ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Suku Tidung yang bermukim di Kelurahan Juata Laut, Kota Tarakan, hingga saat ini masih mempertahankan kearifan lokal dalam pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional. Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai jenis penyakit yang umum dialami oleh masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tanaman obat yang digunakan oleh masyarakat Suku Tidung berdasarkan kelompok penyakit, mengetahui bagian yang dimanfaatkan, cara pengolahan, serta metode pengaplikasiannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan jumlah responden 6 orang tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan tradisional, serta didukung dengan dokumentasi lapangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2025 di Kelurahan Juata Laut, Kota Tarakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 jenis tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Suku Tidung, yang berasal dari berbagai habitus, yaitu pohon, perdu, semak, herba, terna, dan liana. Cara pengolahan tanaman obat yang paling umum dilakukan adalah dengan cara direbus, dimemarkan, dan dihaluskan. Bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun, diikuti oleh rimpang dan batang. Pengaplikasian tanaman obat dilakukan melalui beberapa metode, antara lain dengan cara diminum, ditempelkan, dan dioleskan pada bagian tubuh yang membutuhkan pengobatan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi ilmiah mengenai pemanfaatan tanaman obat berbasis kearifan lokal serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendukung pembelajaran Biologi, khususnya pada materi keanekaragaman hayati dan etnobotani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Masyarakat Suku Dayak Kenyah memiliki pengetahuan turun-temurun dalam pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan tradisional. Namun, kemiripan morfologi antara spesies tanaman, khususnya daun, sering menjadi kendala dalam identifikasi yang akurat. Meskipun minat terhadap herbal medicine semakin meningkat, keterbatasan pemahaman mengenai tanaman obat tetap menjadi masalah, meski Indonesia memiliki lebih dari 38.000 spesies tumbuhan, dengan 2.039 di antaranya tanaman herbal. Proses klasifikasi daun obat tradisional masih dilakukan secara manual, berisiko terjadi kesalahan akibat kemiripan bentuk dan tekstur antar daun. Penelitian ini mengusulkan sistem klasifikasi citra daun obat tradisional Suku Dayak Kenyah menggunakan metode deep learning Convolutional Neural Network (CNN), dengan fokus pada daun senggani (Melastoma malabathricum L), daun jarak (Jatropha curcas), dan daun sengkubak (Pycnarrhena cauliflora). Penelitian menggunakan dataset 900 citra primer yang diproses melalui tahapan preprocessing dan augmentation hingga menghasilkan 2.340 citra. Dataset dibagi menjadi 80% data latih, 10% data validasi, dan 10% data uji. Proses analisis meliputi pembagian dataset, pelatihan model, dan evaluasi performa dengan mengamati kestabilan metrik pada data validasi dan pengujian. Hasil pelatihan model CNN dengan arsitektur MobileNetV2 menunjukkan bahwa akurasi terbaik tercapai pada epoch ke-50 dengan nilai akurasi pelatihan 100%, akurasi validasi 100%, dan validation loss sebesar 0,0565. Evaluasi terhadap data uji menunjukkan performa model sangat baik, dengan nilai precision, recall, dan F1-Score rata-rata mencapai 100% pada seluruh kategori daun serta rata-rata akurasi 100%. Namun, pengujian pada 90 data uji dari dataset luar menunjukkan penurunan performa model, dengan rata-rata precision 88%, recall 84%, dan F1-score 83%, dengan rata-rata dari akurasi per kelas 88,9% dan akurasi total model pada data uji luar dataset adalah 84,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa model CNN dengan arsitektur MobileNetV2 efektif dalam klasifikasi citra daun obat tradisional Suku Dayak Kenyah, dan dapat menjadi solusi inovatif serta standar kualitas dalam klasifikasi daun senggani, daun jarak, dan daun sengkubak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tanaman Bulunangko (Coleus scutellarioides) oleh masyarakat Suku Toraja di Kampung Tator, Kabupaten Nunukan, serta menganalisis potensi integrasinya ke dalam pembelajaran Biologi di tingkat SMA. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman Bulunangko dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti batuk, demam, TBC, muntah darah, dan anemia. Selain itu, tanaman ini juga dikonsumsi sebagai sayuran harian. Bagian tanaman yang digunakan mencakup daun, pucuk, dan batang muda, dengan teknik pengolahan seperti peremasan, perendaman, serta pencampuran dengan madu atau telur ayam kampung. Pengetahuan mengenai penggunaan tanaman ini diwariskan secara turun-temurun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman Bulunangko dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Biologi berbasis potensi lokal dan penguatan literasi budaya, sehingga penting untuk dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya dan pengetahuan tradisional
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa FKIP Suku Dayak Lundayeh tentang pemanfaatan tanaman obat tradisional. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pengembangan Fraenkel dan Wallen (1993) yang dilakukan sampai tahap ke 7, instrumen lembar penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dokumentasi, wawancara untuk mengumpulkan atau mengidentifikasi, klasifikasi data, verifikasi data dan penarikan kesimpula, pengambilan sampel mengunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden 30 mahasiswa Suku Dayak Lundayeh. Dari 30 mahasiswa Suku Dayak Lunndayeh pada penelitian ini terdapat 16 mahasiswa menyatakan tahu terhadap pemanfaatan tanaman obat, responden yang terdiri dari 8 laki-laki dan 8 perempuan menjelaskan pengetahuan terkait tanaman obat yang diperoleh dari orang tua, kakek, nenek, dan kerabat lainnya, dari penelitian ini juga menemukan 14 responden yang masuk ke dalam katagori kurang tahu dan tidak tahu, masing-masing terbagi atas 10 kurang paham dan 4 tidak paham, responden hanya mampu menyebutkan 2 tumbuhan obat yang di tunjukkan dalam penelitian, sementara 4 responden lainnya masuk katagori tidak paham karena hanya dapat menyebutkan 1 jenis tumbuhan saja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman obat merupakan salah satu budidaya tanaman yang banyak dikonsumsi di masyarakat, tanaman obat di budidayakan secara mandiri di perkarangan rumah. Hasil dari budidaya tanaman obat tersebut digunakan sebagai obat herbal dan dikonsumsi sebagai tindakan menjaga kesehatan tubuh serta menjadi salah satu sumber pemasukan masyarakat Desa Mara Satu. Tanaman obat dapat dibudidayakan dengan mudah dan memiliki fungsi ganda, misalnya untuk tanaman pangan, tanaman hias, bumbu masak, tanaman hias dan buah-buahan sehingga sangat menguntungkan jika ditanaman di perkarangan rumah. Tanaman obat keluarga yang banyak ditanamani masyarakat Desa Mara Satu adalah jahe, jahe merah, kunyit, sirih dan serai. Hasil dari budidaya tanaman obat tersebut dapat digunakan sebagai edukasi tanaman herbal atau tanaman tradisional kepada anggota keluarga, dikonsumsi sebagai tindakan menjaga kesehatan tubuh dan menjadi salah satu tindakan nyata dalam budidaya tanaman obat. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan budidaya tanaman obat dan merumuskan stratei yang tepat untuk pengembangan budidaya tanaman obat keluarga di desa Mara Satu, penentuan daerah penelitian secara Purpostive Sampling dengan jumlah responden 5 orang dengan penentuan sampel menggunakan Key Informan. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder, analisis data yang digunakan adalah analisis data SWOT. Hasil analisis SWOT menunjukan budidaya pengembangan tanaman obat Desa Mara Satu berada di kuadran 1 dengan nilai EFAS 0,22 dan IFAS 1,03 yang berarti keadaan desa mendukung strategi agresif atau strategi SO yaitu pengembangan budidaya tanaman obat Desa Mara Satu memperluas jaringan pasar keluar wilayah dengan mengembangkan budidaya pada lahan yang subur untuk meningkatkan kualitas yang baik sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen. Melalui strategi tersebut masyarakat mendapatkan keuntungan yang besar dengan jumlah produksi yang banyak., dengan demikian Desa Mara Satu memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat mengembangkan budidaya tanaman obat keluarga dengan menggunakan strategi agresif tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Suku Tidung di Desa