ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit udang mantis merupakan limbah hasil perikanan yang dapat dijadikan sebagai bahan baku kitosan. Kitosan merupakan biopolimer hasil deasetilasi kitin yang bersifat biokompatibel, dapat terurai secara alami, tidak beracun dan memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi terbaik kitosan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penelitian ini dilakukan dengan cara deskriptif untuk analisis mutu kitosan dan aktivitas antibakteri pada faktor yaitu penambahan kitosan pada taraf 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1%. Dalam penelitian ini digunakan asam asetat sebagai kontrol negatif dan ampisilin sebagai kontrol positif. Hasil analisis menunjukkan bahwa derajat deasetilasi kitosan mencapai 76%, sesuai dengan ketentuan SNI No. 7949 Tahun 2013 serta standar dari Protan Laboratory. Morfologi kitosan memperlihatkan bentuk tidak teratur, bergelombang, dan berpori serta mengandung beberapa unsur yaitu C, O, Ca, dan AI. Uji aktivitas antibakteri kitosan terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus pada variasi konsentrasi 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1% menghasilkan diameter zona hambat berturut-turut sebesar 0,5 mm, 1 mm, 1 mm, 4 mm, 9,6 mm, dan 2,2 mm. Konsentrasi 1% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolitycus. Aktivitas kitosan pada penelitian ini termasuk dalam kategori lemah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
ANALISIS KANDUNGAN PROKSIMAT DAN ASAM AMINO PADA UDANG MANTIS (Hairpoisquilla raphidea) DARI PERAIRAN KOTA TARAKAN ABSTRAK Udang mantis merupakan hasil tangkapan sampingan dari alat tangkap seperti jaring insang hanyut (gillnet monofilament) dan mini trawl, yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal meskipun memiliki potensi sebagai sumber protein hewani serta alternatif pangan bergizi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan proksimat dan profil asam amino pada udang mantis (Harpiosquilla raphidea) yang diperoleh dari perairan Kota Tarakan. Analisis dilakukan terhadap sampel dalam kondisi segar dan kering, mencakup pengujian kadar air (SNI 01-2354.2-2006), abu dengan metode (furnace), protein (SNI 01- 2354.4-2006), lemak (SNI 01-2354.3-2006), karbohidrat (SNI 01-2370-1991), disertai dengan identifikasi kandungan asam aminonya. Analisis kandungan asam amino dilakukan menggunakan instrumen UPLC-PDA dengan metode 18-5- 17/MU/SMM-SIG). Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar air pada udang mantis segar sebesar 82,00% dan mengalami penurunan menjadi 8,66% setelah proses pengeringan. Kandungan protein relatif tinggi, yakni 43,40% pada sampel segar dan sedikit menurun menjadi 41,56% pada sampel kering. Kadar lemak terdeteksi rendah 1,86% pada sampel segar; 1,51% pada sampel kering, Adapun Kadar abu tercatat sebesar 21,43% pada sampel segar dan menurun hingga menjadi 5,00% pada sampel kering, sementara Karbohidrat meningkat dari 21,43% pada sampel segar menjadi 24,26% pada sampel kering. Profil asam amino menunjukkan adanya asam amino esensial (histidin, isoleusin, leusin, lisin, valin, fenilalanin, treonin) serta non-esensial (alanin, aspartat, glutamat, glisin, prolin, serin, tirosin, arginin). Dari kelompok non-esensial, asam glutamat (11.461,44 mg/kg) dan alanin (7.049,62 mg/kg) paling dominan, sedangkan leusin (6.307,54 mg/kg) merupakan esensial tertinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa udang mantis termasuk sumber protein bermutu tinggi dengan profil asam amino lengkap, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai pangan alternatif bergizi sekaligus bernilai ekonomi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mikro habitat dan morfologi udang mantis di perairan Sebatik Kabupaten Nunukan serta mengaplikasikan produk bio-booklet berbasis potensi lokal pada submateri invertebrata kelas X SMA/MA yang memenuhi aspek kelayakan. Model pengembangan dan penelitian ini mengacu pada desain model penelitian Borg & Gall (1983) yang disederhanakan menjadi lima tahap. Sampel penelitian adalah 12 orang siswa yang telah menempuh submateri invertebrata filum arthropoda kelas malacostraca. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian di perairan Sebatik ditemukan dua jenis udang mantis yaitu Harpiosquilla raphidea dan Oratosquillina gravieri dan mikro habitat yang paling cocok dan disukai khususnya H. raphidea yaitu pada salinitas 21‰, suhu 31oC, pH 7,1 dan DO 6,9 ppm. H. raphidea memiliki berat total rata-rata 14,33-50,82 gr dan panjang total rata-rata 8,83-14,12 cm, duri pada dactylus sebanyak 8 duri, pada propodus sebanyak 15-16 duri dan pada telson sebanyak 6 duri. Sedangkan O. gravieri memiliki berat total rata-rata 8 gr dan panjang total rata-rata 8,05 cm, duri dactylus sebanyak 6 duri, pada propodus sebanyak 3 duri dan pada telson 6 duri. Hasil validasi oleh tim ahli diperoleh rata-rata persentase sebesar 92% dengan kriteria sangat layak. Hasil validasi respon siswa menunjukkan tingkat kelayakan produk sebesar 93% dengan kriteria sangat layak.