ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekosistem mangrove memiliki berbagai manfaat sehingga perlu menghitung nilai jasa ekosistem mangrove untuk meminimalisir kerusakan. Tujuan penelitian ini adalah menghitung nilai jasa ekosistem mangrove yang berada di Kabupaten Tana Tidung dengan menggunakan metode Effect on Production. Penelitian ini dimulai pada bulan Maret - Desember 2020. Pengambilan sampel nelayan menggunakan metode purposive sampling dan melakukan wawancara nelayan Trammel net dan Gill net senangin untuk mendapatkan data perikanan tangkap. Analisis dilakukan dengan menghitung nilai manfaat langsung perikanan tangkap. Hasil penelitian didapatkan nilai ekonomi perikanan tangkap Trammel net adalah Rp208.086,92/ha/tahun dan Gill net senangin adalah Rp677.900,57/ha/tahun. Nilai total jasa ekosistem mangrove dari indikator perikanan tangkap Trammel net dan Gill net senangin sebesar Rp885.987,49/ha/tahun. Setelah dikalkulasikan oleh luas mangrove sebesar 18.875,91 ha, nilai total manfaat ekosistem mangrove adalah Rp16.723.820.126,20/tahun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengaruh perbedaan kedalaman tanam terhadap pertumbuhan rumput laut (kappaphycus alvarezii) dengan menggunakan metode rawai di perairan pantai amal kota tarakan. Salah satu faktor permasalahan yang timbul dalam usaha budidaya rumput laut adalah belum adanya penerapan budidaya dengan mengunakan metode jaring kantong pada kedalaman yang berbeda..Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kedalaman yang optimal untuk pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan mengunakan katong jarring.Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dengan kedalaman yang berbeda yakni PA: kadalaman 15 cm, PB: kedalaman 25 cm dan PC: kedalaman tanam 35 cm dengan berat awal bibit 25 g/rumpun, masing-masing perlakuan dengan lima kali ulangan pada metode Rawai (Longline). Data yang diperoleh, diolah menggunakan aplikasi Software SPSS 16 dan di analisa mengguakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedalaman tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan rumput laut , dimana hasil terbaik didapatkan pada perlakuan A dengan penambahan berat mutlak sebesar 52,357 gram dan laju pertumbuhan spesifik 427,68%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•
Udang windu (Panaeus monodon) merupakan salah satu produk ekspor yang mengalami penurunan produksi diakibatkan oleh penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio harveyi, menyebabkan penyakit luminescent Vibrio atau vibriosis. Usaha yang digunakan untuk menanggulangi penyakit ini dengan menggunakan antibiotik, namun pemberian dalam jangka panjang akan menyebabkan bakteri menjadi resisten. Penggunaan bahan alami merupakan solusi yang efektif untuk menggantikan antibiotik, salah satunya yaitu rumput laut (Kappaphycus alvarezii). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak rumput laut terhadap bakteri V. harveyi secara in-vitro. Alkohol 70% digunakan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi. Pengujian antibakteri dengan menggunakan metode difusi kertas cakram, konsentrasi yang digunakan untuk uji antibakteri yaitu 5%, 10%, 15% dan 20%. Hasil penelitian uji antibakteri menunjukkan ekstrak rumput laut dengan konsentrasi 5% memiliki zona hambat sebesar 7 mm, 10% sebesar 7,1 mm, 15% sebesar 7,3 mm dan pada konsentrasi 20% memiliki zona hambat yang terbesar dengan diameter hambat 13,3 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Supply Chain Management (SCM) pada UMKM Batik Metna di Kota Tarakan dengan melihat struktur rantai pasok, aliran barang, informasi, dan keuangan, proses SCM, hambatan yang dihadapi, serta upaya yang dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan rantai pasok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan melibatkan lima informan yang terdiri atas pemilik UMKM Batik Metna, pemasok bahan baku, pihak UMKM Center, dan dua orang konsumen. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SCM pada UMKM Batik Metna telah berjalan melalui keterlibatan pemasok bahan baku, Batik Metna sebagai produsen, UMKM Center sebagai salah satu saluran penyaluran, dan konsumen sebagai pihak akhir. Aliran barang, informasi, dan keuangan telah berlangsung, sedangkan proses SCM meliputi perencanaan, pengadaan bahan baku, produksi, dan distribusi yang masih dikelola secara sederhana dan fleksibel sesuai kondisi usaha. Hambatan yang ditemukan meliputi keterbatasan ketersediaan bahan baku, ketidaksesuaian antara persediaan dan permintaan, kebutuhan konfirmasi mengenai informasi stok, serta pencatatan transaksi yang belum sistematis. Upaya yang dilakukan meliputi pemanfaatan beberapa sumber bahan baku, penyesuaian pembelian dengan permintaan, pengaturan produksi berdasarkan kondisi stok, pemanfaatan UMKM Center, dan pertimbangan biaya dalam pengadaan serta produksi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan hukum pembinaan dan pengawasan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tarakan dalam menanggulangi risiko bermain layang-layang, serta menganalisis bentuk pertanggungjawaban pidana atas kegiatan bermain layang-layang yang menimbulkan tindak pidana di Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Bahan hukum yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer yang didukung oleh bahan hukum sekunder. Analisis bahan hukum dilakukan secara kualitatif dengan mengkaji ketentuan hukum yang berkaitan dengan kewenangan Satpol PP, ketertiban umum, keselamatan penerbangan, serta pertanggungjawaban pidana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pembinaan dan pengawasan oleh Satpol PP sebagai sarana nonpenal belum memadai karena bertumpu pada surat edaran yang tidak memuat sanksi, sehingga penindakan berhenti pada teguran tanpa efek jera. Selain itu, pertanggungjawaban pidana bersifat berjenjang sesuai akibat yang ditimbulkan. Perbuatan di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan dikenakan Pasal 421 ayat (2) jo. Pasal 210 UU Penerbangan. Perbuatan yang karena kealpaan menimbulkan korban luka atau meninggal dunia dikenakan Pasal 474 KUHP Nasional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mikroplastik merupakan salah satu pencemar perairan yang berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem akuatik, sehingga diperlukan teknologi penyisihan yang efektif dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan membran biofilter berbahan rumput laut Kappaphycus alvarezi dan polivinil alkohol (PVA) serta mengevaluasi kemampuan berbagai formulasi membran dalam menyisihkan mikroplastik. Penelitian dilaksanakan pada Januari-Juli 2026 menggunakan metode eksperimental dengan lima formulasi rumput laut:PVA, yaitu 0:5, 1:3, 1:4, 1,5:3,5, dan 2:3, masing-masing dengan tiga ulangan. Jumlah mikroplastik awal ditetapkan secara estimatif sebesar 79,6 partikel per 20 L berdasarkan kelimpahan rata-rata 3,98 partikel/L. Kinerja membran dievaluasi berdasarkan jumlah mikroplastik yang tertahan, retensi estimasi, jumlah mikroplastik pada filtrat, efisiensi penyisihan estimasi, dan koefisien variasi. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan one-way ANOVA atau uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi 0:5 menghasilkan efisiensi penyisihan estimasi tertinggi sebesar 87,02 +/- 3,84%, tetapi menunjukkan variasi retensi yang relatif tinggi. Formulasi 1:3 merupakan formulasi paling prospektif di antara membran yang mengandung rumput laut, dengan rata-rata mikroplastik tertahan sebesar 56,67 +/- 6,11 partikel, retensi estimasi 71,19 +/- 7,68%, efisiensi penyisihan estimasi 82,83 +/- 2,62%, serta koefisien variasi terendah sebesar 10,78%. Analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan kinerja antarformulasi belum signifikan pada taraf alpha = 0,05. Dengan demikian, formulasi rumput laut:PVA 1:3 memiliki potensi paling baik secara deskriptif sebagai membran biofilter berbasis rumput laut untuk penyisihan mikroplastik, meskipun masih diperlukan optimasi komposisi dan karakterisasi struktur membran lebih lanjut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Speaking activities in the English Club provide students with opportunities to practice using English communicatively outside of classroom instruction. However, the effectiveness of these activities requires supplementary teaching materials appropriate to students’ needs. Therefore, this research aimed to identify students’ needs in English Club speaking activities, develop supplementary speaking materials, and evaluate its quality and validity. This research employed a Research and Development (R&D) approach using the Four D (4D) development model. The teaching materials were developed using the 4D model, which consists of the Define, Design, Develop, and Disseminate stages; however, this study was limited to the Define, Design, and Develop stages. The study participants consisted of 20 students from SMP Negeri 2 Tarakan. Data were collected through a needs analysis questionnaire, interviews, expert validation, a teacher feedback questionnaire, and a student feedback questionnaire. The results of the needs analysis indicated that students’ speaking skills were still limited and that they experienced difficulties with vocabulary, grammar, sentence formation, pronunciation, and self-confidence. Students preferred familiar topics, multimedia-based activities, pronunciation exercises, games, collaborative activities, and conversation-based speaking tasks. Based on these results, an interactive digital e-worksheet was developed using Canva, featuring videos, quizzes, pronunciation exercises, partner conversations, interviews, speaking presentations, and reflection activities. The final product consisted of three unit topics: Daily Life, Hobbies, and School Life. The content expert validation yielded a score of 98.95% (highly appropriate), while the media expert validation yielded a score of 77.65% (appropriate). Teacher and student responses scored 98.10% and 81.07%, respectively, both of which fall into the highly appropriate category. Therefore, the developed E-Worksheet has been considered appropriate and suitable to be used as supplementary teaching material to support English Club activities at SMP Negeri 2 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui inovasi pelayanan publik yang diterapkan di Kecamatan Sembakung Atulai Kabupaten Nunukan dalam mendukung efisiensi pelaksanaan program pemerintah pusat serta mengetahui tantangan yang dihadapi dalam penerapannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sembakung Atulai pada bulan Mei sampai Juli 2026. Informan penelitian berjumlah empat orang yang terdiri dari Camat, Sekretaris Kecamatan, Staf Pelayanan, dan masyarakat pengguna layanan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan memperhatikan keabsahan data melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan administrasi di Kecamatan Sembakung Atulai menggunakan Google Form, Google Spreadsheet, dan WhatsApp sebagai bentuk inovasi pelayanan. Google Form digunakan untuk mengisi data awal dan memeriksa kelengkapan persyaratan. Google Spreadsheet digunakan untuk melihat dan mengelola data yang masuk, sedangkan WhatsApp digunakan untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Penggunaan teknologi tersebut membantu masyarakat mendapatkan informasi, menyiapkan persyaratan, dan menyampaikan data sebelum datang ke kantor kecamatan. Inovasi ini juga membantu menghemat waktu pelayanan dan mengurangi kunjungan ulang masyarakat karena persyaratan yang belum lengkap. Namun, pelayanan langsung di kantor tetap diperlukan. Dalam penerapannya terdapat beberapa kendala, yaitu jaringan internet, gangguan listrik, kondisi geografis, kemampuan sebagian masyarakat dalam menggunakan teknologi, dan masih adanya pelayanan yang dilakukan secara manual. Dengan demikian, penggunaan Google Form, Google Spreadsheet, dan WhatsApp dapat membantu mempermudah dan mempercepat pelayanan administrasi di Kecamatan Sembakung Atulai serta mendukung pelaksanaan program pemerintah pusat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi bakteri Aeromonas hydrophila merupakan salah satu penyebab utama penyakit pada ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) yang dapat menurunkan kesehatan dan menyebabkan kematian. Penggunaan antibiotik secara terus-menerus berisiko menimbulkan resistensi bakteri dan pencemaran lingkungan sehingga diperlukan alternatif pengendalian penyakit yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak Kappaphycus alvarezii terhadap ketahanan ikan lele sangkuriang yang diinfeksi A. hydrophila serta menentukan dosis yang paling efektif. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, serta pemberian ekstrak K. alvarezii dengan dosis 90 mg/L, 100 mg/L, dan 110 mg/L. Parameter yang diamati meliputi gejala klinis, tingkat kelangsungan hidup, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak K. alvarezii mampu meningkatkan ketahanan ikan terhadap infeksi A. hydrophila. Perlakuan dosis 90 mg/L, 100 mg/L, dan 110 mg/L menghasilkan tingkat kelangsungan hidup sebesar 100%, sedangkan kontrol positif hanya 33,33%. Gejala klinis pada ikan yang diberi ekstrak lebih ringan dibandingkan kontrol positif. Dosis 110 mg/L menunjukkan respons pemulihan tercepat berdasarkan perbaikan nafsu makan dan penurunan produksi lendir. Dengan demikian, ekstrak Kappaphycus alvarezii berpotensi digunakan sebagai bahan alami untuk meningkatkan ketahanan ikan lele terhadap infeksi bakteri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi injection barrel mesin plastic injection molding menggunakan pipa besi seamless guna meminimalkan celah tersebut, serta menganalisis kinerja mesin pascamodifikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Engineering Development. Tahapan penelitian meliputi observasi awal, perancangan ulang injection barrel, pemotongan, pembubutan, pengelasan, hingga perakitan dan pengujian kinerja mesin pada suhu operasi 164 °C menggunakan bahan limbah plastik jenis PP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi injection barrel berhasil mengurangi celah kebocoran material antara injection barrel dan plunger. Secara teoritis, kapasitas injection barrel dihitung sebesar 350 gram, dengan kapasitas aktual yang dapat ditampung sebesar 250 gram. Laju aliran massa lelehan plastik yang diperoleh sebesar 0,32 g/s dengan waktu pelelehan rata-rata 777 detik. Penggunaan daya listrik selama proses pemanasan mencapai 998,80 Watt dengan konsumsi energi listrik sebesar 329,60 kWh selama 0,33 jam operasi. Keunggulan utama dari modifikasi ini adalah penurunan signifikan persentase material yang hilang (loss material), yaitu hanya sebesar 6,4% dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang mencapai 28,57%. Dengan demikian, modifikasi injection barrel ini terbukti dalam menahan kebocoran bahan daur ulang limbah plastik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan pertimbangan hukum hakim terhadap jual beli tanah bersertifikat tanpa Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam Putusan Nomor 412/Pdt.G/2021/PN Mks dan Putusan Nomor 135/Pdt.G/2021/PN Pbr serta menganalisis Putusan Pengadilan sebagai penguat peralihan hak atas tanah berdasarkan jual beli tanpa akta PPAT. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Bahan hukum yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan nonhukum yang dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua putusan pada dasarnya sama-sama mengakui keabsahan jual beli tanah tanpa akta PPAT sepanjang dapat dibuktikan secara sah dan pembeli bertindak dengan itikad baik. Perbedaannya terletak pada fokus pertimbangan hakim. Putusan Nomor 412/Pdt.G/2021/PN Mks lebih menekankan pada pembuktian hubungan hukum jual beli antara para pihak, sedangkan Putusan Nomor 135/Pdt.G/2021/PN Pbr tidak hanya mengakui keabsahan jual beli, tetapi juga memberikan kepastian hukum terhadap peralihan hak dan proses balik nama sertifikat. Selain itu, putusan pengadilan dalam perkara jual beli tanah tanpa akta PPAT tidak dimaksudkan untuk menggantikan kedudukan akta PPAT sebagaimana diatur dalam Pasal 37 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997. Dalam keadaan tertentu ketika prosedur pembuatan akta PPAT tidak dapat dilaksanakan, putusan pengadilan dapat berfungsi sebagai penguat peralihan hak atas tanah dan memberikan perlindungan serta kepastian hukum bagi pembeli yang beritikad baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan nomei (Harpodon nehereus) dan rumput laut (Kappaphycus alvarezii) merupakan sumber daya perairan yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku pangan fungsional karena mengandung protein, serat pangan, mineral, dan berbagai komponen bioaktif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kombinasi tepung Harpodon nehereus dan tepung Kappaphycus alvarezii terhadap karakteristik sensori serta komposisi proksimat cookies, sekaligus menentukan formulasi yang paling dapat diterima oleh panelis. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan lima formulasi, yaitu F0 sebagai kontrol, F1 dengan penambahan masing-masing 10g tepung ikan dan tepung rumput laut, F2 masing-masing 20g, F3 masing-masing 30g, dan F4 masing-masing 40g. Karakteristik sensori yang dievaluasi meliputi warna, aroma, rasa, tekstur, dan kenampakan, sedangkan karakteristik kimia mencakup kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan kadar serat pangan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tingkat penambahan tepung ikan dan tepung rumput laut memengaruhi penerimaan sensori cookies. Formulasi F1 menunjukkan tingkat penerimaan tertinggi dengan skor tekstur 5,77 ± 1,01; warna 5,27 ± 0,94; aroma 5,87 ± 0,90; rasa 5,97 ± 1,13; dan kenampakan 5,67 ± 0,61. Berdasarkan hasil analisis kimia yang dilaporkan, formulasi terpilih memiliki kadar air 10,33%, abu 9,00%, protein 51,54%, lemak 9,80%, karbohidrat 17,28%, dan serat Pangan 25,23%. Berdasarkan hasil penelitian, formulasi F1 dengan penambahan masing-masing 10% tepung Harpodon nehereus dan tepung Kappaphycus alvarezii merupakan formulasi terbaik berdasarkan penerimaan sensori dan karakteristik kimia cookies.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fase larva rentan mengalami mortalitas tinggi akibat infeksi V. parahaemolyticus. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas bioenkapsulasi Artemia salina menggunakan ekstrak rumput laut Kappaphycus alvarezii, vitamin C, dan kombinasi terhadap performa larva udang windu Pascauji tantang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, ekstrak rumput laut 300 ppm, vitamin C 50 ppm, serta kombinasi ekstrak rumput laut 300 ppm dan vitamin C 50 ppm. Larva PL-12 dipelihara selama 15 hari dan diuji tantang dengan V. parahaemolyticus CFU/ml, kecuali kontrol negatif. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, gejala klinis, kualitas air, dan kelangsungan hidup. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi memberikan performa terbaik dengan pertumbuhan berat mutlak 2,0706 ± 0,224 g, pertumbuhan panjang mutlak 2,87 ± 0,16 mm, dan kelangsungan hidup 88,33 ± 2,89%. Gejala klinis pada perlakuan kombinasi lebih ringan dibandingkan dengan kontrol positif. Parameter kualitas air selama penelitian masih berada dalam kisaran yang layak untuk pemeliharaan udang windu berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 75 Tahun 2016. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa bioenkapsulasi Artemia salina dengan kombinasi ekstrak rumput laut Kappaphycus alvarezii 300 ppm dan vitamin C 50 ppm efektif meningkatkan performa larva udang windu melalui peningkatan kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan ketahanan terhadap infeksi Vibrio parahaemolyticus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh profitabilitas, Investment Opportunity Set (IOS), dan laba bersih terhadap kebijakan dividen pada perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan sampel sebanyak 18 perusahaan yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Assets (ROA) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen, Investment Opportunity Set (IOS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen, sedangkan laba bersih tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Secara simultan, profitabilitas, Investment Opportunity Set (IOS), dan laba bersih berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Kepiting bakau (Scylla spp.) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi produksi, sumber pasokan, ukuran, harga, bentuk pemasaran, serta potensi keberlanjutan kepiting bakau yang dipasarkan di CV. Cakke Bone. Penelitian dilaksanakan pada Februari sampai Maret 2026 dengan metode deskriptif eksploratif melalui survei, wawancara, kuesioner, dan observasi langsung terhadap aktivitas usaha kepiting bakau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV. Cakke Bone berperan sebagai eksportir dan pengumpul yang memperoleh kepiting bakau dari nelayan dan pengepul lain, terutama dari tambak di wilayah Kalimantan Utara. Produksi kepiting dipengaruhi oleh kondisi pasang surut, yaitu sekitar 3.000 kg per hari saat pasang tinggi dan 1.000 kg per hari saat pasang rendah, dengan rata-rata produksi sekitar 12.000 kg per minggu. Kepiting dipasarkan dalam bentuk hidup dan disortir untuk tujuan pasar dalam negeri dan ekspor. Harga jual ditentukan oleh ukuran dan jenis kelamin kepiting Dimana kepiting jantan yang ukuran 200-400 gr harganya sekitar Rp50.000, kepiting jantan yang ukuran 400-600 gr harganya sekitar Rp65.000/kg, dan kepiting jantan yang ukuran 700-1000 gr harganya sekitar Rp85.000/kg, sedangkan kepiting betina (CBK, CBH) harganya sekitar Rp 100.000-150.000/kg. Berdasarkan hasil menelitian terlihat bahwa potensi kepiting bakau di Kota Tarakan masih tinggi, namun keberlanjutannya perlu didukung melalui perlindungan kawasan mangrove, pengaturan ukuran tangkap, pencatatan pasokan, serta perlindungan terhadap kepiting betina bertelur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak di bawah usia 5 tahun, yang memicu peningkatan produksi sekret dan menyebabkan ketidakefektifan bersihan jalan napas. Terapi non-farmakologis, seperti penggunaan inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint, berpotensi sebagai intervensi pendukung untuk mengencerkan sekret dan memperbaiki pola napas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint dalam menurunkan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia. Metode yang digunakan adalah deskriptif studi kasus dengan subjek dua pasien anak (An. N dan An. K, usia 5 tahun) yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas akibat pneumonia. Intervensi dilakukan selama tiga hari perawatan dengan durasi 15–20 menit per sesi menggunakan diffuser ultrasonik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa setelah pemberian terapi selama 3x24 jam, terjadi perbaikan klinis yang signifikan pada kedua pasien. Frekuensi pernapasan (RR) menurun dari rentang 42- 44x/menit menjadi 22x/menit (mendekati rentang normal), saturasi oksigen (SpO2) meningkat dari 94% menjadi 98%, serta suara napas tambahan ronchi berkurang drastis atau hilang. Sputum yang semula kental dan berwarna kuning kehijauan menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa penerapan inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint efektif sebagai intervensi pendukung untuk meningkatkan bersihan jalan napas, mengencerkan sekret, dan menurunkan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia. Disarankan bagi tenaga keperawatan untuk mempertimbangkan intervensi ini sebagai bagian dari standar prosedur operasional (SPO) asuhan keperawatan komplementer pada kasus gangguan sistem respirasi anak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan adaptasi dan laju pertumbuhan plantlet Kappaphycus alvarezii yang berasal dari induk berbeda pada sistem budidaya indoor di Kota Tarakan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu plantlet asal Lombok, Lampung, Takalar, dan rumput laut lokal sebagai kontrol, masing-masing terdiri atas empat ulangan. Plantlet hasil kultur jaringan dipelihara selama 20 hari dalam media budidaya indoor dengan kondisi kualitas air yang terkontrol. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik (Specific Growth Rate/SGR), pertumbuhan biomassa, tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate/SR), morfologi talus, serta kualitas air yang mencakup suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut (DO). Data dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan mengalami peningkatan biomassa selama masa pemeliharaan. Plantlet asal Takalar menunjukkan nilai SGR tertinggi sebesar 4,57% per hari, diikuti Lampung 3,85% per hari, kontrol lokal 3,72% per hari, dan Lombok 3,57% per hari. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan asal induk memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan plantlet K. alvarezii (P0,05). Kondisi kualitas air selama penelitian berada pada kisaran optimal bagi pertumbuhan rumput laut, sehingga mendukung proses adaptasi plantlet pada sistem indoor. Berdasarkan hasil penelitian, plantlet asal Takalar dinilai memiliki kemampuan adaptasi dan performa pertumbuhan terbaik sehingga berpotensi direkomendasikan sebagai bibit unggul untuk pengembangan budidaya indoor di Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENGARUH JARAK LOKASI BUDIDAYA METODE LONGLINE TERHADAP PERTUMBUHAN dan KADAR KARAGENAN RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) Abstrak Pengaruh Jarak Lokasi Budidaya Metode Longline terhadap Pertumbuhan dan Kadar Karagenan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jarak Lokasi budidaya metode longline terhadap pertumbuhan dan kadar karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii di perairan Tanjung Batu, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian dilaksanakan selama 45 hari (13 Februari–30 Maret 2026) menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jarak dari garis pantai, yaitu P1 (30 m), P2 (40 m), dan P3 (50 m), masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), kadar karagenan, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak lokasi budidaya berpengaruh nyata (P0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan SGR rumput laut. Perlakuan P3 menghasilkan bobot mutlak tertinggi (426,3±104,5 g) dan SGR tertinggi (4,95±0,53%/hari), sedangkan P1 menghasilkan nilai terendah. Perbedaan pertumbuhan ini disebabkan oleh kondisi oseanografi yang lebih stabil di lokasi yang lebih jauh dari pantai, meliputi salinitas yang lebih homogen, kecerahan perairan yang lebih tinggi, serta minimnya beban nutrien berlebih. Sebaliknya, jarak Lokasi budidaya tidak berpengaruh nyata (P=0,251) terhadap kadar karagenan, dengan nilai berkisar 9,52%–11,32% pada semua perlakuan. Parameter kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran optimal bagi pertumbuhan K. alvarezii. Disarankan pembudidaya menerapkan jarak lokasi budidaya >40 m dari garis pantai untuk mengoptimalkan pertumbuhan rumput laut. Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, jarak lokasi budidaya, longline, pertumbuhan, karagenan THE EFFECT OF CULTIVATION DISTANCE USING THE L.ONGLINE METHOD ON THE GROWTH AND CARAGENANCONTENT OF SEAWEED (KAPPAPHYCUS ALVAREZII) Abstract The Effect of Culivation Sue Distance Usng the Longline Method on the Gromh and Carageenan Contenl of Seaweed (Kappaphycus alvarezu) This study amed lo analyze the efect of cullvation sile distance using the longline method on the growth and carrageenan content of Kappaphycus alvarezll seavecd in the waters off Tanyung Batu, Tarakan Ciy, Nortl Kalimantan The study was conducted over 4S days (13 February -30 March 2026) usung a Randomısed Block Desıgn (RBD)with three Iratmenis based on distance from the shoreline, namely PI (30 m), P2(40m), and P3 (50 m), each wih thre replicates The parameters observed included absolute weight growth, specific growth rate (SGR), carrageenan content, and water quality The results showed that the dıstance of the culivation sıte had a significant effecr (P005) on the absolute werght growth and SGR of the seaweed Treatment P3 yelded the highest absolute weigh (4263±1045 g) and the hıghes SGR (495±053%day), whılst PI yielded the lowest values These dıflerences in growth were attributed to more stable oceanographic conditions al sites further from the coast, ineluding more homogeneous salinity, higher water clarity, and minimal excess nutrient loading Conversely, the distance of the cultivation site had no sIgnificant effect (P=02S1) on carrageenan contenl, with values ranging from 952% 101132% across all reatmenls Waler qualiy paramelers hroughoul the study remained wthin the optimal range for the growth of K. alvarezii It was recommended that cultivators maintain a cultivation site distance of >40 m from the shorelıne to optimize seaveed growh Keywords Kappaphycus Alvarezii, Culivation Site Distance, Longline, Growth, Carragcenan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modifikasi jumlah cincin pada konstruksi long line terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, dan kandungan karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di perairan Tanjung Batu, Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jumlah cincin, yaitu P1 (1 cincin), P2 (3 cincin), dan P3 (5 cincin), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Bobot bibit awal disesuaikan dengan jumlah cincin, yaitu P1 = 15 g, P2 = 45 g, dan P3 = 75 g, dengan masa pemeliharaan selama 45 hari. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap tujuh hari sekali, sedangkan analisis karagenan dilakukan pada akhir masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cincin berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap bobot mutlak, SGR, dan kadar karagenan. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P2 dan P3 pada parameter bobot mutlak, serta ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain pada parameter SGR. Nilai SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 6,2%/hari, sedangkan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 sebesar 133 g. Kadar karagenan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar 2,67%, diikuti oleh P3 (2,53%) dan P1 (2,27%). Penggunaan tiga cincin direkomendasikan untuk memperoleh kualitas karagenan terbaik, sedangkan penggunaan lima cincin lebih sesuai untuk meningkatkan produksi biomassa. Kata kunci: Cincin; Karagenan; Kappaphycus alvarezii; Long Line;Pertumbuhan Abstract This study aimed to evaluate the effect of modifying the number of rings in a long-line cultivation