ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pencemaran mikroplastik di perairan menjadi masalah lingkungan yang berpotensi menggangu ekosistem laut dan organisme akuatik, termasuk rumput laut budidaya. Rumput laut mampu mengakumulasi mikroplastik dari lingkungan sehingga dapat digunakan sebagai bioindikator pencemaran. Studi ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan dan karakteristik mikroplastik pada rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada Januari hingga April 2026 di dua lokasi budidaya, yaitu Binalatung dan Tanjung Batu. Analisis mikroplastik dilakukan melalui destruksi sampel menggunakan H₂O₂ 50%, pemisahan dengan larutan NaCl, sentrifugasi, filtrasi menggunakan kertas saring Whatman 0,45µm, dan identifikasi menggunakan mikroskop stereo. Parameter yang diamati meliputi bentuk, warna, ukuran, dan kelimpahan mikroplastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh rumput laut terkontaminasi mikroplastik dengan 103 partikel, terdiri atas 54 partikel di Binalatung dan 49 partikel di Tanjung Batu. Mikroplastik yang ditemukan berbentuk fragmen, fiber, dan film, dengan fragmen sebagai bentuk yang paling dominan. Warna mikroplastik yang teridentifikasi meliputi transparan, hitam, biru, coklat, hijau, dan ungu, dengan dominasi warna transparan dan hitam. Ukuran mikroplastik didominasi oleh kelompok 1000-5000 µm. Kelimpahan mikroplastik pada rumput laut di Binalatung sebesar 10,8 ± 1,92 partikel/g sampel, sedangkan di Tanjung Batu sebesar 9,80 ± 2,17 partikel/g sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah kawasan budidaya rumput laut di Kota Tarakan telah terpapar pencemaran mikroplastik. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan limbah plastik dan pemantauan kualitas lingkungan secara berkelanjutan untuk menjaga kualitas perairan dan hasil budidaya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm yang banyak ditemukan di lingkungan perairan dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem serta kesehatan manusia. Sungai Kayan di Kalimantan Utara merupakan salah satu sungai utama yang dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai aktivitas seperti transportasi, perikanan, dan kebutuhan domestik, sehingga berpotensi mengalami pencemaran mikroplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan menentukan kelimpahan mikroplastik di perairan Sungai Kayan. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun menggunakan metode purposive sampling dengan volume air 10 liter setiap titik. Sampel kemudian disaring, dipreparasi menggunakan larutan H₂O₂ dan NaCl, serta dianalisis secara mikroskopis untuk menentukan bentuk, ukuran, dan warna mikroplastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan mikroplastik bervariasi pada setiap stasiun, dengan nilai tertinggi di Stasiun 1 sebesar 12,5 partikel/L dan terendah di Stasiun 4 sebesar 6,4 partikel/L. Bentuk mikroplastik yang teridentifikasi paling dominan fragmen (35%), paling sedikit ditemukan bentuk mikroplastik pellet (14%). Berdasarkan warna, partikel hitam mendominasi dengan (30%), sedangkan merah paling sedikit dengan (1%). Dari segi ukuran, kelompok 100–500 µm merupakan yang terbanyak dengan (36%), sedangkan kelompok 1000–5000 µm hanya (1%). Temuan ini mengindikasikan bahwa Sungai Kayan telah tercemar mikroplastik dengan tingkat kelimpahan yang bervariasi, terutama dipengaruhi oleh aktivitas domestik dan antropogenik di sekitar sungai. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengelolaan lingkungan serta memberikan gambaran mengenai potensi risiko mikroplastik terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keberadaan sampah anorganik berupa plastik dapat membahayakan bagi kehidupan perairan. Plastik dapat terpecah menjadi ukuran mikro yang dikenal dengan mikroplastik. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi keberadaan dan jenis mikroplastik berdasarkan ukuran, bentuk dan warna di Sungai Kota Tarakan Kalimantan Utara. Pengambilan sampel dilakukan di 5 titik lokasi yaitu Sungai Mamburungan, Sungai Bandara, Sungai Sebengkok, Sungai Pasar Batu dan Sungai Jembatan Bongkok. Pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan plankton net mesh size 25 µm. Pengolahan sampel dilakukan dengan pengeringan sampel menggunakan oven dengan suhu 80˚C selama 24 jam. Setelah itu diberikan larutan H2O2 30% sebanyak 10 ml untuk memisahkan mikroplastik dengan bahan organik, selanjutnya ditutup menggunakan aluminium foil dan diinkubasi di dalam waterbath sampai terlihat bening dengan suhu 80˚C. Selanjutnya sampel disaring menggunakan kertas Whatman nomor 41 diameter 90 mm ukuran pori 20 µm dengan bantuan vacum pump. Sampel kemudian diidentifikasi dengan menggunakan mikroskop. Hasil identifikasi ditemukan 4 jenis mikroplastik disemua lokasi penelitian yaitu jenis fragment, film, fiber dan filament yang didominasi oleh fiber yaitu 35%. Pada Penelitian ini ada 10 jenis warna mikroplastik yang ditemukan yaitu merah, hijau, biru, kuning, coklat, putih,bening, hitam,orange dan ungu yang didominasi oleh warna bening yaitu 45%. Ukuran mikroplastik yaitu 20-5000 μm, dimana ukuran 100-500 μm lebih banyak ditemukan. Sumber mikroplastik ini diduga berasal dari limbah cat kapal, sampah yang dibuang nelayan seperti jaring, benang pancing dan tali temali dan sampah dari kegiatan antropogenik.