Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

13 hasil
Subjek: semiotika
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS SEMIOTIKA PADA KORAN ONLINE TEMPO EDISI 1 JANUARI - 31 JANUARI 2025

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK RIZQI ADI SAPUTRA, 2026. Analisis Koran Semiotik Cover Koran Online Tempo Edisi 1 Januari- 31 Januari 2025 (kajian semiotik). Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP, Universitas Borneo Tarakan. (Dibimbing oleh Siti Fathonah, M.Pd. dan Dr. Dwi Cahyono Aji, S.S, M.A). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna yang terkandung dalam cover koran online Tempo edisi 1 januari 31 januari 2025 menggunakan pedekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Fokus penelitian ini adalah mengindentifikasi serta menginterpretasikan tanda-tanda visual yang terdapat pada cover koran, yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yaitu ikon, indeks dan simbol. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi dan observasi terhadap sampul koran Tempo dalam periode penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen visual pada cover koran Tempo tidak hanya berfungsi sebagai ilustrasi, tetapi juga sebagai sarana komunikasi yang mengandung makna tersirat terkait isu sosial, politik, dan buaya. Ikon digunakan untuk merepresentasikan objek secara langsung, indeks menunjukkan hubungan sebab-akibat atau konteks tertentu, sedangkan simbol mengandung makna yang dibentuk berdasarkan kesepakatan sosial. Melalui analisis semiotika peirce, ditemukan bahwa setiap cover koran memiliki pesan kritis yang disampaikan secara implisit melalui kombinasi gambar, warna, dan teks. Penelitian ini menyimpulkan bahwa cover koran online Tempo merupakan bentuk komunikasi visual yang efektif dalam membangun opini punlik dan menyampaikan kritik sosial. Dengan demikian, kajian semiotika dapat membantu pembaca memahami makna yang tersembunyi di balik representasi visual dalam media massa. Kata Kunci : Semiotika, Cover Koran, Tempo, Komunikasi Visual.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna prosesi aweh adat suku Dayak Lundayeh di desa lung barang kecamatan mentarang hulu kabupaten Malinau Kalimantan Utara

2026•

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna prosesi Aweh adat Suku Dayak Lundayeh di Desa Lung Barang Kecamatan Mentarang Huliu Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Prosesi Aewh Adat ini menarik untuk diteliti karena memiliki beberapa proses yang harus dilakukan secara berurutan. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data pada penelitian ini berupa makna pada prosesi Aweh Adat suku Dayak Lundayeh di Desa Lung Barang Kecamatang Mentarang Hulu Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Sumber data dalam penelitian ini adalah Prosesi Aweh Adat suku Dayak Lundayeh. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diantaranya adalah observasi, wawancara, dan menulis/mencatat. Kemudian analisis data yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah, mengumpulkan data, identifikasi data atau menafsirkan data, dan mendeskripsikan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah data simbol budaya dalam prosesi Aweh Adat suku Dayak Lundayeh. jumlah data dalam Penelitian ini adalah 18 data, diantaranya yaitu: fata, abe, bane, leku sulau, beret, bakad, tekip, tayen/rubi, rong basung, apar, abet ulu deley, bakad deley, Nuduk, Namong, proses penguguman, ngaru burung, fetutup, iraw Aweh, nated biung. Seluruh data ini akan dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan teori penanda (signifer) dan petanda (signifed) dari Ferdinand De Saussure.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna dan Simbol Seni Bela Diri Kuntau Tidung di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung (Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan simbol budaya dalam seni bela diri Kuntau Tidung di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung (kajian semiotika) dari Charles Sanders Pierce. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif menggunakan kajian semiotika dari Charles Sanders Pierce, yaitu teori triadic, di antaranya adalah tanda (representament), objek (object), dan interpretasi (interpretant). Data pada penelitian ini berupa makna dan simbol gerakan seni bela diri kuntau. Sumber data pada penelitian ini seni bela diri Kuntau di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung dan tokoh adat Suku Tidung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, wawancara, dan mencatat atau menulis. Analisis data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data, identifikasi data, dan menganalisis atau menafsirkan data. Hasil dari penelitian ini terdapat 27 simbol yang digunakan pada seni bela diri Kuntau di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung yang dipercayai membawa hal-hal baik dan bermanfaat untuk menjaga keamanan diri sendiri maupun pada diri seseorang yang sangat membutuhkan, sehingga setiap simbol memiliki makna dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu bentuk harapan agar diri dan keluarga memiliki keamanan yang baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA DAN SIMBOL DALAM PROSESI MECAQ UNDAT (PANEN PADI) DI DESA AGUNG BARU KECAMATAN SUNGAI BOH (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini membahas tentang makna dan simbol dalam prosesi Mecaq Undat, yaitu tradisi panen padi masyarakat Dayak Kenyah di Desa Agung Baru. Tradisi ini sarat dengan simbol-simbol budaya yang mencerminkan nilai spiritualitas, kebersamaan, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, serta leluhur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian semiotika Charles Sanders Pierce yang memfokuskan pada analisis sign (tanda), object (objek), dan interpretant (interpretasi) dalam setiap rangkaian upacara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai simbol, seperti gong, alu kayu, pakaian adat, serta sesaji, memiliki makna mendalam yang tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan upacara, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang menegaskan identitas Dayak Kenyah. Gong misalnya melambangkan panggilan sakral untuk kebersamaan, alu kayu menggambarkan kerja sama dan ketekunan, sedangkan pakaian adat dan hiasannya menjadi simbol status, kesucian, serta penghormatan terhadap leluhur. Interpretasi dari simbol-simbol tersebut memperlihatkan bahwa prosesi Mecaq Undat bukan hanya kegiatan panen, melainkan sebuah ritual sakral yang mengandung pesan syukur, solidaritas, serta pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa semiotika Pierce mampu mengungkap kedalaman makna simbolik dalam tradisi Dayak Kenyah dan pentingnya menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM RUMAH ADAT SUKU DAYAK LUNDAYEH DI DESA PULAU SAPI KECAMATAN MENTARANG KABUPATEN MALINAU (KAJIAN SEMIOTIKA)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Makna yang Terkandung dalam Adat Suku Dayak Lundayeh di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau (Kajian Semiotika). Penelitian kualitatif ini dengan subjek pada penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Lundayeh ini dengan. Adapun teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi, wawancara, dokumentasi, mencatat. Teknik analisis data yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat dan di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh, dan membuat kesimpulan dari data yang sudah dikumpulkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari keseluruhan data yang terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 25, data penelitian terdiri atas 1 data yang berupa ukiran, 2 data berupa pahatan, 10 data berupa benda, 6 data berupa warna, 6 data arsitektur. Dari hasil makna secara semiotika dengan menggunakan teori segitiga makna, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat data yang berada di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Arit linawa memiliki makna melambangkan kekuatan seseorang dengan lun do dari suku Dayak. Buaye tana, Diri ulung memiliki makna melambangkan sifat sangat keras, keberanian dan ketangguhan serta rasa persatuan masyarakat suku Dayak Lundayeh. Gong, Keratung, Sape, Felefet, Efut, Busu dan warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki kekuatan. Rong, Bakad telun decur, Tekip telun decur, Bakad telun delai memiliki makna status sosial masyarakat. Warna kuning, biru, putih, hitam, hijau memiliki makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat suku Dayak Lundayeh kepada tuhan telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan menjadi sumber kehidupan mereka. Atap, diri, jendela, buduk, lantai, bawa kolong Arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan setiap masyarakat memasuki rumah adat suku Dayak Lundayeh.