STUKTUR KOMUNITAS FAUNA MAKROBENTOS PADA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KELURAHAN KAMPUNG EMPAT KOTA TARAKAN
Tarakan telah menetapkan ekosistem ini sebagai area konservasi pada tahun 2006 dan memiliki luas sekitar 32 ha. Namun, ekosistem mangrove saat ini menghadapi ancaman besar, terutama penggunaan lahan untuk budidaya tambak. Organisme fauna makrobentos memiliki peran penting sebagai bioindikator kualitas lingkungan, penyeimbang rantai makanan, serta penyedia jasa ekosistem. Komposisi maupun kepadatan fauna makrobentos akan merespon modifikasi mutu habitat melalui penyesuaian diri, tergantung pada tingkat toleransi atau kepekaannya terhadap perubahan lingkungan. Komunitas fauna makrobentos tidak hanya berperan sebagai indikator pencemaran, tetapi juga dapat digunakan sebagai tanda kembalinya fungsi vegetasi mangrove. Hal ini dapat dilakukan dengan menganalisis struktur komunitas fauna makrobentos yang ada dalam lapisan vegetasi mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur komunitas fauna makrobentos yang berasosiasi dengan hutan mangrove berdasarkan nilai indeks ekologisnya. Struktur komunitas fauna makrobentos dinilai berdasarkan Indeks Kekayaan Jenis (R), Indeks Keanekaragaman Jenis (H’), Indeks Keseragaman Jenis (E), Indeks Dominansi (C) dan Indeks Nilai Penting (INP). Nilai indeks ekologis yang dihasilkan R = 0,79; H’ = 0,73; E = 0,81 dan C = 0,21. Indeks ekologi menunjukkan komunitas makrozoobenthos yang berasosiasi dengan hutan mangrove di Kelurahan Kampung Empat memiliki keterbatasan jenis organisme, berada dalam kondisi kurang stabil, distribusi individu antar spesies tergolong merata, tidak ada spesies tertentu yang mendominasi secara ekstrem, sehingga proporsi jumlah individu antar spesies berada dalam kondisi yang relatif seimbang. Tidak terdapat spesies tertentu yang mendominasi komunitas secara berlebihan, mengindikasikan bahwa distribusi kekuasaan antar spesies cenderung tersebar, yang secara otomatis memperkuat interpretasi terhadap rendahnya tekanan dominansi di kawasan tersebut. Secara umum, seluruh spesies yang ditemukan memiliki nilai INP 100%. Rendahnya nilai INP mengindikasikan bahwa tidak ada satu spesies pun yang mendominasi secara mutlak. Hal ini menunjukkan bahwa peran ekologis dan sumber daya makanan terdistribusi secara kompetitif diantara spesies-spesies yang ada.