Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Subjek: Dayak Tenggalan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGAKUAN MASYARAKAT ADAT DAYAK TENGGALAN ATAS WILAYAH ULAYAT YANG TUMPANG TINDIH DENGAN KAWASAN HUTAN LINDUNG DAN HAK GUNA USAHA (HGU)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan tumpang tindih antara wilayah ulayat masyarakat adat Dayak Tenggalan dengan kawasan hutan lindung serta Hak Guna Usaha (HGU), yang menimbulkan ketidakpastian hukum dan potensi pelanggaran hak masyarakat adat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kedudukan pengakuan masyarakat adat Dayak Tenggalan atas wilayah ulayat yang berbenturan dengan kawasan hutan lindung dan HGU serta untuk menganalisis konsekuensi hukum yang timbul dari tumpang tindih tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis empiris yang dilengkapi dengan penelitian lapangan (fieldresearch). Data diperoleh melalui kajian peraturan perundang-undangan, dokumen hukum terkait, serta wawancara dengan para pemangku kepentingan. Analisis data dilakukan secara kualitatif untuk menghasilkan pemahaman mendalam mengenai aspek hukum pengakuan dan implikasi tumpang tindih wilayah ulayat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat adat Dayak Tenggalan dalam peraturan perundang-undangan masih terbatas dan belum mengakomodasi secara memadai keberadaan wilayah ulayat yang tumpang tindih dengan kawasan hutan lindung dan HGU.Tumpang tindih tersebut mengakibatkan konflik kepentingan yang berdampak pada pembatasan akses masyarakat adat terhadap sumber daya alam serta berpotensi menimbulkan pelanggaran hak asasi. Konsekuensi hukum dari kondisi ini meliputi ketidakjelasan status hukum wilayah ulayat, risiko sengketa administratif, dan pelanggaran terhadap prinsip penghormatan hak masyarakat adat. Penelitian ini merekomendasikan perlunya harmonisasi regulasi dan penguatan mekanisme pengakuan hukum terhadap hak ulayat masyarakat adat dalam tata kelola hutan untuk mewujudkan kepastian hukum serta keadilan bagi masyarakat adat Dayak Tenggalan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Bentuk dan Makna Kata Ulang Bahasa Dayak Tenggalan di Desa Mansalong Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara (Kajian Morfologi)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

BENTUK DAN MAKNA KATA ULANG BAHASA DAYAK TENGGALAN DI DESA MANSALONG KABUPATEN NUNUKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA (KAJIAN MORFOLOGI). ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk dan makna kata ulang dalam bahasa Dayak Tenggalan di Desa Mansalong. Data berupa bentuk dan makna kata ulang dalam bahasa Dayak Tenggalan. Sumber data penelitian ini adalah masyarakat Desa Mansalong yang bertempat tinggal di Rt 01 dan Rt 03 yang telah dipilih menjadi narasumber dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, teknik rekam, dan teknik catat. Teknik analisis data menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung (BUL).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya reduplikasi atau kata ulang yang terdiri atas 3 bentuk kata ulang, yaitu kata ulang utuh, kata ulang sebagian dan kata ulang berimbuhan dengan masing-masing perolehan, yaitu kata ulang utuh 22, kata ulang sebagian 5, kata ulang berimbuhan 8. Sedangkan makna kata ulang terdiri atas 4 klasifikasi, yaitu kata ulang bermakna “banyak” 4, kata ulang bermakna “perbuatan” 3, kata ulang bermakna “agak” 1, dan kata ulang bermakna intensif “kualitatif” 3 yang berasal dari 3 narasumber di Desa Mansalong. Jumlah keseluruhan data yang diperoleh dari penelitian kata ulang Bahasa Dayak Tenggalan di Desa Mansalong sebanyak 35 data reduplikasi. Dari ketiga klasifikasi ini, Kata ulang utuh lebih dominan daripada kata ulang yang lainnya, alasannya terdapat banyak pengulangan utuh yang digunakan dalam berkomunikasi sehari-harinya.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail