Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Subjek: Predator
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi Serangga Predator Pada Tanaman Padi (Oryza sativa) di Persawahan Desa Malinau Kota dan Implementasi pada Pembelajaran Biologi Kelas X SMA

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Identification is an activity to obtain information about an organism. Predatory insects are organisms that live freely and eat or prey on insect pests on plants. This research aimed to analyze the types of predatory insects on rice plants (Oryza sativa) in the rice fields of Malinau Kota Village and their implementation in biology learning for class X secondary school. The method used in this research was descriptive-exploratory with a qualitative approach. Sampling was taken using the roaming method using a swing net and then identified using the insect determination key book. In this study, six species of predatory insects were found. such as Gerris argentatus, Ishnura prognata, Orthetum sabina Drury, Macrodiplax cora, Micraspis crocea, and Tenodera aridifolia. Implementation of research results on predatory insects was in Learning Objective Flow 10.6., identifying the level of biodiversity by presenting reports from observations in the surrounding environment and as a teaching module for the classification of living things as well

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEK MEDIA TALI PENGHUBUNG ANTAR POHON TERHADAP AKTIVITAS SEMUT PREDATOR OECOPHYLLA SMARAGDINA PADA TANAMAN BUAH

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Proses perpindahan koloni semut predator O. smaragdina menggunakan media tali merupakan salah satu upaya konservasi musuh alami pada areal tanaman buah. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek jenis dan panjang tali, serta hubungan jenis dan panjang tali sebagai media penghubung antar pohon terhadap aktivitas semut predator. Penelitian dilakukan pada kondisi semi lapang yang terdiri dari 3 unit percobaan yakni tali rafia dan tali tambang, dengan masing-masing panjang 1, 3, dan 5 meter. Setiap unit percobaan di ulang sebanyak 4 kali. Pengujian lapang dilakukan dengan memindahkan koloni melalui media tali dari pohon yang terdapat sarang semut ke pohon yang tidak ditemukan semut predator. Aktivitas semut diukur berdasarkan ada dan tidaknya aktivitas semut pada media tali pada area yang ditentukan. Serta, pada pengujian lapang diamati pula jumlah koloni yang berpindah ke pohon lainnya. Analisis perbandingan menggunakan Uji Wilcoxon dan Analisis Kontigensi, sedangkan analisis hubungan menggunakan Analisis PCA dan Regresi Logisctic Ordinal. Hasil penelitian menunjukkan jenis tali tidak berpengaruh pada kondisi semi lapang, namun hubungan jenis tali tambang dengan predator lebih erat dibandingkan dengan tali rafia. Pada pengujian lapang menunjukkan panjang dan jenis tali mempengaruhi aktivitas semut predator. Terdapat kecenderungan semakin panjang tali meningkatkan aktivitas semut predator. Jumlah sarang yang terbentuk pada pohon tujuan perpindahan mencapai 7 sarang dari 4 pohon dengan komposisi 352 telur, 16 larva, 904 kasta non reproduktif, dan 1 ratu (kasta reproduktif). Faktor suhu, kelembapan, dan kejadian hujan juga cenderung mempengaruhi aktivitas semut predator O. smaragdina.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEBERHASILAN INTRODUKSI SEMUT PREDATOR Oecophylla smaragdina PADA TANAMAN AKASIA

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pemanfaatan agens hayati semut predator O. smaragdina dengan metode introduksi telah digunakan pada beberapa tanaman, namun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan introduksi belum diketahui, khususnya pada tanaman akasia. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui perbedaan tingkat keberhasilan metode introduksi menggunakan jumlah sarang dan asal koloni berbeda, (2) mengetahui hubungan waktu dan faktor pendukung lainnya (karakteristik tanaman dan iklim mikro) terhadap tingkat keberhasilan introduksi, dan (3) membandingkan pohon tanpa kompetitor dan dengan kompetitor, serta terjadinya hujan dan tanpa hujan terhadap kehadiran semut predator. Penelitian ini mengobservasi dua metode introduksi. Metode pertama yaitu menggunakan 3 (tiga) sarang semut predator yang berasal dari tanaman akasia dan metode kedua yaitu menggunakan 1 (satu) sarang yang berasal dari tanaman mangga. Setiap metode terdiri dari 6 pohon akasia. Tingkat keberhasilan diukur dari kehadiran dan sarang semut predator. Analisis data menggunakan regresi dan korelasi (R2), uji perbandingan menggunakan uji t dan uji tuckey (HSD), serta nilai AIC untuk menentukan model regresi terbaik. Hasil penelitian menunjukkan; (1) tingkat keberhasilan introduksi menggunakan 3 (tiga) sarang dan asal koloni tanaman akasia lebih tinggi dibandingkan menggunakan 1 (satu) sarang dan asal koloni tanaman mangga (2) faktor tinggi tanaman, diameter tanaman, luas tajuk tanaman, curah hujan, dan intensitas cahaya di bawah tajuk cenderung memiliki hubungan negatif terhadap kehadiran semut predator. Sedangkan, suhu dan kelembapan, cenderung memiliki hubungan positif terhadap kehadiran semut predator; (3) faktor keberadaan kompetitor sebelum introduksi cenderung memiliki jumlah kehadiran tertinggi dibandingkan tanpa keberadaan semut kompetitor; (4) faktor waktu adaptasi memiliki hubungan positif yang nyata terhadap kehadiran dan jumlah sarang semut predator. Selain itu, hari hujan memiliki jumlah kehadiran semut predator lebih rendah dibandingkan dengan tanpa terjadinya hujan. Hasil ini juga menunjukkan waktu adaptasi dan hari hujan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan introduksi semut predator O. smaragdina pada tanaman akasia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS STRUKTUR LANSKAP AREAL BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KEANEKARAGAMAN CAPUNG DI PULAU TARAKAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ANALISIS STRUKTUR LANSKAP AREAL BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KEANEKARAGAMAN CAPUNG DI PULAU TARAKAN Ruben Sampe, abdul Rahim Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan Jalan AmaL Lama Nomor 1 Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan, 77123 Email: [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan; (1) melakukan analisis struktur lanskap pada area budidaya tanaman hortikultura berdasarkan SIG di pulau Tarakan; dan (2) mengetahui hubungan karakteristik lanskap dengan keanekaragaman capung (Ordo: Odonata) di pulau Tarakan. Pengambilan contoh capung pada 4 lokasi yakni Tarakan Timur, Tarakan Utara, Tarakan Barat, dan Tarakan Tengah. Selain itu, dilakukan analisi lanskap, pengambilan data suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan Ph air. Indeks keanekaragaman lanskap(H), indeks kekayaan jenis (R), indeks keanekaragaman Shannon (H), indeks kemerataan(E), regresi, diagram venn dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan struktur lanskap terdiri dari beberapa jenis tapak yakni tapak budidaya tanaman sayuran, tanaman buahbuahan, rawa/kolam, pemukiman, hutan sekunder. Indeks keanekaragaman lanskap tertinggi di Tarakan Barat. Komposisi spesies capung di Pulau Tarakan terdiri dari 3 famili, 10 genus, 17 spesies. Indeks kekayaan spesies tertinggi di Tarakan Timur, sedangkan indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan tertinggi di Tarakan Barat. Terdapat hubungan antara keanekaragaman lanskap dan keanekaragman capung, misalnya tanaman sayuran menyebabkan area lebih terbuka dan disukai oleh capung.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS STRUKTUR VEGETASI DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KOMPOSISI SPESIES PREDATOR CAPUNG DI PULAU TARAKAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ANALISIS STRUKTUR VEGETASI DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KOMPOSISI SPESIES PREDATOR CAPUNG DI PULAU TARAKAN Suparman,Abdul Rahim Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan Jalan Amal Lama Nomor 1 Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan, 77123 Email: [email protected] ABSTRAK Serangga ordo Odonata (capung) merupakan indikator kualitas lingkungan dan predator hama pada areal lahan pertanian. Pengetahuan tentang komposisi dan persebaran capung dapat mendukung upaya konservasi predator pada lahan pertanian dan non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur vegetasi dan komposisi kelompok capung (Ordo Odonata). Serta, mengetahui hubungannya pada beberapa areal pertanian dan non pertanian di Pulau Tarakan. Pengambilan contoh capung pada 29 lokasi yang terdiri dari 8 areal lahan non pertanian, dan 21 lahan pertanian. Lahan non pertanian terdiri dari hutan primer, mangrove dan rawa. Sedangkan, lahan pertanian terdiri dari perkebunan sayur, perkebunan buah, dan sawah. Selain itu, pengambilan data suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan pH Air. Indeks kekayaan jenis, indeks keanekaragaman Shannon, indeks dominansi Simpson, indeks kemerataan, regresi, diagram venn, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan struktur tumbuhan terdiri dari 28 Famili, 35 genus, 39 spesies dan 1.426 Indvidu, sedangkan komposisi spesies capung di Pulau Tarakan terdiri dari 10 famili, 33 Genus, 46 Spesies, dan 1.100 individu. Indeks kekayaan spesies, indeks keanekaragaman, dan indeks kemerataan lahan non pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian. Selanjutnya, persebaran spesies cenderung berbeda antara lahan pertanian dan non pertanian. Terdapat 19 spesies tersebar atau aktif di areal lahan pertanian dan non pertanian. Sedangkan, spesies yang hanya ditemukan pada areal non pertanian sebanyak 14 spesies, dan areal lahan pertanian sebanyak 13 spesies. Selain itu, hasil analisis AIC menjelaskan hubungan keaneragaman capung dengan keberadaan air lebih tinggi, diikuti oleh hubungan antara jumlah indicu tumbuhan/tanaman dan keberadaan air. Hal ini merupakan indikasi air merupakan faktor utama penentu keanekragaman capung, dan didukung oleh keberadan/jumlah tanaman/tumbuhan di suatu areal atau habitat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI KOMPOSISI DAN PERSEBARAN SERANGGA PREDATOR ORDO ODONATA (CAPUNG) PADA AREAL PERTANIAN DAN NON PERTANIAN DI PULAU TARAKAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Serangga ordo Odonata (capung) merupakan indikator kualitas lingkungan dan predator hama pada areal lahan pertanian. Pengetahuan tentang komposisi dan persebaran capung dapat mendukung upaya konservasi predator pada lahan pertanian dan non pertanian. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan membandingkan komposisi spesies, dan persebaran, serta kondisi lingkungan mikro predator capung di Pulau Tarakan, khususnya pada areal pertanian dan non pertanian. Pengambilan contoh capung pada 29 lokasi yang terdiri dari 8 areal lahan non pertanian, dan 21 lahan pertanian. Lahan non pertanian terdiri dari hutan primer, mangrove dan rawa. Sedangkan, lahan pertanian terdiri dari perkebunan sayur, perkebunan buah, dan sawah. Selain itu, pengambilan data suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan pH Air. Indeks kekayaan jenis, indeks keanekaragaman Shannon, indeks dominansi Simpson, indeks kemerataan, regresi, diagram venn, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan komposisi spesies capung di Pulau Tarakan terdiri dari 7 famili, 33 Genus, 48 Spesies. Indeks kekayaan spesies, indeks keanekaragaman, dan indeks kemerataan lahan non pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian. Sedangkan, indeks dominasi tertinggi pada areal lahan non pertanian, Selanjutnya, persebaran spesies cenderung berbeda antara lahan pertanian dan non pertanian. Terdapat 17 spesies tersebar atau aktif di areal lahan pertanian dan non pertanian. Sedangkan, spesies yang hanya ditemukan pada areal non pertanian sebanyak 15 spesies, dan areal lahan pertanian sebanyak 16 spesies. Selain itu, terdapat hubungan negatif signifikan antara jumlah spesies dan pH Air. Hal ini merupakan indikasi pH merupakan faktor lingkungan yang paling berperan dalam persebaran capung.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail