Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

22 hasil
Subjek: folklor
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

FUNGSI DAN MAKNA CERITA RAKYAT DAYAK BULUSU DI KECAMATAN SEKATAK KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA ( KAJIAN FOKLOR )

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan makna cerita rakyat masyarakat Dayak Bulusu di Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan cerita rakyat sebagai bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi belum banyak didokumentasikan secara ilmiah sehingga keberadaannya berpotensi mengalami kepunahan seiring perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan metode folklor dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan tokoh adat dan tetua masyarakat sebagai informan, dokumentasi, serta studi pustaka. Analisis fungsi cerita rakyat menggunakan teori William R. Bascom, sedangkan analisis makna menggunakan pemikiran Alan Dundes. Objek penelitian terdiri atas dua cerita, yaitu cerita Jadu Lawang dan Yaki Bugang serta cerita Aki Ibuk yang berkaitan dengan Gong Solok/Dagas Sebengawang. Kedua cerita tersebut tergolong mitos karena dipercaya oleh masyarakat berkaitan dengan asal-usul manusia, leluhur, dan kehidupan awal masyarakat Dayak Bulusu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Dayak Bulusu memiliki empat fungsi, yaitu sebagai sistem proyeksi, alat pengesahan pranata kebudayaan, alat pendidikan, dan alat pengawas norma sosial. Selain itu, ditemukan empat makna yang terkandung dalam cerita, yaitu makna moral, sosial, budaya, dan spiritual. Dengan demikian, cerita rakyat Dayak Bulusu tidak hanya berfungsi sebagai warisan lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai, penguatan identitas budaya, dan pendidikan karakter bagi generasi muda. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam mendokumentasikan dan melestarikan sastra lisan masyarakat Dayak Bulusu.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Prosesi ritual adat kematian suku Dayak Agabag di Desa Kalampising Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan ( Kajian Folklor)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

WISLIANTO, 2026* Prosesi ritual adat kematian suku Dayak Agabag di Desa Kalampising Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan (Kajian Folklor). (Dibimbing oleh Muhammad Ilham, S.S.,M.Pd dan Rita Kumala Sari, S.Pd.,M.Pd) Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses ritual kematian tradisional masyarakat Dayak Agabag di Desa Kalampising, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, serta menjelaskan makna dan fungsi ritual tersebut berdasarkan analisis folklor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dokumentasi, dan pencatatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual pemakaman tradisional masyarakat Dayak Agabag masih dilestarikan dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Dalam kajian folklor, ritual ini mencakup tiga bentuk folklor: folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan. Folklor lisan disampaikan melalui doa, cerita, dan nasihat adat. Unsur folklor sebagian lisan terlihat dalam ritual seperti Antingug Da Agung, Angaju Da Bangkai, Upacara Adat/Lumulu, serta Ampid atau Amakan. Sementara itu, folklor bukan lisan tercermin melalui penggunaan gong, lungun, bangkalan, dan peralatan tradisional lainnya. Ritual kematian ini bermakna sebagai wujud penghormatan kepada mendiang dan leluhur, serta mengandung nilai-nilai seperti gotong royong, saling membantu, dan dukungan terhadap komunitas. Selain itu, ritual ini berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, pewarisan nilai-nilai adat kepada generasi muda, penguatan identitas masyarakat Dayak Agabag, serta pemeliharaan tatanan sosial dalam kehidupan mereka.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS MAKNA SIMBOLIK PADA TATO DAYAK KENYAH LEPO' KE DI DESA LONG TEBULO KECAMATAN BAHAU HULU KABUPATEN MALINAU (KAJIAN FOLKLOR)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tradisi tato Dayak Kenyah Lepo’ Ke di Desa Long Tebulo merupakan warisan budaya yang mengandung nilai filosofis, spiritual, dan sosial, tetapi semakin terancam oleh modernisasi, pengaruh agama, dan melemahnya pewarisan budaya sehingga perlu didokumentasikan melalui kajian folklor. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kajian folklor melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap dua informan yang dipilih secara purposive dan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Temuan penelitian mengidentifikasi lima motif tato tradisional, yaitu Kalung Ilak, Kalung Tebuku, Kalung Besulan, Kalung Kabuk, dan Kalung Se'. Adapun makna yang terkandung didalam jenis-jenis tato yang telah diteliti, dari kelima jenis makna tato yang telah diteliti terdapat dua jenis makna tato yang digunakan oleh para tetua adat dan bangsawan yaitu, tato kalung ilak dan kalung kabuk yang bermakna sebagai kehormatan puncak tertinggi dalam struktur dan memilliki kekuasaan tertinggi pada suku Dayak lepo’ke, sedangkan untuk tiga makna tato yaitu kalung tebuku, kalung besulan dan kalung se’ tato yang bermakna sebagai bagaimana perjalanan hidup seseorang dan digunakan sebaagai bentuk eksistensi kelas mengah kebawah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PROSESI PERNIKAHAN ADAT SUKU KOTEN LARANTUKA DI TARAKAN (KAJIAN FOLKLOR)

2026•

Hermina Ene Mukin 2026. Prosesi Pernikahan Suku Koten Larantuka di Tarakan (Kajian Folklor). Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Falkultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Borneo Tarakan. Dosen Pembimbing Utama, Siti Fathonah, M.Pd. Anggota Pembimbing Rita Kumala Sari, M.Pd. Tujuan dari penelitian ini Adalah untuk menggambarkan tradisi dan rangkaian acara pernikahan adat Suku Koten Larantuka di Tarakan, serta mengungkapkan nilai-nilai folklore yang ada di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dengan masyarakat Suku Koten serta dokumentasi mengenai Prosesi prosesi pernikahan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa upacara prosesi pernikahan adat Suku Koten Larantuka di Tarakan terdiri dari beberapa Langkah, yaitu maso minta (pengajuan lamaran), pertunangan, pemberkatan di gereja, dan upacara adat yang dilengkapi dengan tarian seleng sebagai ungkapan rasa hormat dan kebahagian. Penyajian hasil analisis data yaitu penyambutan pihak laki-laki, lamaran, upacara pemberkatan, tarian seleng, hedung, belis, cincin pertunangan, perhiasan emas, kain tenun, pedang,tombak, arak, sirih pinang dan rokok. Data yang terkumpul terdiri dari 13 data yang dibagi menjadi folklore sebagai lisan dan folklor bukan lisan, di mana terdapat 4 data yang termasuk dalam folklor sebagai lisan dan 9 data dalam folklor bukan lisan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa prosesi pernikahan adat Suku Koten Larantuka di Tarakan bukan semata-mata sebuah upacara sakral tetapi juga sebagai sarana untuk melestarikan budaya yang menguatkan nilai kebersamaan, penghormatan, serta identitas kelompok yang menguatkan nilai kebersamaan, penghormatan, serta identitas kelompok masyarakat Flores yang berada di perantauan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Prosesi Ritual Masyarakat Adat Jawa Pada Tradisi Selamatan Bumi di Desa Karang Agung Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara (Kajian Folklor)

2026•

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi ritual, makna, dan peran masyarakat dalam tradisi Selamatan Bumi masyarakat adat Jawa di Desa Karang Agung, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Tradisi Selamatan Bumi merupakan warisan budaya turun-temurun yang berfungsi sebagai media ungkapan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Penelitian ini menggunakan landasan teori folklor yang dikemukakan oleh Endraswara dan Danandjaja, dengan fokus pada bentuk folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat, serta dokumentasi kegiatan ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi Selamatan Bumi terdiri atas beberapa tahapan prosesi, seperti penetapan tanggal, pembacaan doa (dongani), ikrar, pemotongan tumpeng, hingga pertunjukan kesenian tradisional. Temuan data menunjukkan terdapat 15 bentuk folklor sebagian lisan dan 16 bentuk folklor bukan lisan yang memiliki makna simbolik dan nilai filosofis. Tradisi ini berperan sebagai sarana pelestarian budaya, penguatan solidaritas sosial, serta media pendidikan nilai-nilai kearifan lokal. Dengan demikian, Selamatan Bumi masih relevan dan penting untuk dilestarikan di tengah perubahan sosial masyarakat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Peran makanan tradisional dalam mempertahankan tradisi dan identitas budaya suku tidung

