ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Teknik introduksi merupakan pendekatan yang digunakan dalam pemanfaatan agens hayati, misalnya semut predator O. smaragdina. Pemanfaatan agens hayati tersebut dilakukan dengan cara memindahkan sarang semut dari satu pohon ke pohon lainnya. Namun, pengaruh faktor sumber atau asal koloni terhadap perilaku dan tingkat predasi merupakan informasi penting untuk diketahui. Penelitian ini bertujuan: (1) mengukur dan menilai perbedaan perilaku semut predator terhadap hama rayap, dan (2) membandingkan kemampuan predasi antar koloni semut predator berdasarkan tingkat kematian pada hama rayap. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan satu faktor perlakuan yakni asal koloni semut O. smaragdina. Perlakuan terdiri dari asal koloni tanaman akasia, mangga, ketapang dan nangka. Perlakuan diulang sebanyak 6 kali ulangan atau terdapat 24 unit percobaan di laboratorium dan semi lapang. Analisis data menggunakan Anova dan DMRT untuk data yang berdistribusi normal yakni aktivitas pencarian pakan. Sedangkan, data yang tidak berdistribusi normal menggunakan analisis varians non-parametrik uji Kruskal-Wallis dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Perilaku semut predator O. smaragdina cenderung memiliki perbedaan berdasarkan asal koloni terhadap aktivitas pencarian, kontak, dan eksplorasi hama rayap. Selain itu, faktor kondisi lingkungan dan keberadaan mangsa lainnya juga mempengaruhi perilaku tersebut; (2) Semut predator O. smaragdina memiliki kemampuan dalam memangsa hama rayap yakni sebesar 26.7% hingga 61.7% pada fase pembibitan tanaman akasia. Selain itu, asal koloni semut predator tidak berpengaruh terhadap tingkat kematian mangsa rayap atau tidak terdapat perbedaan kemampuan predasi antar koloni.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Proses perpindahan koloni semut predator O. smaragdina menggunakan media tali merupakan salah satu upaya konservasi musuh alami pada areal tanaman buah. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek jenis dan panjang tali, serta hubungan jenis dan panjang tali sebagai media penghubung antar pohon terhadap aktivitas semut predator. Penelitian dilakukan pada kondisi semi lapang yang terdiri dari 3 unit percobaan yakni tali rafia dan tali tambang, dengan masing-masing panjang 1, 3, dan 5 meter. Setiap unit percobaan di ulang sebanyak 4 kali. Pengujian lapang dilakukan dengan memindahkan koloni melalui media tali dari pohon yang terdapat sarang semut ke pohon yang tidak ditemukan semut predator. Aktivitas semut diukur berdasarkan ada dan tidaknya aktivitas semut pada media tali pada area yang ditentukan. Serta, pada pengujian lapang diamati pula jumlah koloni yang berpindah ke pohon lainnya. Analisis perbandingan menggunakan Uji Wilcoxon dan Analisis Kontigensi, sedangkan analisis hubungan menggunakan Analisis PCA dan Regresi Logisctic Ordinal. Hasil penelitian menunjukkan jenis tali tidak berpengaruh pada kondisi semi lapang, namun hubungan jenis tali tambang dengan predator lebih erat dibandingkan dengan tali rafia. Pada pengujian lapang menunjukkan panjang dan jenis tali mempengaruhi aktivitas semut predator. Terdapat kecenderungan semakin panjang tali meningkatkan aktivitas semut predator. Jumlah sarang yang terbentuk pada pohon tujuan perpindahan mencapai 7 sarang dari 4 pohon dengan komposisi 352 telur, 16 larva, 904 kasta non reproduktif, dan 1 ratu (kasta reproduktif). Faktor suhu, kelembapan, dan kejadian hujan juga cenderung mempengaruhi aktivitas semut predator O. smaragdina.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemanfaatan agens hayati semut predator O. smaragdina dengan metode introduksi telah digunakan pada beberapa tanaman, namun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan introduksi belum diketahui, khususnya pada tanaman akasia. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui perbedaan tingkat keberhasilan metode introduksi menggunakan jumlah sarang dan asal koloni berbeda, (2) mengetahui hubungan waktu dan faktor pendukung lainnya (karakteristik tanaman dan iklim mikro) terhadap tingkat keberhasilan introduksi, dan (3) membandingkan pohon tanpa kompetitor dan dengan kompetitor, serta terjadinya hujan dan tanpa hujan terhadap kehadiran semut predator. Penelitian ini mengobservasi dua metode introduksi. Metode pertama yaitu menggunakan 3 (tiga) sarang semut predator yang berasal dari tanaman akasia dan metode kedua yaitu menggunakan 1 (satu) sarang yang berasal dari tanaman mangga. Setiap metode terdiri dari 6 pohon akasia. Tingkat keberhasilan diukur dari kehadiran dan sarang semut predator. Analisis data menggunakan regresi dan korelasi (R2), uji perbandingan menggunakan uji t dan uji tuckey (HSD), serta nilai AIC untuk menentukan model regresi terbaik. Hasil penelitian menunjukkan; (1) tingkat keberhasilan introduksi menggunakan 3 (tiga) sarang dan asal koloni tanaman akasia lebih tinggi dibandingkan menggunakan 1 (satu) sarang dan asal koloni tanaman mangga (2) faktor tinggi tanaman, diameter tanaman, luas tajuk tanaman, curah hujan, dan intensitas cahaya di bawah tajuk cenderung memiliki hubungan negatif terhadap kehadiran semut predator. Sedangkan, suhu dan kelembapan, cenderung memiliki hubungan positif terhadap kehadiran semut predator; (3) faktor keberadaan kompetitor sebelum introduksi cenderung memiliki jumlah kehadiran tertinggi dibandingkan tanpa keberadaan semut kompetitor; (4) faktor waktu adaptasi memiliki hubungan positif yang nyata terhadap kehadiran dan jumlah sarang semut predator. Selain itu, hari hujan memiliki jumlah kehadiran semut predator lebih rendah dibandingkan dengan tanpa terjadinya hujan. Hasil ini juga menunjukkan waktu adaptasi dan hari hujan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan introduksi semut predator O. smaragdina pada tanaman akasia.