ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KARAKTERISTIK PRODUK FERMENTASI TELU DARI IKAN PATIN (PANGASIUS SP.) SEBAGAI MAKAN KHAS SUKU DAYAK DI KALIMANTAN UTARA Abstrak Ikan patin (Pangasius sp.) merupakan salah satu ikan konsumsi air tawar yang umum dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Patin di Indonesia dapat dikonsumsi menjadi berbagai pengolahan baik secara moderen maupun tradisional. Salah satu pengolahan tradisional yang banyak dilakukan di Indonesia adalah produk fermentasi. Tujuan fermentasi pangan awalnya adalah untuk mengawetkan pangan yang bersifat musiman dan mudah rusak. Telu merupakan fermentasi ikan air tawar melalui proses penggaraman dan penambahan karbohidrat seperti beras atau singkong rebus, kemudian didiamkan selama kurang lebih satu minggu. Telu biasa dikomsumsi oleh masyarakat di daerah Kabupaten Malinau sebagai makanan tradisional khas suku Dayak Lundayeh. Proses pembuatan telu ikan patin mengacu pada tata cara tradisional yang dilakukan oleh suku dayak di Kalimantan utara. Telu ikan patin yang dihasilkan selanjutnya dikarakterisasi melalui kadar protein, kadar garam, nilai pH, dan asam amino. Hasil pengujian pada Daging fermentasi telu menunjukkan nilai Kadar Protein: 19,68, Kadar Garam: 0,16, pH: 4,75, Asam Amino: 489.610,98. Dengan demikian, produk telu fermentasi menunjukkan kualitas nutrisi dan keamanan yang baik, serta memperoleh manfaat dari proses fermentasi berupa peningkatan ketersediaan protein dalam bentuk asam amino.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Produksi ikan patin pada tahun 2015- 2019 mengalami kenaikan rata-rata mencapai 10,40%, tetapi hal ini belum mencapai target produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan benih ikan patin dari induk yang telah diperbaiki sistem reproduksinya dengan konsep epigenetik melalui uji tantang menggunakan pH ekstrim. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 jenis benih dari induk yang telah diperbaiki sistem reproduksinya dengan 3 perbedaan uji tantang (pH 3 dan 10) dan 3 ulangan. Benih ikan patin yang digunakan berumur 1 bulan, dari induk yang telah diberi campuran pakan tepung kunyit, ekstrak daun katuk dan vitamin C. pH media pemeliharaan diatur dengan menggunakan NaOH untuk meningkatkan pH dan HCl untuk menurunkan pH. Pengukuran parameter meliputi tingkah laku, bukaan operkulum, perubahan bobot tubuh ikan, dan mortalitas. Hasil penelitian menunjukkan bukaan Operculum pada perlakuan pH 3 kontrol (131 ± 29,84 kali), katuk-kunyit (197 ± 9,24 kali), Katuk-vitamin C (150 ± 8,12 kali), pH 10 kontrol (194 ± 1,49 kali), katuk-kunyit (172 ± 5,27 kali) Katuk- vitamin C (190 ± 1,94 kali).Perubahan bobot tubuh ikan pada pH 3 kontrol (0,18 ± 0,05 gr), katuk-kunyit (0,40 ± 0,06 gr) katuk-vitamin C (0,33 ± 0,11 gr), pH 10 kontrol (0,18 ± 0,05 gr), katuk-kunyit (0,48 ± 0,09 gr) katuk-vitamin C (0,45 ± 0,17 gr), Mortalitas pada pH 3 kontrol (100 ± 0,0%), Katuk kunyit (58 ± 2,5%) Katuk-Vitamin C (67 ± 15,26%). pH 10 kontrol (6 ± 2,5%), katuk-kunyit (1 ± 1,0%), katuk-vitamin (31 ± 7,7%). Hasil penelitian dapat disimpulkan dari 3 perlakuan yang dilakukan setelah dilakukan uji tantang pH tinggi, hasil terbaik di peroleh pada perlakuan Katuk-kunyit dan disusul dengan Katuk-Vitamin C, yang dilihat dari bukaan operkulum, tingkah laku, perubahan bobot tubuh, dan tingkat mortalitas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UJI BENIH IKAN PATIN SIAM (PANGASIONODON HYPOPTHALMUS) DARI INDUK UNGGUL HASIL EPIGENETIK DENGAN SALINITAS TINGGI Abstrak Upaya peningkatan produksi ikan patin dilakukan dengaqn beberapa cara seperti perbaikan kondisi lingkungan budidaya, peningkatan kualitas pakan, hibridisasi, manipulasi genetik, dan manipulasi hormon. Peningkatan kualitas pakan dapat dilakukan dengan modifikasi pakan komersil. Modifikasi pakan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan penggunaan bahan alam seperti katuk dan vitamin C. Untuk mengetahui benih itu unggul maka dilakukan uji tantang menggunakan salinitas tinggi (15 ppt). Penelitian ini bertujuan mengetahui ketahanan benih ikan patin siam dari induk yang telah diperbaiki sistem reproduksinya dengan konsep epigenitik melalui uji tantang menggunakan salinitas tinggi (15 ppt). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2023 - November 2023. Metode yang digunakan adalah metode RAL, pada penelitian ini menggunakan ikan patin siam sebanyak 25 ekor per akuarium dan di uji selama 1 jam pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan daya tahan ikan patin siam dari pengamatan fisiologis memiliki perbedaan pada setiap perlakuan. Rata-rata bukaan operkulum pada salinitas tinggi (15 ppt) yaitu kontro (162,00 ± 4,92 kali), katu (98,00 ± 20,72 kali), vitamin C (196,25 ± 2,10 kali). Penurunan bobot rata-rata pada salinitas tinggi (15 ppt) pada kontrol (0,63 ± 0,22 gr), katuk (1,18 ± 0,12 gr), vitamin C (1,30 ± 0,11 gr). Mortalitas pada salinitas tinggi (15 ppt) pada kontrol sebesar (96,00% ± 4,00%), katuk (48,00% ± 4,00 %), dan vitamin C (33.00% ± 4,12 %). Dapat disimpulkan dari 3 perlakuan yang dilakukan setelah dilakukan uji tantang salinitas tinggi, hasil terbaik di peroleh pada perlakuan vitamin c dengan dosis 5,99 gr, yang dilihat dari bukaan operkulum, tingkah laku, perubahan bobot tubuh, dan tingkat mortalitas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan patin (Pangasius pangasius) merupakan komoditas ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Usaha meningkatkan laju pertumbuhan ikan patin dalam memenuhi permintaan pasar salah satunya yaitu menggunakan probiotik ke dalam pakan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik dengan interval berbeda pada pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup beni ikan patin (Pangasius pangasius). Penelitian ini menggunakan ikan patin (Pangasius pangasius) dengan ukuran 6-8 cm sebanyak 120 ekor dan menggunakan akuarium sebanyak 15 unit dengan padat tebar 1 ekor/ liter. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 3 ulangan yaitu P1: kontrol (pakan tanpa pemberian probiotik), P2: pemberian probiotik 1 hari sekali, P3: pemberian probiotik 2 hari sekali, P4: pemberian probiotik 3 hari sekali, P5: pemberian probiotik 4 hari sekali dengan pemberian probiotik pada masing-masing perlakuan yaitu 10ml/kg. Parameter yang diamati dari penelitian adalah pertumbuhan berat dan panjang, kelangsungan hidup, pertumuhan spesifik (SGR), serta beberapa parameter kualitas air seperti suhu, pH, DO dan amonia. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh selama penelitian perlakuan P4 dengan pemberian probiotik 3 hari sekali, mengalami pertumbuhan yang paling tinggi yakni 13,47 gram.