ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keanekaragaman lanskap suatu pertanian, diduga mempengaruhi kondisi keanekaragaman musuh alami. Informasi tentang kedua hal tersebut penting untuk digunakan sebagai bahan dalam pengelolaan hama dengan memanfaatkan musuh alami. Tujuan pada penelitian ini; (1) menganalisis keanekaragaman lanskap dan musuh alami pada areal di sekitar budidaya tanaman padi. (2) membandingkan keanekaragaman lanskap pada beberapa areal budidaya tanaman padi terhadap musuh alami di Pulau Tarakan. Lokasi penelitian di areal budidaya tanaman padi Kelurahan Tanjung Pasir, Mamburungan, dan Mamburungan Timur. Pengambilan sampel menggunakan perangkap jebak, perangkap nampan kuning, dan jaring ayun. Analisis lanskap menggunakan indeks keanekaragaman lanskap (H), sedangkan perbedaan komposisi musuh alami menggunakan perbandingan jenis dan jumlah individu, indeks keanekaragaman (H’), kekayaan (R), dan kemerataan (E). Musuh alami kelompok insekta terdiri dari 13 famili, 17 genus, 17 spesies dan 277 individu. Kelompok Araneae terdiri dari 3 famili, 3 genus, 3 spesies dan 22 individu. Spesies predator dari kelompok insekta yang memiliki jumlah tertinggi yaitu Chlaenius nigricans (41.4%) dari kelompok insekta. Indeks keanekaragaman lanskap, kekayaan spesies dan keanekaragaman Shanon-Wiener, dan indeks kemerataan pada Mamburungan Timur (H=1,35; R=3,10; H’=1,73; E=0,64), Mamburungan (H=1,37; R=2,30; H’=1,81; E=0,76), dan Tanjung Pasir masing-masing sebesar (H=1,08; R=2,19; H’=1,56; E=0,63). Indeks kesamaan tertinggi pada antara Tanjung Pasir dan Mamburugan Timur (85%). Musuh alami cenderung memiliki hubungan dengan keanekaragaman lanskap areal budidaya tanaman padi. Keanekaragaman musuh alami tertingi ditemukan pada lokasi yang memiliki keanekaragaman lanskap yang tinggi atau memiliki tapak-tapak yang beragam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Potensi hama dan musuh alami di lanskap budidaya tanaman hortikultura di kota Tarakan perlu dikaji sebagai dasar dalam pengelolaan hama dan pemanfaatan musuh alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis hama dan musuh alami pada berbagai lanskap budidaya tanaman hortikultura, serta bagaimana hubungan perbedaan pola lanskap terhadap potensi hama dan musuh alami tersbut. Terdapat 4 lokasi yakni Gunung Amal, Mamburungan, Juata Permai, dan Kampung 6. setiap lokasi dilakukan pengambilan sampel sebanyak 9 titik dengan menggunakan perangkap jebak dan perangkap nampan kuning. Hasil penelitian menunjukkan lanskap areal budidaya tanaman hortikultura memiliki potensi hama dari kelompok insekta terdiri dari 7 famili, 10 genus, 11 spesies, dan 485 individu. Selain itu, potensi musuh alami dari kelompok insekta terdiri dari 7 famili, 8 genus, 8 spesies, dan 273 individu, serta kelompok Araneae terdiri dari 1 famili, 1 genus, 1 spesies, dan 91 individu individu spesies. Spesies yang berpotensi sebagai hama yakni Phlaeoba sp di lokasi Gunung Amal (44.3%), dan Mamburungan (41%), serta spesies Maladera sp1 di lokasi Juata Permai (67%) dan Kampung 6 (47.2%). Sedangkan, musuh alami yakni Oxyopes salticus di lokasi Gunung Amal (44.3%), dan Juata Permai (41%), serta spesies Rhaphium elegantulum di lokasi Kampung 6 (67%), dan Mamburungan (47,2%). Terdapat perbedaan nilai indeks keanekaragaman antar lokasi penelitian. Lokasi Mamburungan memiliki nilai indeks tertinggi. Selain itu, berdasarkan nilai kekayaan spesies, keanekaragaman Shannon, dan kemerataan indeks keanekeragaman cenderung mempengaruhi komposisi hama, namun tidak untuk potensi musuh alami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS STRUKTUR LANSKAP AREAL BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KEANEKARAGAMAN CAPUNG DI PULAU TARAKAN Ruben Sampe, abdul Rahim Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan Jalan AmaL Lama Nomor 1 Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan, 77123 Email: [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan; (1) melakukan analisis struktur lanskap pada area budidaya tanaman hortikultura berdasarkan SIG di pulau Tarakan; dan (2) mengetahui hubungan karakteristik lanskap dengan keanekaragaman capung (Ordo: Odonata) di pulau Tarakan. Pengambilan contoh capung pada 4 lokasi yakni Tarakan Timur, Tarakan Utara, Tarakan Barat, dan Tarakan Tengah. Selain itu, dilakukan analisi lanskap, pengambilan data suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan Ph air. Indeks keanekaragaman lanskap(H), indeks kekayaan jenis (R), indeks keanekaragaman Shannon (H), indeks kemerataan(E), regresi, diagram venn dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan struktur lanskap terdiri dari beberapa jenis tapak yakni tapak budidaya tanaman sayuran, tanaman buahbuahan, rawa/kolam, pemukiman, hutan sekunder. Indeks keanekaragaman lanskap tertinggi di Tarakan Barat. Komposisi spesies capung di Pulau Tarakan terdiri dari 3 famili, 10 genus, 17 spesies. Indeks kekayaan spesies tertinggi di Tarakan Timur, sedangkan indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan tertinggi di Tarakan Barat. Terdapat hubungan antara keanekaragaman lanskap dan keanekaragman capung, misalnya tanaman sayuran menyebabkan area lebih terbuka dan disukai oleh capung.