ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengaruh perbedaan kedalaman tanam terhadap pertumbuhan rumput laut (kappaphycus alvarezii) dengan menggunakan metode rawai di perairan pantai amal kota tarakan. Salah satu faktor permasalahan yang timbul dalam usaha budidaya rumput laut adalah belum adanya penerapan budidaya dengan mengunakan metode jaring kantong pada kedalaman yang berbeda..Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kedalaman yang optimal untuk pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan mengunakan katong jarring.Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dengan kedalaman yang berbeda yakni PA: kadalaman 15 cm, PB: kedalaman 25 cm dan PC: kedalaman tanam 35 cm dengan berat awal bibit 25 g/rumpun, masing-masing perlakuan dengan lima kali ulangan pada metode Rawai (Longline). Data yang diperoleh, diolah menggunakan aplikasi Software SPSS 16 dan di analisa mengguakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedalaman tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan rumput laut , dimana hasil terbaik didapatkan pada perlakuan A dengan penambahan berat mutlak sebesar 52,357 gram dan laju pertumbuhan spesifik 427,68%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•
Udang windu (Panaeus monodon) merupakan salah satu produk ekspor yang mengalami penurunan produksi diakibatkan oleh penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio harveyi, menyebabkan penyakit luminescent Vibrio atau vibriosis. Usaha yang digunakan untuk menanggulangi penyakit ini dengan menggunakan antibiotik, namun pemberian dalam jangka panjang akan menyebabkan bakteri menjadi resisten. Penggunaan bahan alami merupakan solusi yang efektif untuk menggantikan antibiotik, salah satunya yaitu rumput laut (Kappaphycus alvarezii). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak rumput laut terhadap bakteri V. harveyi secara in-vitro. Alkohol 70% digunakan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi. Pengujian antibakteri dengan menggunakan metode difusi kertas cakram, konsentrasi yang digunakan untuk uji antibakteri yaitu 5%, 10%, 15% dan 20%. Hasil penelitian uji antibakteri menunjukkan ekstrak rumput laut dengan konsentrasi 5% memiliki zona hambat sebesar 7 mm, 10% sebesar 7,1 mm, 15% sebesar 7,3 mm dan pada konsentrasi 20% memiliki zona hambat yang terbesar dengan diameter hambat 13,3 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mikroplastik merupakan salah satu pencemar perairan yang berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem akuatik, sehingga diperlukan teknologi penyisihan yang efektif dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan membran biofilter berbahan rumput laut Kappaphycus alvarezi dan polivinil alkohol (PVA) serta mengevaluasi kemampuan berbagai formulasi membran dalam menyisihkan mikroplastik. Penelitian dilaksanakan pada Januari-Juli 2026 menggunakan metode eksperimental dengan lima formulasi rumput laut:PVA, yaitu 0:5, 1:3, 1:4, 1,5:3,5, dan 2:3, masing-masing dengan tiga ulangan. Jumlah mikroplastik awal ditetapkan secara estimatif sebesar 79,6 partikel per 20 L berdasarkan kelimpahan rata-rata 3,98 partikel/L. Kinerja membran dievaluasi berdasarkan jumlah mikroplastik yang tertahan, retensi estimasi, jumlah mikroplastik pada filtrat, efisiensi penyisihan estimasi, dan koefisien variasi. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan one-way ANOVA atau uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi 0:5 menghasilkan efisiensi penyisihan estimasi tertinggi sebesar 87,02 +/- 3,84%, tetapi menunjukkan variasi retensi yang relatif tinggi. Formulasi 1:3 merupakan formulasi paling prospektif di antara membran yang mengandung rumput laut, dengan rata-rata mikroplastik tertahan sebesar 56,67 +/- 6,11 partikel, retensi estimasi 71,19 +/- 7,68%, efisiensi penyisihan estimasi 82,83 +/- 2,62%, serta koefisien variasi terendah sebesar 10,78%. Analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan kinerja antarformulasi belum signifikan pada taraf alpha = 0,05. Dengan demikian, formulasi rumput laut:PVA 1:3 memiliki potensi paling baik secara deskriptif sebagai membran biofilter berbasis rumput laut untuk penyisihan mikroplastik, meskipun masih diperlukan optimasi komposisi dan karakterisasi struktur membran lebih lanjut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi bakteri Aeromonas hydrophila merupakan salah satu penyebab utama penyakit pada ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) yang dapat menurunkan kesehatan dan menyebabkan kematian. Penggunaan antibiotik secara terus-menerus berisiko menimbulkan resistensi bakteri dan pencemaran lingkungan sehingga diperlukan alternatif pengendalian penyakit yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak Kappaphycus alvarezii terhadap ketahanan ikan lele sangkuriang yang diinfeksi A. hydrophila serta menentukan dosis yang paling efektif. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, serta pemberian ekstrak K. alvarezii dengan dosis 90 mg/L, 100 mg/L, dan 110 mg/L. Parameter yang diamati meliputi gejala klinis, tingkat kelangsungan hidup, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak K. alvarezii mampu meningkatkan ketahanan ikan terhadap infeksi A. hydrophila. Perlakuan dosis 90 mg/L, 100 mg/L, dan 110 mg/L menghasilkan tingkat kelangsungan hidup sebesar 100%, sedangkan kontrol positif hanya 33,33%. Gejala klinis pada ikan yang diberi ekstrak lebih ringan dibandingkan kontrol positif. Dosis 110 mg/L menunjukkan respons pemulihan tercepat berdasarkan perbaikan nafsu makan dan penurunan produksi lendir. Dengan demikian, ekstrak Kappaphycus alvarezii berpotensi digunakan sebagai bahan alami untuk meningkatkan ketahanan ikan lele terhadap infeksi bakteri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan nomei (Harpodon nehereus) dan rumput laut (Kappaphycus alvarezii) merupakan sumber daya perairan yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku pangan fungsional karena mengandung protein, serat pangan, mineral, dan berbagai komponen bioaktif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kombinasi tepung Harpodon nehereus dan tepung Kappaphycus alvarezii terhadap karakteristik sensori serta komposisi proksimat cookies, sekaligus menentukan formulasi yang paling dapat diterima oleh panelis. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan lima formulasi, yaitu F0 sebagai kontrol, F1 dengan penambahan masing-masing 10g tepung ikan dan tepung rumput laut, F2 masing-masing 20g, F3 masing-masing 30g, dan F4 masing-masing 40g. Karakteristik sensori yang dievaluasi meliputi warna, aroma, rasa, tekstur, dan kenampakan, sedangkan karakteristik kimia mencakup kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan kadar serat pangan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tingkat penambahan tepung ikan dan tepung rumput laut memengaruhi penerimaan sensori cookies. Formulasi F1 menunjukkan tingkat penerimaan tertinggi dengan skor tekstur 5,77 ± 1,01; warna 5,27 ± 0,94; aroma 5,87 ± 0,90; rasa 5,97 ± 1,13; dan kenampakan 5,67 ± 0,61. Berdasarkan hasil analisis kimia yang dilaporkan, formulasi terpilih memiliki kadar air 10,33%, abu 9,00%, protein 51,54%, lemak 9,80%, karbohidrat 17,28%, dan serat Pangan 25,23%. Berdasarkan hasil penelitian, formulasi F1 dengan penambahan masing-masing 10% tepung Harpodon nehereus dan tepung Kappaphycus alvarezii merupakan formulasi terbaik berdasarkan penerimaan sensori dan karakteristik kimia cookies.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fase larva rentan mengalami mortalitas tinggi akibat infeksi V. parahaemolyticus. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas bioenkapsulasi Artemia salina menggunakan ekstrak rumput laut Kappaphycus alvarezii, vitamin C, dan kombinasi terhadap performa larva udang windu Pascauji tantang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, ekstrak rumput laut 300 ppm, vitamin C 50 ppm, serta kombinasi ekstrak rumput laut 300 ppm dan vitamin C 50 ppm. Larva PL-12 dipelihara selama 15 hari dan diuji tantang dengan V. parahaemolyticus CFU/ml, kecuali kontrol negatif. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, gejala klinis, kualitas air, dan kelangsungan hidup. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi memberikan performa terbaik dengan pertumbuhan berat mutlak 2,0706 ± 0,224 g, pertumbuhan panjang mutlak 2,87 ± 0,16 mm, dan kelangsungan hidup 88,33 ± 2,89%. Gejala klinis pada perlakuan kombinasi lebih ringan dibandingkan dengan kontrol positif. Parameter kualitas air selama penelitian masih berada dalam kisaran yang layak untuk pemeliharaan udang windu berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 75 Tahun 2016. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa bioenkapsulasi Artemia salina dengan kombinasi ekstrak rumput laut Kappaphycus alvarezii 300 ppm dan vitamin C 50 ppm efektif meningkatkan performa larva udang windu melalui peningkatan kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan ketahanan terhadap infeksi Vibrio parahaemolyticus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan adaptasi dan laju pertumbuhan plantlet Kappaphycus alvarezii yang berasal dari induk berbeda pada sistem budidaya indoor di Kota Tarakan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu plantlet asal Lombok, Lampung, Takalar, dan rumput laut lokal sebagai kontrol, masing-masing terdiri atas empat ulangan. Plantlet hasil kultur jaringan dipelihara selama 20 hari dalam media budidaya indoor dengan kondisi kualitas air yang terkontrol. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik (Specific Growth Rate/SGR), pertumbuhan biomassa, tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate/SR), morfologi talus, serta kualitas air yang mencakup suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut (DO). Data dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan mengalami peningkatan biomassa selama masa pemeliharaan. Plantlet asal Takalar menunjukkan nilai SGR tertinggi sebesar 4,57% per hari, diikuti Lampung 3,85% per hari, kontrol lokal 3,72% per hari, dan Lombok 3,57% per hari. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan asal induk memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan plantlet K. alvarezii (P0,05). Kondisi kualitas air selama penelitian berada pada kisaran optimal bagi pertumbuhan rumput laut, sehingga mendukung proses adaptasi plantlet pada sistem indoor. Berdasarkan hasil penelitian, plantlet asal Takalar dinilai memiliki kemampuan adaptasi dan performa pertumbuhan terbaik sehingga berpotensi direkomendasikan sebagai bibit unggul untuk pengembangan budidaya indoor di Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENGARUH JARAK LOKASI BUDIDAYA METODE LONGLINE TERHADAP PERTUMBUHAN dan KADAR KARAGENAN RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) Abstrak Pengaruh Jarak Lokasi Budidaya Metode Longline terhadap Pertumbuhan dan Kadar Karagenan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jarak Lokasi budidaya metode longline terhadap pertumbuhan dan kadar karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii di perairan Tanjung Batu, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian dilaksanakan selama 45 hari (13 Februari–30 Maret 2026) menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jarak dari garis pantai, yaitu P1 (30 m), P2 (40 m), dan P3 (50 m), masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), kadar karagenan, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak lokasi budidaya berpengaruh nyata (P0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan SGR rumput laut. Perlakuan P3 menghasilkan bobot mutlak tertinggi (426,3±104,5 g) dan SGR tertinggi (4,95±0,53%/hari), sedangkan P1 menghasilkan nilai terendah. Perbedaan pertumbuhan ini disebabkan oleh kondisi oseanografi yang lebih stabil di lokasi yang lebih jauh dari pantai, meliputi salinitas yang lebih homogen, kecerahan perairan yang lebih tinggi, serta minimnya beban nutrien berlebih. Sebaliknya, jarak Lokasi budidaya tidak berpengaruh nyata (P=0,251) terhadap kadar karagenan, dengan nilai berkisar 9,52%–11,32% pada semua perlakuan. Parameter kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran optimal bagi pertumbuhan K. alvarezii. Disarankan pembudidaya menerapkan jarak lokasi budidaya >40 m dari garis pantai untuk mengoptimalkan pertumbuhan rumput laut. Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, jarak lokasi budidaya, longline, pertumbuhan, karagenan THE EFFECT OF CULTIVATION DISTANCE USING THE L.ONGLINE METHOD ON THE GROWTH AND CARAGENANCONTENT OF SEAWEED (KAPPAPHYCUS ALVAREZII) Abstract The Effect of Culivation Sue Distance Usng the Longline Method on the Gromh and Carageenan Contenl of Seaweed (Kappaphycus alvarezu) This study amed lo analyze the efect of cullvation sile distance using the longline method on the growth and carrageenan content of Kappaphycus alvarezll seavecd in the waters off Tanyung Batu, Tarakan Ciy, Nortl Kalimantan The study was conducted over 4S days (13 February -30 March 2026) usung a Randomısed Block Desıgn (RBD)with three Iratmenis based on distance from the shoreline, namely PI (30 m), P2(40m), and P3 (50 m), each wih thre replicates The parameters observed included absolute weight growth, specific growth rate (SGR), carrageenan content, and water quality The results showed that the dıstance of the culivation sıte had a significant effecr (P005) on the absolute werght growth and SGR of the seaweed Treatment P3 yelded the highest absolute weigh (4263±1045 g) and the hıghes SGR (495±053%day), whılst PI yielded the lowest values These dıflerences in growth were attributed to more stable oceanographic conditions al sites further from the coast, ineluding more homogeneous salinity, higher water clarity, and minimal excess nutrient loading Conversely, the distance of the cultivation site had no sIgnificant effect (P=02S1) on carrageenan contenl, with values ranging from 952% 101132% across all reatmenls Waler qualiy paramelers hroughoul the study remained wthin the optimal range for the growth of K. alvarezii It was recommended that cultivators maintain a cultivation site distance of >40 m from the shorelıne to optimize seaveed growh Keywords Kappaphycus Alvarezii, Culivation Site Distance, Longline, Growth, Carragcenan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modifikasi jumlah cincin pada konstruksi long line terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, dan kandungan karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di perairan Tanjung Batu, Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jumlah cincin, yaitu P1 (1 cincin), P2 (3 cincin), dan P3 (5 cincin), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Bobot bibit awal disesuaikan dengan jumlah cincin, yaitu P1 = 15 g, P2 = 45 g, dan P3 = 75 g, dengan masa pemeliharaan selama 45 hari. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap tujuh hari sekali, sedangkan analisis karagenan dilakukan pada akhir masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cincin berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap bobot mutlak, SGR, dan kadar karagenan. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P2 dan P3 pada parameter bobot mutlak, serta ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain pada parameter SGR. Nilai SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 6,2%/hari, sedangkan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 sebesar 133 g. Kadar karagenan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar 2,67%, diikuti oleh P3 (2,53%) dan P1 (2,27%). Penggunaan tiga cincin direkomendasikan untuk memperoleh kualitas karagenan terbaik, sedangkan penggunaan lima cincin lebih sesuai untuk meningkatkan produksi biomassa. Kata kunci: Cincin; Karagenan; Kappaphycus alvarezii; Long Line;Pertumbuhan Abstract This study aimed to evaluate the effect of modifying the number of rings in a long-line cultivation system on the specific growth rate (SGR), absolute weight gain, and carrageenan content of Kappaphycus alvarezii cultivated in the waters of Tanjung Batu, Tarakan, North Kalimantan. The experiment employed a Randomized Block Design (RBD) with three treatments: P1 (1 ring), P2 (3 rings), and P3 (5 rings), each replicated three times. Initial seed weights were adjusted according to the number of rings (P1 = 15 g, P2 = 45 g, and P3 = 75 g), and the cultivation period lasted 45 days. Growth parameters were observed every seven days, while carrageenan content was analyzed at the end of the cultivation period. The results showed that the number of rings had a significant effect (P 0.05) on absolute weight gain, SGR, and carrageenan content. Duncan’s multiple range test revealed that P1 differed significantly from P2 and P3 in absolute weight gain, while all three treatments differed significantly from one another in SGR. The highest SGR was recorded in P1 at 6.2% day⁻¹, whereas the greatest absolute weight gain was obtained in P3 at 133 g. The highest carrageenan content was found in P2 (2.67%), followed by P3 (2.53%) and P1 (2.27%). The use of three rings is recommended for achieving the best carrageenan quality, while five rings are more suitable for maximizing biomass production. Keywords: Carrageenan; Growth; Kappaphycus alvarezii; Long Line; Ring
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modifikasi jumlah cincin pada konstruksi long line terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, dan kandungan karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di perairan Tanjung Batu, Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jumlah cincin, yaitu P1 (1 cincin), P2 (3 cincin), dan P3 (5 cincin), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Bobot bibit awal disesuaikan dengan jumlah cincin, yaitu P1 = 15 g, P2 = 45 g, dan P3 = 75 g, dengan masa pemeliharaan selama 45 hari. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap tujuh hari sekali, sedangkan analisis karagenan dilakukan pada akhir masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cincin berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap bobot mutlak, SGR, dan kadar karagenan. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P2 dan P3 pada parameter bobot mutlak, serta ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain pada parameter SGR. Nilai SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 6,2%/hari, sedangkan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 sebesar 133 g. Kadar karagenan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar 2,67%, diikuti oleh P3 (2,53%) dan P1 (2,27%). Penggunaan tiga cincin direkomendasikan untuk memperoleh kualitas karagenan terbaik, sedangkan penggunaan lima cincin lebih sesuai untuk meningkatkan produksi biomassa. Kata kunci: Cincin; Karagenan; Kappaphycus alvarezii; Long Line;Pertumbuhan Abstract This study aimed to evaluate the effect of modifying the number of rings in a long-line cultivation system on the specific growth rate (SGR), absolute weight gain, and carrageenan content of Kappaphycus alvarezii cultivated in the waters of Tanjung Batu, Tarakan, North Kalimantan. The experiment employed a Randomized Block Design (RBD) with three treatments: P1 (1 ring), P2 (3 rings), and P3 (5 rings), each replicated three times. Initial seed weights were adjusted according to the number of rings (P1 = 15 g, P2 = 45 g, and P3 = 75 g), and the cultivation period lasted 45 days. Growth parameters were observed every seven days, while carrageenan content was analyzed at the end of the cultivation period. The results showed that the number of rings had a significant effect (P 0.05) on absolute weight gain, SGR, and carrageenan content. Duncan’s multiple range test revealed that P1 differed significantly from P2 and P3 in absolute weight gain, while all three treatments differed significantly from one another in SGR. The highest SGR was recorded in P1 at 6.2% day⁻¹, whereas the greatest absolute weight gain was obtained in P3 at 133 g. The highest carrageenan content was found in P2 (2.67%), followed by P3 (2.53%) and P1 (2.27%). The use of three rings is recommended for achieving the best carrageenan quality, while five rings are more suitable for maximizing biomass production. Keywords: Carrageenan; Growth; Kappaphycus alvarezii; Long Line; Ring
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rumput laut Kappaphycus alvarezii memiliki potensi besar sebagai sumber serat dan pangan fungsional yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam produk camilan modern seperti tortilla chips. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penerimaan sensori, kandungan proksimat, dan kadar serat kasar tortilla chips yang difortifikasi dengan tepung rumput laut tersebut. Metode penelitian yang digunakan eksperimental dengan 3 konsentrasi formulasi: F0 (0 g), F1 (3 g), dan F2 (5 g) sebanyak 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat penerimaan panelis secara sensori yaitu pada formula F1 (3 g) dengan skor 7,63 yang berarti tortilla chips memiliki tingkat kesukaan tertinggi dan merupakan formulasi terbaik berdasarkan penilaian organoleptik panelis. Hasil analisis proksimat menunjukkan kadar protein sebesar 10,63% (F0), 10,76% (F1), dan 23,45% (F2); kadar lemak sebesar 2,6% (F0), 2,2% (F1), dan 2,4% (F2); kadar air sebesar 5% (F0), 9% (F1), dan 2% (F2); kadar abu sebesar 1% (F0), 2% (F1), dan 2% (F2); serta kadar karbohidrat sebesar 80,77% (F0), 76,04% (F1), dan 70,15% (F2). Kadar air tepung rumput laut K. alvarezii yang digunakan sebesar 10%. Kadar serat kasar tortilla chips meningkat dari 1,06% (F0) menjadi 8,00% (F1) dan 9,95% (F2). Kesimpulan penelitian ini adalah fortifikasi tepung rumput laut Ka alvarezii pada tortilla chips berpengaruh terhadap tingkat penerimaan panelis, kandungan proksimat, dan kadar serat kasar produk.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pencemaran mikroplastik di perairan menjadi masalah lingkungan yang berpotensi menggangu ekosistem laut dan organisme akuatik, termasuk rumput laut budidaya. Rumput laut mampu mengakumulasi mikroplastik dari lingkungan sehingga dapat digunakan sebagai bioindikator pencemaran. Studi ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan dan karakteristik mikroplastik pada rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada Januari hingga April 2026 di dua lokasi budidaya, yaitu Binalatung dan Tanjung Batu. Analisis mikroplastik dilakukan melalui destruksi sampel menggunakan H₂O₂ 50%, pemisahan dengan larutan NaCl, sentrifugasi, filtrasi menggunakan kertas saring Whatman 0,45µm, dan identifikasi menggunakan mikroskop stereo. Parameter yang diamati meliputi bentuk, warna, ukuran, dan kelimpahan mikroplastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh rumput laut terkontaminasi mikroplastik dengan 103 partikel, terdiri atas 54 partikel di Binalatung dan 49 partikel di Tanjung Batu. Mikroplastik yang ditemukan berbentuk fragmen, fiber, dan film, dengan fragmen sebagai bentuk yang paling dominan. Warna mikroplastik yang teridentifikasi meliputi transparan, hitam, biru, coklat, hijau, dan ungu, dengan dominasi warna transparan dan hitam. Ukuran mikroplastik didominasi oleh kelompok 1000-5000 µm. Kelimpahan mikroplastik pada rumput laut di Binalatung sebesar 10,8 ± 1,92 partikel/g sampel, sedangkan di Tanjung Batu sebesar 9,80 ± 2,17 partikel/g sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah kawasan budidaya rumput laut di Kota Tarakan telah terpapar pencemaran mikroplastik. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan limbah plastik dan pemantauan kualitas lingkungan secara berkelanjutan untuk menjaga kualitas perairan dan hasil budidaya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan plastik sintetis sebagai pengemas makanan, termasuk bumbu, telah menjadi masalah lingkungan yang serius karena sifatnya yang sulit terurai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik edible film berbahan dasar semi refined carrageenan (SRC) dari rumput laut Kappaphycus alvarezii yang diaplikasikan sebagai pengemas bumbu. Metode penelitian meliputi pembuatan tepung SRC dengan ekstraksi KOH 8%, dilanjutkan pembuatan edible film dengan variasi konsentrasi gliserol (0%; 0,1%; 0,3%; dan 0,5%) serta penambahan asam malat 0,3%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakteristik fisik edible film dipengaruhi secara signifikan oleh konsentrasi gliserol. Nilai kuat tarik tertinggi diperoleh pada konsentrasi gliserol 0,0% sebesar 43,7 MPa, sedangkan nilai terendah pada konsentrasi 0,5% sebesar 29,2 MPa. Seluruh sampel telah memenuhi standar Japanese Industrial Standard (JIS) untuk kuat tarik (minimal 0,39 MPa) dan ketebalan (maksimal 0,25 mm). Ketebalan film berkisar antara 0,023 mm hingga 0,036 mm, yang cenderung meningkat seiring bertambahnya konsentrasi gliserol. Nilai perpanjangan (elongasi) mengalami peningkatan dengan bertambahnya gliserol, mencapai nilai tertinggi 46,29% pada konsentrasi 0,5%, meskipun hasil ini belum mencapai standar minimal JIS sebesar 70%. Kelarutan film menunjukkan nilai terendah pada konsentrasi gliserol 0,3% yaitu sebesar 26,7%. Secara keseluruhan, edible film berbahan dasar SRC berpotensi sebagai alternatif pengemas bumbu yang ramah lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu komoditas perikanan yang melimpah di perairan Pantai Amal Baru Kota Tarakan dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Salah satu bentuk inovasi pemanfaatannya adalah pembuatan soap sheet seaweed, yaitu sabun berbentuk lembaran tipis yang praktis, higienis, dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sifat fisik dan kimia soap sheet seaweed berbasis rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Metode penelitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap pertama pembuatan tepung rumput laut, tahap kedua ekstraksi rumput laut dengan metode pemanasan menggunakan variasi konsentrasi 5%, 10%, dan 15%, dan tahap ketiga pengujian karakteristik soap sheet seaweed yang meliputi pengujian sifat kimia berupa kadar air, pH, dan alkali bebas, serta pengujian sifat fisik berupa uji organoleptik, tinggi busa, dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Data hasil pengujian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air soap sheet seaweed berkisar antara 20,50–32,00%, nilai pH berada pada kisaran 9,3–9,86, dan kadar alkali bebas sebesar 0,004–0,008%, yang seluruhnya memenuhi standar SNI. Tinggi busa berada pada kisaran 2,5–3,1 cm dan memenuhi persyaratan mutu sabun. Uji organoleptik menunjukkan bahwa konsentrasi 10% memiliki tingkat kesukaan panelis tertinggi terhadap warna, aroma, dan tekstur. Aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa konsentrasi 15% menghasilkan daya hambat terbesar terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa soap sheet seaweed berbasis rumput laut Kappaphycus alvarezii memenuhi standar mutu sabun, memiliki aktivitas antibakteri, serta berpotensi dikembangkan sebagai produk inovatif yang praktis dan higienis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jenis rumput laut Kappaphycus alvarezii memiliki kandungan senyawa yang bermanfaat untuk melindungi kulit dari penuaan dini dan diduga dapat menghambat perkembangan bakteri yang dapat menimbulkan jerawat. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruhnya terhadap rendemen, aktivitas antioksidan, kemampuan antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes, serta tingkat penerimaan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rendemen rumput laut kering sebesar 20,57%, yang menunjukkan bahwa proses pengeringan yang dilakukan telah berlangsung secara efektif dan sesuai dengan karakteristik bahan baku rumput laut. Aktivitas antioksidan terbesar terdapat pada konsentrasi 25 mg/L sebesar 41,55% dengan perlakuan 40:60, sedangkan aktivitas terendah muncul pada konsentrasi 75 mg/L sebesar 7,14% pada perlakuan 60:40. Berdasarkan uji antibakteri hasil pengukuran diameter zona hambat (mm), seluruh formulasi masker dengan variasi rasio (20:80, 40:60, 60:40, dan 80:20) termasuk dalam kategori sedang, dengan diameter zona hambat berkisar antara 6 hingga 9 mm. Secara spesifik, formulasi 20:80 menunjukkan nilai tertinggi yaitu 9 mm, diikuti oleh 40:60 (8 mm), 60:40 (7 mm), dan 80:20 (6 mm). Berdasarkan uji organoleptik terhadap 30 panelis. Pada uji organoleptik formula 20:80 paling disukai dari segi warna, tekstur, dan aroma. Secara keseluruhan, masker wajah berbahan dasar rumput laut dengan kombinasi bahan alami ini berpotensi menjadi produk perawatan kulit yang aman, efektif, dan dapat menjadi alternatif pengganti produk berbahan kimia sintetis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kappaphycus alvarezii seaweed is a primary source of carrageenan, possessing significant economic significance and extensively cultivated in coastal regions, including Sebatik Island. In the manufacture of seaweed salt, waste is generated that has not been effectively utilized. This study aimed to assess the properties of carrageenan derived from the by-product of the K. alvarezii seaweed salt production process utilizing sodium hydroxide (NaOH) as a solvent. The parameters analyzed included yield, moisture content, sulfate content, ash content, and viscosity. Extraction was carried out using the hot alkali method with 0.5% NaOH at 90-95°C for 5 hours, followed by precipitation with KCl, drying, and grinding. The results showed that carrageenan from salt residues had a yield of 21.64 ± 5.81%, moisture content of 6.66 ± 1.52%, sulfate content of 2.72 ± 0.39%, ash content of 32.6 ± 0.57%, and viscosity of 12.6 ± 0.9 cPs. In comparison, carrageenan from whole seaweed showed a yield of 32.8 ± 2.42%, moisture content of 9.66 ± 2.51%, sulfate content of 1.58 ± 0.14%, ash content of 44.33 ± 3.78%, and viscosity of 9.6 ± 0.9 cPs. Although derived from waste, carrageenan from salt residues exhibited competitive physicochemical properties, particularly in terms of water content and viscosity. Thus, seaweed salt by-products have potential as an alternative raw material for carrageenan production, especially for non-food industrial applications.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hasil samping garam merupakan hasil samping dari proses pengolahan rumput laut menjadi garam, yang diduga masih mengandung senyawa karagenan yang bernilai ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karagenan yang dihasilkan dari hasil samping garam rumput laut Kappaphycus alvarezii yang berasal dari Kota Tarakan menggunakan pelarut KOH. Parameter yang dianalisis meliputi rendemen, kadar air, kadar sulfat, kadar abu, dan viskositas, yang kemudian dibandingkan dengan karakteristik karagenan dari rumput laut segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil samping garam masih mengandung karagenan dengan karakteristik yang baik . Rendemen karagenan dari garam adalah 26,94 ± 4,46%, sedangkan dari rumput laut segar sebesar 29,10 ± 10,24%. Kadar air karagenan dari hasil samping garam lebih rendah (5,66 ± 2,08%) dibandingkan rumput laut segar (7,33 ± 2,51%), sementara kadar sulfat dan kadar abu pada kedua sampel menunjukkan nilai yang relatif tinggi. Viskositas karagenan dari hasil samping garam adalah 5,9 ± 0,17 cP, sedangkan dari rumput laut segar adalah 8,7 ± 0,51 cP. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil samping garam Kappaphycus alvarezii masih berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku karagenan alternatif. Pemanfaatan limbah ini mendukung upaya pengolahan hasil perikanan yang efisien dan ramah lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Kappaphycus alvarezii is one of the main sources of carrageenan with high economic value. The process of producing sea salt from this seaweed generates residue (waste) that has not been optimally utilized. This study aimed to identify the properties of carragenan derived from the by-product (residue) of K.alvarezii seaweed salt production collected is Sebatik Island utilizing potassium hydroxide (KOH) solvent, and to compare it with carragenan extracted from whole seaweed. The investigated parameters and encompassed yield, moisture conten, sulfate conten, ash content, and viscosity. The result showed that the moisture content of the salt residue was 21.68%, which was lower than that of the whole seaweed (28.60%). The carraginan derived from salt residue contained 8.33% water, 1.34% sulfate, and 32.33% ash and had q viscosity of 20.00 cPs. All parameters, except sulfate concentration, mer the Indonesian National Standard (SNI 8391-1:2017). The relatively high viscosity indicated that carragenan derived from salt residue still has potential applications, particularly in non-food industries. Therefore, sea salt production residue from K. alvarezii can be utilized as an alternative raw material in the production of economically valuable carrageenan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kappaphycus alvarezii merupakan jenis rumput laut merah yang banyak di budidayakan di Kalimantan Utara yang memiliki potensi besar dalam pengembangan produk hasil perikanan sebagai penghasil karagenan yang memiliki berbagai manfaat baik dibidang farmasi, kosmetik dan lain sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah mengarakterisasi mutu karagenan dari rumput laut merah (Kappaphycus alvarezii) di Kota Tarakan Kalimantan Utara. Metode ekstraksi menggunakan larutan KOH dengan konsentrasi 7% (b/v) kemudian di filtrasi untuk selanjutnya di keringkan dan di blender sampai jadi bubuk keragenan. Hasil penelitian menunjukan bahwa uji organoleptik /sensori pada rumput laut (K. alarezii) yaitu pada Kenampakan 7,27 ± 1,55, Bau 6 ± 2,4, Tekstur 8 ± 1,00, nilai rendemen pada penelitian ini yaitu sebesar 19,86%, Nilai kadar air pada penelitian ini sebesar 5,67%, Nilai kadar abu pada penelitian ini yaitu 55,67%, Pada penelitian ini nilai viskositas menghasilkan 22,67 cPs, Nilai kekuatan gel pada penelitian ini yaitu 180,071 g/cm2. Uji Organoleptik parameter bau tidak memenuhi standar SNI, namun pada parameter kenampakan dan tekstur telah memenuhi standar SNI. Rendemen dan kadar abu belum memenuhi standar, namun pada uji kadar air, viskositas dan kekuatan gel telah memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh FAO dan SNI
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Budidaya rumput laut merupakan sektor strategis dalam perikanan Indonesia yang berkontribusi signifikan terhadap produksi nasional, khususnya jenis Kappaphycus alvarezii yang memiliki nilai ekonomis tinggi untuk industri pangan, karagenan, dan kosmetik. Kualitas mutu Kappaphycus alvarezii dipengaruhi oleh kontaminasi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis bakteri pada Kappaphycus alvarezii di perairan Tarakan, Nunukan, dan Sebatik, serta menganalisis parameter kualitas air seperti pH dan suhu. Metode penelitian melibatkan Identifikasi bakteri menggunakan uji biokimia, serta analisis kualitas air. Hasil Parameter suhu dan pH Nunukan untuk pH 7,55, Sebatik 7,56 dan Tarakan 7,23 sedangakan suhu untuk Nunukan 300C, Sebatik 300C dan Tarakan 310C. Berdasarkan dari hasil pengujian terhadap Rumput laut (Kappaphyus alvarezii) yang di Budidayakan oleh Masyarakat Nunukan, Sebatik, Tarakan menunjukkan hasil negatif dari cemaran bakteri Vibrio sp. Hasil uji pendugaan menunjukan hasil negatif tidak ditemukan adanya cemaran bakteri Escherichia coli Hasil uji mengguakan media selektif SSA Menunjukkan hasil negatif tidak di temukan bakteri Salmonella sp. Temuan ini memberikan data penting untuk strategi pengendalian bakteri guna meningkatkan keberhasilan budidaya di wilayah penelitian.