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna dan Simbol Tari Umbak Gesinggau Pada Sanggar Budaya Tidung Taka (Kajian Semiotik Charles Sanders Peirce)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan simbol tari Umbak Gesinggau pada Sanggar Budaya Tidung Taka (kajian semiotika) dari Charles Sanders Peirce. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kajian semiotika dari Charles Sanders Peirce yaitu teori tanda (representament), objek (object) dan interprestasi (interpretant). Data dalam penelitian ini berupa makna dan simbol dari benda dan gerakan tari Umbak Gesinggau. Sumber data dari penelitian tari Umbak Gesinggau ini di Desa Salimbatu Kabupaten Bulungan dan tokoh dari suku Tidung. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil dari penelitian yang dilakukan maka terdapat 25 simbol yang ada dalam tari Umbak Gesinggau. Dari setiap data memiliki makna dan simbol masing-masing dengan tujuan yang berbeda berdasrkan fungsinya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS MAKNA SIMBOL TARIAN LALATIP SUKU DAYAK TAHOL DESA MANSALONG KECAMATAN LUMBIS KABUPATEN NUNUKAN KALIMANTAN UTARA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ANALISIS MAKNA SIMBOL TARIAN LALATIP SUKU DAYAK TAHOL DESA MANSALONG KECAMATAN LUMBIS KABUPATEN NUNUKAN KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIK) ABSTRAK NOVIA PUTRI SARI, 2025 Analisis Makna Simbol Tarian Lalatip Suku Dayak Tahol Desa Mansalong Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara (Kajian Semiotik). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan (dibimbing oleh Dr. Erna Wahyuni, S.S., M.A. dan Rita Kumala Sari, M.Pd.). Penelitian ini berutujuan untuk menganalisis makna simbol dalam tarian Lalatip yang merupakan warisan budaya dari Suku Dayak Tahol di Desa Mansalong, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Tarian ini mengandung berbagai tanda simbolik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkap makna yang terkandung didalam tarian Lalatip, serta memberikan kontribusi terhadap pemahaman dan pelestarian budaya lokal. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap elemen dalam tarian Lalatip memiliki makna simbolis yang mendalam, seperti simbol yang terdapat pada tarian Lalatip, yaitu alat musik gong dimaknai sebagai kekuatan leluhur, pakaian dengan motif manik-manik dimaknai sebagai persatuan dan estetika tradisional, sedangkan gerakan tari yang lincah dimaknai sebagai ketangkasan prajurit dalam menghadapi ancaman. Jumlah data yang dianalisis pada taria Lalatip, yaitu meliputi alat musik gong besar, gong sedang, gong kecil sebanyak 3 data, pakaian penari pria baju pupulut dan abagh sebanyak 2 data, pakaian penari wanita baju linantian dan rok linantian sebanyak 2 data, aksesoris penari laki-laki memiliki 5 data yaitu tupi susunduk, rarangkol/jangkol, holong sulou, papakol nulongon, papakol nukalayon, aksesoris penari wanita memiliki 7 data, yaitu salupai, inting-inting, Sulampoi, holong sulou, pipirot ringgit, pipirot sungkayon, batik nu popok, properti memiliki 7 data yaitu taut lalatip, perisai, mandau, sapuk, pingulu nu sapuk, papakol nu mato, tuntung nu agung dan gerakan tari memiliki 10 data. Keseluruhan data yang didapatkan pada penelitian ini adalah 36 data, penelitian ini berkontribusi dalam memberikan wawasan baru bagi pembaca mengenai pentingnya menjaga dan memahami simbolisme dalam seni tradisional.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SIMBOL DAN MAKNA DALAM UPACARA ADAT KEMATIAN SUKU DAYAK KENYAH SUB SUKU LEPO' TAU DI DESA TERAS NAWANG KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbol budaya dalam upacara adat kematian Suku Dayak Kenyah sub Suku Lepo’ Tau di desa Teras Nawang, Kalimantan Utara kajian semiotik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian ini secara umum yaitu untuk menganalisis, menjelaskan dan mendeskripsikan simbol dan makna yang terdapat dalam upacara adat kematian yang dilakukan oleh suku dayak kenyah lepo’ tau di desa Teras Nawang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik wawancara, rekam, catat, dokumentasi dan membuat kesimpulan berdasarkan data. Jumlah data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah 21, data dari penelitian terdiri dari 1 data berupa nyanyian, 4 data berupa warna, 1 data berupa ukiran, 1 data berupa pahatan, 14 data berupa benda. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori Pierce yaitu segita makna, maka dapat disimpulkan bahwa data yang berada pada upacara adat kematian memiliki maknanya masing-masing.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna Simbol Tarian Busak Baku Suku Dayak Lundayeh di Desa Pelita Kabupaten Malinau Kalimantan Utara (Kajian Semiotika)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna simbol budaya pada tarian Busak Baku suku Dayak Lundayeh di Desa Pelita Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data pada penelitian ini berupa simbol-simbol tarian Busak Baku suku Dayak Lundayeh di Desa Pelita Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Sumber data dalam penelitian ini adalah tarian Busak Baku suku Dayak Lundayeh. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diantaranya adalah observasi, dokumentasi, wawancara, dan menulis/mencatat. Kemudian analisis data yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah, mengumpulkan data, identifikasi data atau menafsirkan data, dan mendeskripsikan atau menafsirkan data dalam bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah data simbol budaya dalam tarian busak baku suku Dayak Lundayeh. Jumlah data dalam penelitian ini adalah 24 data, diantaranya yaitu Fata, Abe, Bane, Lekusulau, Beret, Bakad dan Tekip, Kering, Tawak, Sape, Tayen, Agung, uwan, Telingut, Rongbasung, Keratung, Apar, abet ulu Deley, Bakad Delei, gerakan proses tumbuhnya tumbuhan busak baku, gerakan proses bercocok tanam, gerakan gotong royong, gerakan mekarnya busak baku. Seluruh data ini akan dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan teori segitiga makna dari Charles Sandres Pierce.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS TARIAN GONG SUKU DAYAK KENYAH UMA LUNG DI KABUPATEN MALINAU KALIMANTAN UTARA (KAJIAN SEMIOTIK PIERCE)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna yang terkandung dalam tarian gong suku Dayak Kenyah Uma Lung melalui studi semiotik yang menusuk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data tersebut diperoleh dari komunitas Dayak Kenyah Uma Lung di Setulang, Kecamatan Malinau. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan pencatatan. Teknik analisis data digunakan untuk mengumpulkan data yang telah direkam dan didokumentasikan dan kemudian menggambarkan arti ikon, simbol, dan indeks yang terkandung dalam gerakan, pakaian, aksesori, alat musik, properti tarian, warna, objek, dan motif dan kemudian memberikan kesimpulan. Masing-masing data ini dikategorikan menjadi ikon yang memiliki kemiripan dengan objek asli dari 35 data, simbol yang merupakan tanda berdasarkan peraturan dan perjanjian dari 16 data, dan indeks yang merupakan terjadinya tanda karena sebab dan akibat dari 3 data. Data yang dikumpulkan kemudian dipelajari menggunakan teori makna segitiga Pierce, yaitu tanda, objek, dan interpretan, untuk menemukan maknanya. Dari hasil data komprehensif yang diperoleh, ada sebanyak 54.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Prosesi perkawinan tradisional adat Batak Toba di kota Tarakan ( kajian Semiotik)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Priala Roida Tumanggor, 2022. Skripsi berjudul tentang Prosesi Perkawinan Tradisional Adat Batak Toba di Kota Tarakan dengan menggunakan kajian Semiotika. Dalam penelitian ini, rumusan masalah yang diangkat adalah seperti apakah bentuk simbol-simbol yang digunakan pada saat perkawinan acara adat Batak Toba berlangsung di kota Tarakan kajian Semiotik, dan Bagaimana makna yang terdapat pada simbol yang digunakan pada saat perkawinan tradisional adat Batak Toba di kota Tarakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbol-simbol dalam acara adat perkawinan batak Toba di kota Tarakan dengan menggunakan kajian Semiotik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa jawaban atau pemaparan hasil dari wawancara yang telah dilaksanakan yang disampaikan oleh informan yang diwawancarai secara lisan. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang prosesi perkawinan adat Batak khususnya Batak Toba. Pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik wawancara, dokumentasi, catat dan rekam. Penyajian data berupa analisis deskriptif dengan menganalisis data menggunakan tabel, kemudian melakukan penguraian ataupun pengelompokan data berupa makna yang terdapat pada setiap benda, tindakan dan tuturan yang terdapat pada prosesi perkaiwinan tradisional adat Batak Toba yang kemudian dianalisis dengan menggunakan Teori Peirce yaitu Triangel semiotik (sign, object dan interpretatn). Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa prosesi perkawinan adat Batak Toba merupakan sebuah proses yang sangat panjang sesuai tradisi yang dimulai dari perkenalan pengantin, pendekatan orangtua, pembahasan sinamot, marpudun saut, menikah hingga acara adat. Adapun tradisi yang dilaksanakan pada saat acara adat perkawinan Batak Toba yaitu mangulosi, manortor, dan pambagian jambar. Hasil penemuan data lebih banyak pada data berupa Simbol berupa benda sebanyak 15 data, tindakan 8 data dan tuturan ditemukaan 4 data yang dianalisis dalam kajian Semiotik.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna Tradisi Kiwon Talu Landom Pada Pernikahan Suku Tidung di Kota Tarakan (Kajian Semiotika)

2021•

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi kiwon talu landom pada pernikahan suku Tidung di kota Tarakan kajian semiotika. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriftif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa jawaban atau pemaparan hasil wawancara yang disampaikan secara lisan oleh informan yang diwawancarai. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, rekam, simak dan catat. Penyajian data berupa analisis deskriftif dengan menganalisis data dalam bentuk tabel kemudian melakukan penguraian data berupa makna yang terdapat pada setiap benda, tindakan dan tuturan yang terdapat pada tradisi kiwon talu landom pada pernikahan suku Tidung yang dianalisis menggunakan teori segitiga semiotika Peirce di mana data awal yang diperoleh merupakan bagian dari tanda/representamen kemudian menentukan objek dari data yang diperoleh dan yang terakhir adalah menentukan makna dari data yang telah diperoleh yang disebut dengan interpretasi. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tradisi kiwon talu landom atau malam tiga bermalam merupakan sebuah tradisi lanjutan dari pernikahan suku Tidung yang dilaksanakan pada malam ketiga setelah pernikahan, adapun beberapa tradisi yang dilaksanakan pada saat kiwon talu landom di antaranya yaitu sedulang, jepin dan bebalon. Kiwon talu landom memiliki makna perkenalan antara mempelai laki-laki dan mempelai wanita selama dua hari dua malam, kemudian pada malam ketiga barulah kedua mempelai diperbolehkan menjalin hubungan suami istri. Pada keesokan harinya setelah tradisi kiwon talu landom dilaksanakan lagi beberapa tradisi di antaranya yaitu bejiyu, betamot serta nyembaloy dan juga tradisi lainya yaitu minum air, ngabut lading dan kidaw batu. Terdapat 24 data yang berupa benda, tindakan serta tuturan dalam tradisi kiwon talu landom yang terdiri atas 13 data berbentuk benda, 8 berbentuk tindakan dan 3 berbentuk tuturan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM RUMAH ADAT DAYAK KENYAH DI DESA SETULANG KABUPATEN MALINAU (KAJIAN SEMIOTIKA)

2019•

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna apa yang terdapat di dalam rumah adat di Desa Setulang Kabupaten Malinau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Kenyah. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan catat. Teknik analisis data di lakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat dan yang telah di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam rumah adat Dayak kenyah, dan membuat kesimpulan dari data yang di dapat. Jumlah keseluruhan data yang terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 36, data penelitian terdiri atas 8 data berupa ukiran, 4 data berupa gambar, 3 data berupa pahatan, 9 data berupa benda, 6 data berupa warna dan 6 data berupa arsitektur. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori segitiga makna, maka di peroleh kesimpulan bahwa data yang berada di dalam rumah adat tersebut memiliki makna yang berbeda beda. Long ngoleng,Lenco,talawang,Udo,Perisai,Mandau,Sape dan warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki kekuatan. Selibit,Folo,Kelunan,Fala Adet dan Kelupi memiliki makna kebersamaan dan kerukunan masyarakat Suku Dayak Kenyah yang tidak ada putus-putusnya. Kelunan,Ka’cet, Nga’noq, Melepeg dan Telingaan Aruu memiliki makna untuk memperkenalkan kebudayaan yang ada di dalam Suku Dayak Kenyah. Terfazho, Sapuk, Saung dan Pakaian adat laki-laki memiliki makna status sosial mayarakat. Belogo, warna kuning, putih, hitam, hijau dan biru memiliki makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat Dayak Kenyah kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan menjadi sumber kehidupan mereka dan arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan di setiap masyarakat memasuki rumah adat. Kata Kunci: Makna, Rumah Adat, Dayak Kenyah, Semiotika.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail