Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

32 hasil
Subjek: Semiotik
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS SEMIOTIKA PADA KORAN ONLINE TEMPO EDISI 1 JANUARI - 31 JANUARI 2025

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK RIZQI ADI SAPUTRA, 2026. Analisis Koran Semiotik Cover Koran Online Tempo Edisi 1 Januari- 31 Januari 2025 (kajian semiotik). Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP, Universitas Borneo Tarakan. (Dibimbing oleh Siti Fathonah, M.Pd. dan Dr. Dwi Cahyono Aji, S.S, M.A). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna yang terkandung dalam cover koran online Tempo edisi 1 januari 31 januari 2025 menggunakan pedekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Fokus penelitian ini adalah mengindentifikasi serta menginterpretasikan tanda-tanda visual yang terdapat pada cover koran, yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yaitu ikon, indeks dan simbol. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi dan observasi terhadap sampul koran Tempo dalam periode penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen visual pada cover koran Tempo tidak hanya berfungsi sebagai ilustrasi, tetapi juga sebagai sarana komunikasi yang mengandung makna tersirat terkait isu sosial, politik, dan buaya. Ikon digunakan untuk merepresentasikan objek secara langsung, indeks menunjukkan hubungan sebab-akibat atau konteks tertentu, sedangkan simbol mengandung makna yang dibentuk berdasarkan kesepakatan sosial. Melalui analisis semiotika peirce, ditemukan bahwa setiap cover koran memiliki pesan kritis yang disampaikan secara implisit melalui kombinasi gambar, warna, dan teks. Penelitian ini menyimpulkan bahwa cover koran online Tempo merupakan bentuk komunikasi visual yang efektif dalam membangun opini punlik dan menyampaikan kritik sosial. Dengan demikian, kajian semiotika dapat membantu pembaca memahami makna yang tersembunyi di balik representasi visual dalam media massa. Kata Kunci : Semiotika, Cover Koran, Tempo, Komunikasi Visual.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA SIMBOL UKIRAN PADA RUMAH ADAT DAYAK GAAI DI DESA LONG BUANG KECAMATAN PESO KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIK)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

NOPITA, 2026 Makna Simbol Ukiran Pada Rumah Adat Dayak Gaai Di Desa Long Buang Kecamatan Peso Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara (kajian Semiotik). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan (dibimbing oleh Muhammad Ilham, S. S., M.Pd dan Dr. Asih Riyanti, M.Pd) Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan makna pada ukiran rumah Adat suku Dayak Gaai Di Desa Long Buang Kecamatan Peso. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah masyarakat suku Dayak Gaai. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan teknik catat. Jumlah data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu sebanyak 22 data. Data penelitian terdiri dari 6 data berupa ukiran, 2 data berupa gambar, 6 data berupa benda, 1 data berupa pahatan, 6 data berupa warna, 3 data berupa arsitektur. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori segitiga makna, maka di peroleh kesimpulan bahwa data yang berada di dalam rumah adat tersebut memiliki makna yang berbeda. Emdal, Giyong, Tekhung Emnuk, Ong Tehun memiliki makna yang dapat memanggil Roh nenek moyang, Mengkai Madoh, Smeak masin, Elbung memiliki makna yang religius sebagai tanda terima kasih masyarakat suku Dayak Gaai kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang layak. Guleng memiliki makna simbol yang yang menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat ditempat terkenal akan banyak tradisi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna prosesi aweh adat suku Dayak Lundayeh di desa lung barang kecamatan mentarang hulu kabupaten Malinau Kalimantan Utara

2026•

