Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

9 hasil
Subjek: Habitat
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN IKAN DI SUNGAI SEMENDURUT, SUNGAI SEMBUAK, DAN SUNGAI BENGALUN KABUPATEN MALINAU

2026•

Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, memiliki ekosistem perairan tawar yang penting bagi masyarakat dan berbagai jenis keanekaragaman hayati ikan, namun habitat alaminya terancam oleh aktivitas tambang batubara dan alih fungsi lahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis ikan serta mengukur indeks kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi di Sungai Semendurut, Sembuak, dan Bengalun, Kabupaten Malinau. Penelitian berlangsung selama tiga bulan (Februari–April 2026) menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui survei dan observasi lapangan. Sampel ikan diambil dengan jala, pukat, pancing, dan speargun pada tiga lokasi pengamatan, sementara parameter lingkungan yang diukur meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, kecepatan arus, dan kecerahan. Analisis data memakai indeks Shannon-Wiener (H'), indeks Odum (E), dan indeks Simpson (C). Hasil menunjukkan 262 individu ikan tertangkap, terdiri dari 20 spesies, 18 genus, dan 10 famili, dengan Cyprinidae sebagai famili terbanyak dan Purut (Lobocheilos falcifer) sebagai spesies dominan (64 individu). Nilai H' berkisar 1,11–2,06 (kategori sedang), E berkisar 0,49–1, dan C berkisar 0,20–0,32 (kategori rendah), menandakan ekosistem perairan di lokasi penelitian masih relatif baik tanpa dominansi spesies tertentu yang berlebihan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Keanekaragaman Jenis Ikan Di Area Budidaya Rumput Laut Pantai Amal Kota Tarakan

2025•

Esktensifikasi area budidaya rumput laut di pesisir Pantai Amal Kota Tarakan berimplikasi pada perubahan struktur ekosistem rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan dalam pondasi dapat mengundang kehadiran berbagai jenis ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis – jenis ikan dan mengetahui tingkat keanekaragaman yang berada di area budidaya rumput laut Pantai Amal Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2024 hingga Juni 2025. Sampel ikan yang diperoleh dengan menggunakan jaring insang dan bubu dasar yang di letakkan di antara bentangan pondasi rumput laut dengan memanfaatkan pasang dan surut. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan jenis yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu sebanyak 1.665 individu yang diklasifikasikan menjadi 35 famili 55 genus dengan 75 spesies. Hasil kelimpahan ikan yang telah dilakukan didapatkan komposisi tertinggi terdapat pada spesies ikan bulu ayam (Coilia reynaldi) dengan nilai kelimpahan 19%. Nilai indeks keanekaragaman (H’) keseluruhan lokasi pengamatan berada pada rentang 0,52-2,89, nilai keseragaman (E) berada pada rentang 0,33-0,97 dan dominansi (D) 0,21-0,91. Nilai indeks keanekaragaman keseluruhan lokasi pengamatan menunjukkan tingkat keanekaragaman spesies berada pada kondisi rendah hingga sedang, nilai keseragaman menunjukkan berada pada kondisi tertekan hingga stabil dan dominansi menunjukkan pada kondisi rendah hingga tinggi. Distribusi ukuran sampel yang diperoleh mengindetifikasi bahwa area budidaya rumput laut diperairan dipesisir kelurahan Pantai Amal berperan sebagai daerah asuhan bagi berbagai jenis ikan baik ikan bernilai ekonomis penting maupun jenis ikan lainnya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi dan Karakterisasi Jenis Udang (Crustacea) Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kawasan Hutan Gunung Selatan Kota Tarakan Dan Potensinya Terhadap Pembelajaran Biologi

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Keberadaan udang air tawar pada ekosistem sungai tropis memiliki peran penting dalam menjaga kesimbangan ekologis serta berpotensi menjadi sumber belajar kontekstual dalam pendidikan biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan karakteristik morfologi serta habitat udang (Crustacea) yang ditemukan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Hutan Gunung Selatan Kota Tarakan, sekaligus mengkaji relevansinya sebagai sumber pembelajaran biologi. Penelitian menggunakan metode deskriptif-eksploratif dengan teknik purposive sampling pada empat stasiun pengamatan. Sebanyak 12 individu berhasil dikoleksi, masing-masing 1 individu (Stasiun I), 2 individu (Stasiun II), 4 individu (Stasiun III), dan 5 individu (Stasiun IV). Seluruh sampel teridentifikasi sebagai satu spesies, yaitu Macrobrachium rosenbergii (udang galah). Spesies ini ditemukan pada habitat beraliran lambat dengan substrat berpasir hingga sedikit berlumpur, disertai batuan berlumut dan vegetasi riparian yang rapat. Karakteristik habitat tersebut mendukung ketersediaan ruang berlindung dan sumber pakan bagi M. rosenbergii. Temuan ini memiliki implikasi pedagogis yang signifikan, karena dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar berbasis lingkungan pada materi Keanekaragaman Hayati di SMA serta pengayaan materi pada mata kuliah Invertebrata dan Ekologi Hewan di perguruan tinggi. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada dokumentasi keanekaragaman fauna perairan di Kota Tarakan, tetapi juga memperkuat integrasi potensi lokal dalam pembelajaran biologi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HABITAT IKAN TOR SORO DI SUNGAI KAYAN KECAMATAN PESO KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA

2022•

Habitat Ikan di perairan sungai kayan kecamatan peso dapat dikatakan masih berlimpah dengan bebrapa jenis, salah satunya jenis ikan Tor soro yang memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga ikan ini dijadikan tangkapan target oleh nelayan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui Habitat dan Karakteristik morfometrik, meristik ikan Tor soro di Daerah Sungai Kayan Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara. Metode Analisis dan deskripsi dengan penerapan dari metode ini mengumpulkan data secara primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Habitat Ikan Tor soro yang mendiami perairan Sungai Kayan dengan kondisi perairan jernih, dasar arus deras, substrat bebatuan, memiliki kualitas perairan seperti Suhu 26oC, derajat keasaman (pH) 7.5, kandungan oksigen terlarut (DO) 15.2 mg/l, kebutuhan oksigen biokimiawi (BOD) 0.6 mg/l, Total Suspended Solid (TSS) 0.054 mg/l, Nitrat (NO3-) 0.11 mg/l, Nitrit (NO2-) 0.002 mg/l, Fosfat 0.05 mg/l, serta terdapat 24 karakteristik morfometrik dan 5 karakteristik meristik ikan Tor soro. Pada karakter morfometrik ikan yang menjadi sampel memiliki panjang total (PT) 56.6 cm dengan panjang standar (PS) 41 cm dan karakter meristik menunjukkan bahwa ikan Tor soro memiliki rumus jari-jari sirip dorsal D I.8, sirip anal A I.5, sirip pectoral P I.8, sirip pelvic P I.7, dan sirip caudal C II.20 sehingga dalam identifikasi menunjukkan bahwa ikan Tor soro yang diidentifikasi selama penelitian berasal dari family Cyprinidae sp dengan spesies Tor.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Pertumbuhan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) Melalui Bibit Habitat Berbeda Menggunakan Metode Longline Di Perairan Tanjung Batu Kota Tarakan.

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Produktivitas budidaya rumput laut di perairan Kota Tarakan sejak 2010 cukup baik, namun saat ini terjadi penurunan satu diantara permasalahan adalah kualitas bibit. perkembangbiakan rumput laut dapat dilakukan dengan cara generatif (seksual) dngan gamet, vegetatif (aseksual) dengan spora, dan fragmentasi dengan potongan thallus (stek). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang berasal dari habitat yang berbeda. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, dengan menggunakan Rancangan Pencobaan Acak Lengkap (RAL) 4 kali ulangan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah pertumbuhan dan kualitas air, perlakuan dalam penelitian ini adalah bibit asal Pantai Amal, Tanjung Batu, Kupang, dan Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021, di Tanjung Batu Kota Tarakan. Parameter pengamatan meliputi analisis pertumbuhan dan kualitas air. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa pertumbuhan mutlak terbaik adalah perlakuan habitat bibit Lampung dengan berat 26.05 gram diikuti Tarakan yaitu 18.05 gram, Tanjung batu yaitu 11.30 gram dan Kupang 9.47 gram.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemanfaatan biochar sebagai habitat bakteri pelarut fosfat (BPF) Indigenous

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PEMANFAATAN BIOCHAR SEBAGAI HABITAT BAKTERI PELARUT FOSFAT (BPF) INDIGENOUS Abstrak Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan mikroba yang habitat hidupnya di dalam tanah, dan memiliki kemampuan dalam melarutkan unsur hara fosfor (P) yang terikat dengan kation. Adanya pengikatan P di dalam tanah, menyebabkan pemberian pupuk P pada tanah menjadi tidak efisien. Salah satu upaya dalam efisiensi penggunaan pupuk P, yaitu dengan memanfaatkan BPF sebagai agen pupuk hayati. Pemanfaatan BPF sebagai agen pupuk hayati, diperlukan bahan pembawa yang cocok sebagai habitat inokulum BPF sebelum diaplikasikan. Salah satu komponen bahan pembawa yang dapat dimanfaatkan sebagai habitat mikroba BPF yaitu biochar. Pada penelitian ini biochar yang dimanfaatkan adalah biochar cangkang sawit dan tempurung kelapa. Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan memiliki 2 isolat bakteri pelarut fosfat yang mampu memberikan P tersedia pada tanah. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan bahan pembawa biochar sebagai habitat yang mampu mempertahankan jumlah sel dan aktivitas Bakteri Pelarut Fosfat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan dua faktor yaitu, faktor pertama terdiri dari dua taraf, P1 = Media biochar tempurung kelapa, dan P2 = Media biochar cangkang Sawit, serta faktor kedua terdiri dari empat taraf, B0 = aquades (kontrol), B1 = isolat B_(5(6)), B2 = Isolat B_(1(17)), B3 = Multi isolat (isolat B_(5(6)) + B_(1(17))). Berdasarkan kedua faktor tersebut, maka dihasilkan 8 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 2 kali. Hasil penelitian menunjukkan kedua jenis biochar memiliki nilai pH dan kadar C-Organik yang masuk dalam kisaran pH dan kadar C-Organik yang diperlukan BPF untuk hidup. Jumlah sel pada perlakuan jenis isolat BPF memenuhi standar mutu pupuk hayati dan indeks kelarutan fosfat yang tergolong tinggi. Pada isolat tunggal B5(6) dan isolat konsorsium B5(6) + B1(17) memiliki rata-rata jumlah sel dan indeks kelarutan fosfat yang tergolong tinggi pada bahan pembawa biochar tempurung kelapa, sedangkan untuk isolat tunggal B1(17) memiliki rata-rata jumlah sel dan indeks kelarutan fosfat yang tinggi pada bahan pembawa biochar cangkang sawit. Isolat B5(6) + Biochar tempurung kelapa memiliki jumlah sel 7,61x109 CFU/ml dan indeks kelarutan fosfat 2,45%. Pada isolat konsorsium B5(6) + B1(17) + Biochar tempurung kelapa memiliki jumlah sel 7,80x109 CFU/ml dan indeks kelarutan fosfat 2,48%. Sedangkan isolat B1(17) + Biochar cangkang sawit memiliki jumlah sel 7,35x109 CFU/ml dan indeks kelarutan fosfat 2,37%. Kata kunci : Biochar, BPF, Habitat

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dengan habitat yang berbeda melalui sistem indoor

2022•

Pertumbuhan rumput laut k. alvarezii sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Kegiatan budidaya rumput laut air merupakan media untuk hidup, oleh sebab itu kualitas air yang baik dan sesuai sangat di perlukan untuk menunjang keberhasilan rumput laut. Untuk penelitian ini mencoba untuk membandingkan bibit dari luar, oleh karena itu penelitian ini mencoba mengedukasi habitat rumput laut yang berbeda. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret – April 2021, di BBU (balai benih udang) pantai Amal Kota Tarakan. Bibit rumput laut diperoleh dari Tarakan, Kupang dan Lampung. Pada penelitian ini menggunakan 3 perlakuan dan 3 ulangan.Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan mutlak dan kualitas air. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pertumbuhan spesifik yang terbaik yaitu Tarakan dengan berat 1,65 gram diikuti dengan perlakuan Lampung dengan berat 1,00 gram dan perlakuan Kupang dengan berat 0,08 gram. Pertumbuhan mutlak terbaik yaitu dari perlakuan Tarakan 31,33 gram lalu disusul dengan lampung yaitu 17,00 gram dan disusul dengan kupang yaitu 1,00 gram. Kisaran kualitas air masih berada pada kisaran yang normal untuk pertumbuhan rumput laut.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KEBIASAAN MAKAN IKAN TAWES (Barbonymus gonionotus) DI SUNGAI SEMBAKUNG DESA ATAP KABUPATEN NUNUKAN

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

KEBIASAAN MAKAN IKAN TAWES (Barbonymus gonionotus) DI SUNGAI SEMBAKUNG DESA ATAP KABUPATEN NUNUKAN Abstrak Ikan tawes (Barbonymus gonionotus) merupakan suatu sumberdaya perairan yang bernilai ekonomis penting menjadi hasil tangkapan utama para nelayan di Desa Atap dengan penangkapan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan ikan tawes di Sungai Sembakung Desa Atap. Penelitian dilakukan selama 4 bulan dengan menggunakan Prupossive Sampling. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat tangkap jaring insang. Penelitian ini menggunakan data persentase ikan dengan lambung berisi (PILB) dengan nilai 100% setiap bulannya, index of stomach content (ISC) dengan hasil yang didapatkan berkisar 2,66-8,07, index of Preponderence (IP), dan pengukuran kualitas air dilakukan secara langsung. Komposisi makanan ikan tawes ditentukan dengan menghitung index of Preponderence (IP), sehingga diperoleh 89 % makanan utama berupa lumut, sedangkan makanan pelengkap yang tidak terifentifikasi 7 % beberapa potongan rumput dan biji – bijian, dan makanan tambahan 4 % berupa akar. Hasil yang diperolah menunjukkan bahwa ikan tawes bersifat herbivora.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGEMBANGAN BIO-BOOKLET SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA SMA/MA BERBASIS POTENSI LOKAL BERDASARKAN STUDI MIKRO HABITAT DAN MORFOLOGI UDANG MANTIS DI PERAIRAN SEBATIK KABUPATEN NUNUKAN

2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mikro habitat dan morfologi udang mantis di perairan Sebatik Kabupaten Nunukan serta mengaplikasikan produk bio-booklet berbasis potensi lokal pada submateri invertebrata kelas X SMA/MA yang memenuhi aspek kelayakan. Model pengembangan dan penelitian ini mengacu pada desain model penelitian Borg & Gall (1983) yang disederhanakan menjadi lima tahap. Sampel penelitian adalah 12 orang siswa yang telah menempuh submateri invertebrata filum arthropoda kelas malacostraca. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian di perairan Sebatik ditemukan dua jenis udang mantis yaitu Harpiosquilla raphidea dan Oratosquillina gravieri dan mikro habitat yang paling cocok dan disukai khususnya H. raphidea yaitu pada salinitas 21‰, suhu 31oC, pH 7,1 dan DO 6,9 ppm. H. raphidea memiliki berat total rata-rata 14,33-50,82 gr dan panjang total rata-rata 8,83-14,12 cm, duri pada dactylus sebanyak 8 duri, pada propodus sebanyak 15-16 duri dan pada telson sebanyak 6 duri. Sedangkan O. gravieri memiliki berat total rata-rata 8 gr dan panjang total rata-rata 8,05 cm, duri dactylus sebanyak 6 duri, pada propodus sebanyak 3 duri dan pada telson 6 duri. Hasil validasi oleh tim ahli diperoleh rata-rata persentase sebesar 92% dengan kriteria sangat layak. Hasil validasi respon siswa menunjukkan tingkat kelayakan produk sebesar 93% dengan kriteria sangat layak.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail