ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sungai Bengawan merupakan salah satu aliran sungai di Kota Tarakan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk berbagai aktivitas, seperti kebutuhan rumah tangga, perikanan, dan sumber air baku. Tingginya intensitas pemanfaatan tersebut berpotensi menurunkan kualitas air sungai akibat masuknya bahan pencemar organik maupun anorganik, sehingga diperlukan upaya pemantauan kualitas air, salah satunya melalui pendekatan biologis menggunakan struktur komunitas plankton sebagai bioindikator. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas plankton sebagai bioindikator kualitas air di Sungai Bengawan Kota Tarakan, melalui pengukuran kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi plankton, serta mengkaji hubungannya dengan parameter kualitas air meliputi suhu, pH, Dissolved Oxygen (DO), Biochemical Oxygen Demand (BOD), nitrat, fosfat, dan Total Suspended Solid (TS). Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2026. Penelitian ini dilakukan pada lima stasiun pengamatan yang mewakili bagian hulu, tengah, dan hilir sungai. Sampel plankton diambil menggunakan plankton net dan diidentifikasi menggunakan mikroskop cahaya dengan bantuan Sedgwick–Rafter Counting Chamber. Hasil penelitian menunjukan jumlah spesies pada 5 stasiun berkisar antara 8 hingga 16 spesies plankton. Pada setiap stasiun, didominasi fitoplankton terdiri dari kelompok Bacillariophyceae, Dinoflagellata, dan beberapa jenis zooplankton seperti Rotifera dan Vorticella. Kelimpahan plankton di Sungai Bengawan berkisar antara 55-95 ind/L, dengan nilai tertinggi pada stasiun IV dan terendah pada stasiun 1 dan V. Rata-rata kelimpahan plankton seluruh stasiun yaitu 68 ind/L. Nilai Indeks Keanekaragaman (H') berkisar antara 1,972–2,653 dengan nilai rata-rata 2,398 yang menunjukkan kategori keanekaragaman sedang. Nilai indeks dominansi berkisar antara 0,086-0,1570 dengan rata-rata seluruh stasiun 0,103 termasuk dalam kategori dominansi rendah. Indeks ke seragaman (E) berkisar antara 0,901–1,000 dengan nilai rata-rata 0,975 menunjukkan kategori keseragaman tinggi. Berdasarkan hasil tersebut, kondisi perairan Sungai Bengawan secara umum tergolong tercemar ringan hingga sedang dengan indikator keanekaragaman sedang, keseragaman tiggi, dan dominansi rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis ikan dan mengetahui struktur komunitas ikan berdasarkan indeks keanekaragaman, keseragaman, serta dominansi di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan jaring insang (gillnet), kemudian ikan yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan karakter morfometrik dan meristik. Struktur komunitas dianalisis menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H′), Indeks Keseragaman (E), dan Indeks Dominansi Simpson (C). Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima jenis ikan dari famili yang berbeda, yaitu Mugil cephalus, Megalops cyprinoides, Johnius trachycephalus, ikan putih caranx sp, dan Euristhmus microceps. Nilai indeks keanekaragaman pada ketiga stasiun berkisar 1,500–1,891 dan termasuk kategori rendah. Indeks keseragaman berada pada kisaran 0,913–0,946 yang menunjukkan komunitas dalam kondisi stabil, sedangkan indeks dominansi berkisar 0,284–0,375 dan tergolong rendah. Berdasarkan hasil tersebut, komunitas ikan di kawasan mangrove KKMB Kota Tarakan berada dalam kondisi relatif stabil dengan tingkat dominansi yang rendah, walaupun jumlah jenis yang ditemukan masih terbatas. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dasar untuk mendukung pengelolaan dan konservasi ekosistem mangrove secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Vegetasi mangrove terdiri dari berbagai genus, salah satunya adalah Api-api (Avicennia sp.), yang umumnya mendominasi zona terdepan mangrove dan berhadapan langsung dengan laut. Api-api dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan ekstrem, seperti fluktuasi pasang surut, salinitas tinggi, dan substrat berlumpur. Keberadaan akar napas (pneumatophore) pada Api-api berfungsi untuk meningkatkan aerasi sedimen, menstabilkan substrat, serta meningkatkan akumulasi bahan organik. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang sesuai bagi kehidupan berbagai organisme dasar perairan. Serasah daun dan material organik yang dihasilkan oleh mangrove merupakan sumber energi utama dalam ekosistem mangrove. Bahan organik ini akan terdekomposisi dan dimanfaatkan oleh organisme bentos sebagai sumber makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas makrobentos berdasarkan nilai indeks ekologi yang meliputi Indeks Keanekaragaman (H'), Indeks Kekayaan Jenis (R), Indeks Keseragaman (E), Indeks Dominansi (C) dan Indeks Nilai Penting (INP). Hasil pengamatan menunjukkan nilai-nilai indeks ekologi berturut-turut H’ =0,72; R = 0,67; E = 0,93 dan D = 0,21. Nilai INP untuk setiap jenis makrobentos penyusun komunitas, yaitu Telescopium sp., Urosalpinx sp., Nerita sp., Polymesoda sp. dan Sesarma sp. berturut-turut adalah 80,7 %; 45,7%; 27,1%; 68,2%; 35,2% dan 43,2%. Nilai-nilai indeks ekologi menunjukkan bahwa ada tekanan lingkungan terhadap komunitas, karena dipengaruhi oleh aktivitas budidaya perikanan yang menggunakan bahan kimia, sehingga hanya jenis makrobentos yang memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan yang mampu bertahan hidup. Telescopium sp. berperan sebagai jenis sub-dominan yang mencerminkan keseimbangan ekologis dan adaptasi fisiologis tinggi terhadap tekanan kimiawi dari aktivitas tambak, sementara jenis lain terbatas pada peran minor akibat sensitivitas lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, memiliki ekosistem perairan tawar yang penting bagi masyarakat dan berbagai jenis keanekaragaman hayati ikan, namun habitat alaminya terancam oleh aktivitas tambang batubara dan alih fungsi lahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis ikan serta mengukur indeks kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi di Sungai Semendurut, Sembuak, dan Bengalun, Kabupaten Malinau. Penelitian berlangsung selama tiga bulan (Februari–April 2026) menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui survei dan observasi lapangan. Sampel ikan diambil dengan jala, pukat, pancing, dan speargun pada tiga lokasi pengamatan, sementara parameter lingkungan yang diukur meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, kecepatan arus, dan kecerahan. Analisis data memakai indeks Shannon-Wiener (H'), indeks Odum (E), dan indeks Simpson (C). Hasil menunjukkan 262 individu ikan tertangkap, terdiri dari 20 spesies, 18 genus, dan 10 famili, dengan Cyprinidae sebagai famili terbanyak dan Purut (Lobocheilos falcifer) sebagai spesies dominan (64 individu). Nilai H' berkisar 1,11–2,06 (kategori sedang), E berkisar 0,49–1, dan C berkisar 0,20–0,32 (kategori rendah), menandakan ekosistem perairan di lokasi penelitian masih relatif baik tanpa dominansi spesies tertentu yang berlebihan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Mangrove merupakan ekosistem pesisir yang berperan penting dalam mendukung stabilitas lingkungan serta menopang kehidupan masyarakat pesisir, salah satunya di Kampung Bahari Nusantara (KBN) yang ekosistem mangrovenya masih terjaga kealamiannya. Meskipun kondisi vegetasinya masih tergolong baik, kawasan ini tetap menghadapi tekanan seiring berkembangnya kawasan sekitar, salah satunya berupa minimnya pemahaman masyarakat tentang fungsi ekologis mangrove serta keberadaan dermaga angkatan laut Lantamal XIII Tarakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas mangrove berdasarkan Indeks Kekayaan Spesies, Keanekaragaman, Keseragaman, Dominansi, dan Nilai Penting, serta mengkaji kualitas perairan sebagai pendukungnya. Penelitian dilaksanakan pada Februari - Maret 2026 menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode purposive sampling pada tiga stasiun pengamatan, masing-masing terdiri atas 5 plot berukuran 10×10 m (pohon), 5×5 m (anakan), dan 1×1 m (semai). Hasil penelitian menemukan lima jenis mangrove, yaitu Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Sonneratia alba, dengan indeks kekayaan spesies tergolong rendah di seluruh stasiun (I = 0,539; II = 0,416; III = 0,486), indeks keanekaragaman tergolong rendah di seluruh stasiun (I = 0,272; II = 0,248; III = 0,602), indeks keseragaman Stasiun I dan II tergolong sedang (0,569 dan 0,520) sedangkan Stasiun III tergolong tinggi (0,861), serta indeks dominansi Stasiun I dan II tergolong tinggi (0,669 dan 0,700) sedangkan Stasiun III tergolong sedang (0,306). Sonneratia alba tercatat sebagai spesies paling dominan dengan Indeks Nilai Penting tertinggi 257,7%. Kadar oksigen terlarut tergolong rendah akibat tingginya dekomposisi serasah, sementara salinitas, pH, dan suhu masih dalam kisaran yang mendukung pertumbuhan mangrove. Hasil ini menunjukkan struktur komunitas mangrove di kawasan ini secara keseluruhan mencerminkan ekosistem yang belum stabil secara ekologis, di mana proses suksesi masih berlangsung menuju komunitas yang lebih beragam dan seimbang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tarakan merupakan salah satu wilayah kepulauan di Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki hutan mangrove dengan luas sekitar 1.587 hektare. Namun, dalam kurun waktu lima tahun, terjadi penyusutan luas mangrove sebesar 51,73%. Ekosistem hutan mangrove saat ini menghadapi tekanan yang serius akibat degradasi mangrove yang dilakukan dengan adanya aktivitas manusia seperti pembangunan infrastruktur, konversi lahan menjadi tambak, penebangan liar, serta praktik eksploitasi yang cenderung hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi. Pelestarian hutan mangrove menjadi sangat krusial, mengingat fungsi utama mangrove dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir serta memberikan manfaat ekologis dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat. Penelitian untuk mendukung upaya pelestarian tersebut perlu dilakukan. Penelitian tentang struktur komunitas mangrove telah dilaksanakan pada Febuari-Maret 2026, berlokasi di Kelurahan Kampung Empat Kecamatan Tarakan Timur Kota Tarakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur komunitas mangrove, karena struktur komunitas mangrove memegang peranan penting dalam memahami peran ekologis masing-masing jenis mangrove. Struktur komunitas mangrove dinilai berdasarkan Indeks Keanekaragaman Jenis (H’), Indeks Kekayaan Jenis (R), Indeks Keseragaman Jenis (E), Indeks Dominansi (C) dan Indeks Nilai Penting (INP). Nilai indeks ekologis yang dihasilkan H’ = 0,24; R = 0,43; E = 0,51 dan C = 0,71. INP untuk R. apiculata, S. alba dan A. alba masing-masing berurutan 204.51%; 60.47% dan 35.02%. Lokasi penelitian didominansi oleh R. apiculata. Struktur komunitas mangrove pada area penelitian kurang seimbang, sehingga kondisi lingkungan tidak stabil.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
19.501 hektar mangrove hilang setiap tahun dari total luasan 3,44 juta hektar, dengan sebagian besar berada di kawasan hutan dan sisanya di luar area konservasi sehingga lebih rentan terhadap kerusakan. Upaya pelestarian dan rehabilitasi mangrove merupakan langkah penting untuk memastikan keberlanjutan wilayah pesisir Indonesia. Alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, yang dapat menurunkan kelimpahan makrozoobentos dan berdampak pada berkurangnya kestabilan ekosistem pesisir. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Tibi, Kalimantan Utara pada tanggal 16-18 Januari 2026. Lokasi penelitian merupakan kawasan pertambakan. Pengambilan sampel makrobentos dilakukan sebanyak 9 kali. Struktur komunitas makrobentos dianalisa dengan beberapa indeks ekologi, yaitu, Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Kekayaan spesies (R), Indeks Keseragaman (E), Indeks Dominansi (C), dan Indeks Nilai Penting (INP). Hasil menunjukkan H' 0,71 yang menunjukkan bahwa jumlah spesies yang ditemukan masih sangat terbatas dan distribusi individu antar spesies tidak merata, Nilai R diperoleh 0,74 menunjukkan bahwa bahwa komunitas belum memiliki variasi jenis yang tinggi, sehingga struktur komunitas cenderung sederhana. Nilai E diperoleh 0,92 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan mencolok dalam jumlah individu pada masing-masing spesies. Nilai C dioeroleh 0,22 menunjukkan bahwa tidak ada spesies yang secara signifikan mendominasi komunitas. Distribusi individu yang relatif merata antara spesies menyebabkan tingkat dominansi menjadi kecil, sehingga struktur komunitas terlihat lebih seimbang. Nilai INP secara umum masih rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran masing-masing spesies dalam komunitas bentos belum terlalu besar. Secara ekologis tidak ada satu spesies pun yang benar-benar