ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keramahan lingkungan alat tangkap rawai (longline) di perairan Selumit Pantai, Kota Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei dan observasi terhadap 30 nelayan dan 30 unit alat tangkap rawai. Penilaian tingkat keramahan lingkungan mengacu pada sembilan kriteria Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) FAO 1995, meliputi selektivitas alat tangkap, hasil tangkapan utama dan sampingan, serta dampaknya terhadap biodiversitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap rawai menghasilkan tujuh jenis spesies ikan dengan dominasi hasil tangkapan utama sebesar 93% berdasarkan berat dan 97% berdasarkan jumlah individu. Skor rata-rata tingkat keramahan lingkungan yang diperoleh adalah 30,1 yang termasuk dalam kategori sangat ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa alat tangkap rawai (longline) memiliki selektivitas yang cukup baik, hasil tangkapan sampingan yang rendah, serta dampak minimal terhadap habitat dan keanekaragaman hayati, sehingga mendukung perikanan tangkap yang berkelanjutan di Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berfokus pada perlakuan umpan alat tangkap Bubu (Bottom fish pots) terhadap Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) di perairan Sungai Kayan Kabupaten Bulungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas hasil tangkap dalam memodifikasi perlakuan umpan dari alat tangkap Bubu Dasar Udang Galah serta mengetahui pengaruh modifikasi perlakuan Umpan pada alat Tangkap Bubu Dasar udang galah. Pengambilan sampel dilakukan selama 2 bulan, mulai dari bulan Februari sampai dengan Maret 2023 dengan jumlah hasil tangkapan 134 ekor. Hasil Analisis One Way Analysis of Variance (ANOVA) yang berarti adanya perbedaan hasil tangkapan. Perlakuan umpan pada bubu udang galah lebih tinggi terjadi pada umpan kelapa dengan total hasil tangkapan selama sampling 4 kali dengan pengulangan persekali sampling 3 kali memiliki jumlah 90 ekor atau rata-rata 25.5 ekor udang galah dibandingkan dengan umpan ubi memiliki rata-rata 7.5 ekor, udang memilki rata-rata 2 ekor dan ikan memiliki rata-rata 1.5 ekor. Berdasarkan hasil uji Normality umpan pada perlakuan Kepala berpengaruh nyata terhadap hasil Tangkap udang galah menggunakan alat tangkap bubu udang galah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Besarnya wilayah lautan perairan Tarakan menyimpan potensi perikanan yang sangat besar, baik perikanan budidaya maupun perikanan tangkap. Potensi sumberdaya ikan banyak dimanfaatkan dengan ragam alat tangkap di perairan pesisir Tarakan, salah satunya di perairan Juata Laut Tarakan dengan menggunakan alat tangkap pukat hela. Sasaran tangkapan utama nelayan pukat hela dalam penelitian ini yaitu ikan bawal putih. Ikan bawal putih merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di perairan Kota Tarakan. Alat tangkap pukat hela merupakan alat penangkapan ikan yang berkantong dilengkapi dengan papan pembuka mulut jaring. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dan menjelaskan nilai produktifitas tangkapan ikan bawal putih pada perikanan pukat hela dengan variabel produktifitas hasil tangkapan (catch) per satuan upaya penangkapan (trip / gross tonnase / total cost). Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan (Juni – Juli 2023). Lokasi penelitian di Tempat Pendaratan Ikan nelayan pukat hela di Juata Laut. Pengumpulan sampel menggunakan pendekatan purposive sampling dan mengikuti nelayan dalam operasi penangkapan. Pengamatan dan pendataan variabel hasil tangkapan (satuan ekor dan kg) dan aspek teknis unit penangkapan dilakukan setiap periode sampling (total sampling 8 kali) serta kegiatan wawancara dilakukan terhadap 15 responden. Pengukuran efektifitas penangkapan menggunakan metode rasio masukan (input) dan luaran (output) mengacu pada Permen. KP No. 86 tahun 2016 dengan modifikasi formulasi hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai produktifitas hasil tangkapan (catch) per satuan upaya penangkapan per trip memiliki nilai rata – rata sebesar 2.3 kg per trip, nilai produktivitas per GT kapal memiliki nilai rata- rata 1.5 kg/GT, dan nilai produktivitas per satuan biaya operasional rata-rata sebesar 0,0200 gram/rupiah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selama sepuluh tahun terakhir, hasil tangkapan ikan di Perairan Sungai Kayan, Desa Mara I, mengalami penurunan signifikan. Hal ini diduga disebabkan oleh penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan oleh sebagian masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi jenis dan kompsosisi hasil tangkapan menggunakan rawai dan jaring insang, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengelolaan dan pengembangan perikanan di Perairan Sungai Kayan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, serta teknik sampling total sampling untuk mengumpulkan data tangkapan ikan. Berdasarkan hasil penelitian, komposisi jenis tangkapan di perairan Mara I meliputi 183 ekor ikan, dengan 70 ekor berasal dari alat tangkap rawai dan 113 ekor dari jaring insang. Jenis ikan yang paling dominan tertangkap oleh alat tangkap rawai adalah ikan Patin dengan persentase sebesar 89%, sementara ikan Salap menjadi dominan pada jaring insang dengan persentase sebesar 60%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa alat tangkap rawai cenderung menghasilkan tangkapan utama berupa ikan Patin, sedangkan jaring insang lebih banyak menangkap ikan Salap. Hasil tangkapan sampingan juga menunjukkan variasi jenis ikan yang berbeda antara kedua alat tangkap, namun tidak ditemukan adanya hasil tangkapan buangan. Temuan ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi perikanan di Perairan Sungai Kayan dan dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di daerah tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Muara sungai adalah wilayah badan air yang memiliki produktivitas tinggi. Melihat kondisi eksisting penangkapan ikan di wilayah tersebut, terdapat beberapa jenis alat tangkap yang beroperasi seperti tugu, sero, pukat hela, gillnet, bubu dan lain-lain. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengevaluasi perikanan udang bintik (Metapenaeus sp.) dengan alat tangkap tugu berdasarkan domain teknik penangkapan ikan di muara Bulungan dan Sesayap. Metode yang digunakan indikator ini adalah metode survei dengan melakukan wawancara responden yang dianggap relevan. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali sampling pada alat tangkap tugu (stownet) selama 2 bulan. Analisis data domain teknik penangkapan ikan meliputi, penentuan daerah tangkapan, metode penangkapan yang bersifat destruktif atau ilegal, modifikasi alat penangkap ikan dan alat bantu penangkapan, kapasitas perikanan dan upaya penangkapan, dan selektivitas alat tangkap. Dari penelitian yang dilakukan penangkapan udang bintik dengan alat tangkap tugu dapat dideskripsikan sebagai penggunaan alat tangkap tugu di perairan muara bulungan dan sesayap tidak bersifat destruktif, tidak ada modifikasi atau penambahan alat bantu penangkapan ikan, hasil tangkapan didominasi oleh ikan target yaitu udang bintik. Didominasi ukuran yang sudah dewasa, tidak ada modifikasi terhadap alat tangkap maupun alat bantu penangkapan ikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berfokus pada karakter morfometrik dan meristik ikan kuwe (Caranx ignobilis) hasil tangkapan kelong diperairan Tanjung Buka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakter morfometrik dan meristik serta perbedaan ikan kuwe jantan dan betina secara morfologi di periaran Tanjung Buka. Pengambilan sampel selama bulan mei hingga juli 2023 dengan jumlah sampel ikan sebanyak 30 ekor. Hasil Analisis persamaan regresi linear menunjukkan ikan kuwe jantan dan kuwe betina memiliki keeratan yang sangat kuat berkisar 0,831 – 0,996 dan pada uji diskriminan ditemukan lima perbedaan karakter mofometrik yaitu PS, PK, TK, PSSV, PSSA ikan kuwe betina lebih panjang dibandingkan dengan ikan kuwe jantan. Hasil perhitungan meristik pada ikan kuwe jantan dan betina memiliki sirip lengkap D¹. VII ; D². I.20, P. 19, V.I. 4, A¹.II ; A². 17 – 18, C. 19 - 23 + 2, LL¹.58 - 62 ; LL². 30 – 31.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Alat tangkap Bubu dasar merupakan alat tangkap yang dioperasikan secara pasif di dasar perairan yang memiliki hasil tangkapan dengan ukuran yang bervariasi serta beragam jenis. Hasil tangkapan yang berukuran kecil atau tidak layak tangkap pada pengoprasian alat tangkap dapat berpengaruh dalam perikanan yang berkelanjutan, oleh karena itu dilakukan penelitian ini dengan tujuan menganalisis komposisi hasil tangkapan dan struktur ukuran ikan kakap merah. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan di perairan Pulau Bunyu, sampel di kumpulkan berasal dari alat tangkap bubu dasar. Data yang di kumpulkan dianalisis dengan membandingkan HTU, HTS dan HTB serta selang ukuran ditentukan dalam selang kelas dengan menggunakan rumus distribusi frekuensi. Keanekaragaman ikan yang didapat yaitu terdiri dari 5 jenis ikan yaitu ikan merah (L. argentimaculatus), ikan kerapu (E. malabaricus), ikan tompel (L. ruselli), ikan kipar (Scatophagus argus), ikan buntal (Tetraodon sp.). ikan-ikan yang tertangkap itu didominasi oleh ikan dengan kategori hasil tangkapan utama (HTU) dengan presentase 80%. Proporsi ukuran ikan kakap merah yang didapat yaitu 30,2-61,83 cm dengan nilai selang kelas paling tinggi yaitu 30,2-53,92 cm jika dilihat dari penentuan ikan pertama kali matang gonad, ikan merah yang tertangkap merupakan ikan yang sudah masuk pada fase dewasa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KEBIASAAN MAKAN IKAN TAWES (Barbonymus gonionotus)
DI SUNGAI SEMBAKUNG DESA ATAP
KABUPATEN NUNUKAN
Abstrak
Ikan tawes (Barbonymus gonionotus) merupakan suatu sumberdaya perairan yang bernilai ekonomis penting menjadi hasil tangkapan utama para nelayan di Desa Atap dengan penangkapan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan ikan tawes di Sungai Sembakung Desa Atap. Penelitian dilakukan selama 4 bulan dengan menggunakan Prupossive Sampling. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat tangkap jaring insang. Penelitian ini menggunakan data persentase ikan dengan lambung berisi (PILB) dengan nilai 100% setiap bulannya, index of stomach content (ISC) dengan hasil yang didapatkan berkisar 2,66-8,07, index of Preponderence (IP), dan pengukuran kualitas air dilakukan secara langsung. Komposisi makanan ikan tawes ditentukan dengan menghitung index of Preponderence (IP), sehingga diperoleh 89 % makanan utama berupa lumut, sedangkan makanan pelengkap yang tidak terifentifikasi 7 % beberapa potongan rumput dan biji – bijian, dan makanan tambahan 4 % berupa akar. Hasil yang diperolah menunjukkan bahwa ikan tawes bersifat herbivora.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh modal, lama melaut, tenaga kerja, pengalaman kerja dan alat tangkap jaring udang terhadap pendapatan nelayan di Pesisir Timur Kota Tarakan secara parsial dan simultan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian kuantitatif data yang digunakan adalah data primer. Metode alat analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan diketahui bahwa pada uji hipotesis (uji t) menunjukkan bahwa modal berpengaruh signifikan terhadap pendapatan, dengan nilai t hitung X1 (-2,085) > t tabel (0,680) dan nilai Sig. X1 (0,043) α (0,25). Lama melaut tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan, dengan nilai t hitung X2 (-0,849) > t tabel (0,680) dan nilai Sig. X2 (0,400) > α (0,25). Tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap pendapatan, dengan nilai t hitung X3 (1,444) > t tabel (0,680) dan nilai Sig. X3 (0,156) α (0,25). Pengalaman kerja berpengaruh signifikan terhadap pendapatan, dengan nilai t hitung X4 (-2,359) > t tabel (0,680) dan nilai Sig. X4 (0,023) α (0,25). Alat tangkap berpengaruh signifikan terhadap pendapatan, dengan nilai t hitung X5 (-1,292) > t tabel (0,680) dan nilai Sig. X5 (0,203) α (0,25). Secara simultan terdapat pengaruh antara modal, lama melaut, tenaga kerja, pengalaman kerja dan alat tangkap terhadap pendapatan, dengan nilai F hitung (2,584) > F tabel (1,38) dan nilai Sig F hitung (0,039 0,25) dan diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,227 atau 22,7 persen. Nilai tersebut menunjukkan bahwa 22,7 persen pendapatan dipengaruhi oleh modal, lama melaut, tenaga kerja, pengalaman kerja dan alat tangkap. Sedangkan, sebesar 77,3 persen disebabkan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan kedalam model.