ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran makanan tradisional dalam mempertahankan tradisi dan identitas budaya suku Tidung melalui kajian folklor. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa, wawancara, dokumentasi, dan angket. Sumber data primer berupa wawancara, rekam dan catat dan data sekunder berupa foto makanan. Lokasi penelitian ditetapkan di Desa Buong Baru dan Desa Sepala Dalung, Kabupaten Tana Tidung, dengan melibatkan tokoh adat, ibu rumah tangga, dan pemuda sebagai informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional suku Tidung, seperti nasi subut, nasi wasur, kue kumpol, kubal, dan sayur temberungun, tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai Peran media pewarisan nilai budaya, simbol identitas kolektif, serta sarana penguat solidaritas sosial. Pada setiap upacara adat seperti irau, maulid nabi, tolak bala dan guting rambut. Makanan tradisional disajiakan pada acara tersebut sebagai untuk mempertahankan makanan tradisional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Suku Tidung yang bermukim di Kelurahan Juata Laut, Kota Tarakan, hingga saat ini masih mempertahankan kearifan lokal dalam pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional. Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai jenis penyakit yang umum dialami oleh masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tanaman obat yang digunakan oleh masyarakat Suku Tidung berdasarkan kelompok penyakit, mengetahui bagian yang dimanfaatkan, cara pengolahan, serta metode pengaplikasiannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan jumlah responden 6 orang tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan tradisional, serta didukung dengan dokumentasi lapangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2025 di Kelurahan Juata Laut, Kota Tarakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 jenis tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Suku Tidung, yang berasal dari berbagai habitus, yaitu pohon, perdu, semak, herba, terna, dan liana. Cara pengolahan tanaman obat yang paling umum dilakukan adalah dengan cara direbus, dimemarkan, dan dihaluskan. Bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun, diikuti oleh rimpang dan batang. Pengaplikasian tanaman obat dilakukan melalui beberapa metode, antara lain dengan cara diminum, ditempelkan, dan dioleskan pada bagian tubuh yang membutuhkan pengobatan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi ilmiah mengenai pemanfaatan tanaman obat berbasis kearifan lokal serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendukung pembelajaran Biologi, khususnya pada materi keanekaragaman hayati dan etnobotani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan simbol budaya dalam seni bela diri Kuntau Tidung di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung (kajian semiotika) dari Charles Sanders Pierce. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif menggunakan kajian semiotika dari Charles Sanders Pierce, yaitu teori triadic, di antaranya adalah tanda (representament), objek (object), dan interpretasi (interpretant). Data pada penelitian ini berupa makna dan simbol gerakan seni bela diri kuntau. Sumber data pada penelitian ini seni bela diri Kuntau di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung dan tokoh adat Suku Tidung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, wawancara, dan mencatat atau menulis. Analisis data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data, identifikasi data, dan menganalisis atau menafsirkan data. Hasil dari penelitian ini terdapat 27 simbol yang digunakan pada seni bela diri Kuntau di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung yang dipercayai membawa hal-hal baik dan bermanfaat untuk menjaga keamanan diri sendiri maupun pada diri seseorang yang sangat membutuhkan, sehingga setiap simbol memiliki makna dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu bentuk harapan agar diri dan keluarga memiliki keamanan yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas struktur dan fungsi mantra pengobatan suku Tidung di Desa Buong Baru, Kabupaten Tana Tidung. Mantra, yang dikenal sebagai 'tawar', merupakan bagian integral dari tradisi lisan dan pengobatan tradisional yang diyakini memiliki kekuatan magis dan spiritual untuk mengobati penyakit serta mengatasi masalah kesehatan. Meskipun pengobatan modern telah dikenal, masyarakat Suku Tidung tetap digabungkan dengan mantra tradisional. Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur mantra yang meliputi judul, pembuka, niat, tujuan, dan penutup, serta mengeksplorasi fungsi-fungsi mantra tersebut, yaitu fungsi budaya, kepercayaan, pendidikan, dan sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif deskripsi, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan berusia 50-82 tahun yang memahami mantra, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif, termasuk pengurangan data, penyajian data, dan penarikan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra pengobatan suku Tidung memiliki struktur lima komponen, meskipun tidak semua mantra lengkap, dan berfungsi secara budaya, kepercayaan, pendidikan, dan sosial. Mantra-mantra ini berperan penting dalam tradisi pelestarian, keyakinan spiritual, pengajaran nilai-nilai, dan penguatan solidaritas komunitas. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pemahaman dan pelestarian sastra lisan serta praktik pengobatan tradisional suku Tidung.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan simbol tari Umbak Gesinggau pada Sanggar Budaya Tidung Taka (kajian semiotika) dari Charles Sanders Peirce. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kajian semiotika dari Charles Sanders Peirce yaitu teori tanda (representament), objek (object) dan interprestasi (interpretant). Data dalam penelitian ini berupa makna dan simbol dari benda dan gerakan tari Umbak Gesinggau. Sumber data dari penelitian tari Umbak Gesinggau ini di Desa Salimbatu Kabupaten Bulungan dan tokoh dari suku Tidung. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil dari penelitian yang dilakukan maka terdapat 25 simbol yang ada dalam tari Umbak Gesinggau. Dari setiap data memiliki makna dan simbol masing-masing dengan tujuan yang berbeda berdasrkan fungsinya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman tumbuhan, sehingga setiap wilayah memiliki tumbuhan pangan yang khas. Penggunaan tumbuhan lokal sebagai bahan pangan juga masih digunakan oleh salah satu masyarakat Suku Tidung di daerah Kalimantan Utara yaitu di Desa Sepala Dalung Kabupaten Tana Tidung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pemanfaatan tumbuhan lokal sebagai bahan pangan masyarakat Suku Tidung di Desa Sepala Dalung. Jenis dari penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Sementara, teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan metode interaktif menurut Miles, Huberman, dan Saldana yaitu kondensasi data, penyajian data dan kesimpulan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis tumbuhan yang digunakan oleh Masyarakat Suku Tidung berasal dari dua habitat yaitu habitat higrofit berjumlah 10 jenis tumbuhan, sedangkan 3 jenis tumbuhan berhabitat hidrofit. Bagian tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai bahan pangan pendamping terdiri dari akar, batang daun dan buah. Berdasarkan urutan intensitas penggunaan tumbuhan pangan dari tinggi ke rendah, maka tumbuhan tersebut adalah buah, daun, akar dan batang. Masyarakat Suku Tidung mengolah tumbuhan cukup beragam dengan waktu pengolahan cenderung tidak lama. Adapun pengelolaan tumbuhan sebagai bahan pangan terbagi menjadi dua yaitu dapat langsung dikonsumsi dan diolah terlebih dahulu. Beragamnya jenis tumbuhan lokal sebagai bahan pangan Suku Tidung di Desa Sepala Dalung ini dapat diversifikasi sebagai alternatif pangan dan menjadi pengetahuan baru untuk masyarakat di Desa Sepala Dalung yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran biologi. Indonesia, known for its rich diversity of plants, has regions with distinctive food plants. The use of local plants as food remains prevalent among the Tidung people in Sepala Dalung Village, Tana