ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KAJIAN ETNOBOTANI PADA RANGKAIAN UPACARA ADAT PERNIKAHAN SUKU BUGIS BONE DI NUNUKAN SERTA MANFAATNYA BAGI PEMBELAJARAN BIOLOGI Abstrak Bagi masyarakat suku Bugis Bone di Nunukan, tumbuhan bukan sekadar pelengkap dalam upacara adat pernikahan, melainkan sebagai makna simbolis yang diwariskan secara turun-temurun. Sayangnya, pengetahuan tersebut sebagian besar masih tersimpan dalam ingatan para tetua dan belum banyak didokumentasikan secara ilmiah. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap jenis tumbuhan, bagian tumbuhan, dan fungsi setiap bagian tumbuhan yang digunakan dalam rangkaian upacara adat pernikahan tersebut, sekaligus menelaah manfaatnya bagi pembelajaran biologi. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilaksanakan di Kelurahan Nunukan Barat, Kabupaten Nunukan. Data diperoleh melalui wawancara dengan empat narasumber, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahannya diuji dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menemukan 21 spesies tumbuhan dari 12 famili, dengan Arecaceae dan Musaceae sebagai famili yang paling banyak dimanfaatkan. Buah menjadi bagian yang paling sering digunakan (33%), disusul daun (19%), sedangkan kulit batang paling jarang digunakan (4%). Sebagian besar tumbuhan berfungsi sebagai perlengkapan upacara (14 spesies) dan sajian makanan (12 spesies), selebihnya sebagai hiasan dan pembungkus makanan, dan setiap tumbuhan membawa makna simbolik bagi kedua mempelai. Ketika suatu tumbuhan sulit diperoleh, masyarakat menggantinya dengan tumbuhan sejenis atau menanamnya sendiri di pekarangan. Temuan ini dapat menjadi sumber belajar kontekstual pada materi Keanekaragaman Hayati kelas X sekolah menengah atas, terutama untuk melatih peserta didik mengenali tumbuhan lokal yang dekat dengan kehidupan mereka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis ikan dan mengetahui struktur komunitas ikan berdasarkan indeks keanekaragaman, keseragaman, serta dominansi di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan jaring insang (gillnet), kemudian ikan yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan karakter morfometrik dan meristik. Struktur komunitas dianalisis menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H′), Indeks Keseragaman (E), dan Indeks Dominansi Simpson (C). Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima jenis ikan dari famili yang berbeda, yaitu Mugil cephalus, Megalops cyprinoides, Johnius trachycephalus, ikan putih caranx sp, dan Euristhmus microceps. Nilai indeks keanekaragaman pada ketiga stasiun berkisar 1,500–1,891 dan termasuk kategori rendah. Indeks keseragaman berada pada kisaran 0,913–0,946 yang menunjukkan komunitas dalam kondisi stabil, sedangkan indeks dominansi berkisar 0,284–0,375 dan tergolong rendah. Berdasarkan hasil tersebut, komunitas ikan di kawasan mangrove KKMB Kota Tarakan berada dalam kondisi relatif stabil dengan tingkat dominansi yang rendah, walaupun jumlah jenis yang ditemukan masih terbatas. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dasar untuk mendukung pengelolaan dan konservasi ekosistem mangrove secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jamur makroskopis merupakan fungi yang memiliki tubuh buah berukuran relatif besar dan dapat diamati secara langsung. Jamur ini dapat ditemukan di berbagai habitat, termasuk ekosistem mangrove yang memiliki substrat berupa kayu lapuk, batang matiKeberadaannya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, salah satunya salinitas, meskipun beberapa jenis mampu beradaptasi pada salinitas tertentu. Peran utama jamur terlihat dalam proses dekomposisi bahan organik, terutama serasah di lingkungan hutan dan sistem agroforestri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jamur makroskopis, kondisi parameter lingkungan, nilai indeks keanekaragaman, serta potensi pemanfaatannya sebagai sumber belajar Biologi di Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Bekantan (KKMB) Kota Tarakan, dilakukan dengan metode survei eksploratif menggunakan garis transek dan plot berukuran 5 x 5 m pada tiga stasiun pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Bekantan (KKMB) ditemukan 169 individu jamur makroskopis yang tergolong ke dalam 13 genus. Jamur yang paling dominan adalah Auricularia. sedangkan genus lain yang ditemukan antara lain Shizophyllum, Trametes, Ganoderma, Daldania, dan Fuscoporia. Sebagaian besar jamur ditemukan pada substrat kayu lapuk yang memiliki kelembapan tinggi sehingga mendukung pertumbuhan dan perkembangan tubuh buah jamur. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) yang diperoleh sebesar 2,07 yang termasuk kategori sedang. Nilai tersebut menunjukkan bahwa komunitas jamur makroskopis di kawasan penelitian memiliki tingkat keanekaragaman yang cukup baik dengan distribusi individu yang relatif merata dan tidak didominasi secara berlebihan oleh satu spesies tertentu. Kondisi lingkungan berupa suhu, pH tanah, salinitas, intensitas cahaya, dan jenis substrat turut memengaruhi keberadaan jamur lokasi penelitian. Hasil penelitian berpontensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar Biologi SMA kelas X pada Kurikulum Merdeka, khususnya materi keanekaragaman hayati, fungi, dan ekosistem. Pemanfaatan potensi lokal melalui hasil penelitian ini dapat mendukung pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan dekat dengan lingkungan peserta didik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Mangrove merupakan ekosistem pesisir yang berperan penting dalam mendukung stabilitas lingkungan serta menopang kehidupan masyarakat pesisir, salah satunya di Kampung Bahari Nusantara (KBN) yang ekosistem mangrovenya masih terjaga kealamiannya. Meskipun kondisi vegetasinya masih tergolong baik, kawasan ini tetap menghadapi tekanan seiring berkembangnya kawasan sekitar, salah satunya berupa minimnya pemahaman masyarakat tentang fungsi ekologis mangrove serta keberadaan dermaga angkatan laut Lantamal XIII Tarakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas mangrove berdasarkan Indeks Kekayaan Spesies, Keanekaragaman, Keseragaman, Dominansi, dan Nilai Penting, serta mengkaji kualitas perairan sebagai pendukungnya. Penelitian dilaksanakan pada Februari - Maret 2026 menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode purposive sampling pada tiga stasiun pengamatan, masing-masing terdiri atas 5 plot berukuran 10×10 m (pohon), 5×5 m (anakan), dan 1×1 m (semai). Hasil penelitian menemukan lima jenis mangrove, yaitu Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Sonneratia alba, dengan indeks kekayaan spesies tergolong rendah di seluruh stasiun (I = 0,539; II = 0,416; III = 0,486), indeks keanekaragaman tergolong rendah di seluruh stasiun (I = 0,272; II = 0,248; III = 0,602), indeks keseragaman Stasiun I dan II tergolong sedang (0,569 dan 0,520) sedangkan Stasiun III tergolong tinggi (0,861), serta indeks dominansi Stasiun I dan II tergolong tinggi (0,669 dan 0,700) sedangkan Stasiun III tergolong sedang (0,306). Sonneratia alba tercatat sebagai spesies paling dominan dengan Indeks Nilai Penting tertinggi 257,7%. Kadar oksigen terlarut tergolong rendah akibat tingginya dekomposisi serasah, sementara salinitas, pH, dan suhu masih dalam kisaran yang mendukung pertumbuhan mangrove. Hasil ini menunjukkan struktur komunitas mangrove di kawasan ini secara keseluruhan mencerminkan ekosistem yang belum stabil secara ekologis, di mana proses suksesi masih berlangsung menuju komunitas yang lebih beragam dan seimbang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Makrozoobentos merupakan organisme dasar perairan yang berperan penting dalam rantai makanan serta dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman makrozoobentos dan kondisi lingkungan pada tambak tradisional udang windu dengan mangrove (TDM) dan tanpa mangrove (TTM) di Kota Tarakan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling pada tiga stasiun pengamatan pada masing-masing tipe tambak. Data yang dikumpulkan meliputi komposisi jenis, kelimpahan, indeks keanekaragaman (H'), indeks keseragaman (E), indeks dominansi (D), serta parameter kualitas lingkungan berupa suhu, pH air, pH tanah, oksigen terlarut (DO), salinitas, dan amonia. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan uji t untuk mengetahui perbedaan komunitas makrozoobentos antara kedua lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah jenis dan kelimpahan makrozoobentos pada TDM lebih tinggi dibandingkan TTM. Nilai indeks keanekaragaman pada TDM berkisar 1,56–1,59, sedangkan pada TTM berkisar 1,06–1,26. Hasil uji t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p0,05) antara kedua tipe tambak. Komunitas makrozoobentos yang ditemukan didominasi oleh Gastropoda. Hasil pengukuran kualitas lingkungan menunjukkan bahwa sebagian besar parameter masih berada pada kisaran yang mendukung kehidupan makrozoobentos, meskipun kadar amonia melebihi baku mutu yang direkomendasikan. Keberadaan mangrove terbukti meningkatkan ketersediaan bahan organik dan kualitas habitat sehingga mendukung keanekaragaman dan kelimpahan makrozoobentos yang lebih tinggi pada tambak tradisional udang windu di Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran ekologis dan ekonomi famili Cyprinidae serta adanya ancaman terhadap kelestariannya akibat aktivitas manusia yang berlebihan di Sungai Adai, Kecamatan Peso. Penelitian terkait keanekaragaman spesies ikan famili ini di lokasi tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keanekaragaman jenis ikan famili Cyprinidae yang terdapat di Sungai Adai dan menganalisis potensinya sebagai bahan ajar biologi. Metode yang digunakan adalah survei eksploratif dengan penjelajahan langsung di lokasi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan di tiga stasiun menggunakan alat tangkap berupa bubu, jaring, dan jala. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif melalui identifikasi morfologi dan penghitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan sebanyak 8 spesies dari famili Cyprinidae dengan total 945 individu. Spesies tersebut meliputi ikan Lalang (Parachela oxygastroides), ikan Pasak (Osteochilus vittatus), ikan Salap (Barbonymus schwanefeldii), ikan Padeq (Tor tambra), ikan Paseq (Crossocheilus oblongus), ikan Lalang Tebal (Rasbora einthoveni), ikan Dungan (Hampala macrolepidota), dan ikan Turing (Labiobarbus festivus). Indeks keanekaragaman jenis (H’) di ketiga stasiun berkisar antara 1,64 hingga 1,77, yang termasuk dalam kategori sedang. Parameter lingkungan menunjukkan kondisi air yang mendukung dengan suhu rata-rata 25°C, pH 6,16, dan TDS 732 ppm. Hasil penelitian ini memiliki potensi besar untuk diintegrasikan sebagai bahan ajar biologi SMA pada materi keanekaragaman hayati karena relevansinya yang kontekstual dengan lingkungan setempat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Ikan Hiu adalah ikan dengan kerangka tulang rawan dari subkelas Elasmobranchii. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi spesies Ikan Hiu yang ada di Perairan Pulau Tias untuk menganalisis keanekaragaman spesies dan status konservasi Ikan Hiu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang dimana penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan menjelaskan fenomena yang ada dengan menggunakan angka-angka untuk mengetahui karakteristik individu atau kelompok. Analisis data yang digunakan adalah Nisbah Kelamin Ikan Hiu, Indeks Keanekaragaman dan Status Konservasi. Nisbah Kelamin Ikan Hiu yang ada di Perairan Pulau Tias ditemukan 3 spesies ikan hiu yaitu Sphyrna lewini, Hemigaleus microstoma dan Chiloscyllium punctatum, dengan total 33 induvidu yang terdiri dari 23 jantan dan 10 betina. Indeks Keanekaragaman Ikan hiu yang didapatkan di perairan Pulau Tias berjumlah 33 individu dalam 3 spesies dan diperoleh nilai indeks Shannon-Wiener (H’) sebesar 3,42. Status Konservasi Hiu Martil (Sphyrna lewini) adalah Terancam Punah, Hiu Lumpur (Hemigaleus microstoma) adalah Rentan dan Hiu Tokek (Chiloscyllium punctatum) adalah Hampir Terancam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keanekaragaman dan dominansi spesies kantong semar (Nepenthes sp.) di Kawasan Hutan Bukit Mas Tarakan, serta menganalisis potensinya sebagai bahan ajar pada pembelajaran biologi. Penelitian dilakukan dengan metode adaptif sampling design, menggunakan area aktivitas manusia untuk pengambilan Nepenthes, serta pengukuran faktor lingkungan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung indeks keanekaragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 spesies Nepenthes yaitu Nepenthes ampullaria Jack, Nepenthes mirabilis (Lour) Druce, Nepenthes rafflesiana Jack dan Nepenthes hirsuta Hook.f yang berasal dari satu family Nepenthaceae, dengan jumlah total 386 individu. Indeks keanekaragaman (H’) yang diperoleh sebesar 1,07 termasuk kategori sedang, sedangkan nilai indeks dominansi (C) sebesar 0,37 termasuk kategori rendah, menunjukkan bahwa Kawasan penelitian memiliki ekosistem yang relatif stabil dengan penyebaran spesies yang cukup merata dan tidak ada spesies yang mendominasi secara berlebihan. Hasil penelitian berpotensi dijadikan bahan ajar pada pembelajaran biologi di sekolah, pada tingkat SMP/MTs kelas 8 dapat dikaitkan pada materi pembelajaran struktur dan fungsi tumbuhan dan pada Tingkat SMA/MA kelas 10 dapat dikaitkan pada materi pembelajaran keanekaragaman hayati. Kata Kunci: kantong semar, Nepenthes, keanekaragaman hayati, dominansi, bahan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Hutan Penelitian