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran makanan tradisional dalam mempertahankan tradisi dan identitas budaya suku Tidung melalui kajian folklor. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa, wawancara, dokumentasi, dan angket. Sumber data primer berupa wawancara, rekam dan catat dan data sekunder berupa foto makanan. Lokasi penelitian ditetapkan di Desa Buong Baru dan Desa Sepala Dalung, Kabupaten Tana Tidung, dengan melibatkan tokoh adat, ibu rumah tangga, dan pemuda sebagai informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional suku Tidung, seperti nasi subut, nasi wasur, kue kumpol, kubal, dan sayur temberungun, tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai Peran media pewarisan nilai budaya, simbol identitas kolektif, serta sarana penguat solidaritas sosial. Pada setiap upacara adat seperti irau, maulid nabi, tolak bala dan guting rambut. Makanan tradisional disajiakan pada acara tersebut sebagai untuk mempertahankan makanan tradisional.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Mitos Larangan dalam Budaya Masyarakat Suku Okolod Di Kecamatan Lumbis Pansiangan (Kajian Folklor)

2025•

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk kategori mitos larangan serta fungsinya dalam kehidupan masyarakat Suku Okolod. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan folklor. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan catat, kemudian dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh kategori bentuk mitos larangan dalam masyarakat Suku Okolod, yaitu (1) Kategori Bentuk Larangan Cinta, Pacaran, dan Menikah, (2 Kategori Bentuk Larangan Lahir Masa Bayi, Masa Kanak-kanak, (3 Kategori Bentuk Larangan Tubuh Manusia dan Obat-obatan Rakyat, (4) Kategori Bentuk Larangan Rumah dan Pekerjaan Rumah Tangga, (5) Kategori Bentuk Larangan dalam Mata Pecaharian dan Hubungan Sosial, (6) Kategori Bentuk Larangan dalam Perjalanan dan Perhubungan (7) Kategori Bentuk Larangan dalam Kematian dan Adat Pemakaman. Dalam penelitian ini terdapat 5 fungsi mitos larangan yaitu : (1) fungsi mempertebal emosi keagamaan atau kepercayaan, (2) fungsi sistem proyeksi khayalan, (3) fungsi mendidik, (4) fungsi melarang, dan (5) fungsi menyuruh.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STRUKTUR DAN FUNGSI MANTRA PAGAR DIRI SUKU DAYAK LUNDAYEH DI DESA LONG SIMAU KECAMATAN MENTARANG HULU KABUPATEN MALINAU. (KAJIAN FOLKLOR LISAN)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

JEFRI 2025. Struktur dan Fungsi Mantra Pagar Diri Suku Dayak Lundayeh Di Desa Long Simau Kecamatan Mentarang Hulu Kabupaten Malinau. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Borneo Tarakan. Dosen Pembimbing Utama, Siti Fathonah, M.Pd. Anggota Pembimbing Rita Kumala Sari, M.Pd. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Struktur dan Fungsi Mantra Pagar Diri Suku Dayak Lundayeh di Desa Long Simau, Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau. Penelitian ini menggunakan pendekatan Deskriptif Kualitatif. Data penelitian berupa frasa atau kalimat mantra pagar diri Suku Dayak Lundayeh yang diperoleh dari informan/narasumber. Instrumen Penelitian adalah Human Instrument. Teknik Pengumpulan data meliputi Observasi, Wawancara, Teknik Catat, Teknik Perekaman, dan Dokumentasi. Analisis Data dilakukan melalui tahap Identifikasi, Klasifikasi, Analisis Data, dan Kesimpulan. Diperoleh sebanyak delapan data mantra pagar diri. Analisis struktur mantra menunjukkan bahwa unsur judul setiap mantra memiliki unsur judul sebagai penanda identitas dan tujuan. Unsur pembuka, menunjukkan kerendahan hati penutur kepada penguasa yang diyakini dapat mengabulkan permintaan. Unsur niat, sugesti, dan tujuan. Tidak semua mantra memiliki keenam unsur pembangun (judul, pembuka, niat, sugesti, tujuan, penutup) secara lengkap. Beberapa mantra hanya terdiri dari tiga unsur karena makna kalimatnya tidak dapat dipahami secara keseluruhan, meskipun demikian setiap mantra pagar diri tetap memiliki kegunaannya sebagai pelindung diri. Fungsi mantra secara keseluruhan, mantra pagar diri Suku Dayak Lundayeh di Desa Long Simau, Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, memiliki tiga fungsi: fungsi budaya, fungsi kepercayaan, dan fungsi pendidikan. Fungsi budaya, mantra merupakan warisan budaya lisan yang diturunkan secara turun-temurun. Fungsi kepercayaan, mantra digunakan sebagai perisai diri dari berbagai gangguan, seperti serangan hama dan gagal panen (Mantra Nawar Mengai), gangguan makhluk halus (Mantra Otu), gangguan binatang buas (Mantra Amaa, Amalun), niat jahat seseorang (Mantra Febey), gangguan ilmu hitam (Mantra Iyo, Iyolun), tersedak tulang ikan (Mantra Meker), gangguan kesehatan dan penyakit keras (Mantra Tuwe), serta musibah dan marabahaya saat membangun rumah (Mantra Biyen). Fungsi pendidikan, mantra-mantra ini kini diwariskan sebagai bahan pembelajaran sejarah lokal bagi generasi muda, mengingat masyarakat Dayak Lundayeh saat ini telah menganut sistem kepercayaan beragama dan tidak lagi mempraktikkan animisme dan dinamisme.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

