ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keanekaragaman dan dominansi jenis capung (Odonata) di Kawasan Agrowisata Air Terjun Karungan, Kota Tarakan, serta menganalisis potensinya sebagai sumber belajar biologi. Penelitian dilakukan dengan metode jelajah (field method), menggunakan jaring serangga untuk menangkap capung, serta pengukuran faktor lingkungan Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung indeks keanekaragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 10 spesies capung yang berasal dari dua famili, yaitu Libellulidae dan Coenagrionidae, dengan jumlah total 348 individu. Indeks keanekaragaman (H') yang diperoleh sebesar 1,85 termasuk kategori sedáng, sedangkan nilai indeks dominansi (C) sebesar 0,19 termasuk kategori rendah, menunjukkan bahwa kawasan penelitian memiliki ekosistem yang relatif stabil dengan penyebaran spesies yang cukup merata dan tidak ada spesies yang mendominasi secara berlebihan. Hasil penelitian berpotensi dijadikan sumber belajar kontekstual pada materi keanekaragaman hayati, dan ekologi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan majalah capung (odonata) berbasis kontekstual di Kota Tarakan sebagai sumber belajar Biologi Kelas X SMA. Yang layak digunakan berdasakan penilaian para ahli terhadap majalah yang dikembangkan. Jenis penelitian ini adalah penelitian Research and Development (R&D) dengan desain penelitian model Bord and Gall (1983). Langkah-langkah model Bord and Gall (1983) yang digunakan pada penelitian ini sampai dengan tahap tiga yaitu penelitian dan pengumpulan data awal, perencanaan, dan pengembangan produk awal. Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil pengembangan produk awal majalah berdasarkan nilai validasi ahli media dengan presentase 73% yang menunjukan kriteria layak, validasi ahli materi dengan presentase 81% yang menunjukan kriteria sangat layak, dan hasil validasi ahli praktisi dengan 92% yang menunjukan kriteria sangat layak. Rata-rata skor dari para ahli sebesar 82%, sehingga majalah capung (Odonata) yang dikembangkan sangat layak dan dapat digunakan sebagai sumber. This study aimed to produce a contextual-based dragonfly magazine (Odonata) in Tarakan for learning Biology sources of the Tenth grade, which is valid to be implemented. This research is Research and Development (R&D) with the Bord and Gall (1983) model research design. The Bord and Gall (1983) model used providing three stages: research and initial data collection, planning, and initial product development. Data analysis used descriptive qualitative and quantitative descriptive approaches. The initial product development result of expert validation based was very appropriate, with a score of 73%, material expert validation showed that the product was a feasible category with 81% valid, and expert practitioner validation indicated that it is very disserving with a score of 92%. The expert judgment means the score is 82%, with the result that the developed Dragonfly magazine (Odonata) is feasible and can be used as a student learning resource.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS STRUKTUR VEGETASI DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KOMPOSISI SPESIES PREDATOR CAPUNG DI PULAU TARAKAN Suparman,Abdul Rahim Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan Jalan Amal Lama Nomor 1 Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan, 77123 Email: [email protected] ABSTRAK Serangga ordo Odonata (capung) merupakan indikator kualitas lingkungan dan predator hama pada areal lahan pertanian. Pengetahuan tentang komposisi dan persebaran capung dapat mendukung upaya konservasi predator pada lahan pertanian dan non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur vegetasi dan komposisi kelompok capung (Ordo Odonata). Serta, mengetahui hubungannya pada beberapa areal pertanian dan non pertanian di Pulau Tarakan. Pengambilan contoh capung pada 29 lokasi yang terdiri dari 8 areal lahan non pertanian, dan 21 lahan pertanian. Lahan non pertanian terdiri dari hutan primer, mangrove dan rawa. Sedangkan, lahan pertanian terdiri dari perkebunan sayur, perkebunan buah, dan sawah. Selain itu, pengambilan data suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan pH Air. Indeks kekayaan jenis, indeks keanekaragaman Shannon, indeks dominansi Simpson, indeks kemerataan, regresi, diagram venn, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan struktur tumbuhan terdiri dari 28 Famili, 35 genus, 39 spesies dan 1.426 Indvidu, sedangkan komposisi spesies capung di Pulau Tarakan terdiri dari 10 famili, 33 Genus, 46 Spesies, dan 1.100 individu. Indeks kekayaan spesies, indeks keanekaragaman, dan indeks kemerataan lahan non pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian. Selanjutnya, persebaran spesies cenderung berbeda antara lahan pertanian dan non pertanian. Terdapat 19 spesies tersebar atau aktif di areal lahan pertanian dan non pertanian. Sedangkan, spesies yang hanya ditemukan pada areal non pertanian sebanyak 14 spesies, dan areal lahan pertanian sebanyak 13 spesies. Selain itu, hasil analisis AIC menjelaskan hubungan keaneragaman capung dengan keberadaan air lebih tinggi, diikuti oleh hubungan antara jumlah indicu tumbuhan/tanaman dan keberadaan air. Hal ini merupakan indikasi air merupakan faktor utama penentu keanekragaman capung, dan didukung oleh keberadan/jumlah tanaman/tumbuhan di suatu areal atau habitat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Serangga ordo Odonata (capung) merupakan indikator kualitas lingkungan dan predator hama pada areal lahan pertanian. Pengetahuan tentang komposisi dan persebaran capung dapat mendukung upaya konservasi predator pada lahan pertanian dan non pertanian. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan membandingkan komposisi spesies, dan persebaran, serta kondisi lingkungan mikro predator capung di Pulau Tarakan, khususnya pada areal pertanian dan non pertanian. Pengambilan contoh capung pada 29 lokasi yang terdiri dari 8 areal lahan non pertanian, dan 21 lahan pertanian. Lahan non pertanian terdiri dari hutan primer, mangrove dan rawa. Sedangkan, lahan pertanian terdiri dari perkebunan sayur, perkebunan buah, dan sawah. Selain itu, pengambilan data suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan pH Air. Indeks kekayaan jenis, indeks keanekaragaman Shannon, indeks dominansi Simpson, indeks kemerataan, regresi, diagram venn, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan komposisi spesies capung di Pulau Tarakan terdiri dari 7 famili, 33 Genus, 48 Spesies. Indeks kekayaan spesies, indeks keanekaragaman, dan indeks kemerataan lahan non pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian. Sedangkan, indeks dominasi tertinggi pada areal lahan non pertanian, Selanjutnya, persebaran spesies cenderung berbeda antara lahan pertanian dan non pertanian. Terdapat 17 spesies tersebar atau aktif di areal lahan pertanian dan non pertanian. Sedangkan, spesies yang hanya ditemukan pada areal non pertanian sebanyak 15 spesies, dan areal lahan pertanian sebanyak 16 spesies. Selain itu, terdapat hubungan negatif signifikan antara jumlah spesies dan pH Air. Hal ini merupakan indikasi pH merupakan faktor lingkungan yang paling berperan dalam persebaran capung.