Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Subjek: Semiotika.
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna dan Simbol Seni Bela Diri Kuntau Tidung di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung (Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan simbol budaya dalam seni bela diri Kuntau Tidung di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung (kajian semiotika) dari Charles Sanders Pierce. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif menggunakan kajian semiotika dari Charles Sanders Pierce, yaitu teori triadic, di antaranya adalah tanda (representament), objek (object), dan interpretasi (interpretant). Data pada penelitian ini berupa makna dan simbol gerakan seni bela diri kuntau. Sumber data pada penelitian ini seni bela diri Kuntau di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung dan tokoh adat Suku Tidung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, wawancara, dan mencatat atau menulis. Analisis data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data, identifikasi data, dan menganalisis atau menafsirkan data. Hasil dari penelitian ini terdapat 27 simbol yang digunakan pada seni bela diri Kuntau di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung yang dipercayai membawa hal-hal baik dan bermanfaat untuk menjaga keamanan diri sendiri maupun pada diri seseorang yang sangat membutuhkan, sehingga setiap simbol memiliki makna dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu bentuk harapan agar diri dan keluarga memiliki keamanan yang baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM RUMAH ADAT SUKU DAYAK LUNDAYEH DI DESA PULAU SAPI KECAMATAN MENTARANG KABUPATEN MALINAU (KAJIAN SEMIOTIKA)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Makna yang Terkandung dalam Adat Suku Dayak Lundayeh di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau (Kajian Semiotika). Penelitian kualitatif ini dengan subjek pada penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Lundayeh ini dengan. Adapun teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi, wawancara, dokumentasi, mencatat. Teknik analisis data yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat dan di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh, dan membuat kesimpulan dari data yang sudah dikumpulkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari keseluruhan data yang terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 25, data penelitian terdiri atas 1 data yang berupa ukiran, 2 data berupa pahatan, 10 data berupa benda, 6 data berupa warna, 6 data arsitektur. Dari hasil makna secara semiotika dengan menggunakan teori segitiga makna, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat data yang berada di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Arit linawa memiliki makna melambangkan kekuatan seseorang dengan lun do dari suku Dayak. Buaye tana, Diri ulung memiliki makna melambangkan sifat sangat keras, keberanian dan ketangguhan serta rasa persatuan masyarakat suku Dayak Lundayeh. Gong, Keratung, Sape, Felefet, Efut, Busu dan warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki kekuatan. Rong, Bakad telun decur, Tekip telun decur, Bakad telun delai memiliki makna status sosial masyarakat. Warna kuning, biru, putih, hitam, hijau memiliki makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat suku Dayak Lundayeh kepada tuhan telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan menjadi sumber kehidupan mereka. Atap, diri, jendela, buduk, lantai, bawa kolong Arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan setiap masyarakat memasuki rumah adat suku Dayak Lundayeh.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna dan Simbol Tari Umbak Gesinggau Pada Sanggar Budaya Tidung Taka (Kajian Semiotik Charles Sanders Peirce)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan simbol tari Umbak Gesinggau pada Sanggar Budaya Tidung Taka (kajian semiotika) dari Charles Sanders Peirce. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kajian semiotika dari Charles Sanders Peirce yaitu teori tanda (representament), objek (object) dan interprestasi (interpretant). Data dalam penelitian ini berupa makna dan simbol dari benda dan gerakan tari Umbak Gesinggau. Sumber data dari penelitian tari Umbak Gesinggau ini di Desa Salimbatu Kabupaten Bulungan dan tokoh dari suku Tidung. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil dari penelitian yang dilakukan maka terdapat 25 simbol yang ada dalam tari Umbak Gesinggau. Dari setiap data memiliki makna dan simbol masing-masing dengan tujuan yang berbeda berdasrkan fungsinya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SIMBOL DAN MAKNA DALAM UPACARA ADAT KEMATIAN SUKU DAYAK KENYAH SUB SUKU LEPO' TAU DI DESA TERAS NAWANG KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbol budaya dalam upacara adat kematian Suku Dayak Kenyah sub Suku Lepo’ Tau di desa Teras Nawang, Kalimantan Utara kajian semiotik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian ini secara umum yaitu untuk menganalisis, menjelaskan dan mendeskripsikan simbol dan makna yang terdapat dalam upacara adat kematian yang dilakukan oleh suku dayak kenyah lepo’ tau di desa Teras Nawang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik wawancara, rekam, catat, dokumentasi dan membuat kesimpulan berdasarkan data. Jumlah data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah 21, data dari penelitian terdiri dari 1 data berupa nyanyian, 4 data berupa warna, 1 data berupa ukiran, 1 data berupa pahatan, 14 data berupa benda. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori Pierce yaitu segita makna, maka dapat disimpulkan bahwa data yang berada pada upacara adat kematian memiliki maknanya masing-masing.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Prosesi perkawinan tradisional adat Batak Toba di kota Tarakan ( kajian Semiotik)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Priala Roida Tumanggor, 2022. Skripsi berjudul tentang Prosesi Perkawinan Tradisional Adat Batak Toba di Kota Tarakan dengan menggunakan kajian Semiotika. Dalam penelitian ini, rumusan masalah yang diangkat adalah seperti apakah bentuk simbol-simbol yang digunakan pada saat perkawinan acara adat Batak Toba berlangsung di kota Tarakan kajian Semiotik, dan Bagaimana makna yang terdapat pada simbol yang digunakan pada saat perkawinan tradisional adat Batak Toba di kota Tarakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbol-simbol dalam acara adat perkawinan batak Toba di kota Tarakan dengan menggunakan kajian Semiotik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa jawaban atau pemaparan hasil dari wawancara yang telah dilaksanakan yang disampaikan oleh informan yang diwawancarai secara lisan. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang prosesi perkawinan adat Batak khususnya Batak Toba. Pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik wawancara, dokumentasi, catat dan rekam. Penyajian data berupa analisis deskriptif dengan menganalisis data menggunakan tabel, kemudian melakukan penguraian ataupun pengelompokan data berupa makna yang terdapat pada setiap benda, tindakan dan tuturan yang terdapat pada prosesi perkaiwinan tradisional adat Batak Toba yang kemudian dianalisis dengan menggunakan Teori Peirce yaitu Triangel semiotik (sign, object dan interpretatn). Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa prosesi perkawinan adat Batak Toba merupakan sebuah proses yang sangat panjang sesuai tradisi yang dimulai dari perkenalan pengantin, pendekatan orangtua, pembahasan sinamot, marpudun saut, menikah hingga acara adat. Adapun tradisi yang dilaksanakan pada saat acara adat perkawinan Batak Toba yaitu mangulosi, manortor, dan pambagian jambar. Hasil penemuan data lebih banyak pada data berupa Simbol berupa benda sebanyak 15 data, tindakan 8 data dan tuturan ditemukaan 4 data yang dianalisis dalam kajian Semiotik.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM RUMAH ADAT DAYAK KENYAH DI DESA SETULANG KABUPATEN MALINAU (KAJIAN SEMIOTIKA)

2019•

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna apa yang terdapat di dalam rumah adat di Desa Setulang Kabupaten Malinau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Kenyah. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan catat. Teknik analisis data di lakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat dan yang telah di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam rumah adat Dayak kenyah, dan membuat kesimpulan dari data yang di dapat. Jumlah keseluruhan data yang terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 36, data penelitian terdiri atas 8 data berupa ukiran, 4 data berupa gambar, 3 data berupa pahatan, 9 data berupa benda, 6 data berupa warna dan 6 data berupa arsitektur. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori segitiga makna, maka di peroleh kesimpulan bahwa data yang berada di dalam rumah adat tersebut memiliki makna yang berbeda beda. Long ngoleng,Lenco,talawang,Udo,Perisai,Mandau,Sape dan warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki kekuatan. Selibit,Folo,Kelunan,Fala Adet dan Kelupi memiliki makna kebersamaan dan kerukunan masyarakat Suku Dayak Kenyah yang tidak ada putus-putusnya. Kelunan,Ka’cet, Nga’noq, Melepeg dan Telingaan Aruu memiliki makna untuk memperkenalkan kebudayaan yang ada di dalam Suku Dayak Kenyah. Terfazho, Sapuk, Saung dan Pakaian adat laki-laki memiliki makna status sosial mayarakat. Belogo, warna kuning, putih, hitam, hijau dan biru memiliki makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat Dayak Kenyah kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan menjadi sumber kehidupan mereka dan arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan di setiap masyarakat memasuki rumah adat. Kata Kunci: Makna, Rumah Adat, Dayak Kenyah, Semiotika.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail