ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah media pembelajaran interaktif bernama PUTRATARA (Permainan Ular Tangga Rumah Adat Nusantara), serta menguji kelayakan dan kepraktisan dalam membantu siswa kelas VII mengenal dan menghargai keberagaman budaya Indonesia, khususnya rumah adat yang ada di Nusantara. Latar belakang masalahnya adalah rendahnya pemahaman dan apresiasi siswa terhadap kekayaan budaya nasional, yang sebagian besar disebabkan oleh metode pembelajaran yang kurang menarik dan monoton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development/ R&D) model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-5 SMP Negeri 4 Tarakan. Tujuan penelitian ini untuk menguji kelayakan dan kepraktınan pada PUTRATARA (Permainan Ular Tangga Rumah Adat Nusantara) Uji coba penelitian ini menggunakan sampel sejumlah lima orang siswa, dengan pelaksanaan setting melalui bimbingan kelompok, serta uji coba respon yaitu satu guru BK di SMP Negeri 4 Tarakan yang berperan sebagai penilai kepraktisan media PUTRATARA (Permainan Ular Tangga Rumah Adat Nusantara). Berdasarkan hasil validasi media diperoleh presentase sebesar 82% dengan kategori sangat layak, sedangkan hasıl validasi materi diperoleh presentase sebesar 86% dengan kategori sangat layak, sementara itu, hasil uji coba respon siswa dengan setting bambingan kelompok sebanyak lima orang siswa diperoleh selunyak 93% dengan kategori sangat praktis, dan hasil respon guru BK diperoleh presentase 95% dengan kategori sangat praktis Berdasarkan penelitian yang telah di laksanakan dapat disimpulkanı bahwa media PUTRATARA (Permainan Ular Tangga Rumalı Adat dat Nusantara) memenuhi kreteria sangat layak dan sangat praltis di gunakan pada siswa di SMP Negeri 4 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Makna yang Terkandung dalam Adat Suku Dayak Lundayeh di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau (Kajian Semiotika). Penelitian kualitatif ini dengan subjek pada penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Lundayeh ini dengan. Adapun teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi, wawancara, dokumentasi, mencatat. Teknik analisis data yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat dan di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh, dan membuat kesimpulan dari data yang sudah dikumpulkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari keseluruhan data yang terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 25, data penelitian terdiri atas 1 data yang berupa ukiran, 2 data berupa pahatan, 10 data berupa benda, 6 data berupa warna, 6 data arsitektur. Dari hasil makna secara semiotika dengan menggunakan teori segitiga makna, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat data yang berada di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Arit linawa memiliki makna melambangkan kekuatan seseorang dengan lun do dari suku Dayak. Buaye tana, Diri ulung memiliki makna melambangkan sifat sangat keras, keberanian dan ketangguhan serta rasa persatuan masyarakat suku Dayak Lundayeh. Gong, Keratung, Sape, Felefet, Efut, Busu dan warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki kekuatan. Rong, Bakad telun decur, Tekip telun decur, Bakad telun delai memiliki makna status sosial masyarakat. Warna kuning, biru, putih, hitam, hijau memiliki makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat suku Dayak Lundayeh kepada tuhan telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan menjadi sumber kehidupan mereka. Atap, diri, jendela, buduk, lantai, bawa kolong Arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan setiap masyarakat memasuki rumah adat suku Dayak Lundayeh.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi etnomatematika pada rumah adat tidung baloy dikabupaten Nunukan. Berdasarkan studi pendahuluan di objek wisata rumah adat Tidung, bahwa terdapat beberapa bagian bentuk rumah adat memiliki unsur yang biasa ditemukan pada pembelajaran matematika. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan triangulasi waktu untuk membantu dalam menganalisis serta pemeriksaan keabsahan data. Berdasarkan hasil analisis data menunjukan bahwa terdapat beberapa unsur etnomatematika pada rumah adat Tidung baloy kabupaten Nunukan, mempresentasikan bentuk segitiga, persegi panjang, jajar genjang, persegi, belah ketupat, balok, dan pola bilangan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANANLISIS MAKNA RUMAH ADAT TIDUNG DI JALAN TELAGA KERAMAT KOTA TARAKAN (KAJIAN SEMIOTIK PEIRCE) Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna apa saja yang terdapat pada rumah adat Tidung di kota Tarakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Tidung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, catat, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah diperoleh dari hasil wawancara pada saat melakukan penelitian, kemudian data yang telah didapatkan akan diklasifikasi, selanjutnya mendeskripsikan makna yang terdapat pada rumah adat Tidung kota Tarakan dan membuat kesimpulan dari data yang telah diperoleh. Jumlah keseluruhan data yang diperoleh dari penelitian ini sebanyak 50 data. Data penelitian terdiri atas 18 data ikon yaitu antiplemangu dan kekanus, pari-pari, ukiran, motif bunga anggrek, memniyuku, sambulayang, disaw baloy, panji kapi, balou unod, baloy yampu, baloy denandu, baloy rung. baloy delaki, manuk delaki, burung dara, galang tanok. Terdapat 13 data indeks yaitu sungkul, bebungkol, tabur, busak dian, long soy, kuningan, silaw, ijaw, pulak, lia, mitom, dan nasi pengantin. Terdapat 19 data simbol yaitu tanduk galung, tugul, pepanggil, timbang sapor, padaw tuju dulung, ketan, telur, pisang hijau, gayang lingkuda, atap rumah, tembangan, tukad, pelayang, tiang panggaw, antakesuma, penduduk, busak dian, lugay, dan sedulang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konsep matematika apa saja yang terkandung dalam ukiran-ukiran yang terdapat pada rumah Tongkonan adat Toraja dan padangan siswa SMPN 3 Tarakan jika dalam proses pembelajaran matematika mengandung konteks yang berbasis etnomatematik. Jenis penelitiannya adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Dalam hal penentuan subjek lokasi, sampel serta sumber data dalam penelitian ini digunakan teknik purposive sampling. Adapun Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obsevasi, wawancara dan analisi. Setelah melakukan pengumulan data maka dilakukan analisis data dengan cara mereduksi data, kemudian menyajikan data dan setelah itu melakukan penarikan kesimpulan. Adapun di dapatkan temuan penelitian yaitu terdapat beberapa konsep matematika yang terkandung dalam ukiran rumah adat toraja antara lain: 1) Konsep bangun datar yang terdapat pada ukiran Pa’Sekong Kandaure yang berbentuk persegi panjang, Pa’Pollo’ Songkang berbentuk belah ketupat, Pa’ Barre Allo berbentuk lingkaran dan Pa’Kollong Bu’Ku yang berbentuk segitiga. 2) Konsep simetri juga terdapat pada ukiran rumah tongkonan adat Toraja yaitu pada ukiran Pa’Tedong yaitu bentuk simetri lipat. Selain itu diperoleh juga temuan mengenai pandangan siswa SMPN 3 Tarakan bahwa mereka tertarik dan setuju apabila dilakukan pembelajaran matematika di kelas dengan menggunakan konteks etnomatematika.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penelitian ini meneliti terkait etnomatematika rumah adat tidung baloy kota Tarakan. Berdasarkan studi pendahuluan di kawasan objek wisata rumah adat Tidung baloy, bahwa terdapat beberapa bagian rumah adat memiliki unsur yang biasa ditemukan pada pembelajaran matematika. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penentuan subjek penelitian menggunakan purposive sample. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Kemudian dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, penerikan kesimpulan, dan triangulasi data untuk membantu dalam menganalisi dan pemeriksaan keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa aktivitas etnomatematika pada rumah adat Tidung baloy kota Tarakan. Aktivitas mengukur meliputi: geometri dimensi satu, geometri dimensi dua, geometri dimensi tiga, dan bilangan ganjil. Geometri dimensi satu terdiri dari garis horizontal pada bagian atap depan baloy, garis vertikal pada tiang bagian depan baloy, garis sejajar pada bagian atap depan baloy, dan sudut pada atap samping dan tiang depan baloy. Geometri dimensi dua terdiri dari segitiga pada bagian atap baloy, persegi panjang pada bagian jendela dan pintu baloy, dan trapesium pada bagian atap samping baloy. Geometri dimensi tiga terdiri dari prisma pada bagian atap baloy dan balok pada bagian ruangan baloy. Bilangan ganjil pada bagian tangga baloy. Aktivitas membuat rancang bangun terdapat pada perencanan pembuatan sketsa, penentuan delapan tiang pada tempat sidang, dan kayu ulin sebagai bahan utama dari rumah adat Tidung baloy.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna apa yang terdapat di dalam rumah adat di Desa Setulang Kabupaten Malinau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Kenyah. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan catat. Teknik analisis data di lakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat dan yang telah di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam rumah adat Dayak kenyah, dan membuat kesimpulan dari data yang di dapat. Jumlah keseluruhan data yang terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 36, data penelitian terdiri atas 8 data berupa ukiran, 4 data berupa gambar, 3 data berupa pahatan, 9 data berupa benda, 6 data berupa warna dan 6 data berupa arsitektur. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori segitiga makna, maka di peroleh kesimpulan bahwa data yang berada di dalam rumah adat tersebut memiliki makna yang berbeda beda. Long ngoleng,Lenco,talawang,Udo,Perisai,Mandau,Sape dan warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki kekuatan. Selibit,Folo,Kelunan,Fala Adet dan Kelupi memiliki makna kebersamaan dan kerukunan masyarakat Suku Dayak Kenyah yang tidak ada putus-putusnya. Kelunan,Ka’cet, Nga’noq, Melepeg dan Telingaan Aruu memiliki makna untuk memperkenalkan kebudayaan yang ada di dalam Suku Dayak Kenyah. Terfazho, Sapuk, Saung dan Pakaian adat laki-laki memiliki makna status sosial mayarakat. Belogo, warna kuning, putih, hitam, hijau dan biru memiliki makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat Dayak Kenyah kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan menjadi sumber kehidupan mereka dan arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan di setiap masyarakat memasuki rumah adat. Kata Kunci: Makna, Rumah Adat, Dayak Kenyah, Semiotika.