Tidung Regency, North Kalimantan. This study aimed to explore the utilization of local plants as food by the Tidung people in Sepala Dalung Village. The research was descriptive with a qualitative approach, employing interviews, observations, and documentation for data collection. Data analysis followed the interactive method by Miles, Huberman, and Saldana, encompassing data condensation, data presentation, and conclusion drawing. The results revealed that the Tidung Tribe utilized plants from two habitats: 10 plant types from hygrophytic habitats and 3 plant types from hydrophytic habitats. The commonly used plant parts included roots, leaf stems, and fruits. In terms of usage intensity, fruits were the most frequently used, followed by leaves, roots, and stems. The Tidung people demonstrated a diverse use of plants with relatively short processing times. Plant processing was categorized into two types: those that could be consumed directly and those requiring prior processing. The findings highlighted the potential of diversifying local plants as alternative food sources, providing new knowledge for the community in Sepala Dalung Village, which could be incorporated into biology education to enhance learning.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Masyarakat Suku Tidung di Desa Salimbatu sampai saat ini masih menjalankan beberapa upacara adat. Dalam upacara adat tersebut memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis upacara adat yang masih dilakukan oleh masyarakat Suku Tidung yang menggunakan tumbuhan untuk upacara adat, serta untuk mengetahui jenis tumbuhan yang digunakan pada upacara adat dan bagaimana pemanfaatan tumbuhan pada upacara adat tersebut. Penelitian ini dilakukan di Desa Salimbatu Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian Non probability dengan teknik Snowball sampling dengan 4 responden, terdiri dari informan kunci, informan utama dan informan pendukung. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat Suku Tidung di Desa Salimbatu masih melaksanakan upacara adat pernikahan dan upacara adat kelahiran. Dalam kedua upacara tersebut menggunakan sebanyak 15 jenis tumbuhan. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan pada upacara adat oleh masyarakat Suku Tidung di Desa Salimbatu adalah daun sebanyak 53%, bagian biji sebanyak 20%, bagian buah sebanyak 13%, dan yang paling sedikit digunakan umbi dan getah masing-masing 1%. Cara mengolah tumbuhan yang digunakan pada upacara adat antara lain dengan cara ditumbuk, direbus dan ada tumbuhan yang digunakan tanpa diolah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Suku Tidung di Desa Buong Baru Kecamatan Betayau Kabupaten Tana Tidung mempunyai tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan. Salah satu tradisi yang di pertahankan adalah menggunakan tumbuhan sebagai bahan pengobatan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1)mengetahui jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat, 2)mengetahui cara pengolahan tumbuhan obat, 3)mengetahui bagian organ tumbuhan yang digunakan, 4)mengetahui cara penggunaan tumbuhat obat tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penyajian data melalui wawancara dengan warga desa yang didukung dengan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2023. Subjek penelitian 4 orang (dukun dan Masyarakat adat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan 20 jenis tumbuhan obat yang berasal dari berbagai macam habitus seperti herba, terna, liana, perdu, dan pohon. Cara pengolahan tumbuhan yaitu direbus sebanyak 11 tumbuhan, ditumbuk sebanyak 4 tumbuhan, diremas sebanyak 3 tumbuhan, direndam sebanyak 2 tumbuhan, dipanggang sebanyak 1 tumbuhan dan dimemamar kan sebanyak 1 tumbuhan. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu daun dengan jumlah 11 tumbuhan, batang sebanyak 2 tumbuhan, akarnya sebanyak 1 tumbuhan, rimpang sebanyak 4 tumbuhan. Cara penggunaan tumbuhan obat yaitu dengan diminum ditempelkan, di aplikasikan, di teteskan, digosok. Rekomendasi dalam penelitian ini adalah perlu dilakukan uji efektifias tumbuhan obat dalam mengobati penyakit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Penelitian ini berjudul makna tradisi Berpupur pada pernikahan suku Tidung di kota Tarakan kajian folklor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriftif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa jawaban atau pemaparan hasil wawancara yang disampaikan secara lisan oleh informan yang diwawancarai. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang tradisi pernikahan suku Tidung khususnya tradisi Berpupur. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, rekam, simak dan catat. Penyajian data berupa analisis deskriftif dengan menganalisis data dalam bentuk tabel kemudian melakukan penguraian data berupa makna yang terdapat pada setiap benda, tindakan dan tuturan yang terdapat pada tradisi Berpupur pada pernikahan suku Tidung. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tradisi Berpupur merupakan salah satu tradisi dalam pernikahan suku Tidung, yang di laksanakan setelah prosesi lamaran, bepupur adalah tahapan dari rangkaian sebelum pernikahan berlangsung, dimana para mempelai akan di lumuri Pupur (Bedak) sejuk yang di racik oleh keluarga mempelai. Bepupur di laksanakan pada malam hari di rumah pengantin, sebelum melakukan kegiatan bepupur, mempelai akan di sambut prosesi khusus menggunakan air penyejuk atau dalam bahasa tidung timug bensalui. Mempelai laki-laki akan di suruh duduk di tikar anyam, di mana keempat sisinya diangkat dan di bawah keruang tengah agar dapat di saksikan oleh orang banyak atau para tamu. Terdapat 16 data yang berupa benda, tindakan serta tuturan dalam setiap rangkaian prosesi dari tradisi berpupur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Masyarakat suku Tidung di desa Sepala Dalung mempunyai salah satu tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan dan dilestarikan, salah satu keanekaragaman budaya tersebut adalah penggunaan tanaman sebagai pengobatan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tanaman apa saja yang digunakan sebagai obat, untuk mengetahui bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat, serta untuk mengetahui cara pengolahan dan cara penggunaan tana-man obat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi dilakukan melalui wawancara interaktif dengan warga desa yang didukung dengan dokumentasi. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2022 dengan jumlah subjek penelitian 13 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan 36 jenis tanaman obat yang be-rasal dari berbagai macam habitus seperti herba, terna, liana, perdu, dan pohon. Bagian tanaman yang paling banyak digunakan sebagai obat oleh masyarakat suku Tidung di desa Sepala Dalung adalah daun dengan jumlah 21 tanaman, rimpang sebanyak 6 tanaman, akar sebanyak 5 tanaman, buah sebanyak 4 tanaman, batang sebanyak 2 tanaman, kulit sebanyak 2 tanaman, dan bunga sebanyak 1 tanaman. Cara mengolah tanaman obat oleh masyarakat suku Tidung di desa Sepala Dalung cukup bervariasi mulai dari yang paling sering dilakukan yaitu cara ditumbuk sebanyak 17 tanaman, direbus 15 tanaman, digoreng 5 tanaman, diremas 2 tana-man, dihaluskan (blender) 2 tanaman, dijemur 2 tanaman, dimakan langsung 2 tanaman, diparut 1 tanaman, dikerik 1 tanaman dan dipanaskan 1 tanaman. Cara penggunaan tanaman obat yang telah diolah yaitu dengan dimakan langsung atau diminum, dioleskan diatas kulit yang sakit, dan ditempelkan pada luka. Masyarakat Suku Tidung di desa Sepala Dalung mempercayai khasiat pengobatan tradisional menggunakan tanaman sebagai obat yang bermanfaat dalam menyem-buhkan penyakit baik penyakit luar maupun penyakit dalam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk (1) menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh Suku Tidung di Desa Mansalong Kecamatan Lumbis Kalimantan Utara. (2) Mengetahui pemanfaatan tumbuhan obat Suku Tidung. (3) Mengetahui pemanfaatan tumbuhan obat Suku tidung dalam penyusunan perangkat pembelajaran Biologi di SMA Kelas X. Metode penelitian yang digunakan yaitu survei melalui pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek pada penelitian ini adalah masyarakat yang berkompeten dalam pengetahuan tumbuhan obat dengan penentuan sampel menggunakan teknik snowball sampling untuk memperoleh data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan jenis-jenis Tumbuhan Obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Suku tidung di desa mansalong kecamatan lumbis sebanyak 30 jenis yang tergolong kedalam 18 famili. Famili tanaman yang umum digunakan yaitu Famili Zingiberaceae. Bagian organ yang banyak digunakan yaitu daun sebanyak 29%. Hasil penelilitian dianalisis kedalam perangkat pembelajaran kurikulum 2013. Dari hasil analisis yang dilakukan, hasil penelitian dapat dimasukkan dalam penyusunan perangkat pembelajaran mengenai kingdom plantae pada kompetensi dasar 3.7 Menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan tumbuhan kedalam divisio berdasarkan pengamatan morfologi dan metagenesis tumbuhan serta mengaitkan peranannya dalam kelangsungan kehidupan di bumi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul Makna Mantra Pengobatan Tradisional Suku Tidung di Desa Sesayap Hilir Kajian Semiologi Roland Barthes. Skripsi ini merupakan karya akademik untuk menganalisis Makna Mantra PengobatanTradisional Suku Tidung di Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan mengetahui lebih mendalam tentang Makna Mantra Pengobatan Tradisional Suku Tidung di Kalimantan Utara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriftif Kualititatif. Data penelitian ini diperoleh dengan metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tiga pengamatan langsung dilapangan dengan Narasumber. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa terdapat Makna Mantra Pengobatan Tradisional Suku Tidung dalam Kajian Roland Barthes. Proses signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier (penanda) dan signified (pertanda) yang biasa disebut sebagai denotasi, yaitu makna sebenarnya dari tanda. Pada proses signifikasi tahap kedua digunakan isitilah konotasi yaitu makna yang paling tidak berhubungan dengan isi (bukan makna sebenarnya) dan yang terakhir yaitu tanda bekerja melalui mitos. Mitos merupakan lapisan pertanda dan makna yang paling dalam. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai makna dalam mantra pengobatan tradisional suku Tidung di Kalimantan utara dapat ditarik kesimpulan, bahwa makna mantra pengobatan suku Tidung lazim disebut sebagai tawar. Pembacaan tawar terlebih dahulu mengungkapkan permohonan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan juga meminta izin kepada kaum leluhur yang telah mewarisi mantra pengobatan tradisional tersebut, hal ini dianggap sebagai adab pembacaan mantra. Tawar pengobatan suku Tidung berasal dari bahasa arab, bahasa melayu, dan bahasa Tidung Terdapat 30 data yang berupa mantra untuk mengobati bermacam jenis penyakit. Terdapat 18 data mantra yang memiliki makna dan dapat dianalisis dan terdapat 12 data mantra yang tidak diketahui bacaannya sehingga tidak dapat dimaknai dan dianalisis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KAJIAN ETNOZOOLOGI MASYARAKAT SUKU TIDUNG DI DESA MANUK BUNGKUL DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI ABSTRAK Penelitian ini merupakan kajian etnozoologi, yakni hubungan antara manusia dengan hewan disekitarnya dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat suku Tidung di desa Manuk Bungkul Kecamatan Sembakung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana masyarakat suku Tidung di desa Manuk Bungkul memanfaatkan hewan disekitarnya dalam kehidupan sehari-hari, untuk mengetahui upaya konservasi masyarakat terhadap hewan yang dimanfaatkan, serta untuk mengetahui potensi data hasil penelitian sebagai sumber belajar biologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah etnografi realis dengan pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara interaktif dengan warga desa yang didukung dokumentasi. Penelitian dilakukan pada bulan November-Desember 2021 dengan jumlah subjek penelitian 20 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan 51 jenis hewan dengan berbagai tujuan pemanfaatan seperti dikonsumsi, dijual, hewan peliharaan, hiasan, obat-obatan dan beberapa spesies dipercaya memiliki nilai mistis. Bentuk konservasi yang diperoleh dari masyarakat berupa pelarangan kegiatan meracun ikan dan pelarangan penggunaan alat tangkap ikan yang merusak lingkungan, serta melakukan pembiakan jenis lokal seperti ayam kampung. Pemetaan pembelajaran terdapat pada materi biologi kelas X SMA pada Kompetensi Dasar (KD) 3.2 materi keanekaragaman hayati dan Kompetensi Dasar (KD) 4.2 materi upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitin ini berujuan untuk mendeskripsikan bagaimana afiksasi dalam nyanyian suku tidung pada buku paguntaka karya Eva Apriani dan Sulistyani Pamuji kajian morfologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan data deskritif berupa tulisan. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari lirik nyanyian suku tidung dan data penelitiannya adalah tutrr kata yang mengandung afiksasi yang terdapat dalam nyanyian suku tidung pada buku paguntaka karya Eva Apriani dan Sulistyani Pamuji. Data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan berdasarkan tahap-tahapnya, kemudian data yang telah selesai di klasifikasikan lalu dianalisis dan diinterpretasikan berdasarkan pebedaannya. Dari 9 lirik nyanyian yang telah dianalisis dengan kajian Morfologi dapat diambil kesimpulan bahwa secara keseluruhan data yang didapatkan yaitu afiks terdapat 23 data lirik lagu itu. Dari 23 kata yang berafiks yang ditemukan, Prefiks memiliki persentase penggunaan paling tinggi yaitu sebanyak 22 data yang terdiri dari atas prefiks meN-, Ber-, dan se-,. Sedangkan sufiks yang ditemukan sebanyak 1 data terdiri dari sufiks an-, yang terdapat dan dalam lirik nyanyian rakyat suku Tidung. Sedangkan infiks dan simulfiks tidak ditemukan dalam lirik nyanyian Suku Tidung pada Buku paguntaka. Makna Afiksasi dalam nyanyian Suku Tiduung pada Buku Paguntaka Memiliki 3 Makna prefiks Yaitu be-,(ber-) yang menyatakan makna suatu perbuatan aktif. Gi-,(meN-) sebagai pembentukan kata kerja intransitif yang menyatakan suatu Tindakan aktif.in-, (se-) pada dasarnya melekat pada kata benda. Dapat pembentukan kata penguhubung mempunyai makna yang menyatakan makna satu. Makna sufiks a-(an-) menyatakan makna perbuatan. Kata Kunci: afiksasi, nyanyian suku tidung, morfologi
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi kiwon talu landom pada pernikahan suku Tidung di kota Tarakan kajian semiotika. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriftif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa jawaban atau pemaparan hasil wawancara yang disampaikan secara lisan oleh informan yang diwawancarai. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, rekam, simak dan catat. Penyajian data berupa analisis deskriftif dengan menganalisis data dalam bentuk tabel kemudian melakukan penguraian data berupa makna yang terdapat pada setiap benda, tindakan dan tuturan yang terdapat pada tradisi kiwon talu landom pada pernikahan suku Tidung yang dianalisis menggunakan teori segitiga semiotika Peirce di mana data awal yang diperoleh merupakan bagian dari tanda/representamen kemudian menentukan objek dari data yang diperoleh dan yang terakhir adalah menentukan makna dari data yang telah diperoleh yang disebut dengan interpretasi. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tradisi kiwon talu landom atau malam tiga bermalam merupakan sebuah tradisi lanjutan dari pernikahan suku Tidung yang dilaksanakan pada malam ketiga setelah pernikahan, adapun beberapa tradisi yang dilaksanakan pada saat kiwon talu landom di antaranya yaitu sedulang, jepin dan bebalon. Kiwon talu landom memiliki makna perkenalan antara mempelai laki-laki dan mempelai wanita selama dua hari dua malam, kemudian pada malam ketiga barulah kedua mempelai diperbolehkan menjalin hubungan suami istri. Pada keesokan harinya setelah tradisi kiwon talu landom dilaksanakan lagi beberapa tradisi di antaranya yaitu bejiyu, betamot serta nyembaloy dan juga tradisi lainya yaitu minum air, ngabut lading dan kidaw batu. Terdapat 24 data yang berupa benda, tindakan serta tuturan dalam tradisi kiwon talu landom yang terdiri atas 13 data berbentuk benda, 8 berbentuk tindakan dan 3 berbentuk tuturan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
NILAI BUDAYA DALAM BUKU PAGUNTAKA NYANYIAN RAKYAT SUKU TIDUNG KARYA EVA APRIANI DAN SITI SULISTYANI PAMUJI (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA) Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pemakaian nilai budaya yang terdapat pada lirik nyanyian rakyat suku Tidung di Kota Tarakan Kalimantan Utara. Berdasarkan masalah yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu analisis nilai budaya dalam nyanyian rakyat suku Tidung di Kota Tarakan Kalimantan Utara, maka jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitatif etnografi. Artinya, prosedur penelitian ini merupakan penelitian yang menghasilkan kata-kata secara tertulis dari lirik lagu yang analisis menggunakan kajian sosiologi sastra. Etnografi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang kebudayaan. Sehingga pada penelitian kali ini peneliti akan menjelaskan tentang nilai budaya yang terdapat dalam lirik lagu kebudayaan masyarakat suku Tidung. Penelitian kualitatif etnografi merupakan penelitian yang menganalisis sebuah data-data baik tertulis maupun lisan dari sebuah kebudayaan. Lirik nyanyian yang diteliti dalam gaya bahasa pada lirik nyanyian rakyat suku Tidung di Kota Tarakan Kalimantan Utara, yaitu: 1) Usak Amad Tantu, 2) Pagun Bakin Banta, 3) Beladaw, 4) Dindang pagun, 5) Belimpung Taka Tagas dan 6) Bebilin. Data dalam penelitian ini adalah berupa bait atau lirik nyanyian yang mengandung nilai budaya dalam nyanyian rakyat suku Tidung. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti kali ini hanya mengambil beberapa judul nyanyian dari sederetan nyanyian rakyat suku Tidung. Dari 6 lirik nyanyian yang telah dianalisis dengan kajian sosiologi sastra dapat diambil kesimpulan bahwa secara keseluruhan data yang didapatkan yaitu nilai budaya terdapat 33 data lirik lagu. Nilai budaya paling dominan yang terdapat dalam lirik nyanyian rakyat suku Tidung di Kota Tarakan Kalimantan Utara yaitu mata pencaharian suku rakyat Tidung, interaksi sosial. Kata kunci: Nilai Budaya, Nyanyian Rakyat Suku Tidung, Sosiologi Sastra.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nurul Hidayah, 2019, Makna Mitos Masyarakat Suku Tidung di Pulau Bunyu Kecamatan Bunyu Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara (Kajian Folklor), Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan. Pembimbing Utama Rita Kumala Sari, M,Pd dan Pembimbing Anggota Siti Sulistyani,M.Pd. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan makna mitos dalam Suku Tidung di Pulau Bunyu melalui kajian folklor. metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Laporan penyajian data, di sajikan secara terurai dalam bentuk kata-kata maupun kalimat. Sumber data penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang mitos Suku Tidung. Data dalam penelitian ini adalah berupa penggalan kalimat dari hasil wawancara terhadap informan. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, rekam, dan teknik catat. Penyajian hasil analisis data dengan analisis deskriptif. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan jenis dan makna mitos Suku Tidung dengan menggunakan kajian folklor. folklor adalah teori yang disampaikan secara lisan dan turun-temurun dari mulut ke mulut. Hasil penelitian pada penelitian ini mendapatkan 38 data mitos serta jenis dan makna mitos tersebut yang diperoleh pada informan atau masyarakat Suku Tidung di Pulau Bunyu di antara lain mitos larangan 10 data. mitos kebiasaan 13 data, mitos petanda terdapat 6 data. dan Mitos perempuan hamil 9 data. Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa semua data dalam penelitian ini terdapat 38 mitos serta jenis dan maknanya. Makna yang terkandung didominasi oleh makna falsafah dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatur kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitar, dan manusia dengan Tuhan karena hal tersebut saling berkaitan.