NILAI-NILAI ADAT PERKAWINAN SUKU DAYAK LUNDAYEH DI DESA LUNG BARANG KECAMATAN MENTARANG HULU KABUPATEN MALINAU (KAJIAN FOLKLOR SEBAGIAN LISAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sema Anggela, 2024. Nilai-Nilai Adat Perkawinan Suku Dayak Lundayeh di Desa Lung Barang Kecamatan Mentarang Hulu Kabupaten Malinau (Kajian Folklor Sebagian Lisan), (dibimbing oleh Muhammad Ilham, S.S., M.Pd. dan Dr. Erna Wahyuni, S.S., M.A.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai yang terdapat dalam proses adat perkawinan suku Dayak Lundayeh di Desa Lung Barang Kecamatan Mentarang Hulu Kabupaten Malinau. Data dalam penelitian ini berupa data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi dengan tokoh adat dan masyarakat terkait proses adat perkawinan suku Dayak Lundayeh yang memiliki makna dan nilai pada setiap proses dilaksanakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis data deskriptif teori Sugiono yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, proses adat perkawinan suku Dayak Lundayeh menekankan pada nilai material, nilai sosial, nilai religius (agama), nilai kebudayaan. Dalam proses adat perkawinan Dayak Lundayeh ditemukan 21 data. 6 data dalam nilai material, 7 data dalam nilai sosial, 1 data dalam nilai religius (agama) dan, 7 data dalam nilai kebudayaan. Proses adat perkawinan suku Dayak Lundayeh yang mencerminkan identitas dalam adat perkawinan suku Dayak Lundayeh yang telah diwariskan secara turun-temurun dan terus dilaksanakan sampai saat ini.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Ungkapan Kepercayaan Takhayul Masyarakat Suku Dayak Bulusu di Desa Sedulun Kabupaten Tana Tidung Kalimantan Utara (Kajian Folklor)

2024•

Ungkapan kepercayaan Takhayul di Desa Sedulun Kabupaten Tana Tidung adalah kearifan lokal yang sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat Suku Dayak Bulusu di Desa Sedulun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, makna dan fungsi takhayul masyarakat Suku Dayak Bulusu di Desa Sedulun Kabupaten tana Tidung. Metode pengumpulan data melalui teknik wawancara. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk ungkapan kepercayaan Suku Dayak Bulusu yang masih berkembang di Desa Sedulun Kabupaten Tana Tidung. Bentuk takhayul yang ditemukan di Desa Sedulun Kabupaten Tana Tidung dijabarkan ke dalam pola atau bentuk sebagai berikut: takhayul berdasarkan bentuk sebab-akibat berjumlah 28 (dua puluh delapan) data, takhayul berdasarkan bentuk akibat-sebab berjumlah 5 (lima) data, takhayul berdasarkan bentuk tanda-konversi-akibat berjumlah 4 (empat) data dan takhayul berdasarkan tanda-akibat berjumlah 9 (sembilan) data. Takhayul masyarakat Suku Dayak Bulusu yang masih berkembang di Desa Sedulun memiliki fungsi-fungsi antara lain, sebagai alat untuk mendidik anak dan remaja berjumlah 4 (empat) data, penebal emosi dan kepercayaan berjumlah 13 (tiga belas) data, sebagai penjelasan yang dapat diterima akal berjumlah 14 (empat belas) data, proyeksi khayalan suatu kolektif berjumlah 9 (sembilan) data, dan pelipur lara berjumlah 6 (enam) data. Makna takhayul masyarakat Suku Dayak Bulusu di Desa Sedulun, Kabupaten Tana Tidung ditimbulkan dari hubungan asosiasi. Selain itu makna yang terkandung didominasi oleh makna falsafah kehidupan untuk mengatur dan mengawasi setiap norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Makna tersebut dapat berupa nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitar dan hubungan manusia dengan Tuhan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Prosesi tradisi nuwi ulung suku dayak lundayeh kabupaten malinau provinsi kalimantan utara (Kajian Folklor)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Prosesi Tradisi Nuwi Ulung Suku Dayak Lundayeh di Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara melalui Kajian Folklor. Metode penelitian ini mengunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Sumber penelitian di peroleh dari ketua adat Kecamatan, ketua adat Kabupaten dan masyarakat Lundayeh yang memiliki pengetahuan tentang prosesi tradisi Nuwi Ulung suku dayak Lundayeh. Data penelitian ini data penggalan kalimat dari hasil wawancara, rekam, catat, dan simak serta observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam prosesi tradisi Nuwi Ulung terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan bentuk folklor yaitu Memanggil burung mengei, Netek Uwe, Nuwi Ulung, Netek Buaye, dan Fekuab. Fungsi folklor dalam prosesi tradisi Nuwi Ulung yaitu (a) Sebagai sistem proyeksi, yakni sebagai alat pencerminan angan-angan suatu kolektif, (b) Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, (c) Sebagai alat pendidikan anak artinya sebagai sarana pendidikan, (d) Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu di patuhi oleh angggota kolektifnya

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STRUKTUR CERITA RAKYAT ASAL MULA SUKU DAYAK LUNDAYEH DI DESA TANJUNG LAPANG KECAMATAN MALINAU BARAT KABUPATEN MALINAU (KAJIAN FOLKLOR LISAN)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Struktur Cerita Rakyat Asal Mula Suku Dayak Lundayeh di Desa Tanjung Lapang Kecamatan Malinau Barat Kabupaten Malinau melalui Kajian Folklor Lisan. Metode penelitian ini mengunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Sumber penelitian di peroleh informan yang memiliki pengetahuan tentang struktur cerita rakyat asal mula suku Dayak Lundayeh. Data penelitian ini data penggalan kalimat dari hasil wawancara, rekam, catat, dan simak serta observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam struktur cerita terdapat, orientasi awal mula suku Dayak Lundayeh yang tinggal di desa Tanjung Lapang berasal dari krayan, Mentarang Hulu, Long Berang, Bang Biau, komplikasi permasalahan yang di dapat oleh masyarakatnya adalah masalah pendidikan dan kesehatan, resolusi masyarakatnya memutuskan agar bisa merubah nasib untuk ke depannya agar anak-anak bisa mendapatkan pendidikan dan ada tempat sarana untuk kesehatan, dan koda setelah masyarakat mendapatkan hidup yang layak, para orang Tua dahulu berharap agar selalu mengingat perjuangan yang telah di lalui hingga sampai saat ini masyarakatnya telah hidup dengan layak.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Budaya Pamali Dalam Masyarakat Toraja Di Kota Tarakan (Kajian Folklor)

2023•

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan fungsi dan makna budaya pamali dalam masyarakat Toraja di Kota Tarakan melalui kajian folklor. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Laporan penyajian data, disajikan secara terurai dalam bentuk kata-kata maupun kalimat. Sumber data penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang pamali Suku Toraja. Data dalam penelitian ini adalah berupa penggalan kalimat dari hasil wawancara terhadap informan. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, simak catat, dan dokumentasi. Penyajian hasil analisis data dengan analisis deskriptif. Penelitian ini di fokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan budaya pamali suku Toraja dengan menggunakan kajian folklor. Folklor adalah teori yang disampaikan secara lisan dan turun-temurun dari mulut ke mulut. Hasil penelitian pada penelitian ini dominan pada larangan dan pantangan. Makna yang paling dominan yakni makna falsafah dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatur kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitar, serta manusia dengan Tuhan karena hal tersebut saling berkaitan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PROSESI PERNIKAHAN MASYARAKAT ADAT JAWA DI DESA PANCA AGUNG KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA (KAJIAN FOLKLOR)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Prosesi Pernikahan Masyarakat Adat Jawa di Desa Panca Agung Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara melalui kajian folklor. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah berupa proses pernikahan, mitos, dan benda-benda yang termasuk kedalam folklor sebagian lisan dan bukan lisan. Penyajian hasil analisis data dengan analisis deskriptif. Data pada penelitian ini terdapat beberapa data yaitu nontoni, asok tukon, srah-srahan, nglamar, peningsetan, gethok dino, pasang tratag dan tarub, paes, midodareni, panggih, sungkeman, kirab, cunduk mentul, kembang mayang, janur, keris, batik, wiji dadi, blangkon, minum degan, tumplek punjen, beras kuning, ulan suro, jilu, siji jejer telu, telur, uang logam, bunga setaman, pohon pisang, cobek, ronce melati, kendi, sinduran, tuwuhan.. Data-data tersebut berjumlah 36 data yang tergolong dalam folklor sebagian lisan, dan bukan lisan, antara lain folklor sebagian lisan 25 data, folklor bukan lisan 11 data. Pernikahan yang ada di Desa Panca Agung sudah mengalami perubahan yang menyebabkan berbedanya budaya yang asli dengan budaya yang ada di Desa Panca Agung. Perubahan ini sebagai bentuk kemajuan dari suatu daerah tertentu yang menjadikan budaya yang ada mengalami perubahan tanpa menghilangkan budaya yang aslinya.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Tradisi Adat Suku Toraja Mangriu' Batu Simbuang dalam Upacara Kematian Rambu Solo' di Kabupaten Toraja Utara (Kajian Folklor)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Tradisi Adat Suku Toraja Mangriu’ Batu Simbuang dalam Upacara Kematian di Kabupaten Toraja Utara melalui kajian Folklor. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Laporan penyajian data disajikan secara terurai dalam bentuk kata-kata maupun kalimat. Sumber data penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang tradisi Mangriu’ Batu Simbuang. Data dalam penelitian ini berupa penggalan kalimat dari hasil wawancara terhadap informan. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, teknik rekam, dan teknik catat serta observasi langsung dilapangan. Penyajian hasil analisis data dengan analisis deskriptif. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan tradisi Mangriu’ Batu Simbuang dengan menggunakan kajian Folklor. Hasil yang peneliti dapatkan dalam penelitian ini terdapat beberapa data yaitu, Massambayang, Sirampun, Kada-Kada Tominaa, Ma’ Kadoro, Sirampun, Ma’lambuk, Ma’badong, Aluk Todolo, Simbuang Batu, Simbuang Induk, Simbuang Kalosi, Simbuang Lambiri, Simbuang Kadingin, Tedong, Sambu’ Lotong, La’bo, Tallang, Bayu Lotong, Pa’piong, Ballo’, Sepu’, Bombongan, Suke, Pote, Passapu, Issong. Data-data tersebut berjumlah 30 data yang tergolong dalam folklor lisan 4 data, folklor sebagian lisan 5 data, dan folklor bukan lisan 21 data. Tradisi adat Mangriu’ Batu Simbuang ini memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatur kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitar, dan manusia dengan Tuhan karena hal tersebut saling berkaitan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA TRADISI BERPUPUR PADA PERNIKAHAN SUKU TIDUNG DI KOTA TARAKAN (KAJIAN FOLKLOR)