system on the specific growth rate (SGR), absolute weight gain, and carrageenan content of Kappaphycus alvarezii cultivated in the waters of Tanjung Batu, Tarakan, North Kalimantan. The experiment employed a Randomized Block Design (RBD) with three treatments: P1 (1 ring), P2 (3 rings), and P3 (5 rings), each replicated three times. Initial seed weights were adjusted according to the number of rings (P1 = 15 g, P2 = 45 g, and P3 = 75 g), and the cultivation period lasted 45 days. Growth parameters were observed every seven days, while carrageenan content was analyzed at the end of the cultivation period. The results showed that the number of rings had a significant effect (P 0.05) on absolute weight gain, SGR, and carrageenan content. Duncan’s multiple range test revealed that P1 differed significantly from P2 and P3 in absolute weight gain, while all three treatments differed significantly from one another in SGR. The highest SGR was recorded in P1 at 6.2% day⁻¹, whereas the greatest absolute weight gain was obtained in P3 at 133 g. The highest carrageenan content was found in P2 (2.67%), followed by P3 (2.53%) and P1 (2.27%). The use of three rings is recommended for achieving the best carrageenan quality, while five rings are more suitable for maximizing biomass production. Keywords: Carrageenan; Growth; Kappaphycus alvarezii; Long Line; Ring
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modifikasi jumlah cincin pada konstruksi long line terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, dan kandungan karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di perairan Tanjung Batu, Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jumlah cincin, yaitu P1 (1 cincin), P2 (3 cincin), dan P3 (5 cincin), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Bobot bibit awal disesuaikan dengan jumlah cincin, yaitu P1 = 15 g, P2 = 45 g, dan P3 = 75 g, dengan masa pemeliharaan selama 45 hari. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap tujuh hari sekali, sedangkan analisis karagenan dilakukan pada akhir masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cincin berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap bobot mutlak, SGR, dan kadar karagenan. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P2 dan P3 pada parameter bobot mutlak, serta ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain pada parameter SGR. Nilai SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 6,2%/hari, sedangkan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 sebesar 133 g. Kadar karagenan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar 2,67%, diikuti oleh P3 (2,53%) dan P1 (2,27%). Penggunaan tiga cincin direkomendasikan untuk memperoleh kualitas karagenan terbaik, sedangkan penggunaan lima cincin lebih sesuai untuk meningkatkan produksi biomassa. Kata kunci: Cincin; Karagenan; Kappaphycus alvarezii; Long Line;Pertumbuhan Abstract This study aimed to evaluate the effect of modifying the number of rings in a long-line cultivation system on the specific growth rate (SGR), absolute weight gain, and carrageenan content of Kappaphycus alvarezii cultivated in the waters of Tanjung Batu, Tarakan, North Kalimantan. The experiment employed a Randomized Block Design (RBD) with three treatments: P1 (1 ring), P2 (3 rings), and P3 (5 rings), each replicated three times. Initial seed weights were adjusted according to the number of rings (P1 = 15 g, P2 = 45 g, and P3 = 75 g), and the cultivation period lasted 45 days. Growth parameters were observed every seven days, while carrageenan content was analyzed at the end of the cultivation period. The results showed that the number of rings had a significant effect (P 0.05) on absolute weight gain, SGR, and carrageenan content. Duncan’s multiple range test revealed that P1 differed significantly from P2 and P3 in absolute weight gain, while all three treatments differed significantly from one another in SGR. The highest SGR was recorded in P1 at 6.2% day⁻¹, whereas the greatest absolute weight gain was obtained in P3 at 133 g. The highest carrageenan content was found in P2 (2.67%), followed by P3 (2.53%) and P1 (2.27%). The use of three rings is recommended for achieving the best carrageenan quality, while five rings are more suitable for maximizing biomass production. Keywords: Carrageenan; Growth; Kappaphycus alvarezii; Long Line; Ring