ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan makna cerita rakyat masyarakat Dayak Bulusu di Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan cerita rakyat sebagai bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi belum banyak didokumentasikan secara ilmiah sehingga keberadaannya berpotensi mengalami kepunahan seiring perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan metode folklor dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan tokoh adat dan tetua masyarakat sebagai informan, dokumentasi, serta studi pustaka. Analisis fungsi cerita rakyat menggunakan teori William R. Bascom, sedangkan analisis makna menggunakan pemikiran Alan Dundes. Objek penelitian terdiri atas dua cerita, yaitu cerita Jadu Lawang dan Yaki Bugang serta cerita Aki Ibuk yang berkaitan dengan Gong Solok/Dagas Sebengawang. Kedua cerita tersebut tergolong mitos karena dipercaya oleh masyarakat berkaitan dengan asal-usul manusia, leluhur, dan kehidupan awal masyarakat Dayak Bulusu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Dayak Bulusu memiliki empat fungsi, yaitu sebagai sistem proyeksi, alat pengesahan pranata kebudayaan, alat pendidikan, dan alat pengawas norma sosial. Selain itu, ditemukan empat makna yang terkandung dalam cerita, yaitu makna moral, sosial, budaya, dan spiritual. Dengan demikian, cerita rakyat Dayak Bulusu tidak hanya berfungsi sebagai warisan lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai, penguatan identitas budaya, dan pendidikan karakter bagi generasi muda. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam mendokumentasikan dan melestarikan sastra lisan masyarakat Dayak Bulusu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tradisi tato Dayak Kenyah Lepo’ Ke di Desa Long Tebulo merupakan warisan budaya yang mengandung nilai filosofis, spiritual, dan sosial, tetapi semakin terancam oleh modernisasi, pengaruh agama, dan melemahnya pewarisan budaya sehingga perlu didokumentasikan melalui kajian folklor. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kajian folklor melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap dua informan yang dipilih secara purposive dan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Temuan penelitian mengidentifikasi lima motif tato tradisional, yaitu Kalung Ilak, Kalung Tebuku, Kalung Besulan, Kalung Kabuk, dan Kalung Se'. Adapun makna yang terkandung didalam jenis-jenis tato yang telah diteliti, dari kelima jenis makna tato yang telah diteliti terdapat dua jenis makna tato yang digunakan oleh para tetua adat dan bangsawan yaitu, tato kalung ilak dan kalung kabuk yang bermakna sebagai kehormatan puncak tertinggi dalam struktur dan memilliki kekuasaan tertinggi pada suku Dayak lepo’ke, sedangkan untuk tiga makna tato yaitu kalung tebuku, kalung besulan dan kalung se’ tato yang bermakna sebagai bagaimana perjalanan hidup seseorang dan digunakan sebaagai bentuk eksistensi kelas mengah kebawah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas makna dan simbol Arsitektur Padan Liu' Burung sebagai salah satu warisan budaya yang merepresentasikan identitas masyarakat Dayak Kabupaten Malinau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek pada penelitian ini diperoleh dari tokoh adat Kabupaten Malinau. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu teknik observasi, wawancara, dokumentasi, menulis/mencatat. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat makna Arsitektur Padan Liu' Burung yaitu data berupa Arsitektur banggunan, 3 pasak atap, pintu utama, pintu kedua, tiang, tangga ulin, lantai panggung memiliki makna melambangkan keselarasan, kekuatan dan mempertahankan nilai-nilai leluhur. Data berupa bentuk tameng, ornamen burung enggang memiliki makna melambangkan perlindungan dan keberanian. Data berupa warna kuning, biru, putih, hitam, hijau, merah memiliki makna melambangkan keindahan dan kekuatan bagi suku Dayak. Arsitektur ini melambangkan sebagai ruang sosial dan juga sebagai medium komunikasi nilai-nilai leluhur, terutama yang berkaitan dengan hubungan manusia, alam, dan kepercayaan tradisional dan juga berperan sebagai simbol status sosial dan sarana pelestarian adat melalui ritual maupun kegiatan komunal. Unsur-unsur seperti bentuk bangunan, ukiran, motif burung, serta tata ruangnya memuat simbol kosmologis yang merefleksikan pandangan hidup masyarakat Dayak terhadap keseimbangan dan keharmonisan. Hasil kajian disimpulkan bahwa arsitektur tradisional ini memiliki kedalaman nilai filosofis yang penting untuk dilestarikan sebagai identitas budaya dan referensi pengembangan arsitektur lokal di masa depan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
