp. (sour eggplant). Meanwhile, the other families each consisted of only 1 species. Of the 16 species, 2 species utilize the stem, 2 species utilize the leaf base, 5 species utilize the leaves, 6 species utilize the fruit, 3 species utilize the flowers, 5 species utilize the shoots, and I species utilizes the tuber. The most commonly used part is the fruit, and the least commonly used part is the tuber. Wild plants were found in several locations, including forests, fields, backyards, and roadsides. These wild plants were prepared by boiling, stir-frying, roasting, making into chili paste, fermenting, and directly consuming them. In addition, the community also engaged in conservation efforts through wise utilization, protecting customary forest areas, and passing down local knowledge to the next generation. This study demonstrates that the utilization of wild plants as food is an essential part of the local wisdom of the Dayak Kenyah Lepu' Ma'ut community and plays a role in supporting food security and the preservation of traditional knowledge.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian etnobotani bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat, bagian dari tumbuhan yang digunakan, cara pengolahan dan pengaplikasian tumbuhan sebagai obat tradisional, dan potensinya sebagai sumber belajar biologi oleh suku Toraja di Desa Sapan Kua-Kua Kecamatan Buntao Kabupaten Toraja Utara Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi dengan fokus kajian etnobotani. Data penelitian diperoleh dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Responden penelitian ini adalah ketua adat, bidan kampung, orang yang dituakan, dan individu yang mengetahui lebih tentang pemanfaatan tumbuhan obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penelitian terdapat 32 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat oleh suku Toraja di Desa Sapan Kua-Kua, tumbuhan tersebut didominasi oleh famili Zingiberaceae. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat adalah daun, batang, akar, bunga, buah, tunas, rimpang dan umbi lapis. Tumbuhan yang digunakan sebagai obat diolah dengan cara direbus, diparut, disaring, dibakar, diseduh, dikupas, dikunyah, ditumbuk, diremas, dimemarkan dan diiris. Masyarakat mengaplikasikan obat-obatan tersebut dengan cara diminum, dioleskan, ditiupkan, dikonsumsi langsung dan dikumur. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber belajar biologi pada jenjang SMA/MA kelas X khususnya pada materi keanekaragaman hayati. Sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pendukung pembelajaran biologi yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan peserta didik. Ethnobotanical research aims to determine the types of plants used as medicine, the parts of the plants used, how to process and apply plants as traditional medicine, and their potential as a source of biological learning by the Toraja tribe in Sapan Kua-Kua Village, Buntao District, North Toraja Regency, South Sulawesi Province using a qualitative descriptive method with an ethnographic approach with a focus on ethnobotanical studies. Research data was obtained by interviews, observation and documentation. Respondents to this research were traditional leaders, village midwives, elders, and individuals who knew more about the use of medicinal plants. The results showed that in the research there were 32 types of plants used as medicine by the Toraja tribe in Sapan Kua-Kua Village, these plants were dominated by the Zingiberaceae family. The parts of plants used as medicine are leaves, stems, roots, flowers, fruit, shoots, rhizomes and tubers. Plants used as medicine are processed by boiling, grating, filtering, burning, brewing, peeling, chewing, pounding, kneading, bruising and slicing. People apply these medicines by drinking, smearing, blowing, consuming directly and gargling. The results of this research can be used as a biology learning resource at the SMA/MA class X level, especially on biodiversity material. So the results of this research can be used to support biology learning which does not only focus on theory, but also provides learning experiences that are relevant to students' lives.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Suku Tidung yang bermukim di Kelurahan Juata Laut, Kota Tarakan, hingga saat ini masih mempertahankan kearifan lokal dalam pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional. Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai jenis penyakit yang umum dialami oleh masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tanaman obat yang digunakan oleh masyarakat Suku Tidung berdasarkan kelompok penyakit, mengetahui bagian yang dimanfaatkan, cara pengolahan, serta metode pengaplikasiannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan jumlah responden 6 orang tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan tradisional, serta didukung dengan dokumentasi lapangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2025 di Kelurahan Juata Laut, Kota Tarakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 jenis tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Suku Tidung, yang berasal dari berbagai habitus, yaitu pohon, perdu, semak, herba, terna, dan liana. Cara pengolahan tanaman obat yang paling umum dilakukan adalah dengan cara direbus, dimemarkan, dan dihaluskan. Bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun, diikuti oleh rimpang dan batang. Pengaplikasian tanaman obat dilakukan melalui beberapa metode, antara lain dengan cara diminum, ditempelkan, dan dioleskan pada bagian tubuh yang membutuhkan pengobatan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi ilmiah mengenai pemanfaatan tanaman obat berbasis kearifan lokal serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendukung pembelajaran Biologi, khususnya pada materi keanekaragaman hayati dan etnobotani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi jenis tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat pernikahan Suku Bugis di Desa Tanjung Aru beserta pemanfaatannya, dan (2) mengetahui keterkaitan temuan tersebut dengan pembelajaran biologi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif, yang berfokus pada pemahaman terhadap fenomena sosial berupa pemanfaatan tumbuhan dalam ritual adat pernikahan masyarakat Suku Bugis di Desa Tanjung Aru. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Subjek penelitian dipilih menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik snowball sampling, yang melibatkan empat orang responden. Analisis data dilakukan melalui teknik pengodean, yaitu dengan mentranskripsikan data lapangan terkait jenis tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat serta pemanfaatannya. Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel, gambar, dan uraian naratif untuk mendukung penarikan kesimpulan. Adapun keterkaitannya dengan pembelajaran biologi dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Suku Bugis di Desa Tanjung Aru masih melaksanakan tahapan-tahapan ritual pernikahan, antara lain: mapettu ada, mappasau, mapasili, mappacci, maduppa botiing, mapanre temme, mappasikarawa, dan maparola. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan dalam ritual tersebut adalah buah, sedangkan bagian yang paling sedikit digunakan adalah biji dan bunga. Pengolahan tumbuhan dilakukan dengan cara dicuci, dan beberapa jenis tumbuhan digunakan tanpa proses pengolahan terlebih dahulu. Berdasarkan hasil analisis, keterkaitan antara penelitian ini dan pembelajaran biologi sangat relevan, khususnya pada kelas X Fase E. Penelitian ini sesuai dengan materi keanekaragaman makhluk hidup, interaksi, dan peranannya dalam ekosistem, yakni pada kompetensi dasar 3.1 (mengidentifikasi dan mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan ciri-cirinya) dan 3.2 (menjelaskan keanekaragaman hayati dan perannya dalam kehidupan).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tanaman Bulunangko (Coleus scutellarioides) oleh masyarakat Suku Toraja di Kampung Tator, Kabupaten Nunukan, serta menganalisis potensi integrasinya ke dalam pembelajaran Biologi di tingkat SMA. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman Bulunangko dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti batuk, demam, TBC, muntah darah, dan anemia. Selain itu, tanaman ini juga dikonsumsi sebagai sayuran harian. Bagian tanaman yang digunakan mencakup daun, pucuk, dan batang muda, dengan teknik pengolahan seperti peremasan, perendaman, serta pencampuran dengan madu atau telur ayam kampung. Pengetahuan mengenai penggunaan tanaman ini diwariskan secara turun-temurun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman Bulunangko dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Biologi berbasis potensi lokal dan penguatan literasi budaya, sehingga penting untuk dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya dan pengetahuan tradisional
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepayang (Pangium edule Reinw.) adalah tumbuhan berkayu dari famili Achariaceae yang seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan sebagai pangan, rempah, bahan bangunan, dan pengawet ikan. Salah satu suku yang memanfaatkan tumbuhan Kepayang adalah suku Dayak Kenyah Lepo Ta’u yang berada di Desa Long Nawang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan tumbuhan Kepayang oleh masyarakat Suku Dayak Kenyah Lepo Ta’u di Desa Long Nawang, serta keterkaitannya dengan pembelajaran Biologi di tingkat SMA. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif dan pendekatan naratif. Sampel penelitian dipilih secara purposive dengan jenis snowball sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan tumbuhan Kepayang sebagai bahan makanan, konstruksi, dan kayu bakar. Buah Kepayang diolah menjadi cemilan, makanan fermentasi, dan non-fermentasi. Batang pohon dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, sedangkan rantingnya digunakan sebagai bahan bakar. Analisis data penelitian dan kurikulum pembelajaran IPA di tingkat SMP dan Biologi di tingkat SMA menunjukan bahwa pengetahuan lokal tentang pemanfaatan Kepayang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi di SMA untuk memperkaya pemahaman siswa tentang keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya. Kepayang (Pangium edule Reinw.), a woody plant from the family Achariaceae, is traditionally utilized in various forms as food, spices, construction materials, and fish preservatives. The Dayak Kenyah Lepo Ta'u people in Long Nawang Village are among the indigenous communities that incorporate Kepayang into their daily lives. This study aims to explore the ethnobotanical practices related to Kepayang in this community and investigate its pedagogical relevance to high school biology education. A qualitative narrative approach was applied, with purposive and snowball sampling techniques guiding participant selection. Data were collected through field observation, interviews, and document analysis. The findings reveal that Kepayang is used as a food ingredient, construction material, and fuel source. Its fruit is processed into snacks and fermented and non-fermented foods, while its wood is used in basic construction and its branches as firewood. A cross-analysis with the national science and biology curriculum at the junior and senior high school levels indicates that local knowledge surrounding Kepayang offers rich content for contextualizing biodiversity and ethnobotany in biology lessons, enhancing students' understanding of local biological resources and sustainable use.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hukum Adat Dolop merupakan tradisi yang sangat terkenal didalam masyarakat suku Dayak Agabag dalam peradilan hukum. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat suku Dayak Agabag dalam upacara Hukum Adat Dolop. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sementara, teknik analisis dalam penelitian ini berupa keabsahan data berupa wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis tumbuhan yang digunakan dalam upacara Hukum Adat Dolop dan pemanfaatan bagian tumbuhan yang digunakan dalam upacara Hukum Adat Dolop Suku Dayak Agabag. Masyarakat Suku Dayak Agabag di Kapubaten Nunukan Kalimatan Utara menggunakan tumbuhan yang dapat ditemui di lingkungan sekitar. Bagian-bagian tumbuhan yang digunakan dalam upacara Hukum Adat Dolop berupa batang pohon rambutan, batang pohon pisang, kunyit, beras dan tempurung kelapa, sedang bahan tambahan yang digunakan dalam proses upacara Hukum Adat Dolop berupa telur ayam kampung dan kain kuning. Budaya yang sudah ada, akan lebih baik untuk terus dipelihara dan dilestarikan khususnya dalam budaya Upacara Hukum Adat. Masyarakat lebih memahami makna tumbuhan yang digunakan Hukum Dolop, karena pada zaman sekarang banyak generasi yang tidak mengetahui makna tersebut. Bahkan tahapan ritual Dolop generasi sekarang belum mengerti, umtuk itu penulis berharap penelitian selanjutnya lebih mendalam lagi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Masyarakat Suku Tidung di Desa Salimbatu sampai saat ini masih menjalankan beberapa upacara adat. Dalam upacara adat tersebut memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis upacara adat yang masih dilakukan oleh masyarakat Suku Tidung yang menggunakan tumbuhan untuk upacara adat, serta untuk mengetahui jenis tumbuhan yang digunakan pada upacara adat dan bagaimana pemanfaatan tumbuhan pada upacara adat tersebut. Penelitian ini dilakukan di Desa Salimbatu Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian Non probability dengan teknik Snowball sampling dengan 4 responden, terdiri dari informan kunci, informan utama dan informan pendukung. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat Suku Tidung di Desa Salimbatu masih melaksanakan upacara adat pernikahan dan upacara adat kelahiran. Dalam kedua upacara tersebut menggunakan sebanyak 15 jenis tumbuhan. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan pada upacara adat oleh masyarakat Suku Tidung di Desa Salimbatu adalah daun sebanyak 53%, bagian biji sebanyak 20%, bagian buah sebanyak 13%, dan yang paling sedikit digunakan umbi dan getah masing-masing 1%. Cara mengolah tumbuhan yang digunakan pada upacara adat antara lain dengan cara ditumbuk, direbus dan ada tumbuhan yang digunakan tanpa diolah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian etnobotani bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat, bagian dari tumbuhan yang digunakan, cara penggolahan tumbuhan, cara penggunaan tumbuhan sebagai obat oleh suku Dayak Ga’ai dan potensinya sebagai pembelajaran biologi. Penelitian ini dilakukan di Desa Long Laai, kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan etnografi. Data penelitian diperoleh dengan wawancara, observasi, analisis dokumen otentik. Responden ini adalah ketua adat, bidan kampung dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penelitian terdapat 15 spesies tumbuhan yang digunakan sebagai obat oleh suku Dayak Ga’ai tumbuhan tersebut berasal dari beberapa famili yang berbeda. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat adalah daun, batang, kulit batang, akar, rimpang, dan umbut. Tumbuhan yang digunakan sebagai obat diolah dengan cara direbus, ditumbuk, diremas, direndam dalam air, diparut, dipanaskan di atas api dan dimakan langsung. Masyarakat menggunakan obat-obatan tersebut dengan cara diminum, ditempel, sebagai air mandi, dan digosok. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai kajian etnobotani materi pembelajaran biologi, hal ini karena terdapat kesesuaian hasil penelitian dengan materi keanekaragaman hayati yang diajarkan pada kelas X serta struktur dan fungsi jaringan tumbuhan yang diajarkan pada kelas XI. Sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai materi pendukung pembelajaran biologi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis talas hias Araceae apa saja yang terdapat di Desa Tideng Pala Timur serta bagaimana potensinya sebagai konten pembelajaran biologi SMA. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif etnografi. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Subjek pada penelitian ini adalah warga yang memiliki tanaman koleksi talas hias yang sudah memenuhi kriteria. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 74 spesies tanaman talas hias di Desa Tideng Pala Timur bagian Rt 3 dengan berbagai macam genus yaitu, Alokasia (12). Aglonema (19), Anthurium (3), Caladium (23), Epipremnum (11), Hamalomena (3), Monstera (2), Spathyllum (1), Scandipsus (1), Schismatoglottis (1), Syngonium (4), Philodendron (4). Hasil penelitian ini akan dikaitkan dengan materi pembelajaran biologi SMA kelas X terkait tentang keanekaragaman hayati tingkat sub plantae Araceae berdasarkan KD, KI dan materi pembelajaran yang sudah ditetukan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Masyarakat suku Tidung di desa Sepala Dalung mempunyai salah satu tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan dan dilestarikan, salah satu keanekaragaman budaya tersebut adalah penggunaan tanaman sebagai pengobatan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tanaman apa saja yang digunakan sebagai obat, untuk mengetahui bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat, serta untuk mengetahui cara pengolahan dan cara penggunaan tana-man obat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi dilakukan melalui wawancara interaktif dengan warga desa yang didukung dengan dokumentasi. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2022 dengan jumlah subjek penelitian 13 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan 36 jenis tanaman obat yang be-rasal dari berbagai macam habitus seperti herba, terna, liana, perdu, dan pohon. Bagian tanaman yang paling banyak digunakan sebagai obat oleh masyarakat suku Tidung di desa Sepala Dalung adalah daun dengan jumlah 21 tanaman, rimpang sebanyak 6 tanaman, akar sebanyak 5 tanaman, buah sebanyak 4 tanaman, batang sebanyak 2 tanaman, kulit sebanyak 2 tanaman, dan bunga sebanyak 1 tanaman. Cara mengolah tanaman obat oleh masyarakat suku Tidung di desa Sepala Dalung cukup bervariasi mulai dari yang paling sering dilakukan yaitu cara ditumbuk sebanyak 17 tanaman, direbus 15 tanaman, digoreng 5 tanaman, diremas 2 tana-man, dihaluskan (blender) 2 tanaman, dijemur 2 tanaman, dimakan langsung 2 tanaman, diparut 1 tanaman, dikerik 1 tanaman dan dipanaskan 1 tanaman. Cara penggunaan tanaman obat yang telah diolah yaitu dengan dimakan langsung atau diminum, dioleskan diatas kulit yang sakit, dan ditempelkan pada luka. Masyarakat Suku Tidung di desa Sepala Dalung mempercayai khasiat pengobatan tradisional menggunakan tanaman sebagai obat yang bermanfaat dalam menyem-buhkan penyakit baik penyakit luar maupun penyakit dalam.