ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
JEFRI 2025. Struktur dan Fungsi Mantra Pagar Diri Suku Dayak Lundayeh Di Desa Long Simau Kecamatan Mentarang Hulu Kabupaten Malinau. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Borneo Tarakan. Dosen Pembimbing Utama, Siti Fathonah, M.Pd. Anggota Pembimbing Rita Kumala Sari, M.Pd. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Struktur dan Fungsi Mantra Pagar Diri Suku Dayak Lundayeh di Desa Long Simau, Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau. Penelitian ini menggunakan pendekatan Deskriptif Kualitatif. Data penelitian berupa frasa atau kalimat mantra pagar diri Suku Dayak Lundayeh yang diperoleh dari informan/narasumber. Instrumen Penelitian adalah Human Instrument. Teknik Pengumpulan data meliputi Observasi, Wawancara, Teknik Catat, Teknik Perekaman, dan Dokumentasi. Analisis Data dilakukan melalui tahap Identifikasi, Klasifikasi, Analisis Data, dan Kesimpulan. Diperoleh sebanyak delapan data mantra pagar diri. Analisis struktur mantra menunjukkan bahwa unsur judul setiap mantra memiliki unsur judul sebagai penanda identitas dan tujuan. Unsur pembuka, menunjukkan kerendahan hati penutur kepada penguasa yang diyakini dapat mengabulkan permintaan. Unsur niat, sugesti, dan tujuan. Tidak semua mantra memiliki keenam unsur pembangun (judul, pembuka, niat, sugesti, tujuan, penutup) secara lengkap. Beberapa mantra hanya terdiri dari tiga unsur karena makna kalimatnya tidak dapat dipahami secara keseluruhan, meskipun demikian setiap mantra pagar diri tetap memiliki kegunaannya sebagai pelindung diri. Fungsi mantra secara keseluruhan, mantra pagar diri Suku Dayak Lundayeh di Desa Long Simau, Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, memiliki tiga fungsi: fungsi budaya, fungsi kepercayaan, dan fungsi pendidikan. Fungsi budaya, mantra merupakan warisan budaya lisan yang diturunkan secara turun-temurun. Fungsi kepercayaan, mantra digunakan sebagai perisai diri dari berbagai gangguan, seperti serangan hama dan gagal panen (Mantra Nawar Mengai), gangguan makhluk halus (Mantra Otu), gangguan binatang buas (Mantra Amaa, Amalun), niat jahat seseorang (Mantra Febey), gangguan ilmu hitam (Mantra Iyo, Iyolun), tersedak tulang ikan (Mantra Meker), gangguan kesehatan dan penyakit keras (Mantra Tuwe), serta musibah dan marabahaya saat membangun rumah (Mantra Biyen). Fungsi pendidikan, mantra-mantra ini kini diwariskan sebagai bahan pembelajaran sejarah lokal bagi generasi muda, mengingat masyarakat Dayak Lundayeh saat ini telah menganut sistem kepercayaan beragama dan tidak lagi mempraktikkan animisme dan dinamisme.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Struktur Cerita Rakyat Asal Mula Suku Dayak Lundayeh di Desa Tanjung Lapang Kecamatan Malinau Barat Kabupaten Malinau melalui Kajian Folklor Lisan. Metode penelitian ini mengunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Sumber penelitian di peroleh informan yang memiliki pengetahuan tentang struktur cerita rakyat asal mula suku Dayak Lundayeh. Data penelitian ini data penggalan kalimat dari hasil wawancara, rekam, catat, dan simak serta observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam struktur cerita terdapat, orientasi awal mula suku Dayak Lundayeh yang tinggal di desa Tanjung Lapang berasal dari krayan, Mentarang Hulu, Long Berang, Bang Biau, komplikasi permasalahan yang di dapat oleh masyarakatnya adalah masalah pendidikan dan kesehatan, resolusi masyarakatnya memutuskan agar bisa merubah nasib untuk ke depannya agar anak-anak bisa mendapatkan pendidikan dan ada tempat sarana untuk kesehatan, dan koda setelah masyarakat mendapatkan hidup yang layak, para orang Tua dahulu berharap agar selalu mengingat perjuangan yang telah di lalui hingga sampai saat ini masyarakatnya telah hidup dengan layak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi Upacara Hukum Dolop Suku Dayak Agabag sehingga memberikan informasi dan memperkenalkan kebudayaan Suku Dayak Agabag kepada masyarakat luas serta sebagai bentuk pelestarian budaya kepada generasi muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Fungsi peradilan adat dolop adalah memperoleh kebenaran perkara adat dari hubungan masyarakat adat Dayak Agabag dengan Maangun (Tuhan), leluhur nenek moyang Dayak Agabag dan segala isi alam adat Dayak Agabag untuk menjaga keseimbangan, kebijaksanaan, kedamaian, dan kekeluargaan oleh keturunan masyarakat adat Dayak Agabag. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah observasi, pengamatan, wawancara, dan mencatat. Hasil data menunjukkan dari 3 (tiga) kelompok folklor terdapat sebanyak 15 data, sebagai berikut : Folklor lisan yaitu: a. Rapat (Balapot), b. Mantra (Uwok). Folklor sebagian lisan yaitu: a. Bernafas di dalam air (Anyikab da nalom timug), b. Air jernih (Timug Anyiou), c. Menjamu (Anyaliwan). Sedangkan folklor bukan lisan yaitu: a. Tiang (Ujok), b. Batang Pisang (Batang nu punti), c. Beras Kuning (Bagas Sinilou), d. Kain Kuning (Ken Asilou), e. Telur Ayam Kampung (Tlau Nu Manuk)), f. Pakaian Adat (Babadu Putul)), f. Denda (Tak), g. Saksi (Ulun Anyaksi), h. Surat Kesepakatan (Sulat Kasapakatan), i. Mangkok Tempurung Kelapa (Tampulung Piasau).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan suku Dayak Agabag, agar diketahui oleh masyarakat lain bukan hanya suku Dayak Agabag itu sendiri yang mengetahui serta untuk mengetahui makna tradisi kebudayaan suku Dayak Agabag yang terdapat pada upacara hukum adat Antugi yang akan dilaksanakan di Desa Pagar Kecamatan Sembakung. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan Antugi adalah dengan cara memasukkan tangan ke dalam air yang mendidih. Folklor Lisan : Mantra (Uwok). Folklor Sebagian Lisan: Upacara Rakyat (Antugi), Memberi Makan roh leluhur (Anyambah). Bukan Lisan: Pakaian Adat, Beras Kuning (Bagas Asilow), Kain Kuning (Ken Asilow), Tempurung Kelapa (Tampulung Piasau), Batang Pisang (Batang nu Punti), Kain Merah (Ken Alagang), Kunyit. Kata Kunci : Antugi, Dayak Agabag, Folklor Lisan, Folklor Sebagian Lisan, Foklor Bukan Lisan.