mendominasi ekosistem. Telescopium dan Nerita memiliki nilai INP lebih tinggi dibandingkan spesies lainnya menunjukkan bahwa keduanya memegang peran ekologis yang cukup besar dalam struktur komunitas makrobentos di ekosistem tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tarakan telah menetapkan ekosistem ini sebagai area konservasi pada tahun 2006 dan memiliki luas sekitar 32 ha. Namun, ekosistem mangrove saat ini menghadapi ancaman besar, terutama penggunaan lahan untuk budidaya tambak. Organisme fauna makrobentos memiliki peran penting sebagai bioindikator kualitas lingkungan, penyeimbang rantai makanan, serta penyedia jasa ekosistem. Komposisi maupun kepadatan fauna makrobentos akan merespon modifikasi mutu habitat melalui penyesuaian diri, tergantung pada tingkat toleransi atau kepekaannya terhadap perubahan lingkungan. Komunitas fauna makrobentos tidak hanya berperan sebagai indikator pencemaran, tetapi juga dapat digunakan sebagai tanda kembalinya fungsi vegetasi mangrove. Hal ini dapat dilakukan dengan menganalisis struktur komunitas fauna makrobentos yang ada dalam lapisan vegetasi mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur komunitas fauna makrobentos yang berasosiasi dengan hutan mangrove berdasarkan nilai indeks ekologisnya. Struktur komunitas fauna makrobentos dinilai berdasarkan Indeks Kekayaan Jenis (R), Indeks Keanekaragaman Jenis (H’), Indeks Keseragaman Jenis (E), Indeks Dominansi (C) dan Indeks Nilai Penting (INP). Nilai indeks ekologis yang dihasilkan R = 0,79; H’ = 0,73; E = 0,81 dan C = 0,21. Indeks ekologi menunjukkan komunitas makrozoobenthos yang berasosiasi dengan hutan mangrove di Kelurahan Kampung Empat memiliki keterbatasan jenis organisme, berada dalam kondisi kurang stabil, distribusi individu antar spesies tergolong merata, tidak ada spesies tertentu yang mendominasi secara ekstrem, sehingga proporsi jumlah individu antar spesies berada dalam kondisi yang relatif seimbang. Tidak terdapat spesies tertentu yang mendominasi komunitas secara berlebihan, mengindikasikan bahwa distribusi kekuasaan antar spesies cenderung tersebar, yang secara otomatis memperkuat interpretasi terhadap rendahnya tekanan dominansi di kawasan tersebut. Secara umum, seluruh spesies yang ditemukan memiliki nilai INP 100%. Rendahnya nilai INP mengindikasikan bahwa tidak ada satu spesies pun yang mendominasi secara mutlak. Hal ini menunjukkan bahwa peran ekologis dan sumber daya makanan terdistribusi secara kompetitif diantara spesies-spesies yang ada.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji struktur komunitas makrobentos pada zona Rhizophora sp. di Pulau Tibi, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, yang mengalami degradasi akibat konversi lahan tambak. Kehilangan mangrove akibat tambak mengancam perlindungan pesisir dari erosi/badai serta biodiversitas makrobentos sebagai pakan/habitat organisme laut. Penelitian ini bertujuan menganalisis Indeks Nilai Penting (INP), struktur komunitas melalui indeks Shannon-Wiener, kekayaan spesies (Menhinick), Indeks keseragaman , Indeks dominansi, serta korelasi dengan parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, DO). Metode deskriptif kuantitatif diterapkan dengan pengambilan sampel di zona Rhizophora sp. menggunakan plot 1×1 m, identifikasi taksonomi, dan perhitungan indeks ekologi standar. Hasil menunjukkan 8 spesies makrobentos dengan Telescopium sp. dominan (INP 115% sedang), H’= 0,719 (rendah), R= 0,816 (rendah), E = 0,796 (stabil), dan C = 0,287 (rendah), dengan fluktuasi air (suhu 29,3-31,4 °C, DO 6-8 mg/L, Ph 7-8,5, Salinitas 16-20). Secara keseluruhan, komunitas makrobentos di zona Rhizophora sp. Pulau Tibi berada dalam kondisi stabil namun sangat rentan terhadap tekanan lingkungan akibat limbah aktivitas tambak dan dinamika muara. Penelitian ini memberikan data baseline spesifik yang krusial untuk inventarisasi hayati serta acuan perencanaan program konservasi dan rehabilitasi mangrove regional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Kabupaten Bulungan dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil udang windu di Indonesia, dengan luas lahan tambak yang paling besar di Provinsi Kalimantan Utara. Faktor pendukung utama yang menentukan keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon) pada sistem tambak tradisional yakni kualitas air dan keberadaan plankton. Plankton memiliki peran penting sebagai produsen primer dan indikator kesuburan perairan, sehingga berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter fisika-kimia air dan struktur komunitas plankton pada tambak udang windu di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel air dan plankton di lima lokasi tambak, yaitu Pulau Kepiting, Pulau Tengkolang, Pulau Berasan, Pulau Tanjung Karis, dan Desa Salimbatu. Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut (DO), nitrat, fosfat, nitrit, dan amoniak. Data dibandingkan dengan baku mutu air tambak berdasarkan Permen KP No. 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas air berada dalam kisaran baku mutu, meskipun suhu, amoniak (0,31–0,54 mg/L), dan nitrit (0,02–0,034 mg/L) sedikit melebihi ambang batas. Struktur komunitas plankton menunjukan kelimpahan sebesar 2.482 sel+ind/sel jumlah ini berada pada kategori rendah. Nilai indeks keanekaragaman (H′) sedang serta indeks keseragaman (E) yang relatif tinggi dan terdapat jenis plankton yang mendominasi yaitu Oscillatoria (fitoplankton) dan Cyclops (zooplankton). Hal ini menunjukkan kondisi perairan tambak yang masih tergolong stabil dan produktif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kelurahan Pantai Amal, Tarakan Timur, Kota Tarakan, merupakan daerah pesisir yang sebagian besar wilayahnya ditutupi ekosistem mangrove dan termasuk dalam kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas mangrove di Pantai Amal Lama melalui pengukuran kerapatan, frekuensi, dominansi, serta perhitungan indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dan dominansi (C). Pengambilan data dilakukan dengan metode transek kuadrat dan teknik purposive sampling pada 15 stasiun, masing-masing memiliki tiga transek berukuran 10×10 m untuk pohon, 5×5 m untuk anakan, dan 1×1 m untuk semai. Parameter lingkungan yang diukur meliputi salinitas dan pH air, sedangkan analisis menggunakan formula Bengen (2004) untuk menentukan kerapatan, frekuensi, dominansi relatif, dan Indeks Nilai Penting (INP). Hasil penelitian menunjukkan Sonneratia sp. merupakan jenis paling dominan dengan nilai INP tertinggi 296,05%, sedangkan Rhizophora sp dan Avicennia sp terbatas. Nilai H’ 2,0, E 0,50–0,75, dan C 0,903–0,924 menandakan dominasi satu spesies. Dengan salinitas rata-rata 26 ppt dan pH 7,4–7,6, kondisi masih sesuai untuk pertumbuhan mangrove. Disarankan rehabilitasi Penanaman Jenis Avicennia sp dan Rizophora sp guna menjaga keseimbangan ekosistem serta edukasi masyarakat penting untuk mendukung pelestarian mangrove dan keberlanjutan sosial-ekonomi di wilayah pesisir.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mangrove ecosystems play a vital role in sustaining life. These ecosystems are commonly found in most Indonesian archipelago coastal areas. Mangrove ecosystems provide habitats for various organisms to feed, breed, and spawn. This study aims to investigate the structure of the mangrove community on Malu Island in Bulungan Regency. Environmental factors influencing the area's distribution and diversity of mangroves include salinity levels of 20 ppt and a pH value of 6.12. Impact of traditional aquaculture activities on mangroves The method was the line transect method. A line transect was drawn along a 100-meter stretch at each station, and at each transect, a 10m x 10m plot was established. The mangrove species found at the study site included Nypa Fruticans, Sonneratia sp, and Rhizophora sp. The mangrove community structure included a mangrove diversity index of 0.314, an evenness index (E) of 0.285, and a dominance index (C) of 0.592.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Pulau Balikukup memiliki sebaran laman yang luas serta daerah yang luas sebagai komunitas ikan. Sampai saat ini belum adaa informasi lengkap mengenai struktur komunit ikan yang terdapat pada ekosistem padang lamun di perairan Pulau Balikukup. Tujuan dari penelitian ini, dapat megidentifikasi jeni - jenis ikan, dan mengetahui tingkat keanekaragaman serta karakteristik ekologi ikan padang lamun di perairan Pulau Balikukup. Penelitian ini telah di laksanakan pada bulan Februari - Maret 2023. Pengambilan sampel di lakukan dengan mengunakan alat tangkap jaring insang serta di operasikan dalam bentuk lingkarang di setiap 8 stasiun. Terdapat 6 jenis lamun yang di temukan di perairan Pulau Balikukup, dan struktur komunitas ikan terdapat 64 jenis dari 23 famili dan 562 individu. Secara umum nilai keanekaragaman ikan termasuk dalam kategori sedang, dengan keseragaman yang labil dan dominansi yang rendah. Parameter kualitas air juga sanagat mendukung kondisi perairan bagi ikan, parameter yang di ukur yaitu, pH, Suhu, DO, Salinitas dan Arah dan kecepatan arus. Ekologi ikan yang terdapat di ekosistem padang lamun dapat dinyatakan bahwa tidak semua jenis atau famili ikan adalah penghuni tetap, sedangkan famili dari Gerreidae diyatakan adalah penghuni tetap pada ekosistem padang lamun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Perairan sungai menjadi pusat ekosistem tempat tumbuh dan berkembangnya berbagai jenis biota. Adanya aktivitas masyarakat di daerah aliran sungai berpotensi menyebabkan pencemaran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pencemaran perairan di Sungai Pamusian (Stasiun I), Sungai Sebengkok (Stasiun II), dan Sungai Kampung Bugis (Stasiun III) dengan menganalisis struktur komunitas plankton sebagai bioindikator kualitas air. Metode pada penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian diperoleh jenis fitoplankton yang di temukan pada 3 Sungai lokasi penelitian terdiri 5 kelas fitoplankton yaitu kelas Bacillariophyceae, Coscinodiscophyceae, Cyanophyceae, Mediophyceae dan Dinophyceae serta 1 kelas zooplankton yaitu Crustacea. Jenis fitoplankton yang paling banyak di temukan yaitu dari kelas Bacillariophyceae dan Cyanophyceae. Nilai kelimpahan fitoplankton pada lokasi penelitian berturut-turut yaitu 42 sel/L, 13 sel/L dan 20 sel/L. Kelimpahan zooplankton pada lokasi penelitian berturut-turut yaitu 8 ind/L, 4 ind/L dan 5 ind/L. Kelimpahan plankton pada perairan ini termasuk dalam kategori kesuburan rendah. Nilai Indeks keanekaragaman fitoplankton pada lokasi penelitian berturut-turut yaitu 2,614; 2,598; 2,470 dengan kategori kesuburan tinggi. Nilai indeks keanekaragaman zooplankton berturut-turut yaitu 1,305; 1,040; 1,055 termasuk dalam kategori kesuburan sedang. Nilai Indeks Keseragaman fitoplankton berturut-turut yaitu 0,888; 0,959; 0,912, sedangkan nilai ndeks keseragaman zooplankton berturut-turut 0,941; 1, 057; 0,960 artinya tidak ada jenis yang mendominansi. Nilai indeks dominansi fitoplankton berturut-turut 0,028; 0,021; 0,030 dan zooplankton berturut-turut 0,094; 0,094; 0,090 menunjukkan tidak ada spesies tertentu yang mendominansi. Indeks saprobitas pada stasiun I dan II berturut-turut yaitu 2,0 dan 2,5 termasuk kategori pencemaran sangat ringan dengan fase saprobitas olisaprobik, sedangkan stasiun III memiliki indeks saprobitas 0,75 termasuk kategori pencemaran ringan dengan fase saprobitas mesosaprobik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Plankton terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu plankton tumbuhan (fitoplankton) dan plankton hewani (zooplankton). Plankton merupakan salah satu organisme di suatu perairan yang sangat penting dalam menentukan kesuburan pada suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas plankton yang terdiri dari kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi dengan kondisi kualitas perairan di Sungai Malinau Kecamatan Malinau Kota Kabupaten Malinau. Penelitian dilakukan pada tanggal 7 hingga 28 Desember 2019. Pengambilan sampel plankton dilakukan 3 stasiun pengamatan yaitu stasiun 1 Tikungan Sungai Malinau di Desa Malinau Hulu, stasiun 2 Percabangan Sungai Malinau di Desa Malinau Seberang, dan stasiun 3 Kawasan Penambangan Pasir dan Kerikil Malinau Kota. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan. Kelimpahan Fitoplankton didapatkan berkisar 1-9 sel/L. Kelimpahan zooplankton didapatkan berkisar 2-5 Ind/L. Indeks keanekaragaman fitoplankton berkisar 0,996-1,446. Indeks keanekaragaman zooplankton berkisar 0,524-1,097. Indeks keseragamaan fitoplankton berkisar 0,849 – 0,957. Indeks keseragamaan zooplankton berkisar 0,757 – 0,973. Indeks dominansi fitoplankton berkisar 0, 278 – 0, 406. Indeks dominansi zooplankton berkisar 0,343 – 0,525. Kelimpahan plankton di Sungai Malinau termaksuk dalam kategori rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Plankton merupakan parameter biologi yang dapat dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui kualitas dan tingkat kesuburan suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas plankton yang ada di perairan Pantai Amal Lama Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan, mulai bulan Juni sampai Agustus 2021, dilakukan pada 2 stasiun dimana stasiun 1 daerah muara Sungai Mambulua dan stasiun 2 kawasan mangrove. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriftif kuantitatif dengan mempelajari objek secara mendalam pada waktu, tempat serta populasi yang terbatas sehingga dapat memberikan gambaran tentang situasi dan kondisi. Kelimpahan fitoplankton pada stasiun 1 berkisar 1000-25.500 sel/L dan stasiun 2 berkisar 2000-50.000 sel/L. Kelimpahan zooplankton pada stasiun 1 berkisar 1000-13.500 ind/L dan stasiun 2 berkisar 1000-21.000 ind/L. Keanekaragaman fitoplankton pada stasiun 1 berkisar 0,67-2,40 sel/L dan stasiun 2 berkisar 0,56-2,31 sel/L. Keanekaragaman zooplankton pada stasiun 1 berkisar 0,35-1,27 ind/L dan stasiun 2 berkisar 0,00-1,27 ind/L. Keseragaman fitoplankton pada stasiun 1 berkisar 0,39-1,00 sel/L dan stasiun 2 berkisar 0,38-0,83 sel/L. keseragaman zooplankton pada stasiun 1 berkisar 0,16-1,00 ind/L dan stasiun 2 berkisar 0,00-1,00 ind/L. Dominansi fitoplankton pada stasiun 1 berkisar 0,12-0,52 dan stasiun 2 berkisar 0,12-0,63. Dominansi zooplankton pada stasiun 1 berkisar 0,31-0,80 dan stasiun 2 berkisar 0,33-1,00. Kelimpahan yang dihasilkan menggambarkan tingkat kesuburan perairan tergolong tinggi dan termasuk perairan eutrofik. Keanekaragaman termasuk kategori sedang untuk jenis fitoplankton dan kategori rendah dari jenis zooplankton. Keseragaman fitoplankton tinggi tergolong stabil dan keseragaman zooplankton rendah dalam kategori tidak stabil. Dominansi fitoplankton tidak terdapat jenis yang mendominansi dan dominansi zooplankton terdapat jenis yang mendominansi disuatu perairan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Plankton yang terdiri dari fitoplankton dan zooplankton memiliki peran yang sangat penting di perairan yaitu sebagai bioindikator dalam menentukan tingkat kesuburan perairan dan juga sebagai pakan alami bagi biota perairan, terutama dalam proses budidaya tambak tradisional. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui struktur komunitas plankton pada Tambak Tradisional di Desa Tanjung Buka Kabupaten Bulungan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2021. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kuantitatif. Penentuan lokasi dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan memilih 4 lokasi sampling yang mewakili Perairan Tambak Tradisional dengan 4 kali pengambilan sampel selama 1 bulan. Hasil dari penelitian ini diperoleh kelimpahan fitoplankton 60.000-495.500 sel/liter, masuk kriteria perairan eutrofik dengan unsur hara tinggi, keanekaragaman jenis fitoplankton 2,30-2,69 kestabilan komunitas sedang, keseragaman fitoplankton tinggi dengan nilai 0,75-0,96, dan dominansi rendah dengan nilai 0,1-0,2 artinya tidak ada genus yang mendominasi genus lain. Kelimpahan dalam tambak masuk kriteria mesotrofik unsur hara sedang dengan nilai 3.000-13.000 sel/liter. Sedangkan perairan luar tambak termasuk perairan eutrofik kaya akan unsur hara dengan nilai 6.500-24.000, keanekaragaman jenis zooplankton 0,38-1,12 komunitas tidak stabil, keseragaman zooplankton tinggi dengan nilai 0,50-0,97, dan dominansi tinggi dengan nilai 0,4-0,8 artinya ada satu genus yang mendominasi di perairan tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Struktur komunitas plankton di Perairan Tanjung Batu Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara masih kurang dilakukan. Maka dari itu perlu dilakukan suatu pengkajian tentang struktur komunitas plankton khususnya di Perairan Tanjung Batu Kota Tarakan sehingga dapat diketahui jenis plankton yang terdapat di perairan tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui struktur komunitas plankton (kelimpahan plankton, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi) yang berada di Perairan Tanjung Batu Kota Tarakan, dan untuk mengetahui kondisi lingkungan perairan dari habitat plankton di Perairan Tanjung Batu Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Metode penelitian dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan survei dan laboratorium. Penelitian ini dilakukan selama ± 3 (tiga) bulan dari bulan Februari - April 2021. Hasil pengamatan dan identifikasi plankton yang banyak ditemukan di perairan Tanjung Batu Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara yaitu pada kelas Bacillarophyceae untuk jenis fitoplankton dan Crustacea untuk jenis zooplankton. Kelimpahan plankton tergolong dalam kelimpahan rendah, indeks keanekaragaman pada kedua stasiun termasuk dalam kategori nilai keanekaragaman sedang dan kestabilan komunitas sedang, indeks keseragaman tergolong dalam kategori indeks keseragaman merata dengan komunitas yang stabil, indeks dominansi tidak terdapat spesies yang mendominasi. Sebaran pada parameter kualitas air tidak menunjukkan perbedaan nilai signifikan antara stasiun. Nilai suhu dan pH di Perair tergolong dalam kategori optimal untuk pertumbuhan plankton, kecerahan tergolong dalam kategori rendah, nilai salinitas termasuk dalam kondisi baik bagi perairan, nilai nitrat tergolong dalam kesuburan perairan tinggi sedangkan nilai fosfat tergolong dalam kesuburan perairan sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gastropoda dan bivalvia merupakan hewan intervetebrata dan anggotanya termasuk moluska bertubuh lunak. Gastropoda dan bivalvia memiliki cangkang sebagai pelindung tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur komunitas Mollusca di perairan Tanjung Buka Kabupaten Bulungan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2021 - April 2021. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara clam trowl. Terdapat 3 spesies bivalvia dan 7 spesies gastropoda. Indeks keanekaragaman (H) sebesar 0,01, indeks Evernnes (e) sebesar 0,01 dan indeks dominasi (C) sebesar 0,99. Nilai ini menunjukkan bahwa semakin mendekati satu, maka ada organisme yang mendominasi ekosistem perairan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas Echinodermata berdasarkan indeks kelimpahan dan kemerataan Echinodermata di perairan Pulau Derawan menjadi potensi implementasi terhadap pembelajaran Biologi Kelas X SMA. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Lokasi penelitian terbagi menjadi enam stasiun penelitian. Setiap stasiun terdiri dari empat transek dengan masing-masing panjang transek kurang lebih 110 meter dengan masing-masing ukuran plot 1x1 m2. Parameter yang diukur yaitu Kelimpahan dan Kemerataan Echinodermata. Parameter penunjang berupa faktor lingkungan yang meliputi suhu, pH, salinitas, Total Dissolve Solid (TDS) dan Dissolved oxsigen (DO). Hasil penelitian Echinodermata di perairan Pulau Derawan ditemukan delapan spesies di antaranya yaitu Archaster typicus, Linckia leavigata, Nardoa tuberculata, Diadema setosum, Echinothrix calamaris, Leganum leganum, Holothuria atra dan Synapta maculata. Indeks kelimpahan spesies dari Filum Echinodermata di perairan Pulau Derawan yang tergolong tinggi terdapat pada spesies Diadema setosum dengan nilai kelimpahan 60.33%. kelimpahan Echinodermata yang yang tergolong sedang terdapat pada spesies Archaster typicus sebesar 19.48% dan Leganum leganum sebesar 17.81%. Sedangkan kelimpahan yang tergolong rendah terdapat pada spesies Linckia leavigata sebesar 0.48%, Echinothrix calamaris sebesar 1.19%, Nardoa tuberculata, Holothuria atra dan Synapta maculata dengan nilai masing-masing sebesar 0.24%. Indeks kemerataan Echinodermata di perairan Pulau Derawan sebesar 0.505 yang berarti tergolong tidak stabil. Selanjutnya dilakukan analisis keterkaitan penelitian struktur komunitas Echinodermata dengan pembelajaran Biologi. Hasil analisis keterkaitan penelitian struktur komunitas Echinodermata dengan pembelajaran Biologi, terdapat pada materi animalia invertebrata kelas X SMA dengan Kompetensi Dasar (KD) 3.8 dan 4.8. Langkah pemanfaatan hasil penelitian menjadi potensi implementasi pada pembelajaran biologi, antara lain: (1) kejelasan potensi; (2) kesesuaian dengan tujuan pembelajaran; (3) kejelasan sasaran; (4) kejelasan pedoman eksplorasi; (5) kejelasan perolehan yang ingin dicapai.