NOPITA, 2026 Makna Simbol Ukiran Pada Rumah Adat Dayak Gaai Di Desa Long Buang Kecamatan Peso Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara (kajian Semiotik). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan (dibimbing oleh Muhammad Ilham, S. S., M.Pd dan Dr. Asih Riyanti, M.Pd) Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan makna pada ukiran rumah Adat suku Dayak Gaai Di Desa Long Buang Kecamatan Peso. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah masyarakat suku Dayak Gaai. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan teknik catat. Jumlah data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu sebanyak 22 data. Data penelitian terdiri dari 6 data berupa ukiran, 2 data berupa gambar, 6 data berupa benda, 1 data berupa pahatan, 6 data berupa warna, 3 data berupa arsitektur. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori segitiga makna, maka di peroleh kesimpulan bahwa data yang berada di dalam rumah adat tersebut memiliki makna yang berbeda. Emdal, Giyong, Tekhung Emnuk, Ong Tehun memiliki makna yang dapat memanggil Roh nenek moyang, Mengkai Madoh, Smeak masin, Elbung memiliki makna yang religius sebagai tanda terima kasih masyarakat suku Dayak Gaai kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang layak. Guleng memiliki makna simbol yang yang menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat ditempat terkenal akan banyak tradisi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna prosesi Aweh adat Suku Dayak Lundayeh di Desa Lung Barang Kecamatan Mentarang Huliu Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Prosesi Aewh Adat ini menarik untuk diteliti karena memiliki beberapa proses yang harus dilakukan secara berurutan. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data pada penelitian ini berupa makna pada prosesi Aweh Adat suku Dayak Lundayeh di Desa Lung Barang Kecamatang Mentarang Hulu Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Sumber data dalam penelitian ini adalah Prosesi Aweh Adat suku Dayak Lundayeh. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diantaranya adalah observasi, wawancara, dan menulis/mencatat. Kemudian analisis data yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah, mengumpulkan data, identifikasi data atau menafsirkan data, dan mendeskripsikan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah data simbol budaya dalam prosesi Aweh Adat suku Dayak Lundayeh. jumlah data dalam Penelitian ini adalah 18 data, diantaranya yaitu: fata, abe, bane, leku sulau, beret, bakad, tekip, tayen/rubi, rong basung, apar, abet ulu deley, bakad deley, Nuduk, Namong, proses penguguman, ngaru burung, fetutup, iraw Aweh, nated biung. Seluruh data ini akan dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan teori penanda (signifer) dan petanda (signifed) dari Ferdinand De Saussure.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan fungsi ritual Mui Lebu pada masyarakat Suku Dayak Uma Kulit di Desa Jelarai Selor, Kabupaten Bulungan. Ritual Mui Lebu merupakan upacara adat yang bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan desa dari segala macam energi negatif atau bala demi kesejahteraan masyarakat.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotik. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, tindakan, benda-benda, dan makanan yang terkait dengan prosesi ritual. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat Suku Dayak Uma Kulit, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori segitiga makna Charles Sanders Peirce yang mencakup tanda (sign), objek (object), dan interpretan (interpretant). Kata Kunci: Ritual Mui Lebu, Suku Dayak Uma Kulit, Semiotik, Makna, Fungsi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna cinta yang terkandung dalam lirik grup sigma melalui pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure dengan menggunakan metode heuresik dan hermeneutika. Data yang dianalisis adalah lirik dari beberapa lagu Sigma seperti heikharah cinta, kupu-kupu cinta, melukis hati, sejuta doa, surat cinta, penawar rindu, dan memendam rasa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi lirik lagu dan analisis data mengguakan teori signifier dan signified. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna cinta dalam lirik lagu Sigma tidak hanya sebatas cinta antar manusia, tetapi juga mengandung makna religlur yang mendalam sebagai bentuk pengabdian dan kerinduan kepada Allah. Pendekatan hermenetika menggali makna lebih dalam berdasarkan konteks budaya, emosional dan spiritual. Karya Sigma mengandung pesan moral dan religi yang kuat menjadikan lirik lagu sebagai media dakwah dan penguat nilai-nilai keislaman. Simpulan penelitian ini menyatakan bahwa lirik lagu nasyid Sigma mampu menyampaikan makna cinta yang kompleks dan multi dimensi, yang meliputi cinta kepada sesama manusia dan cinta kepada Tuhan. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi dalam studi semiotika tentang karya seni religi menejadi sumber pengembangan dakwah melalui nasyid