Buong Baru Kecamatan Betayau Kabupaten Tana Tidung mempunyai tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan. Salah satu tradisi yang di pertahankan adalah menggunakan tumbuhan sebagai bahan pengobatan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1)mengetahui jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat, 2)mengetahui cara pengolahan tumbuhan obat, 3)mengetahui bagian organ tumbuhan yang digunakan, 4)mengetahui cara penggunaan tumbuhat obat tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penyajian data melalui wawancara dengan warga desa yang didukung dengan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2023. Subjek penelitian 4 orang (dukun dan Masyarakat adat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan 20 jenis tumbuhan obat yang berasal dari berbagai macam habitus seperti herba, terna, liana, perdu, dan pohon. Cara pengolahan tumbuhan yaitu direbus sebanyak 11 tumbuhan, ditumbuk sebanyak 4 tumbuhan, diremas sebanyak 3 tumbuhan, direndam sebanyak 2 tumbuhan, dipanggang sebanyak 1 tumbuhan dan dimemamar kan sebanyak 1 tumbuhan. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu daun dengan jumlah 11 tumbuhan, batang sebanyak 2 tumbuhan, akarnya sebanyak 1 tumbuhan, rimpang sebanyak 4 tumbuhan. Cara penggunaan tumbuhan obat yaitu dengan diminum ditempelkan, di aplikasikan, di teteskan, digosok. Rekomendasi dalam penelitian ini adalah perlu dilakukan uji efektifias tumbuhan obat dalam mengobati penyakit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Masyarakat suku Tidung di desa Sepala Dalung mempunyai salah satu tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan dan dilestarikan, salah satu keanekaragaman budaya tersebut adalah penggunaan tanaman sebagai pengobatan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tanaman apa saja yang digunakan sebagai obat, untuk mengetahui bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat, serta untuk mengetahui cara pengolahan dan cara penggunaan tana-man obat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi dilakukan melalui wawancara interaktif dengan warga desa yang didukung dengan dokumentasi. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2022 dengan jumlah subjek penelitian 13 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan 36 jenis tanaman obat yang be-rasal dari berbagai macam habitus seperti herba, terna, liana, perdu, dan pohon. Bagian tanaman yang paling banyak digunakan sebagai obat oleh masyarakat suku Tidung di desa Sepala Dalung adalah daun dengan jumlah 21 tanaman, rimpang sebanyak 6 tanaman, akar sebanyak 5 tanaman, buah sebanyak 4 tanaman, batang sebanyak 2 tanaman, kulit sebanyak 2 tanaman, dan bunga sebanyak 1 tanaman. Cara mengolah tanaman obat oleh masyarakat suku Tidung di desa Sepala Dalung cukup bervariasi mulai dari yang paling sering dilakukan yaitu cara ditumbuk sebanyak 17 tanaman, direbus 15 tanaman, digoreng 5 tanaman, diremas 2 tana-man, dihaluskan (blender) 2 tanaman, dijemur 2 tanaman, dimakan langsung 2 tanaman, diparut 1 tanaman, dikerik 1 tanaman dan dipanaskan 1 tanaman. Cara penggunaan tanaman obat yang telah diolah yaitu dengan dimakan langsung atau diminum, dioleskan diatas kulit yang sakit, dan ditempelkan pada luka. Masyarakat Suku Tidung di desa Sepala Dalung mempercayai khasiat pengobatan tradisional menggunakan tanaman sebagai obat yang bermanfaat dalam menyem-buhkan penyakit baik penyakit luar maupun penyakit dalam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Penelitian ini bertujuan untuk membuat pengembangan ensiklopedia berbasis riset tanaman obat suku dayak kenyah di desa punan gong solok kabupaten malinau. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan Research and Development (R&D) menggunakan model pengembangan Borg and Gall. Penelitian ini melibatkan 3 validator ahli dan 12 subjek uji coba. Hasil dari penelitian ini validasi yang diperoleh dari ahli media dengan persentase 81%, ahli materi rata-rata persentase 85%, ahli praktisi rata-rata persentase 88% sedangkan hasil dari respon siswa memperoleh rata-rata persentase 87%. Dengan demikian rata-rata yang diperoleh dari keempat kriteria diatas sebesar 82,4% sehigga dapat dinyatakan bahwa buku ensiklopedia layak untuk digunakan.