Universitas Borneo Tarakan merupakan kawasan hutan tropis yang memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi, salah satunya adalah semut (Hymenoptera: Formicidae) yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keanekaragaman semut di Hutan Penelitian Universitas Borneo Tarakan serta mengkaji potensi pemanfaatannya sebagai sumber belajar biologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling yang dikombinasikan dengan metode kuadran. Pengambilan sampel dilakukan melalui metode hand collecting dan pitfall trap pada 20 plot berukuran 15 m × 15 m. Identifikasi spesies semut dilakukan berdasarkan karakteristik morfologi menggunakan kunci determinasi serangga. Data dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) dan indeks dominansi Simpson (C), serta didukung oleh pengukuran parameter lingkungan yang meliputi suhu, kelembapan udara, pH tanah, dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 8.985 individu semut yang tergolong ke dalam 17 spesies dan 5 subfamili, yaitu Myrmicinae, Dolichoderinae, Formicinae, Ponerinae, dan Dorylinae. Subfamili Dolichoderinae memiliki jumlah individu tertinggi, dengan spesies Dolichoderus thoracicus sebagai spesies paling dominan, sedangkan spesies dengan jumlah individu terendah adalah Aenictus gracilis. Nilai indeks keanekaragaman menunjukkan kategori keanekaragaman sedang, dengan tingkat dominansi rendah hingga sedang. Temuan ini berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi pada materi keanekaragaman hayati dan ekosistem di tingkat SMA, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berfokus pada bentik invertebrata sebagai bioindikator kesehatan lingkungan pada ekosistem padang lamun karena sensitifitasnya terhadap perubahan lingkungan. Pulau Maratua, yang terletak di Kalimantan Timur, terindikasi mengalami degradasi ekosistem lamun yang berpotensi memengaruhi struktur komunitas bentik invertebrata. Tujuan penelitian adalah untuk Menjelaskan kelimpahan, keanekaragaman, kemerataan, dan dominansi bentik invertebrata di padang lamun Perairan Desa Teluk Harapan Dan Payung-Payung Pulau Maratua, serta menghitung tutupan dan kerapatan lamun di Perairan Desa Teluk Harapan dan Payung-Payung Pulau Maratua. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengambilan data tutupan dan kerapatan lamun serta struktur komunitas bentik invertebrata menggunakan metode Line Intercept Transek (LIT) sebanyak tujuh stasiun dengan total 21 plot transek beserta dengan pengujian kualitas air secara insitu. Waktu dilaksanakannya penelitian adalah pada bulan Desember 2024 hingga Maret 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentik invertebrata di Pulau Maratua terdiri dari 4 filum, dengan mayoritas pada kelas Gastropoda (57 jenis). Struktur komunitas menunjukkan keanekaragaman yang bervariasi, dengan Indeks Keanekaragaman (H′) berkisar antara 1,061–3,294, kemerataan stabil dengan Indeks Kemerataan (E) antara 0,846–1,497, dan dominansi (D) rendah berkisar antara 0,011–0,359. Tutupan lamun sebagian besar berada pada kategori sangat padat (100%), dengan kerapatan mencapai 3344 individu/m² pada transek tertentu. Faktor lingkungan seperti suhu (29,6–30,7°C), salinitas (33,4ppt–33,9ppt), pH (6,7–8,3), dan oksigen terlarut (DO: 4,8–7,1 mg/L) ditemukan dalam kisaran normal yang mendukung kelangsungan ekosistem lamun dan bentik invertebrata. Hasil tersebut menunjukkan ekosistem lamun dalam kondisi stabil dan berkolerasi positif bagi bentik invertebrata yang berasosiasi dengan ekosistem lamun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Agro Wisata Karungan Tarakan merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Tarakan. Keberadaan destinasi wisata ini, berpotensi mengancam habitat tumbuhan yang ada di area tersebut, salah satunya adalah Pteridophyta. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis, menganalisis indeks keanekaragaman tumbuhan paku dan potensi implementasi tumbuhan paku teresterial dan epifit di Agro Wisata Karungan Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode survey dan jelajah dengan tekhnik purposive sampling, dan dianalisis menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian di Agro Wisata Karungan Kelurahan Mamburungan Timur, Tarakan menujukkan bahwa ditemukan sebanyak 20 spesies tumbuhan paku (Pteridophyta) yang meliputi 13 spesies tumbuhan paku teresterial dan 7 spesies tumbuhan paku epifit dari 12 family yang terdiri dari family Aspleniaceae, Nephrolepidaceae, Blechnaceae, Athyriaceae, Dryopteridaceae, Thelypteridaceae, Polypodiaceae, Lygodiaceae, Pteridaceae, Gleicheniaceae, Lycopodiaceae, dan Cyatheaceae. Analisis data penelitian dan kurikulum pembelajaran ditingkat SMA menunujukkan bahwa pengetahuan keanekaragaman tumbuhan paku dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi di SMA dan potensi implementasi penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber belajar dalam bentuk flipbook untuk mendukung proses pembelajaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keanekaragaman dan dominansi jenis capung (Odonata) di Kawasan Agrowisata Air Terjun Karungan, Kota Tarakan, serta menganalisis potensinya sebagai sumber belajar biologi. Penelitian dilakukan dengan metode jelajah (field method), menggunakan jaring serangga untuk menangkap capung, serta pengukuran faktor lingkungan Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung indeks keanekaragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 10 spesies capung yang berasal dari dua famili, yaitu Libellulidae dan Coenagrionidae, dengan jumlah total 348 individu. Indeks keanekaragaman (H') yang diperoleh sebesar 1,85 termasuk kategori sedáng, sedangkan nilai indeks dominansi (C) sebesar 0,19 termasuk kategori rendah, menunjukkan bahwa kawasan penelitian memiliki ekosistem yang relatif stabil dengan penyebaran spesies yang cukup merata dan tidak ada spesies yang mendominasi secara berlebihan. Hasil penelitian berpotensi dijadikan sumber belajar kontekstual pada materi keanekaragaman hayati, dan ekologi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pond waters are one of the artificial ecosystems that play a crucial role in supporting aquaculture activities. This study aims to determine the structure of the gastropod community and the relationship between substrate composition and water quality on the abundance and diversity of gastropod species in the traditional ponds of Tarakan City, North Kalimantan. The research was conducted from January to March 2025 using a descriptive method with a quantitative approach. Station and sampling point selection was conducted using purposive sampling based on vegetation characteristics, substrate, and human activities around the location. Gastropod and sediment samples were collected at three research stations, each with five observation points (1x1-meter plots), along with measurements of water physical-chemical parameters (temperature, salinity, pH, and dissolved oxygen). Gastropod species identification was conducted morphologically in the laboratory. The results showed six gastropod species belonging to two families, Potamididae and Neritidae, with Pirenella alata as the most dominant species. The highest diversity index value was found at station 1, with h' = 1.31, classified as moderate diversity, while stations 2 and 3 had h' values of 0.51 and 0.52, respectively, classified as low diversity. The dominance index showed low dominance at station 1 (c = 0.36) and high dominance at stations 2 and 3 (c = 0.68 and c = 0.74). The evenness index indicated stable values at stations 1 and 2, but low values at station 3. Environmental factors such as temperature, pH, and DO were within the optimal range for gastropod life, while salinity showed extreme fluctuations that were likely to have influenced species distribution and diversity. These findings highlight the importance of managing pond environmental quality and using gastropods as biological indicators in evaluating aquatic ecosystem conditions.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mangrove forests are a type of coastal forest ecosystem that thrives in intertidal zones, particularly in sheltered shorelines and river estuaries that are inundated during high tide and exposed during low tide. The plant communities in these areas are characterized by their high tolerance to saline conditions. This study aims to identify the species of mangroves present and to analyze their community structure through indices of importance value, species diversity, evenness, and dominance within the Tutus Island region of Bulungan Regency. The findings of this study are expected to support sustainable aquaculture development by preserving the mangrove ecosystem. Environmental factors influencing the distribution and diversity of mangroves were also assessed, with measured parameters indicating a salinity level of 19 ppt and a pH value of 6.80. The research employed the line transect method, with each transect extending 100 meters and sampling plots of 10 x 10 meters established along each transect. Observations revealed the presence of several mangrove species, including Nypa fruticans, Rhizophora spp., and Sonneratia spp. The analysis of community structure yielded a species diversity index of 0.296, a dominance index of 0.628, and a species evenness index of 0.270.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mentarang Hulu River in Malinau Regency is a natural habitat with various vegetation along the river banks and it still has minimum human activity. This river has a width of 60-70 meters, fast-flowing water, and many riffles, which are natural conditions of the river as well as its unique characteristics that support the life of various fish species. However, information regarding the presence of fish in Mentarang Hulu River is still very limited and has not been extensively studied scientifically. This research aimed to identify fish in Mentarang Hulu River and the relative abundance of each species in order to determine the composition and dominance of existing types. Samples were collected from the catch of fishermen using two fishing gear types: nets and gillnets. Fish identification was performed by referring to identification books. Fish identification is carried out by observing morphological shapes such as the shape of the mouth, head, fins, tail, as well as the color and pattern of the body. The study was conducted over 2 months from January to February 2025. A total of 570 samples were collected, distributed into 1 phylum, 1 class, 3 orders, 4 families, and 13 genera. The analysis results showed that the Niem fish species (Osteochilus spp.) has the highest abundance at 31.75%, followed by Lalang fish (Parachela spp.) at 20.18%, and Pelian fish (Neolissochilus spp.) at 16.67%. The lowest abundances were found in Benteur fish (Barbodes spp.) at 0.18%, Garra fish (Garra borneensis) at 0.53%, and Tilan fish (Mastacembelus spp.) at 0.53%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mangrove ecosystems play a vital role in sustaining life. These ecosystems are commonly found in most Indonesian archipelago coastal areas. Mangrove ecosystems provide habitats for various organisms to feed, breed, and spawn. This study aims to investigate the structure of the mangrove community on Malu Island in Bulungan Regency. Environmental factors influencing the area's distribution and diversity of mangroves include salinity levels of 20 ppt and a pH value of 6.12. Impact of traditional aquaculture activities on mangroves The method was the line transect method. A line transect was drawn along a 100-meter stretch at each station, and at each transect, a 10m x 10m plot was established. The mangrove species found at the study site included Nypa Fruticans, Sonneratia sp, and Rhizophora sp. The mangrove community structure included a mangrove diversity index of 0.314, an evenness index (E) of 0.285, and a dominance index (C) of 0.592.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Muara sungai merupakan kawasan transisi yang vital bagi kelangsungan berbagai jenis ikan, terutama sebagai tempat berkembang biak, membesarkan anak, dan mencari makan. Namun, intervensi manusia dan perubahan kondisi lingkungan dapat menurunkan tingkat keanekaragaman hayati perairan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji perbandingan keanekaragaman jenis ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap bubu payung di dua lokasi berbeda, yakni Muara Sungai Sesayap Pulau Tibi dan Muara Sungai Mamburungan di Kalimantan Utara. Penelitian berlangsung dari bulan Agustus hingga November 2024 dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengumpulan sampel dilakukan dengan menggunakan alat tangkap Bubu Payung, Identifikasi secara morfolohi dengan menggunakan panduan buku identifikasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keanekaragaman ikan di Muara Sesayap Pulau Tibi lebih tinggi dibandingkan dengan Muara Mamburungan, yang dipengaruhi oleh perbedaan kualitas habitat serta intensitas aktivitas manusia. Tercatat sebanyak 16 jenis ikan dan beberapa jenis krustasea, dengan spesies dominan antara lain Mugil cephalus, Scatophagus argus, dan Plotosus canius. Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan habitat alami, seperti hutan mangrove, serta pengelolaan aktivitas di kawasan muara menjadi faktor kunci dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem perairan pesisir.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Perairan Pulau Bunyu dipengaruhi oleh sirkulasi massa air estuari dan Laut Sulawesi yang menjadikannya sebagai potensi sumber daya perikanan yang sangat besar. Penelitian mengenai keanekaragaman ikan di kawasan Pulau Bunyu telah banyak dilakukan, oleh karena itu perlu ada penelitian lanjutan untuk melengkapi data dan informasi ilmiah tentang keanekaragaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis ikan, kelimpahan jenis (Kj), keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dan dominansi (D) spesies yang terdapat di perairan laut Pulau Bunyu. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2024 sampai dengan Maret 2025. Metode perolehan sampel dilakukan secara eksploratif dan tidak bersifat time series. Beberapa alat tangkap yang digunakan seperti pukat gondrong, bubu dasar, dan rengge pada 8 stasiun penangkapan. Proses identifikasi jenis ikan dilakukan melalui identifikasi morfologi yang dilakukan dengan mengamati struktur tubuh ikan dari bentuk luar ikan, pola pewarnaan, bentuk mulut, bentuk ekor dan ciri- ciri yang terlihat pada ikan. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan jenis yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu sebanyak 1.786 individu yang diklasifikasikan menjadi 74 Famili 80 genus dengan 115 spesies. Hasil Kelimpahan ikan yang telah dilakukan didapatkan komposisi tertinggi terdapat pada spesies ikan puput (Ilisha elongata) dengan nilai kelimpahan 29% dan komposi terendah terdapat pada jenis ikan bulu ayam (Coilia neglecta) senilai 13%. Nilai indeks keanekaragaman (H’) keseluruhan lokasi pengamatan berada pada retang 1,76–2,89, nilai keseragaman (E) berada pada rentang 0,23-0,57, dan dominansi (D) 0,11-0,50. Nilai indeks keanekaragaman keseluruhan lokasi pengamatan menunjukkan tingkat keanekaragaman spesies berada pada kondisi sedang dengan nilai keseragaman menunjukkan sebagian besar lokasi pengamatan berada pada kondisi yang tertekan, dan dominansi yang sebagian besar lokasi pengamatan berada pada lokasi pengamatan pada kondisi yang rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Kabupaten Malinau memiliki ekosistem lahan perairan air tawar berbentuk Sungai dan anak-anak Sungai, yang dimanfaatkan oleh Masyarakat setempat sebagai salah satu daerah perikanan tangkap dengan berbagai macam alat tangkap. Cast Net merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap Cast net, dan menganalisis kelimpahan masing-masing jenis ikan hasil tangkapan Cast net. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan mulai dari Mei - july 2024, bertempatan diperairan Sungai Malinau Kabupaten Malinau, menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil dari penelitian ini di dapatkan total sampel sebanyak 154 ekor yang terdiri dari 8 jenis ikan yaitu ikan Salap (B. atlus), ikan Barog (Hampala sp), ikan Pelian (Tor. tambara), ikan Baung (H. nemurus), ikan Lais (Cryptoterus sp.), ikan Tetigas (C. apogon), ikan Patin (Pangasius sp.) dan udang galah (M. rosenbergii). Kelimpahan jenis dengan presentase berkisar 0,64% - 87,01%, dan frekuensi relative hasil tangkapan 2 jenis 23,08%, B. atlus dan Hampala, 1 jenis 15,38%, Tor. Tambara, 5 jenis 7,69%, H. nemurus, Cryptoterus sp, C. apogon, Pangasius sp, M. rosenbergi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Berdasarkan aktivitas serangga dikelompokkan menjadi serangga diurnal dan nokturnal. serangga nokturnal merupakan serangga yang aktif pada malam hari dan memiliki kemampuan pendengaran, penciuman dan penglihatan yang sangat tajam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga nokturnal dan peranannya di area pertanian Kota Tarakan. Proses pengambilan sampel dilakukan menggunakan perangkap Light trap dan Pitfal trap. Analisis indeks keanekaragaman (H’) menggunakan rumus Shannon-Wiener. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 9 jenis ordo yang terdiri dari 18 jenis famili, sebanyak 9 famili bersifat hama, 6 famili bersifat predator, 2 famili bersifat dekomposer dan 1 famili bersifat polinator. Hasil dari nilai indeks keanekaragaman serangga di Area Pertanian Kota Tarakan pada stasiun 1 dengan jebakan Light trap putih yaitu H’: 1,36, lampu biru H’: 1,00, dan pada pitfal trap H’: 1,02. Sedangkan pada stasiun 2 pada jebakan Light trap putih H’: 1,51, lampu biru H’: 1,28, dan pada pitfal trap H’: 1,22. Nilai ini termasuk kategori sedang, hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di area pertanian masih cukup stabil. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar mata kuliah entomologi khususnya pada materi ekologi dan perilaku serangga, serta klasifikasi serangga.