Makna Tradisi Kiwon Talu Landom Pada Pernikahan Suku Tidung di Kota Tarakan (Kajian Semiotika)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi kiwon talu landom pada pernikahan suku Tidung di kota Tarakan kajian semiotika. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriftif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa jawaban atau pemaparan hasil wawancara yang disampaikan secara lisan oleh informan yang diwawancarai. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, rekam, simak dan catat. Penyajian data berupa analisis deskriftif dengan menganalisis data dalam bentuk tabel kemudian melakukan penguraian data berupa makna yang terdapat pada setiap benda, tindakan dan tuturan yang terdapat pada tradisi kiwon talu landom pada pernikahan suku Tidung yang dianalisis menggunakan teori segitiga semiotika Peirce di mana data awal yang diperoleh merupakan bagian dari tanda/representamen kemudian menentukan objek dari data yang diperoleh dan yang terakhir adalah menentukan makna dari data yang telah diperoleh yang disebut dengan interpretasi. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tradisi kiwon talu landom atau malam tiga bermalam merupakan sebuah tradisi lanjutan dari pernikahan suku Tidung yang dilaksanakan pada malam ketiga setelah pernikahan, adapun beberapa tradisi yang dilaksanakan pada saat kiwon talu landom di antaranya yaitu sedulang, jepin dan bebalon. Kiwon talu landom memiliki makna perkenalan antara mempelai laki-laki dan mempelai wanita selama dua hari dua malam, kemudian pada malam ketiga barulah kedua mempelai diperbolehkan menjalin hubungan suami istri. Pada keesokan harinya setelah tradisi kiwon talu landom dilaksanakan lagi beberapa tradisi di antaranya yaitu bejiyu, betamot serta nyembaloy dan juga tradisi lainya yaitu minum air, ngabut lading dan kidaw batu. Terdapat 24 data yang berupa benda, tindakan serta tuturan dalam tradisi kiwon talu landom yang terdiri atas 13 data berbentuk benda, 8 berbentuk tindakan dan 3 berbentuk tuturan.