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna prosesi Aweh adat Suku Dayak Lundayeh di Desa Lung Barang Kecamatan Mentarang Huliu Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Prosesi Aewh Adat ini menarik untuk diteliti karena memiliki beberapa proses yang harus dilakukan secara berurutan. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data pada penelitian ini berupa makna pada prosesi Aweh Adat suku Dayak Lundayeh di Desa Lung Barang Kecamatang Mentarang Hulu Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Sumber data dalam penelitian ini adalah Prosesi Aweh Adat suku Dayak Lundayeh. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diantaranya adalah observasi, wawancara, dan menulis/mencatat. Kemudian analisis data yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah, mengumpulkan data, identifikasi data atau menafsirkan data, dan mendeskripsikan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah data simbol budaya dalam prosesi Aweh Adat suku Dayak Lundayeh. jumlah data dalam Penelitian ini adalah 18 data, diantaranya yaitu: fata, abe, bane, leku sulau, beret, bakad, tekip, tayen/rubi, rong basung, apar, abet ulu deley, bakad deley, Nuduk, Namong, proses penguguman, ngaru burung, fetutup, iraw Aweh, nated biung. Seluruh data ini akan dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan teori penanda (signifer) dan petanda (signifed) dari Ferdinand De Saussure.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA DAN FUNGSI RITUAL MUI LEBU DALAM KEHIDUPAN SUKU DAYAK UMA KULIT (Kajian Semiotik)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan fungsi ritual Mui Lebu pada masyarakat Suku Dayak Uma Kulit di Desa Jelarai Selor, Kabupaten Bulungan. Ritual Mui Lebu merupakan upacara adat yang bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan desa dari segala macam energi negatif atau bala demi kesejahteraan masyarakat.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotik. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, tindakan, benda-benda, dan makanan yang terkait dengan prosesi ritual. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat Suku Dayak Uma Kulit, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori segitiga makna Charles Sanders Peirce yang mencakup tanda (sign), objek (object), dan interpretan (interpretant). Kata Kunci: Ritual Mui Lebu, Suku Dayak Uma Kulit, Semiotik, Makna, Fungsi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna dan Simbol Seni Bela Diri Kuntau Tidung di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung (Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan simbol budaya dalam seni bela diri Kuntau Tidung di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung (kajian semiotika) dari Charles Sanders Pierce. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif menggunakan kajian semiotika dari Charles Sanders Pierce, yaitu teori triadic, di antaranya adalah tanda (representament), objek (object), dan interpretasi (interpretant). Data pada penelitian ini berupa makna dan simbol gerakan seni bela diri kuntau. Sumber data pada penelitian ini seni bela diri Kuntau di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung dan tokoh adat Suku Tidung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, wawancara, dan mencatat atau menulis. Analisis data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data, identifikasi data, dan menganalisis atau menafsirkan data. Hasil dari penelitian ini terdapat 27 simbol yang digunakan pada seni bela diri Kuntau di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung yang dipercayai membawa hal-hal baik dan bermanfaat untuk menjaga keamanan diri sendiri maupun pada diri seseorang yang sangat membutuhkan, sehingga setiap simbol memiliki makna dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu bentuk harapan agar diri dan keluarga memiliki keamanan yang baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA DAN SIMBOL DALAM PROSESI MECAQ UNDAT (PANEN PADI) DI DESA AGUNG BARU KECAMATAN SUNGAI BOH (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini membahas tentang makna dan simbol dalam prosesi Mecaq Undat, yaitu tradisi panen padi masyarakat Dayak Kenyah di Desa Agung Baru. Tradisi ini sarat dengan simbol-simbol budaya yang mencerminkan nilai spiritualitas, kebersamaan, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, serta leluhur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian semiotika Charles Sanders Pierce yang memfokuskan pada analisis sign (tanda), object (objek), dan interpretant (interpretasi) dalam setiap rangkaian upacara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai simbol, seperti gong, alu kayu, pakaian adat, serta sesaji, memiliki makna mendalam yang tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan upacara, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang menegaskan identitas Dayak Kenyah. Gong misalnya melambangkan panggilan sakral untuk kebersamaan, alu kayu menggambarkan kerja sama dan ketekunan, sedangkan pakaian adat dan hiasannya menjadi simbol status, kesucian, serta penghormatan terhadap leluhur. Interpretasi dari simbol-simbol tersebut memperlihatkan bahwa prosesi Mecaq Undat bukan hanya kegiatan panen, melainkan sebuah ritual sakral yang mengandung pesan syukur, solidaritas, serta pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa semiotika Pierce mampu mengungkap kedalaman makna simbolik dalam tradisi Dayak Kenyah dan pentingnya menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM RUMAH ADAT SUKU DAYAK LUNDAYEH DI DESA PULAU SAPI KECAMATAN MENTARANG KABUPATEN MALINAU (KAJIAN SEMIOTIKA)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Makna yang Terkandung dalam Adat Suku Dayak Lundayeh di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau (Kajian Semiotika). Penelitian kualitatif ini dengan subjek pada penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Lundayeh ini dengan. Adapun teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi, wawancara, dokumentasi, mencatat. Teknik analisis data yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat dan di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh, dan membuat kesimpulan dari data yang sudah dikumpulkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari keseluruhan data yang terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 25, data penelitian terdiri atas 1 data yang berupa ukiran, 2 data berupa pahatan, 10 data berupa benda, 6 data berupa warna, 6 data arsitektur. Dari hasil makna secara semiotika dengan menggunakan teori segitiga makna, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat data yang berada di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Arit linawa memiliki makna melambangkan kekuatan seseorang dengan lun do dari suku Dayak. Buaye tana, Diri ulung memiliki makna melambangkan sifat sangat keras, keberanian dan ketangguhan serta rasa persatuan masyarakat suku Dayak Lundayeh. Gong, Keratung, Sape, Felefet, Efut, Busu dan warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki kekuatan. Rong, Bakad telun decur, Tekip telun decur, Bakad telun delai memiliki makna status sosial masyarakat. Warna kuning, biru, putih, hitam, hijau memiliki makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat suku Dayak Lundayeh kepada tuhan telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan menjadi sumber kehidupan mereka. Atap, diri, jendela, buduk, lantai, bawa kolong Arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan setiap masyarakat memasuki rumah adat suku Dayak Lundayeh.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna dan Simbol dalam Tradisi Uman Jenai suku Dayak Kenyah Lepo' Tau di Desa Long Temuyat Kecamatan Kayan Hulu kabupaten Malinau (Kajian Semiotika)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisiskan makna dan simbol yang terkandung dalam Tradisi Uman Jenai Suku Dayak Kenyah Lepo’tau di Desa Long Temuyat Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Malinau (Kajian Semiotik). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan menggunakan kajian semiotik dari Charles Sanders Pierce yaitu teori segitiga makna, diantaranya tanda (sign), objek (object), interpretasi (interpretant). Data dalam penelitian ini adalah makna dan simbol dalam tradisi uman jenai suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau di Desa Long Temuyat Kecamatan Kayan Hulu. Sumber data pada penelitian ini dari informan. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik wawancara, dan dokumentasi serta teknik rekam. Penelitian ini menerapkan beberapa langkah dalam teknik analisis yang meliputi pengumpulan data yang berkaitan dengan tradisi Uman Jenai Suku Dayak Kenyah Lepo’tau di Desa Long Temuyat Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Malinau, data yang telah teridentifikasi diartikan atau diterjemahkan langsung ke dalam Bahasa Indonesia, kemudian data yang telah diartikan ke dalam Bahasa Indonesia tersebut diinterpretasikan dengan cara mengungkapkan makna yang terkandung dalam Tradisi Uman Jenai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 26 data mengenai makna dan simbol dalam tradisi Uman Jenai suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau di Desa Long Temuyat. Kata Kunci : Tradisi Uman Jenai, Suku Dayak Kenyah, Makna Dan Simbol, Kajian Semiotik.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna dan Simbol Tari Umbak Gesinggau Pada Sanggar Budaya Tidung Taka (Kajian Semiotik Charles Sanders Peirce)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan simbol tari Umbak Gesinggau pada Sanggar Budaya Tidung Taka (kajian semiotika) dari Charles Sanders Peirce. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kajian semiotika dari Charles Sanders Peirce yaitu teori tanda (representament), objek (object) dan interprestasi (interpretant). Data dalam penelitian ini berupa makna dan simbol dari benda dan gerakan tari Umbak Gesinggau. Sumber data dari penelitian tari Umbak Gesinggau ini di Desa Salimbatu Kabupaten Bulungan dan tokoh dari suku Tidung. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil dari penelitian yang dilakukan maka terdapat 25 simbol yang ada dalam tari Umbak Gesinggau. Dari setiap data memiliki makna dan simbol masing-masing dengan tujuan yang berbeda berdasrkan fungsinya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS MAKNA SIMBOL TARIAN LALATIP SUKU DAYAK TAHOL DESA MANSALONG KECAMATAN LUMBIS KABUPATEN NUNUKAN KALIMANTAN UTARA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ANALISIS MAKNA SIMBOL TARIAN LALATIP SUKU DAYAK TAHOL DESA MANSALONG KECAMATAN LUMBIS KABUPATEN NUNUKAN KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIK) ABSTRAK NOVIA PUTRI SARI, 2025 Analisis Makna Simbol Tarian Lalatip Suku Dayak Tahol Desa Mansalong Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara (Kajian Semiotik). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan (dibimbing oleh Dr. Erna Wahyuni, S.S., M.A. dan Rita Kumala Sari, M.Pd.). Penelitian ini berutujuan untuk menganalisis makna simbol dalam tarian Lalatip yang merupakan warisan budaya dari Suku Dayak Tahol di Desa Mansalong, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Tarian ini mengandung berbagai tanda simbolik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkap makna yang terkandung didalam tarian Lalatip, serta memberikan kontribusi terhadap pemahaman dan pelestarian budaya lokal. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap elemen dalam tarian Lalatip memiliki makna simbolis yang mendalam, seperti simbol yang terdapat pada tarian Lalatip, yaitu alat musik gong dimaknai sebagai kekuatan leluhur, pakaian dengan motif manik-manik dimaknai sebagai persatuan dan estetika tradisional, sedangkan gerakan tari yang lincah dimaknai sebagai ketangkasan prajurit dalam menghadapi ancaman. Jumlah data yang dianalisis pada taria Lalatip, yaitu meliputi alat musik gong besar, gong sedang, gong kecil sebanyak 3 data, pakaian penari pria baju pupulut dan abagh sebanyak 2 data, pakaian penari wanita baju linantian dan rok linantian sebanyak 2 data, aksesoris penari laki-laki memiliki 5 data yaitu tupi susunduk, rarangkol/jangkol, holong sulou, papakol nulongon, papakol nukalayon, aksesoris penari wanita memiliki 7 data, yaitu salupai, inting-inting, Sulampoi, holong sulou, pipirot ringgit, pipirot sungkayon, batik nu popok, properti memiliki 7 data yaitu taut lalatip, perisai, mandau, sapuk, pingulu nu sapuk, papakol nu mato, tuntung nu agung dan gerakan tari memiliki 10 data. Keseluruhan data yang didapatkan pada penelitian ini adalah 36 data, penelitian ini berkontribusi dalam memberikan wawasan baru bagi pembaca mengenai pentingnya menjaga dan memahami simbolisme dalam seni tradisional.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna simbol upacara ngandu' suku Dayak Bulusu di Desa Pungit Kecamatan Sekatak (Kajian Semiotik)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisiskan Makna Simbol Upacara Ngandu’ suku Dayak Bulusu di Desa Pungit Kecamatan Sekatak (Kajian Semiotik) dari Charles Sanders Pierse. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif menggunakan kajian semiotik dari Charles Sander Pierse yaitu teori semiosis triadic, diantaranya adalah tanda (representament), objek (object), dan interpretasi (interpretant). Data pada penelitian ini makna dari simbol upacara ngandu’ suku Dayak Bulusu di Desa Pungit Kecamatan Sekatak. Sumber data pada penelitian ini upacara ngandu’ suku Dayak Bulusu dan tokoh adat suku Dayak Bulusu. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini diantaranya observasi, dokumentasi, wawancara, dan mencatat atau menulis. Analisis data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data, identifikasi data, dan menanalisiskan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini terdapat tiga puluh satu simbol yang digunakan pada upacara ngandu’ suku Dayak Bulusu yang dipercayai membawa hal-hal baik untuk membangun rumah tangga mereka dan dijauhkan dari hal buruk yang dapat merusak rumah tangga mereka. Sehingga, setiap simbol memiliki makna dan mempunyai tujuan yang sama yaitu bentuk harapan agar pasangan suami istri memiliki rumah tangga yang damai dan sejahtera.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Ketidaklangsungan Ekspresi dalam Antologi Puisi Berjudul Aku Lelakimu Setia Menunggumu Karya Kang Maman (Kajian Semiotik Riffaterre)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketidaklangsungan ekspresi dalam antologi puisi yang berjudul Aku Lelakimu Setia Menunggumu karya Kang Maman menggunakan kajian semiotik Riffaterre. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini merupakan data primer dan sekunder yang melibatkan analisis terhadap ketidaklangsungan ekspresi dalam antologi puisi yang mengandung ketidaklangsungan ekspresi. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca, simak dan catat. Teknik analisis data merupakan metode pemaknaan Riffaterre yang terdiri atas ketidaklangsungan ekspresi dengan metode analisis yang diterapkan yaitu menggunakan analisis interaktif yang meliputi penggumpulan data dan klarifikasi data. Berdasarkan analisis data, dari total 3 bagian, yaitu ketidaklangsungan ekspersi terdapat 29 data penggantian arti, terdapat 18 data pada penyimpangan arti, dan terdapat 31 data pada penciptaan arti. Hal ini menunjukkan bahwa dalam puisi Aku Lelakimu Setia Menunggumu banyak mengandung ketidaklangsungan ekspresi yang sengaja disusun oleh penulisnya, sehingga apabila puisi ini dibaca akan memberi kesan menarik untuk para pembacanya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA SIMBOL TARIAN HEDUNG SUKU ADONARA DI KOTA TARAKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIK)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan makna simbol tarian Hedung suku Adonara di kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara melalui kajian semiotik dari Charles Sander Pierce yaitu teori semiosis triadic, diantaranya adalah tanda (representament), objek (object), dan interpretasi (interpretant). Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini diantaranya observasi, wawancara, dokumentasi atau rekam, dan catat. Analisis data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data, identifikasi data, dan menganalisiskan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini terdapat dua belas simbol yang digunakan pada tarian Hedung suku Adonara di kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara yaitu Kenube Witi Taran, Dopi, Gala, Nowing, Kwatek, Lonceng Kaki, Ikat Kepala, Gelang Gading, Motif sarung Kebukak, Motif sarung Kau Nepi, Motif sarung skematik/bergaris-garis, selendang, gerakan penari berbaris masuk, gerakan penari mengiringi penari laki-laki, gerakan penari saling berhadapan, gerakan penari menyerang dan gerakan membuka barisan. Seluruh data ini dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan teori segitiga makna dari Charles Sanders Pierce.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna Simbol Tarian Pa'gellu Suku Toraja di Kota Tarakan Kalimantan Utara (Kajian Semiotik)

2024•

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna simbol Tarian Pa’gellu suku Toraja di Kota Tarakan Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data pada penelitian ini berupa simbol-simbol tarian pa’gellu suku Toraja di Kota Tarakan Kalimantan Utara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diantaranya adalah observasi, wawancara, mencatat/menulis, dan dokumentasi. Kemudian analisis data yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data, identifikasi data atau menafsirkan data, dan mendeskripsikan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat simbol tarian pa’gellu suku Toraja.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS MAKNA RUMAH ADAT TIDUNG DI JALAN TELAGA KERAMAT KOTA TARAKAN (KAJIAN SEMIOTIK PEIRCE)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ANANLISIS MAKNA RUMAH ADAT TIDUNG DI JALAN TELAGA KERAMAT KOTA TARAKAN (KAJIAN SEMIOTIK PEIRCE) Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna apa saja yang terdapat pada rumah adat Tidung di kota Tarakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Tidung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, catat, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah diperoleh dari hasil wawancara pada saat melakukan penelitian, kemudian data yang telah didapatkan akan diklasifikasi, selanjutnya mendeskripsikan makna yang terdapat pada rumah adat Tidung kota Tarakan dan membuat kesimpulan dari data yang telah diperoleh. Jumlah keseluruhan data yang diperoleh dari penelitian ini sebanyak 50 data. Data penelitian terdiri atas 18 data ikon yaitu antiplemangu dan kekanus, pari-pari, ukiran, motif bunga anggrek, memniyuku, sambulayang, disaw baloy, panji kapi, balou unod, baloy yampu, baloy denandu, baloy rung. baloy delaki, manuk delaki, burung dara, galang tanok. Terdapat 13 data indeks yaitu sungkul, bebungkol, tabur, busak dian, long soy, kuningan, silaw, ijaw, pulak, lia, mitom, dan nasi pengantin. Terdapat 19 data simbol yaitu tanduk galung, tugul, pepanggil, timbang sapor, padaw tuju dulung, ketan, telur, pisang hijau, gayang lingkuda, atap rumah, tembangan, tukad, pelayang, tiang panggaw, antakesuma, penduduk, busak dian, lugay, dan sedulang.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SIMBOL DAN MAKNA DALAM UPACARA ADAT KEMATIAN SUKU DAYAK KENYAH SUB SUKU LEPO' TAU DI DESA TERAS NAWANG KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbol budaya dalam upacara adat kematian Suku Dayak Kenyah sub Suku Lepo’ Tau di desa Teras Nawang, Kalimantan Utara kajian semiotik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian ini secara umum yaitu untuk menganalisis, menjelaskan dan mendeskripsikan simbol dan makna yang terdapat dalam upacara adat kematian yang dilakukan oleh suku dayak kenyah lepo’ tau di desa Teras Nawang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik wawancara, rekam, catat, dokumentasi dan membuat kesimpulan berdasarkan data. Jumlah data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah 21, data dari penelitian terdiri dari 1 data berupa nyanyian, 4 data berupa warna, 1 data berupa ukiran, 1 data berupa pahatan, 14 data berupa benda. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori Pierce yaitu segita makna, maka dapat disimpulkan bahwa data yang berada pada upacara adat kematian memiliki maknanya masing-masing.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna Simbol Tarian Busak Baku Suku Dayak Lundayeh di Desa Pelita Kabupaten Malinau Kalimantan Utara (Kajian Semiotika)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna simbol budaya pada tarian Busak Baku suku Dayak Lundayeh di Desa Pelita Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data pada penelitian ini berupa simbol-simbol tarian Busak Baku suku Dayak Lundayeh di Desa Pelita Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Sumber data dalam penelitian ini adalah tarian Busak Baku suku Dayak Lundayeh. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diantaranya adalah observasi, dokumentasi, wawancara, dan menulis/mencatat. Kemudian analisis data yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah, mengumpulkan data, identifikasi data atau menafsirkan data, dan mendeskripsikan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah data simbol budaya dalam tarian busak baku suku Dayak Lundayeh. Jumlah data dalam penelitian ini adalah 24 data, diantaranya yaitu Fata, Abe, Bane, Lekusulau, Beret, Bakad dan Tekip, Kering, Tawak, Sape, Tayen, Agung, uwan, Telingut, Rongbasung, Keratung, Apar, abet ulu Deley, Bakad Delei, gerakan proses tumbuhnya tumbuhan busak baku, gerakan proses bercocok tanam, gerakan gotong royong, gerakan mekarnya busak baku. Seluruh data ini akan dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan teori segitiga makna dari Charles Sandres Pierce.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS TARIAN GONG SUKU DAYAK KENYAH UMA LUNG DI KABUPATEN MALINAU KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIK PIERCE)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna yang terkandung dalam tarian gong suku Dayak Kenyah Uma Lung melalui studi semiotik yang menusuk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data tersebut diperoleh dari komunitas Dayak Kenyah Uma Lung di Setulang, Kecamatan Malinau. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan pencatatan. Teknik analisis data digunakan untuk mengumpulkan data yang telah direkam dan didokumentasikan dan kemudian menggambarkan arti ikon, simbol, dan indeks yang terkandung dalam gerakan, pakaian, aksesori, alat musik, properti tarian, warna, objek, dan motif dan kemudian memberikan kesimpulan. Masing-masing data ini dikategorikan menjadi ikon yang memiliki kemiripan dengan objek asli dari 35 data, simbol yang merupakan tanda berdasarkan peraturan dan perjanjian dari 16 data, dan indeks yang merupakan terjadinya tanda karena sebab dan akibat dari 3 data. Data yang dikumpulkan kemudian dipelajari menggunakan teori makna segitiga Pierce, yaitu tanda, objek, dan interpretan, untuk menemukan maknanya. Dari hasil data komprehensif yang diperoleh, ada sebanyak 54.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna simbol Akad Anggulung (Pernikahan) adat suku Dayak Agabag di desa Sedongon Kecamatan lumbis (Kajian Semiotik)

2022•

MAKNA SIMBOL AKAD ANGGULUNG (PERNIKAHAN) ADAT SUKU DAYAK AGABAG DI DESA SEDONGON KECAMATAN LUMBIS (KAJIAN SEMIOTIK) ABSTRAK DAMUS, 2023, Makna simbol akad Anggulung (pernikahan) adat suku Dayak Agabag di Desa Sedongon Kecamatan Lumbis (Kajian semiotik). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan, Dosen pembimbing Utama Dr. Dwi Cahyono Aji, S.S., M.A Pembimbing anggota Muhammad Ilham, S.S., M.Pd Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Makna Simbol Akad Anggulung (Pernikahan) Adat Suku Dayak Agabag di Desa Sedongon Kecamatan Lumbis (Kajian Semiotik). Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini adalah makna dari simbol pernikahan Adat Agabag yang bersumber dari informan/narasumber. Sedangkan sumber data adalah pernikahan Adat Suku Agabag di Desa Sedongon Kecamatan Lumbis. Teknik pengumpulan data di antaranya yaitu teknik pengamatan, wawancara, teknik rekam, teknik catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap analisis, yaitu koleksi data, reduksi data, penyajian data, verifikasi data. Dengan 39 data yang ditemukan dan dianalisis Benda-benda, makanan dan tindakan tersebut pastinya memiliki makna pada setiap simbol. Setelah data disajikan peneliti kemudian melakukan analisis terhadap tiap- tiap data menggunaka teori Charles Sanders pierce segitiga makna. Kata Kunci: Simbol, Anggulung, Dayak Agabag, Semiotik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA SIMBOL PADA RITUAL AMPID DALAM UPACARA KEMATIAN SUKU DAYAK TINGALAN DI DESA BELAYAN KABUPATEN MALINAU KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIK)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

MAKNA SIMBOL PADA RITUAL AMPID DALAM UPACARA KEMATIAN SUKU DAYAK TINGALAN DI DESA BELAYAN KABUPATEN MALINAU KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIK) ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbol budaya pada ritual adat kematian suku Dayak Tingalan di Desa Belayan Kabupaten Malinau Kalimantan Utara dengan menggunakan kajian semiotik dari Charles Sanders Pierce. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan berlandaskan pada kajian semiotik dari Charles Sanders Pierce yaitu, teori segitiga makna. Diantaranya adalah, Tanda (sign), Objek (object), Interpretasi (interpretant). Selanjutnya data pada penelitian ini yaitu makna simbol pada ritual adat kematian suku Dayak Tingalan di Desa Belayan Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Sumber data dalam penelitian ini adalah ritual adat kematian suku Dayak Tingalan dan tokoh adat suku Dayak Tingalan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diantaranya adalah observasi, dokumentasi, wawancara, dan menulis/mencatat. Kemudian analisis data yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah, mengumpulkan data, identifikasi data atau menafsirkan data, dan mendeskripsikan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah data simbol budaya dalam ritual adat kematian suku Dayak Tingalan. Jumlah data dalam penelitian ini adalah 26 data, 23 data diantaranya adalah data berupa benda, dan 3 data berupa tindakan. Using semiotic studies from Charles Sanders Pierce, this study aimed to describe the meaning of cultural symbols in the traditional death ritual of the Dayak Tingalan tribe in Belayan Village, Malinau, North Kalimantan. This study implemented decriptive qualitative research methods, based of the semiotic analysis of Charles Sanders Pierce, namely, the tringle theory of meaning. Among them are Sign, Object, and Interpretation. Furthermore, the data in this study was study was the meaning of symbols in the traditional ritual of death of the Dayak Tingalan tribe in Belayan Village, Malinau, North Kalimantan. The data sources in this study were the death rituals of the Dayak Tingalan tribe an the traditional leaders of the Tingalan Dayak tribe. Data collection techniques included observation, documention, intervews, and writing/recording. Then the data analysis carried out by the researcher was collecting data, identifying data or interpreting data, and describing or interpreting data in Indonesian. The results of this study were data in cultural symbols in the death ritual of the Tingalanb Dayak tribe. The amount of data in this study was 26, 23 of which were data in the form of objects, and 3 in the form actions.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail