.
.
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
.
Ketersediaan air bersih yang memenuhi standar kualitas merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kota Tarakan air sumur bor masih menjadi sumber utama bagi masyarakat yang belum terlayani oleh saluran air perpipaan. Namun, kualitas air sumur bor belum dipantau secara rutin, sehingga berpotensi mengalami kontaminasi yang dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan sistem pemantau kualitas air dari sumur bor berbasis internet of things untuk mendukung deteksi dini kontaminasi Lingkungan. Sistem dikembangkan menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pengendali utama yang terintegrasi dengan empat sensor, yaitu sensor pH (4502c), sensor kekeruhan (SEN0189) , sensor TDS (Total Dissolved Solids), dan sensor warna (TCS3200). Data hasil pengukuran dikirim ke Firebase Realtime Database dan ditampilkan melalui dashboard berbasis website untuk memudahkan pemantauan jarak jauh. Pengujian sistem meliputi kalibrasi sensor, pengujian performa komunikasi data, serta implementasi metode rule-based system yang mengacu pada standar baku mutu kualitas air bersih sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2 Tahun 2023. Hasil kalibrasi sensor menunjukkan bahwa sensor pH memiliki nilai rata-rata error sebesar 1,13%, TDS memiliki rata-rata error sebesar 2,02%, sensor kekeruhan dan warna (TCS3200) memiliki rata-rata error sebesar 0%. Berdasarkan 30 data hasil pengujian pada dua sumur bor, sistem mengidentifikasi bahwa kualitas air tidak memenuhi kriteria kelayakan sehingga diklasifikasikan sebagai “Tidak Layak” dikarenakan salah satu parameter pengukuran melebihi ambang batas yang ditetapkan pada rule-based system yaitu, pada nilai kekeruhan sebesar 147 NTU dan TDS sebesar 507 ppm. Pengujian performa komunikasi data menunjukkan nilai packet loss sebesar 0% dan rata-rata latency sebesar 2,078 ms, yang menujukkan bahwa seluruh data berhasil dikirim dan diterima tanpa kehilangan paket selama proses pengujian. Dengan demikian, sistem pemantau kualitas air dari sumur bor berbasis IoT yang dikembangkan mampu melakukan pengukuran secara akurat, mendukung proses pemantauan kualitas air secara real-time, serta membantu deteksi dini terhadap potensi kontaminasi lingkungan.
19.501 hektar mangrove hilang setiap tahun dari total luasan 3,44 juta hektar, dengan sebagian besar berada di kawasan hutan dan sisanya di luar area konservasi sehingga lebih rentan terhadap kerusakan. Upaya pelestarian dan rehabilitasi mangrove merupakan langkah penting untuk memastikan keberlanjutan wilayah pesisir Indonesia. Alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, yang dapat menurunkan kelimpahan makrozoobentos dan berdampak pada berkurangnya kestabilan ekosistem pesisir. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Tibi, Kalimantan Utara pada tanggal 16-18 Januari 2026. Lokasi penelitian merupakan kawasan pertambakan. Pengambilan sampel makrobentos dilakukan sebanyak 9 kali. Struktur komunitas makrobentos dianalisa dengan beberapa indeks ekologi, yaitu, Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Kekayaan spesies (R), Indeks Keseragaman (E), Indeks Dominansi (C), dan Indeks Nilai Penting (INP). Hasil menunjukkan H' 0,71 yang menunjukkan bahwa jumlah spesies yang ditemukan masih sangat terbatas dan distribusi individu antar spesies tidak merata, Nilai R diperoleh 0,74 menunjukkan bahwa bahwa komunitas belum memiliki variasi jenis yang tinggi, sehingga struktur komunitas cenderung sederhana. Nilai E diperoleh 0,92 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan mencolok dalam jumlah individu pada masing-masing spesies. Nilai C dioeroleh 0,22 menunjukkan bahwa tidak ada spesies yang secara signifikan mendominasi komunitas. Distribusi individu yang relatif merata antara spesies menyebabkan tingkat dominansi menjadi kecil, sehingga struktur komunitas terlihat lebih seimbang. Nilai INP secara umum masih rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran masing-masing spesies dalam komunitas bentos belum terlalu besar. Secara ekologis tidak ada satu spesies pun yang benar-benar mendominasi ekosistem. Telescopium dan Nerita memiliki nilai INP lebih tinggi dibandingkan spesies lainnya menunjukkan bahwa keduanya memegang peran ekologis yang cukup besar dalam struktur komunitas makrobentos di ekosistem tersebut.
19.501 hektar mangrove hilang setiap tahun dari total luasan 3,44 juta hektar, dengan sebagian besar berada di kawasan hutan dan sisanya di luar area konservasi sehingga lebih rentan terhadap kerusakan. Upaya pelestarian dan rehabilitasi mangrove merupakan langkah penting untuk memastikan keberlanjutan wilayah pesisir Indonesia. Alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, yang dapat menurunkan kelimpahan makrozoobentos dan berdampak pada berkurangnya kestabilan ekosistem pesisir. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Tibi, Kalimantan Utara pada tanggal 16-18 Januari 2026. Lokasi penelitian merupakan kawasan pertambakan. Pengambilan sampel makrobentos dilakukan sebanyak 9 kali. Struktur komunitas makrobentos dianalisa dengan beberapa indeks ekologi, yaitu, Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Kekayaan spesies (R), Indeks Keseragaman (E), Indeks Dominansi (C), dan Indeks Nilai Penting (INP). Hasil menunjukkan H' 0,71 yang menunjukkan bahwa jumlah spesies yang ditemukan masih sangat terbatas dan distribusi individu antar spesies tidak merata, Nilai R diperoleh 0,74 menunjukkan bahwa bahwa komunitas belum memiliki variasi jenis yang tinggi, sehingga struktur komunitas cenderung sederhana. Nilai E diperoleh 0,92 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan mencolok dalam jumlah individu pada masing-masing spesies. Nilai C dioeroleh 0,22 menunjukkan bahwa tidak ada spesies yang secara signifikan mendominasi komunitas. Distribusi individu yang relatif merata antara spesies menyebabkan tingkat dominansi menjadi kecil, sehingga struktur komunitas terlihat lebih seimbang. Nilai INP secara umum masih rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran masing-masing spesies dalam komunitas bentos belum terlalu besar. Secara ekologis tidak ada satu spesies pun yang benar-benar mendominasi ekosistem. Telescopium dan Nerita memiliki nilai INP lebih tinggi dibandingkan spesies lainnya menunjukkan bahwa keduanya memegang peran ekologis yang cukup besar dalam struktur komunitas makrobentos di ekosistem tersebut.