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas tentang makna dan simbol dalam prosesi Mecaq Undat, yaitu tradisi panen padi masyarakat Dayak Kenyah di Desa Agung Baru. Tradisi ini sarat dengan simbol-simbol budaya yang mencerminkan nilai spiritualitas, kebersamaan, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, serta leluhur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian semiotika Charles Sanders Pierce yang memfokuskan pada analisis sign (tanda), object (objek), dan interpretant (interpretasi) dalam setiap rangkaian upacara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai simbol, seperti gong, alu kayu, pakaian adat, serta sesaji, memiliki makna mendalam yang tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan upacara, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang menegaskan identitas Dayak Kenyah. Gong misalnya melambangkan panggilan sakral untuk kebersamaan, alu kayu menggambarkan kerja sama dan ketekunan, sedangkan pakaian adat dan hiasannya menjadi simbol status, kesucian, serta penghormatan terhadap leluhur. Interpretasi dari simbol-simbol tersebut memperlihatkan bahwa prosesi Mecaq Undat bukan hanya kegiatan panen, melainkan sebuah ritual sakral yang mengandung pesan syukur, solidaritas, serta pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa semiotika Pierce mampu mengungkap kedalaman makna simbolik dalam tradisi Dayak Kenyah dan pentingnya menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Makna yang Terkandung dalam Adat Suku Dayak Lundayeh di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau (Kajian Semiotika). Penelitian kualitatif ini dengan subjek pada penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Lundayeh ini dengan. Adapun teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi, wawancara, dokumentasi, mencatat. Teknik analisis data yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat dan di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh, dan membuat kesimpulan dari data yang sudah dikumpulkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari keseluruhan data yang terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 25, data penelitian terdiri atas 1 data yang berupa ukiran, 2 data berupa pahatan, 10 data berupa benda, 6 data berupa warna, 6 data arsitektur. Dari hasil makna secara semiotika dengan menggunakan teori segitiga makna, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat data yang berada di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Arit linawa memiliki makna melambangkan kekuatan seseorang dengan lun do dari suku Dayak. Buaye tana, Diri ulung memiliki makna melambangkan sifat sangat keras, keberanian dan ketangguhan serta rasa persatuan masyarakat suku Dayak Lundayeh. Gong, Keratung, Sape, Felefet, Efut, Busu dan warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki kekuatan. Rong, Bakad telun decur, Tekip telun decur, Bakad telun delai memiliki makna status sosial masyarakat. Warna kuning, biru, putih, hitam, hijau memiliki makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat suku Dayak Lundayeh kepada tuhan telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan menjadi sumber kehidupan mereka. Atap, diri, jendela, buduk, lantai, bawa kolong Arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan setiap masyarakat memasuki rumah adat suku Dayak Lundayeh.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisiskan makna dan simbol yang terkandung dalam Tradisi Uman Jenai Suku Dayak Kenyah Lepo’tau di Desa Long Temuyat Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Malinau (Kajian Semiotik). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan menggunakan kajian semiotik dari Charles Sanders Pierce yaitu teori segitiga makna, diantaranya tanda (sign), objek (object), interpretasi (interpretant). Data dalam penelitian ini adalah makna dan simbol dalam tradisi uman jenai suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau di Desa Long Temuyat Kecamatan Kayan Hulu. Sumber data pada penelitian ini dari informan. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik wawancara, dan dokumentasi serta teknik rekam. Penelitian ini menerapkan beberapa langkah dalam teknik analisis yang meliputi pengumpulan data yang berkaitan dengan tradisi Uman Jenai Suku Dayak Kenyah Lepo’tau di Desa Long Temuyat Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Malinau, data yang telah teridentifikasi diartikan atau diterjemahkan langsung ke dalam Bahasa Indonesia, kemudian data yang telah diartikan ke dalam Bahasa Indonesia tersebut diinterpretasikan dengan cara mengungkapkan makna yang terkandung dalam Tradisi Uman Jenai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 26 data mengenai makna dan simbol dalam tradisi Uman Jenai suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau di Desa Long Temuyat. Kata Kunci : Tradisi Uman Jenai, Suku Dayak Kenyah, Makna Dan Simbol, Kajian Semiotik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk reduplikasi serta menganalisis makna dan fungsi pada sembilan cerita rakyat yang terdapat dalam buku kumpulan cerita rakyat berjudul Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong Sastra Lisan dan Kamus Punan Tuvu’ dari Kalimantan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data dan sumber data dalam penelitian ini adalah berupa buku cerita rakyat yang berjudul Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong Sastra Lisan dan Kamus Punan Tuvu’ dari Kalimantan yang terdapat sembilan cerita rakyat bahasa Punan dan serta terjemahan bahasa Indonesia. Data di peroleh dalam penelitian ini yaitu dengan teknik baca, teknik simak, dan teknik catat. Data di analisis dengan teknik deskriptif kualitatif. Berdasarkan rumusan masalah, hasil serta pembahasan penelitian reduplikasi yang di lakukan menunjukkan adanya reduplikasi atau kata ulang yang terdapat pada kumpulan ke sembilan cerita rakyat buku yang berjudul Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong Sastra Lisan dan Kamus Punan Tuvu’ dari Kalimantan yang terdiri dari tiga klasifikasi yaitu reduplikasi utuh (dwilingga) reduplikasi sebagian (dwipurwa) dan reduplikasi berubah bunyi (dwilingga salin suara). Dengan masing-masing di peroleh reduplikasi utuh (dwilingga) (109), reduplikasi sebagian (dwipurwa) (28), dan reduplikasi berubah bunyi (dwilingga salin suara) (9). Dari ke tiga klasifikasi ini kata utuh menjadi yang paling dominan dalam penelitian ini karena hasil analisis sembilan (9). Reduplikasi bermakna (bermakna kelompok 12), (bermakna banyak 5), (bermakna sungguh-sungguh 9), (bermakna masing-masing 7), (bermakna sudah 4), (bernakna kehati-hatian/waspada 6), (bermakna keadan 9), (bermakna perbuatan 24), (bermakna tidak sungguh-sungguh 6), (bermakna penegasan 4), (bermakna sangat 5), (bermakna bertanya 3), (bermakna tindakan 3), (bermakna uruttan 1), (bermakna bunyi 9), (bermakna saling 3), (bermakna memberitahu 3), (bermakna awalan 1), (bermakna takut 3), dan (brmakna keberadaan 1) dengan rinciannya 145 pengulangan bermakna, sedangkan redupliksi berfungsi, reduplikasi berfungsi (Nomina, 33), reduplikasi berfungsi (Verba 42), reduplikasi berfungsi (Adjektiva, 21), dan reduplikasi berfungsi (adverbia, 24), berdasarkan hasil secara keseluruhan reduplikasi berfungsi yaitu 120 data reduplikasi berfungsi data reduplikasi yang telah dianalisis, masing-masing kelas kata menunjukkan peran dari cerita rakyat yang terdapat cerita rakyat suku dayak Punan dalam buku Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong Sastra Lisan dan Kamus Punan Tuvu’ dari Kalimantan. Menunjukkan kata pengulangan utuh yang paling banyak digunakan dalam cerita tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS MAKNA SIMBOL TARIAN LALATIP SUKU DAYAK TAHOL DESA MANSALONG KECAMATAN LUMBIS KABUPATEN NUNUKAN KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIK) ABSTRAK NOVIA PUTRI SARI, 2025 Analisis Makna Simbol Tarian Lalatip Suku Dayak Tahol Desa Mansalong Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara (Kajian Semiotik). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan (dibimbing oleh Dr. Erna Wahyuni, S.S., M.A. dan Rita Kumala Sari, M.Pd.). Penelitian ini berutujuan untuk menganalisis makna simbol dalam tarian Lalatip yang merupakan warisan budaya dari Suku Dayak Tahol di Desa Mansalong, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Tarian ini mengandung berbagai tanda simbolik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkap makna yang terkandung didalam tarian Lalatip, serta memberikan kontribusi terhadap pemahaman dan pelestarian budaya lokal. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap elemen dalam tarian Lalatip memiliki makna simbolis yang mendalam, seperti simbol yang terdapat pada tarian Lalatip, yaitu alat musik gong dimaknai sebagai kekuatan leluhur, pakaian dengan motif manik-manik dimaknai sebagai persatuan dan estetika tradisional, sedangkan gerakan tari yang lincah dimaknai sebagai ketangkasan prajurit dalam menghadapi ancaman. Jumlah data yang dianalisis pada taria Lalatip, yaitu meliputi alat musik gong besar, gong sedang, gong kecil sebanyak 3 data, pakaian penari pria baju pupulut dan abagh sebanyak 2 data, pakaian penari wanita baju linantian dan rok linantian sebanyak 2 data, aksesoris penari laki-laki memiliki 5 data yaitu tupi susunduk, rarangkol/jangkol, holong sulou, papakol nulongon, papakol nukalayon, aksesoris penari wanita memiliki 7 data, yaitu salupai, inting-inting, Sulampoi, holong sulou, pipirot ringgit, pipirot sungkayon, batik nu popok, properti memiliki 7 data yaitu taut lalatip, perisai, mandau, sapuk, pingulu nu sapuk, papakol nu mato, tuntung nu agung dan gerakan tari memiliki 10 data. Keseluruhan data yang didapatkan pada penelitian ini adalah 36 data, penelitian ini berkontribusi dalam memberikan wawasan baru bagi pembaca mengenai pentingnya menjaga dan memahami simbolisme dalam seni tradisional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisiskan Makna Simbol Upacara Ngandu’ suku Dayak Bulusu di Desa Pungit Kecamatan Sekatak (Kajian Semiotik) dari Charles Sanders Pierse. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif menggunakan kajian semiotik dari Charles Sander Pierse yaitu teori semiosis triadic, diantaranya adalah tanda (representament), objek (object), dan interpretasi (interpretant). Data pada penelitian ini makna dari simbol upacara ngandu’ suku Dayak Bulusu di Desa Pungit Kecamatan Sekatak. Sumber data pada penelitian ini upacara ngandu’ suku Dayak Bulusu dan tokoh adat suku Dayak Bulusu. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini diantaranya observasi, dokumentasi, wawancara, dan mencatat atau menulis. Analisis data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data, identifikasi data, dan menanalisiskan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini terdapat tiga puluh satu simbol yang digunakan pada upacara ngandu’ suku Dayak Bulusu yang dipercayai membawa hal-hal baik untuk membangun rumah tangga mereka dan dijauhkan dari hal buruk yang dapat merusak rumah tangga mereka. Sehingga, setiap simbol memiliki makna dan mempunyai tujuan yang sama yaitu bentuk harapan agar pasangan suami istri memiliki rumah tangga yang damai dan sejahtera.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
WEKI YUDISTIRA. 2024. Makna pada Prosesi Tolak Bala/Mandi Safar Masyarakat Bohe Silian di Kecamatan Maratua (Kajian Folklor). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Borneo Tarakan. (dibimbing oleh Dr. Erna Wahyuni, S.S., M.A. dan Siti Fathonah, M.Pd.) Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui makna pada prosesi tolak bala/mandi safar masyarakat Bohe Silian di kecamatan Maratua. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), dengan metode kualitatif deskriptif menggunakan pendekatan etnografi. Adapun subjek penelitian adalah tokoh-tokoh agama masyarakat Bohe Silian di kecamatan Maratua. Data dalam penelitian ini adalah prosesi tolak bala/mandi safar. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan obsrvasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa prosesi tolak bala/mandi safar dalam pelaksanaannya memiliki rangkaian proses yaitu mempersiapkan pohon, berdoa bersama, makan bersama, siram-siraman, dan acara bebas. Adapun makna yang terkandung di dalam prosesi ini terkait kepercayaan dan kebersamaan yang dimiliki masyarakat Bohe Silian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
BENTUK DAN MAKNA CITRAAN DALAM KUMPULAN LAGU KARYA FIERSA BESARI (KAJIAN STILISTIKA) ABSTRAK ERNI FIBRINITA 2024. Bentuk dan Makna Citraan Dalam Kumpulan Lagu Karya Fiersa Besari (Kajian Stilistika) Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan makna citraan dalam kumpulan lagu karya Fiersa Besari menggunakan kajian stilistika untuk mendeskripsikan, menggambarkan, melukiskan bentuk dan makna apa saja yang terdapat atau yang ada dalam lagu-lagu Fiersa Besari. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif . Penelitian kualitatif ini menghasilkan data yang berupa gambaran suatu keadaan atau suatu kondisi, situasi secara jelas, terang dan mudah dimengerti dan disajikan dalam bentuk kalimat, kata-kata berdasarkan fakta yang ada. Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil dari penelitian citraan dalam album “Tempat Aku Pulang” karya Fiersa Besari menghasilkan data sebagai berikut: 1). Citraan Penglihatan yakni penikmat dapat dengan jelas melihat/merasakan adanya perubahan situasi, 2). Citraan Perabaan yakni penikmat seakan-akan merasakan sesuatu yang ada dalam lagu, 3). Citraan Gerak yakni menunjukkan suatu kondisi yang bergerak, 4). Citraan Pendengaran yakni situasi dimana kita ikut merasakan, mendengar ide-ide yang timbul dari sipenulis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan makna simbol tarian Hedung suku Adonara di kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara melalui kajian semiotik dari Charles Sander Pierce yaitu teori semiosis triadic, diantaranya adalah tanda (representament), objek (object), dan interpretasi (interpretant). Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini diantaranya observasi, wawancara, dokumentasi atau rekam, dan catat. Analisis data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data, identifikasi data, dan menganalisiskan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini terdapat dua belas simbol yang digunakan pada tarian Hedung suku Adonara di kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara yaitu Kenube Witi Taran, Dopi, Gala, Nowing, Kwatek, Lonceng Kaki, Ikat Kepala, Gelang Gading, Motif sarung Kebukak, Motif sarung Kau Nepi, Motif sarung skematik/bergaris-garis, selendang, gerakan penari berbaris masuk, gerakan penari mengiringi penari laki-laki, gerakan penari saling berhadapan, gerakan penari menyerang dan gerakan membuka barisan. Seluruh data ini dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan teori segitiga makna dari Charles Sanders Pierce.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisiskan makna simbol dalam iklan produk minuman susu di Youtube menggunakan kajian semantik, sementara itu metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pengambilan data dengan cara mengamati secara cermat video iklan pada aplikasi youtube. Data pada penelitian ini berupa iklan-iklan susu yang terdapat di Youtube. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode menyimak dan mengamati, tangkapan layar, menganalisis dan pencatatan. Penyajian hasil analisis data dengan teknik mengumpulkan data, menganalisis dan menyimpulkan. Hasil dari penelitian ini terdapat dua puluh makna simbol susu yang terdapat pada iklan yang diteliti dengan pemilihan iklan susu tersebut dapat meningkatkan popularitas beberapa produk susu sehingga dari penanyangan iklan tersebut membuat para masyarakat tertarik memilih beberapa produk susu sebagai minuman terbaik untuk buah hati mereka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna simbol Tarian Pa’gellu suku Toraja di Kota Tarakan Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data pada penelitian ini berupa simbol-simbol tarian pa’gellu suku Toraja di Kota Tarakan Kalimantan Utara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diantaranya adalah observasi, wawancara, mencatat/menulis, dan dokumentasi. Kemudian analisis data yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data, identifikasi data atau menafsirkan data, dan mendeskripsikan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat simbol tarian pa’gellu suku Toraja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui makna leksikal yang terkadung dalam lirik lagu Suku Bugis Barru Karya Ansar. S dengan menggunakan kajian semantik. Metode pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah makna leksikal, dalam kumpulan lagu Bugis Barru Karya Ansar. S. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ini berdasarkan data dari analisis penelitian, bahwa dalam kumpulan lagu suku Bugis Barru terdapat makna-makna yang terkandung di dalamnya, dan dapat peneliti terdapat bermacam-macam makna leksikal sebagai berikut : Siddi juta tellu ratu terdapat 6 data makna yang ada di dalam lirik lagu tersebut, Balo lipa terdapat 5 data makna yang ada di dalam lirik lagu tersebut, Pangate ade terdapat 5 data makna yang ada di dalam lirik lagu tersebut, Sibali Cinna terdapat 4 data makna yang ada di dalam lirik lagu tersebut, Wae mata walapassolo terdapat 6 data makna yang ada di dalam lirik lagu tersebut, Botting tengelona terdapat 6 data makna yang ada di dalam lirik lagu tersebut, Tattongkoni atikku terdapat 8 data makna yang ada di dalam lirik lagu tersebut dan Siddi lasa riduai terdapat 7 data makna yang ada di dalam lirik lagu tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan fungsi dan makna budaya pamali dalam masyarakat Toraja di Kota Tarakan melalui kajian folklor. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Laporan penyajian data, disajikan secara terurai dalam bentuk kata-kata maupun kalimat. Sumber data penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang pamali Suku Toraja. Data dalam penelitian ini adalah berupa penggalan kalimat dari hasil wawancara terhadap informan. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, simak catat, dan dokumentasi. Penyajian hasil analisis data dengan analisis deskriptif. Penelitian ini di fokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan budaya pamali suku Toraja dengan menggunakan kajian folklor. Folklor adalah teori yang disampaikan secara lisan dan turun-temurun dari mulut ke mulut. Hasil penelitian pada penelitian ini dominan pada larangan dan pantangan. Makna yang paling dominan yakni makna falsafah dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatur kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitar, serta manusia dengan Tuhan karena hal tersebut saling berkaitan.