2023•

Penelitian ini berjudul makna tradisi Berpupur pada pernikahan suku Tidung di kota Tarakan kajian folklor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriftif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa jawaban atau pemaparan hasil wawancara yang disampaikan secara lisan oleh informan yang diwawancarai. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang tradisi pernikahan suku Tidung khususnya tradisi Berpupur. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, rekam, simak dan catat. Penyajian data berupa analisis deskriftif dengan menganalisis data dalam bentuk tabel kemudian melakukan penguraian data berupa makna yang terdapat pada setiap benda, tindakan dan tuturan yang terdapat pada tradisi Berpupur pada pernikahan suku Tidung. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tradisi Berpupur merupakan salah satu tradisi dalam pernikahan suku Tidung, yang di laksanakan setelah prosesi lamaran, bepupur adalah tahapan dari rangkaian sebelum pernikahan berlangsung, dimana para mempelai akan di lumuri Pupur (Bedak) sejuk yang di racik oleh keluarga mempelai. Bepupur di laksanakan pada malam hari di rumah pengantin, sebelum melakukan kegiatan bepupur, mempelai akan di sambut prosesi khusus menggunakan air penyejuk atau dalam bahasa tidung timug bensalui. Mempelai laki-laki akan di suruh duduk di tikar anyam, di mana keempat sisinya diangkat dan di bawah keruang tengah agar dapat di saksikan oleh orang banyak atau para tamu. Terdapat 16 data yang berupa benda, tindakan serta tuturan dalam setiap rangkaian prosesi dari tradisi berpupur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UPACARA HUKUM ADAT DOLOP SUKU DAYAK AGABAG DI DESA TANJUNG HILIR KECAMATAN LUMBIS KABUPATEN NUNUKAN (KAJIAN FOLKLOR)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi Upacara Hukum Dolop Suku Dayak Agabag sehingga memberikan informasi dan memperkenalkan kebudayaan Suku Dayak Agabag kepada masyarakat luas serta sebagai bentuk pelestarian budaya kepada generasi muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Fungsi peradilan adat dolop adalah memperoleh kebenaran perkara adat dari hubungan masyarakat adat Dayak Agabag dengan Maangun (Tuhan), leluhur nenek moyang Dayak Agabag dan segala isi alam adat Dayak Agabag untuk menjaga keseimbangan, kebijaksanaan, kedamaian, dan kekeluargaan oleh keturunan masyarakat adat Dayak Agabag. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah observasi, pengamatan, wawancara, dan mencatat. Hasil data menunjukkan dari 3 (tiga) kelompok folklor terdapat sebanyak 15 data, sebagai berikut : Folklor lisan yaitu: a. Rapat (Balapot), b. Mantra (Uwok). Folklor sebagian lisan yaitu: a. Bernafas di dalam air (Anyikab da nalom timug), b. Air jernih (Timug Anyiou), c. Menjamu (Anyaliwan). Sedangkan folklor bukan lisan yaitu: a. Tiang (Ujok), b. Batang Pisang (Batang nu punti), c. Beras Kuning (Bagas Sinilou), d. Kain Kuning (Ken Asilou), e. Telur Ayam Kampung (Tlau Nu Manuk)), f. Pakaian Adat (Babadu Putul)), f. Denda (Tak), g. Saksi (Ulun Anyaksi), h. Surat Kesepakatan (Sulat Kasapakatan), i. Mangkok Tempurung Kelapa (Tampulung Piasau).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA UPACARA HUKUM ADAT ANTUGI SUKU DAYAK AGABAG DI DESA PAGAR KECAMATAN SEMBAKUNG KABUPATEN NUNUKAN ( KAJIAN FOLKLOR)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan suku Dayak Agabag, agar diketahui oleh masyarakat lain bukan hanya suku Dayak Agabag itu sendiri yang mengetahui serta untuk mengetahui makna tradisi kebudayaan suku Dayak Agabag yang terdapat pada upacara hukum adat Antugi yang akan dilaksanakan di Desa Pagar Kecamatan Sembakung. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan Antugi adalah dengan cara memasukkan tangan ke dalam air yang mendidih. Folklor Lisan : Mantra (Uwok). Folklor Sebagian Lisan: Upacara Rakyat (Antugi), Memberi Makan roh leluhur (Anyambah). Bukan Lisan: Pakaian Adat, Beras Kuning (Bagas Asilow), Kain Kuning (Ken Asilow), Tempurung Kelapa (Tampulung Piasau), Batang Pisang (Batang nu Punti), Kain Merah (Ken Alagang), Kunyit. Kata Kunci : Antugi, Dayak Agabag, Folklor Lisan, Folklor Sebagian Lisan, Foklor Bukan Lisan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PANTANGAN DAN LARANGAN RITUAL KEMATIAN SUKU DAYAK LUNDAYEH DALAM LINGKUNGAN ADAT BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DESA KALIAMOK (KAJIAN FOLKLOR)

2022•

PANTANGAN DAN LARANGAN RITUAL KEMATIAN SUKU DAYAK LUNDAYEH DALAM LINGKUNGAN ADAT BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DESA KALIAMOK (KAJIAN FOLKLOR) ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna Pantangan Dan Larangan Ritual Kematian Suku Dayak Lundayeh Dalam Lingkungan Adat Berbasis Kearifan Lokal di Desa Kaliamok melalui kajian folklor. Metode penelitian ini mengunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskripsi. penyajian data, di sajikan secara terurai dalam bentuk kata-kata maupun kalimat. Sumber penelitian ini adalah informan yang memiliki pengetahuan tentang pantangan dan larangan ritual kematian suku Dayak Lundayeh. Data dalam penelitian ini berupa penggalan kalimat dari hasil wawancara, rekam dan catat serta observasi langsung di lapangan. Hasil dalam penelitian ini terdapat beberapa data yaitu, neteng agung, ngiju butung, mudut lungun, mere tebaya, nated butung , nanem butung, irau kuman, data-data tersebut berjumlah 34 data yang tergolong dalam folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan, antara lain folklor lisan 8 data, folklor sebagian lisan 22 data, folklor bukan lisan 4 data. Dari hasil data dapat disimpulkan bahwa terdapat mitos dalam folklor pantangan dan larangan ritual kematian suku Dayak Lundayeh dalam lingkungan adat berbasis kearifan lokal di Desa Kaliamok. Karena dari hasil penelitian yang dilakukan terdapat banyak sekali kata, kalimat dan yang susah ditangkap menggunakan teori-teori dalam lingkup pendidikan atau banyak hal yang susah ditangkap oleh akal manusia namun dipercayai kebenarannya oleh masyarakat suku Dayak Lundayeh.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Bentuk Dan Fungsi Dalam Tradisi Pengobatan Keturunan Tendangkeripuk Dan Mahligai Emas Di Desa Salimbatu Kecamatan Tanjung Palas Tengah (Kajian Folklor)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Bentuk dan Fungsi dalam tradisi pengobatan keturunan Tendangkeripuk dan Mahligai Emas di Desa Salimbatu Kecamatan Tanjung Palas Tengah melalui kajian folklor. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriftif, laporan penyajian data disajikan secara terurai dalam bentuk kata-kata maupun kalimat. Sumber data dalam penelitian ialah informan yang mengetahui tentang tradisi pengobatan tendangkeripuk dan mahligai emas. Data dalam penelitian ini adalah penggalan kalimat dari hasil wawancara terhadap informan. Pengumpulan data melalui wawancara, rekam, simak dan teknik catat. Penyajian hasil analisis data dengan analisis deskriptif. Pada analisis data terdapat dua bentuk dan tiga fungsi dalam tradisi pengobatan keturunan tendangkeripuk dan mahligai emas yang diperoleh dari informan yang berada di Desa Salimbatu yaitu folklor lisan dan folklor bukan lisan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa data pada bentuk folklor dalam tradisi pengobatan terbagi dalam dua bentuk, ialah data folklor lisan terdapat 5 data yaitu berupa nyanyian rakyat. Adapun data folklor bukan lisan terdapat 18 data yaitu berupa arsitektur rakyat, benda dan bahan pengobatan serta makanan rakyat. Sedangkan, fungsi folklor terdapat tiga, yaitu :1) sebagai alat pengesahan pranata-pranata sosial dan lembaga kebudayaan, 2) sebagai alat pemaksa dan pegawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya, dan 3) sebagai pelestarian adat. ABSTRACT This study aimed to describe the Form and Function in the medicinal tradition of Tendangkeripuk and Mahligai Emas descendants in Salimbatu Village, Tanjung Palas Tengah District through folkloric studies. The research method used a descriptive type of qualitative research. The data presentation report was presented in a description manner in the form of words and sentences. The source of the data in this study was informants who knew about the medicinal traditions of Tendangkeripuk and Mahligai Emas. The data in this study was a fragment of sentences from the results of interviews with informants. The data collection was interviews, recording, listening and recording techniques. The presentation of the results of data analysis was descriptive analysis. In data analysis, there were two forms and three functions of the medicinal tradition in Tendangkeripuk and Mahligai Emas descendants obtained from informants in Salimbatu village, namely oral and non-oral folklore. The results of the study can be concluded that the data on the form of folklore in the medicinal tradition was divided into two forms, namely oral folklore data which consisted of 5 data, namely in the form of folk songs. As for non-oral folkloric data, there were 18 data, namely in the form of folk architecture, objects and medicinal materials and people's food. Meanwhile, there were three folkloric functions, namely: (1) as a tool for social norm institutions and cultural institutions, (2) as a means of coercion and awareness so that the norms of society will always be obeyed by its collective members, and (3) as the custom preservation.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail