Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

22 hasil
Subjek: Hasil Tangkapan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS HASIL TANGKAPAN, KELAYAKAN USAHA, DAN TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN ALAT TANGKAP PUKAT HELA DI PERAIRAN JUATA LAUT KOTA TARAKAN

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Juata Laut merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kota Tarakan Kalimantan Utara. Juata Laut memiliki potensi perikanan yang cukup baik hal ini ditandai dengan banyaknya alat tangkap pukat hela yang berada di Juata Laut. Dengan kesempatan ini dilakukan penelitian tentang analisis hasil tangkapan, kelayakan usaha dan tingkat keramahan lingkungan alat tangkap pukat hela di Perairan Juata Laut berdasarkan 9 kriteria keramahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan menentukan hasil tangkapan, kelayakan usaha, serta menentukan tingkat keramahan lingkungan pada alat tangkap pukat hela. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kuantitatif dengan pengambilan sampel yang dilakukan adalah metode purposive random sampling yaitu dengan dua pendekatan diantaranya dengan cara observasi dan survey. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil tangkapan utama yaitu ikan nomei 682 kg serta hasil tangkapan sampingan ikan puput 329 kg, cumi-cumi 81 kg, ikan gulama 432 kg, ikan bawal 128,4 kg, udang merah/duri 53 kg, udang putih 183,2 kg, udang windu 222,9 kg, dan hasil tangkapan buangan udang manthis 3 kg, ikan layur 7 kg, dan kepiting kecil 23 kg. Kelayan usaha pada perikanan tangkap pukat hela didapatkan hasil BC/Rasio sebesar 1,730 berarti usaha tersebut layak untuk di jalankan. Adapun tingkat keramahan lingkungan yang ada di Perairan Juata Laut ini termasuk kategori ramah lingkungan dimana diperoleh skor 26,9.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Komposisi Hasil Tangkapan Utama dan Ukuran Ikan Tenggiri (Scomberomorus sp) pada Perikanan Drift Gillnet di Kota Tarakan.

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kota Tarakan merupakan salah satu sentra perikanan tangkap di Kalimantan Utara yang didukung oleh berbagai jenis alat tangkap. Dalam pengoprasiannya, alat tangkap tidak hanya menangkap ikan target (hasil tangkapan utama), tetapi juga ikan non target (hasil tangkapan sampingan). Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis komposisi hasil tangkapan sebagai indikator selektifitas alat tangkap melalui perbandingan antar hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi hasil tangkapan dan distribusi ukuran hasil tangkapan utama (main catch) alat tangkap drift gillnet yang didaratkan di Pos Pendaratan Ikan Kelurahan Selumit Pantai, Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu Januari sampai maret 2026, menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap hasil tangkapan nelayan drift gillnet. Analisis dilakukan terhadap komposisi hasil tangkapan berdasarkan berat dan jumlah individu, serta distribusi ukuran panjang total ikan tenggiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan drift gillnet terdiri atas hasil tangkapan utama (HTU) dan hasil tangkapan sampingan (HTS). Berdasarkan berat total. Hasil, tangkapan utama berupa ikan tenggiri mendominasi sebesar 74,11%, sedangkan hasil tangkapan sampingan sebesar 23,73%. Berdasarkan jumlah individu, hasil tangkapan utama juga memiliki proporsi lebih besar sebesar 76,27%, sedangkan memberikan kontribusi terbesar terhadap biomassa tangkapan, sedangkan hasil tangkapan sampingan lebih dominan dari segi jumlah individu. Distribusi panjang total ikan tenggiri berkisar antara 38.0-68,7 cm dengan kelas ukuran dominan pada 38-42 cm dan 45,7-49,4 cm.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PERBEDAAN UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN MENGGUNAKAN ALAT TANGKAP RAWAI (Long Line) DI PERAIRAN SEBATIK KABUPATEN NUNUKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Alat tangkap longline atau rawai merupakan salah satu metode penangkapan ikan yang umum digunakan dalam perikanan komersial. Longline terdiri dari tali utama yang panjang dengan banyak cabang yang terhubung ke kail. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis umpan terhadap hasil tangkapan menggunakan alat tangkap rawai (longline) di perairan Sebatik, Kabupaten Nunukan. Metode yang digunakan adalah percobaan penangkapan (experimental fishing) dengan lima perlakuan umpan, yaitu ikan otek (Puntius binotatus), ikan puput (Rasbora spp.), ikan tembang (Sardinella lemuru), kelapa (Cocos nucifera), dan belut (Gymnothorax dorsalis). Penelitian dilaksanakan selama bulan November 2024–Januari 2025 dengan total 12 kali ulangan. Data hasil tangkapan dianalisis melalui komposisi jenis, nilai efektivitas, dan sidik ragam satu arah (ANOVA) menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat delapan spesies ikan yang tertangkap, dengan komposisi tertinggi pada ikan pari (28,2%), di ikuti ikan putih (23,5%), dan kakap (18,0%). Nilai efektivitas penangkapan tertinggi diperoleh pada umpan puput (17,3%), di ikuti belut (10,7%), dan kelapa (8,0%), sedangkan otek dan tembang masing-masing 5,3%. Uji ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan jenis umpan tidak memberikan pengaruh signifikan (p > 0,05) terhadap hasil tangkapan baik berdasarkan jumlah jenis maupun biomassa. Meskipun demikian, secara deskriptif penggunaan puput dan kelapa cenderung menghasilkan biomassa yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam pemilihan umpan bagi nelayan serta sebagai dasar pengembangan teknologi penangkapan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMASANGAN PELAMPUNG (FLOATING) TERHADAP HASIL TANGKAPAN PADA PERIKANAN PUKAT HELA PERMUKAAN (SURFACE TRAWL) DI PERAIRAN SEBATIK NUNUKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perairan pulau Sebatik merupakan wilayah perairan yang terindikasi sangat tinggi potensi perikanannya, masyarakat Pulau Sebatik dominan berprofesi sebagai nelayan dengan menggunakan alat tangkap pukat hela (trawl). Alat tangkap pada pukat hela (trawl) merupakan jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan karena alat tangkap pukat hela (trawl) termasuk alat tangkap yang menangkap berbagai jenis ikan yang termasuk kategori ikan-ikan ekonomis tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan dan menjelaskan katagori jenis hasil tangkapan, nilai efektifitas hasil tangkapan pada pengoperasian pukat hela (trawl) dengan perlakuan penambahan pelampung pada bagian otterboad, headrope dan codend terhadap hasi tangkapan. Penelitian ini menggunakan metode experimental fishing dengan perlakuan terkait pemasangan pelampung yaitu perlakuan A (pelampung pada otterboad), perlakuan B (pelampung pada otterboad, headrope), perlakuan C (pelampung pada otterboad, headrope dan codend). Hasil dari penelitian menunjukan bahwa jenis ikan tertangkap ialah ikan demersal dan ikan palagis yang meliputi ikan perak, bawal putih, tenggiri papan, bawal hitam,senangin, tembang, talang-talang, selangat, putih, kerong-kerong, kipper, gulama batu, udang, layur, sotong, beliak mata, peperek, buntal, puput magetan, ubur-ubur. Hasil analisa efektifitas hasil tangkapan menunjukkan bahwa perlakuan A memiliki nilai efektifitas sebesar 59% (HTU), 22,4% (HTS) dan 18,6% (HTB), perlakuan B mendapatkan nilai efektifitas sebesar 46,4% (HTU), 32,2% (HTS), dan 21,5% (HTB), Perlakuan C mendapatkan nilai efektifitas sebesar 45%, 20,5%, dan 34,6%.Hasil uji (ANOVA) data perlakuan pemasangan pelampung terhadap hasil tangkapan pada alat tangkap pukat trawl, menghasilkan bahwa perlakuan pemasangan pelampung yang berbeda berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan baik pada satuan berat dan individu berat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN PERIKANAN JARING INSANG (GILLNET) DI FISHING BASE LINGKAS UJUNG TARAKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jaring insang (gillnet) memiliki nilai penting bagi produktivitas perikanan tangkap di Kota Tarakan. Sebagai salah satu kegiatan perikanan tangkap yang utama di Kota Tarakan, jaring insang gillnet penting bagi masyarakat Kota Tarakan, utamanya masyarakat nelayan di wilayah Timur Kota Tarakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dengan pendekatan analisis morfologis dan persentase tangkapan utama. Penelitian dilaksanakan Januari – Maret 2024. Metode dalam penelitian menggunakan purposive sampling pendekatan observasi dan survei. Pengumpulan data observasi secara keseluruhan sebanyak 12 kali. Analisis data pendekatan observasi morfologis sampel menggunakan acuan Marine Fisheries of South East Asia dan Market Fisheries of Indonesian. Analisis komposisi jenis menggunakan pendekatan nilai persentase. Tingkat keramahan lingkungan menggunakan pendekatan analisis 9 kriteria ramah lingkungan mengacu pada CCRF/FAO. Hasil penelitian menunjukkan secara morfologis dari hasil tangkapan gillnet terindikasi terdapat 5 jenis ikan (Eleutheronema sp., Lutjanus sp., Lates sp., Scomberomorus sp., dan Netuma sp.). Hasil tangkapan utama (HTU) mencapai 70.03% dan hasil tangkapan sampingan (HTS) mencapai 29.97%. Nilai komposisi hasil tangkapan berdasarkan persentase satuan berat yaitu hasil tangkapan paling tinggi adalah jenis ikan kurau (Eleutheronema sp.) sebanyak 55,40% dan paling sedikit adalah ikan manyung (Netuma sp.) sebanyak 5,96%. Tingkat keramahan lingkungan menurut CCRF/FAO secara keseluruhan tergolong kategori sangat ramah lingkungan dengan (nilai 28,54) berdasarkan sembilan kriteria ramah lingkungan CCRF FAO

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Komposisi Jenis Dan Ukuran Ikan Hasil Tangkapan Jaring Insang Hanyut (Drift Gillnet) Yang Didaratkan Di Tangkahan “Cinta Madina” Kabupaten Nunukan

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Alat tangkap jaring insang hanyut (drift gillnet) yang digunakan oleh nelayan kampung nelayan Mansapa merupakan alat tangkap yang memiliki bentuk umum empat persegi panjang yang menangkap ikan yang bersifat pasif. Komposisi jenis dan ukuran hasil tangkapan jaring insang hanyut (drift gillnet) di Kabupaten Nunukan sangat diperlukan karena selain belum pernah dilakukan penelitian tersebut, informasi ilmiah terkait dengan komposisi (jenis dan ukuran) juga berguna sebagai informasi ilmiah dasar terhadap masyarakat dalam pengembangan ilmu bidang perikanan tangkap dan sebagai dasar ilmiah pada kebijakan pengelolaan lestari dan berkelanjutan sumberdaya perikanan khususnya pada perikanan jaring insang hanyut.Tujuan penelitian adalah untuk menguraikan nilai persentase komposisi jenis ikan, kategori tangkapan, menguraikan nilai persentase hasil tangkapan utama, hasil tangkapan sampingan dan hasil tangkapan buangan serta distribusi frekuensi ukuran panjang (total, standar dan cagak) dan berat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif selama bulan Desember- Februari 2024, dengan purposive sampling sebanyak 6 kali sampling. Hasil tangkapan alat tangkap jaring insang selama penelitian terdapat 5 jenis ikan yaitu Tenggiri papan, Senangin, Perak, Selangat dan Manyung. Nilai persentase komposisi per jenis berdasarkan berat ukuran yang tertinggi yaitu yaitu ikan tenggiri papan 39,34 % dan terendah yaitu ikan manyung 0,47 % sedangkan berdasarkan individu nilai yang tertinggi yaitu selangat sebanyak 64,94% ekor. dan ikan yang paling sedikit yaitu ikan manyung sebanyak 0,16%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMPOSISI JENIS DAN UKURAN IKAN HASIL TANGKAPAN PUKAT HELA PERMUKAAN (SURFACE TRAWL) SISTEM FLOATING OTTERBOARD DI PERAIRAN SEBATIK KABUPATEN NUNUKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Alat tangkap pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik Desa Binalawan merupakan alat tangkap yang bersifat aktif. Alat tangkap tersebut dipergunakan oleh nelayan Sebatik dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan di perairan Sebatik. Tujuan penelitian adalah untuk pengenalan jenis ikan, menguraikan persentase komposisi jenis, menganalisis hubungan panjang dan berat serta kategori hasil tangkapan pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dilakukan pada bulan Januari – Maret 2024, dengan metode purposive sampling selama 18 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 20 jenis ikan hasil tangkapan pukat hela di perairan Sebatik selama penelitian Perak, Bawal putih, Tenggiri Papan, Talang-Talang, Gulama, Senangin, Kuro, Selangat, Tidur, Pari Sempak, Pari Jantan, Merah, Arut, Putih Cermin, Bawal Hitam, Tembang, Puput Magatan, Peperek, Beliak Mata dan Ubur - Ubur. Nilai persentase komposisi per jenis berdasarkan berat ikan yang paling tertinggi yaitu perak (18,3%) dan nilai yang terendah yaitu Tembang (0,4%). Berdasarkan ekor nilai yang tertinggi yaitu Puput Magatan (25,2%) dan nilai yang terendah didapatkan sebesar (0,1%) pada Pari Jantan. Kategori hasil tangkapan berdasarkan satuan berat tertinggi pada Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) sebesar 50% dan berdasarkan satuan individu (ekor) pada Hasil Tangkapan Buangan (HTB) sebesar 63%. Hal ini dapat dikatakan bahwa alat tangkap yang digunakan pada penelitian ini termasuk alat tangkap yang tidak selektif karena alat tangkap tersebut dapat menangkap segala jenis ikan dan ukuran sehingga dapat merusak lingkungan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KATEGORI HASIL TANGKAPAN MENGGUNAKAN ALAT TANGKAP JALA (CAST NET), RAWAI (LONGLINE), BUBU (FISH TRAP) DI PERAIRAN SALIMBATU KABUPATEN BULUNGAN.

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Alat tangkap jala (cash net), rawai (longline) dan bubu (fish trap) di perairan Salim Batu merupakan alat tangkap ikan bersifat aktif. Alat tangkap jala memiliki ukuran tinggi 3 m dan diameter tebar 1,5 m. Alat tangkap rawai memiliki ukuran panjang 80 m. Alat tangkap bubu (fish trap) memiliki ukuran panjang 2,5 m, diameter atas 45 cm dan diameter bawah 90 cm. Tujuan penelitian adalah mengetahui Kategori hasil tangkapan Utama (main catch) / HTU, Sampingan (bycatch) / HTS, Buangan (discard) / HTB) dengan menggunakan alat tangkap jala, rawai dan bubu di perairan salimbatu kabupaten Bulungan. Metode penelitian deskriptif kuantitaf. Penelitian ini dilakukan pada selama Maret – Mei 2023, dengan purposive sampling selama 12 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan hasil tangkapan jala diperoleh udang galah, ikan puput, gulama, bulu ayam, kakap putih, buntal, serinding dan otek. Pengoperasian alat tangkap rawai didapatkan ikan putih, kakap putih, kerapu macan, rebanu, pari dan kerapu muara. Pengoperasian alat tangkap bubu terdapat ikan putih, sembilang, mujair kiper, bawal, kerapu macan, jenahan, belanak, gulama, sumpit, lele, sidat kembang, udang galah, udang, kepiting bakau, buntal, remang bias, sidat dan otek. Kategori hasil tangkapan jala yang dominan adalah tangkapan utama (main catch) sebesar 11,9 kg (75,80%), tangkapan sampingan (bycatch) sebesar 2,2 kg (14,01%) dan hasil tangkapan buangan (discard) sebesar 1,6 kg (10,19%), Kategori hasil tangkapan rawai yang dominan adalah tangkapan utama (main catch) sebesar 32,3 kg (100%), Kategori hasil tangkapan bubu yang dominan adalah tangkapan utama (main catch) sebesar 18,7 kg (71,10%), tangkapan sampingan (bycatch) sebesar 5,5 kg (20,91%) dan hasil tangkapan buangan (discard) sebesar 2,1 kg (7.98%).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis perikanan udang bintik (metapenaeus sp) domain teknik penangkapan ikan di muara bulungan dan sesayap

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Muara sungai adalah wilayah badan air yang memiliki produktivitas tinggi. Melihat kondisi eksisting penangkapan ikan di wilayah tersebut, terdapat beberapa jenis alat tangkap yang beroperasi seperti tugu, sero, pukat hela, gillnet, bubu dan lain-lain. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengevaluasi perikanan udang bintik (Metapenaeus sp.) dengan alat tangkap tugu berdasarkan domain teknik penangkapan ikan di muara Bulungan dan Sesayap. Metode yang digunakan indikator ini adalah metode survei dengan melakukan wawancara responden yang dianggap relevan. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali sampling pada alat tangkap tugu (stownet) selama 2 bulan. Analisis data domain teknik penangkapan ikan meliputi, penentuan daerah tangkapan, metode penangkapan yang bersifat destruktif atau ilegal, modifikasi alat penangkap ikan dan alat bantu penangkapan, kapasitas perikanan dan upaya penangkapan, dan selektivitas alat tangkap. Dari penelitian yang dilakukan penangkapan udang bintik dengan alat tangkap tugu dapat dideskripsikan sebagai penggunaan alat tangkap tugu di perairan muara bulungan dan sesayap tidak bersifat destruktif, tidak ada modifikasi atau penambahan alat bantu penangkapan ikan, hasil tangkapan didominasi oleh ikan target yaitu udang bintik. Didominasi ukuran yang sudah dewasa, tidak ada modifikasi terhadap alat tangkap maupun alat bantu penangkapan ikan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KELIMPAHAN DAN STRUKTUR UKURAN IKAN PUPUT (Ilisha elongata) HASIL TANGKAPAN PUKAT HELA DI PERAIRAN JUATA KOTA TARAKAN KALIMANTAN UTARA

2023•

KELIMPAHAN DAN STRUKTUR UKURAN IKAN PUPUT (Ilisha elongata) HASIL TANGKAPAN PUKAT HELA DI PERAIRAN JUATA KOTA TARAKAN, KALIMANTAN UTARA Abstrak Salah satu perairan yang berada di wilayah administrasi Kota Tarakan adalah Perairan Juata. Perairan ini memiliki ikan puput (Ilisha elongata) sebagai salah satu komoditas hasil lautnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Purposive sampling dan bertujuan untuk mengetahui distribusi kelimpahan dan struktur ukuran ikan puput di Perairan Juata Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara, dan melakukan pengkajian pengaruh parameter lingkungan secara kimia dan fisika terhadap kelimpahan ikan. Hasil penelitian menunjukkan perairan juata laut merupakan bagian dari Kota Tarakan yang berada di wilayah paling utara dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan. Kelimpahan ikan puput yang di dasarkan pada frekuensi kemunculan dan jumlah hasil tangkapan nilai KR tertinggi pada trip ke dua sedangkan nilai terendah pada trip ke tiga. Komposisi ukuran ikan puput tertinggi yang didapatkan yaitu 460 ekor dengan kisaran panjang 13,41-14,68 cm. Panjang total ikan puput yang terbentuk berkisar antara 10,20-27,83cm. Ukuran panjang cagak ikan puput berkisar dari 11,99-13,25cm. Panjang standar ikan puput tertinggi yang didapatkan berkisar 9,16-10,26cm. Ukuran berat ikan puput menunjukan hasil ukuran berkisar dari 9,00-102,92 gram. Parameter kualitas air fisika dan kimia yang diperoleh menghasilkan nilai Ph antara 7,10-7,85, salinitas menunjukan nilai 24-30ppm , kecerahan menunjukan 65,0-80,0 cm, kecepatan arus menunjukan 0,60-1,70 m/s, suhu menunjukan antara 25-33oC. Hasil analisa regresi sedehana antara hasil tangkapan dan parameter kualitas air secara terpisah menghasilkan nilai korelasi, deteminasi, dan nilai signifikansi begitupun pada regresi berganda menunjukkan hasil yang sama yaitu tidak ada pengaruh.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HASIL TANGKAPAN KEPITING BAKAU (Scylla spp.) ANTARA BULAN PURNAMA DAN BULAN BARU DI PULAU AHUS KABUPATEN NUNUKAN

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Usaha penangkapan di bidang perikanan banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir Kabupaten Nunukan. Salah satu target tangkapannya adalah Kepiting bakau (Scylla spp.) yang merupakan komoditas ekspor yang bernilai ekonomis tinggi. Namun fluktuasi hasil tangkapan belum banyak diketahui, sehingga perlu dilakukan suatu penelitian mengenai hal tersebut. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui fluktuasi hasil tangkapan kepiting bakau berdasarkan periode bulan, yaitu bulan baru dan bulan purnama. Lokasi penelitian ditentukan di perairan pulau Ahus Kabupaten Nunukan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus, September dan Oktober. Alat tangkap yang digunakan adalah bubu tancap dengan bahan dasar jaring dengan bingkai kawat besi. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif. Hasil tangkapan total kepiting bakau antara periode bulan baru dan bulan purnama berturut-turut adalah 776 ekor dan 1.036 ekor. Hasil ini berbeda nyata dengan nilai signifikansi 0,006, sehingga dapat disimpulkan bahwa periode bulan berpengaruh nyata tehadap hasil tangkapan kepiting bakau.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Pada Perikanan Bubu Dasar (Bottom Fish Pots) Di Perairan Bunyu Kabupaten Bulungan

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pulau Bunyu merupakan potensi perikanan yang terindikasi sangat potensial. Potensi perikanannya dari sektor perikanan tangkap. Masyarakat pulau Bunyu dominan berprofesi sebagai nelayan dengan menggunakan alat tangkap bubu. Alat tangkap pada bubu merupakan jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan karena alat tangkap bubu tersebut ramah lingkungan dengan bahan yang digunakan terbuat dari bambu teranyam dan menghasilkan tangkapan beragam jenis ikan yang masuk kategori ikan – ikan ekonomis tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan dan menjelaskan nilai efektifitas hasil tangkapan pada pengoperasian bubu dengan perlakuan umpan dan dapat menguraikan pengaruh perlakuan umpan terhadap hasil tangkapan. Penelitian ini menggunakan metode experimental fishing dengan perlakuan terkait umpan yaitu perlakuan A (tanpa umpan), perlakuan B (umpan ikan rucah) dan perlakuan C (umpan kelapa bakar). Hasil dari penelitian menunjukan bahwa jenis ikan yang tertangkap iala ikan demersal meliputi: Baronang (Siganus sp.), Depak (Lutjanus sp.), Nupin (Lethrinus sp.), Rebanu (Lutjanus sp.), dan Kerapu (Epinephalus sp.). Kesimpulan hasil nilai efektifitas terbesar pada perlakuan umpan ikan rucah (100%) dan efektifitas terendah pada perlakuan umpan kelapa bakar (23%). Hasil uji analisa varian (ANOVA) data perlakuan umpan terhadap hasil tangkapan pada alat tangkap bubu, menghasilkan bahwa perlakuan umpan berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan baik pada satuan berat dan individu ekor.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kelimpahan dan Komposisi Hasil Tangkapan Utama Perikanan Tugu (Stownet) Di Perairan Muara Ancam Kabupaten Bulungan

2022•

Wilayah pesisir kabupaten Bulungan memiliki ragam hasil tangkapan ikan pelagis dan ikan demersal, salah satunya berada di perairan muara Ancam. Unit penangkapan dominan di wilayah perairan muara Ancam yaitu unit penangkapan tugu (stowner) Nilai produktivitas perikanan tangkap di wilayah kabupaten Bulungan dipengaruhi oleh produktivitas perikanan tugu. Alat tangkap tugu termasuk kategori alat tangkap perangkap yang memanfaatkan arus pasang dan surut perairan laut. Aspek penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan nilai ekonomis bagi masyarakat adalah faktor efektivitas dengan adanya informasi ilmiah tentang kelimpahan dan struktur hasil tangkapan (jenis dan ukuran). Penelitian bertujuan menerangkan kelimpahan hasil tangkapan utama, komposisi hasil tangkapan dan distribusi frekuensi ukuran panjang dan berat. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif pendekatan observasi terhadap sampel Hasil tangkapan Utama (HTU) selama Januari Februari 2022, dengan purposive sampling selama 8 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 8 jenis Hasil Tangkapan Utama (HTU) yaitu udang yellow. udang dogol, udang mantis, udang merah, udang putih, udang loreng, udang windu dan udang pistol dengan total tangkapan 49.74 kg dan rata rata kelimpahannya 49.48%. Jenis udang dengan nilai kelimpahan terbesar dan dominan tertangkap adalah udang putih. Persentase komposisi jenis hasil tangkapan utama tugu yaitu udang yellow 11% dengan struktur ukuran rerata Panjang Total (PT) 8.18 cm dan rerata Berat Total (BT) 6.67 gram; udang brown 7% dengan 9.23 cm dan 9.05 gram: udang mantis 7% dengan 10.84 cm dan 10.51 gram; udang merah 6% dengan 8.85 cm dan 7.60 gram, udang putih 51% dengan 8.92 cm dan 8.15 gram; udang loreng 18% dengan 10.62 cm dan 11.15 gram; udang windu 11% dengan 9.94 cm dan 8.67 gram, serta udang tembak 0,28% dengan 8.05 cm dan 7.60 gram.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMPOSISI JENIS HASIL TANGKAPAN TUGU (STOWNET) DI PERAIRAN MUARA ANCAM KABUPATEN BULUNGAN

2022•

Alat tangkap tugu (stownet) merupakan alat tangkap yang bersifat pasif dan termasuk dalam alat tangkap perangkap, yang dalam pengoperasiannya memanfaatkan pasang surut atau arus dan ruaya ikan. Stownet alat tangkap yang terbuat dari jaring yang berbentuk kantong dan dipasang semi permanen menentang arus. Penelitian bertujuan menguraikan dan menjelaskan ciri morfologis hasil tangkapan serta persentase jumlah total dan jumlah perjenis hasil tangkapan dan menerangkan kategori hasil tangkapan utama, sampingan dan buangan (HTU, HTS, HTB), dalam satuan persentase jumlah individu dan berat di perairan Muara Ancam Kabupaten Bulungan. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif selama Januari - Maret 2022, dengan purposive sampling selama 8 kali sampling. Hasil penelitian menghasilkan jumlah sampel sebanyak 24 spesies dari 3 kelompok organisme yaitu 12 jenis ikan demersal (19,96%), 8 jenis ikan pelagis (10,84%), 1 jenis moluka (3%), 2 jenis krustase (170%). Total sampel sebanyak 83.10 ekor dengan total berat 71,739 kg. Kategori Hasil Tangkapan Utama (HTU) 69,44% (satuan berat) dan 64,38 % (satuan individu), Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) 6,09 % (satuan berat) dan 7,52 (satuan individu) dan Hasil Tangkapan Buangan (HTB) 24,47 % (satuan berat) dan 28,10 % (satuan individu).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN JARING INSANG HANYUT (Drift gillnet) DI MUARA SESAYAP, KABUPATEN TANA TIDUNG, KALIMANTAN UTARA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Drift gillnet merupakan alat tangkap yang bersifat aktif, teknik pengoperasiannya dengan cara dihanyutkan dan mengikuti arah arus pasang surut. Tujuan penelitian menguraikan komposisi dan ukuran hasil tangkapan utama drift gillnet. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan drift gillnet dengan ukuran mata jaring 2 inchi, panjang jaring 10 m dan lebar jaring 3 m dengan jumlah jaring 33 set selama 2 bulan dalam 4 trip penangkapan di Muara Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis memperoleh 15 jenis ikan hasil tangkapan yang terdiri dari ikan demersal, ikan pelagis, molusca dan crustacea dengan jumlah keseluruhan 1.561 ekor ikan dengan berat 166,126 kg. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan berat dengan hasil tangkapan utama (HTU) sebesar 74%, hasil tangkapan sampingan (HTS) sebesar 20% dan hasil tangkapan buangan (HTB) sebesar 6%. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan ukuran ikan target dengan pengukuran 120 sampel ikan senangin memiliki kisaran modus atau kelompok umur 13.00-35.07 cm dan didominasi oleh ukuran 18.52-21.27 cm, 35 ekor diantaranya telah mengalami matang gonad dan 85 ekor masih dalam fase pertumbuhan serta belum layak tangkap.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMPOSISI JENIS DAN UKURAN IKAN HASIL TANGKAPAN BUBU DASAR DI PERAIRAN PULAU BUNYU KALIMANTAN UTARA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Alat tangkap Bubu dasar merupakan alat tangkap yang dioperasikan secara pasif di dasar perairan yang memiliki hasil tangkapan dengan ukuran yang bervariasi serta beragam jenis. Hasil tangkapan yang berukuran kecil atau tidak layak tangkap pada pengoprasian alat tangkap dapat berpengaruh dalam perikanan yang berkelanjutan, oleh karena itu dilakukan penelitian ini dengan tujuan menganalisis komposisi hasil tangkapan dan struktur ukuran ikan kakap merah. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan di perairan Pulau Bunyu, sampel di kumpulkan berasal dari alat tangkap bubu dasar. Data yang di kumpulkan dianalisis dengan membandingkan HTU, HTS dan HTB serta selang ukuran ditentukan dalam selang kelas dengan menggunakan rumus distribusi frekuensi. Keanekaragaman ikan yang didapat yaitu terdiri dari 5 jenis ikan yaitu ikan merah (L. argentimaculatus), ikan kerapu (E. malabaricus), ikan tompel (L. ruselli), ikan kipar (Scatophagus argus), ikan buntal (Tetraodon sp.). ikan-ikan yang tertangkap itu didominasi oleh ikan dengan kategori hasil tangkapan utama (HTU) dengan presentase 80%. Proporsi ukuran ikan kakap merah yang didapat yaitu 30,2-61,83 cm dengan nilai selang kelas paling tinggi yaitu 30,2-53,92 cm jika dilihat dari penentuan ikan pertama kali matang gonad, ikan merah yang tertangkap merupakan ikan yang sudah masuk pada fase dewasa.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi Hasil Tangkapan Jaring Gondrong (Trammel net) yang Tertangkap oleh Nelayan Tanjung Batu Kota Tarakan

2022•

IDENTIFIKASI HASIL TANGKAPAN JARING GONDRONG (Trammel Net) YANG TERTANGKAP OLEH NELAYAN TANJUNG BATU KOTA TARAKAN Abstrak Masyarakat Kota Tarakan sebagian besar memanfaatkan perairan sebagai sumber mata pencaharian karena rata-rata masyarakat Kota Tarakan bekerja sebagai nelayan. Jenis alat tangkap yang digunakan diantaranya yaitu rawai, bubu, tugu, kelong, dan jaring gondrong. Tanjung Batu merupakan salah satu daerah pesisir yang mengoperasikan alat tangkap trammel net dengan berbagai jenis hasil tangkapan. Konstruksi trammel net terdiri dari tali ris atas dan bawah, tali pelampung, pelampung, serampat, jaring lapis luar dan dalam, tali pemberat dan, pemberat. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi jenis dan kelimpahan ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap trammel net dari nelayan Tanjung Batu Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai bulan Mei 2021. Penentuan lokasi pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu metode observasi dan wawancara menggunakan kuesioner. Keanekaragaman dari hasil penelitian ini diperoleh ikan sebanyak 719 ekor ikan yang terdistribusikan kedalam 2 filum, 5 ordo, 17 famili, 19 genus dan 23 jenis ikan. Jenis ikan yang tertangkap yaitu Penaeus merguensis, Penaeus monodon, Metapenaeus tenuipes, Anodontostoma chacunda, Thryssa mystax, Ilisha striatula, Eleutheronema tetradactylum, Pomadasys kaakan, Polydactylus microstomus, Terapon jarbua, Drepane punctata, Upeneus sulphureus, Pseudorhombus arsius, Leiognathus equulus, Trichiurus lepturus, Johnius belangeri, Johnius borneensis, Johnius amblycephalus, Otolithes ruber, Pennahia anea, Paraplagusia bilineata, Harpadon nehereus, dan Arius thalassinus. Kelimpahan jenis ikan berdasarkan jumlah ekor tertinggi yaitu pada jenis Penaeus merguensis sebesar 41,03 % dan kelimpahan terendah terdiri dari 3 jenis ikan yaitu Eleutheronema tetradactylum, Drepane punctata, dan Otolithes ruber dengan jumlah 0,14%. Kelimpahan jenis ikan berdasarkan berat paling tinggi yaitu pada jenis Penaeus merguensis sebesar 21,77%, sebaliknya kelimpahan terendah yang didapatkan yaitu pada jenis ikan Otolithes ruber 0,09%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KELIMPAHAN DAN STRUKTUR UKURAN IKAN KIPER (Scatophagus argus) YANG TERTANGKAP DENGAN ALAT TANGKAP BUBU DI PERAIRAN BUNYU

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Secara umum permasalahan dalam usaha penangkapan yang beranggapan bahwa daerah penangkapan ikan potensial adalah perairan yang memiliki ikan yang melimpah, sehingga hasil tangkapan lebih banyak. Namun anggapan tersebut tidak selamanya dapat dibenarkan. Penggunaan alat penangkapan ikan yang tidak selektif berpengaruh terhadap komposisi hasil tangkapan yang bervariasi jenis dan ukurannya. Selain itu, pengamatan mengenai aspek biologi ikan kiper (Scatophagus argus) pada Perairan Bunyu belum pernah dilakukan, maka perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan aspek biologi mengenai kelimpahan dan struktur ukuran ikan kiper (Scatophagus argus). Tujuan penelitian untuk mengetahui kelimpahan dan struktur ukuran ikan kiper (Scatophagus argus) yang tertangkap pada alat tangkap bubu di Perairan Bunyu. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan yaitu total pengambilan sampel sebanyak 4 trip selama 2 bulan di tempat pendaratan ikan. Kemudian tahap kedua yaitu melakukan identifikasi dan pengukuran sampel yang dilakukan di Laboratorium Biologi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan mulai dari bulan Juni – Juli 2021, bertempat di Perairan Bunyu. Kelimpahan hasil tangkapan alat tangkapan bubu terdapat 5 spesies ikan yaitu kakap merah (Lutjanus argentimaculatus), Kerapu (Epinephelus malabaricus), Jangki Tompel (Lutjanus russelli), kiper (Scatophagus argus), dan buntal (Tetraodon sp.) Jenis ikan yang paling dominan yaitu ikan kiper (Scatophagus argus) dengan jumlah 39,71 %, hal ini diduga karena ikan kiper melakukan ruaya atau migrasi dan terdapat karang sebagai tempat persembunyian setelah selesai mencari makan. Struktur ukuran kiper (Scatophagus argus) rata- rata panjang dominan yaitu berada pada kisaran 21,5 – 23,9 jika dibandingkan dengan ukuran panjang pertama kali matang gonad Lm = 14 cm dapat dinyatakan bahwa semua hasil tangkapan termasuk dewasa.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMPOSISI JENIS DAN UKURAN IKAN HASIL TANGKAPAN JARING INSANG (Gill net) YANG DI DARATKAN DI TARAKAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

COMPOSITION OF FISH TYPES AND SIZES CAUGHT USING GILL NET IN LANDED IN TARAKAN Abstract This study aims to determine the composition of the type and size of fish (length and weight) and the relationship between length and weight of fish caught with gillnets in the waters of Tarakan City, North Kalimantan. This study uses a purposive random sampling method, namely taking samples by taking into account considerations. The location of this research was carried out in the Selumit Pantai area, Central Tarakan District, Tarakan City, from December 2020 to January 2021. Based on the results of the study, the composition of the catch in the HTU (main catch) category was 113 fish arut and pleasure. Then by catch (by catch) on red fish and mackerel as many as 20 tails. The composition of the length and weight of the most dominant fish in the length of red fish ranged from 30.7-40.5 cm as many as 5 tails and 5 fish weight ranged from 530.7-888.4 g. The length of dominant fish and mackerel ranged from 45.7 to 46.9 cm as many as 3 tails and the weight ranged from 697-773 g as many as 3 tails. Dominant length and weight of happy fish are in the range of 55.2-61.1 cm as many as 7 tails and weight range from 1587,2-2109,0 g as many as 8 fish then arut panang fish and the most dominant weight ranges from 36.3-38.7 cm as many as 23 tails and 836.8-1000.7 grams as many as 24 tails. The results of the analysis of the relationship between length and weight based on the catch of red fish, happy fish and arut fish are allometric negative where the length increase is faster than the weight gain, while the mackerel catch is positive allometric which indicates that the weight gain is faster than the length increase.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Ukuran Mata Jaring (Mesh size) Terhadap Hasil Tangkapan Pada Perikanan Tangkap Jaring Insang (Gilnet) di Perairan Kota Tarakan

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alattangkap jaring insang (gill net) merupakan alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan di daerah Lingkas. Alat tangkap jaring insang dengan ukuran mata jaring (mesh size) 3 inci ini banyak digunakan oleh nelayan tradisional di daerah Lingkas dikarenakan alat tangkap ini mudah diopesaikan dan juga ramah lingkungan. Pada penelitian ini penggunaan alat tangkap jaring insang denga ukuran mata jaring yang berbeda yaitu ukuran 3 inci, 4 inci dan 5 inci. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh perbedaan mata jaring (mesh size) yang berbeda terhadap hasil tangkapan ikan pada alat tangkap jaring insang (gillnet) di perairan Kota Tarakan. Metode peneitian yang digunakan yaitu metode eksperimental, analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Test dengan menggunakan dua data yang didapatkan selama 8 kali sampling pengoperasian jaring insang untuk dibandingkan. Komposisi berat (%) hasil tangkapan pada perlakuan 3 inci 3,974 kg (34%), perlakuan 4 inci 3,117 kg (27%) dan perlakuan 5 inci 4,529 kg (39%). Komposis jumlah jenis (%) ikan hasil tangkapan meliputi pada perlakuan 3 inci dengan total jumlah individu tertangkap sebanyak 40 ekor (53%). Perlakuan 4 inci dengan 22 ekor (28%) dan jumlah individu yang paling sedikit pada perlakuan 5 inch yaitu sebanyak 15 ekor (19%). Uji normalitas pada individu berat yaitu 0,191 > 0,05 dan signifikan data individu berat yaitu 0,727 > 0,05. Uji Anova terhadap berat hasil tangkapan yaitu 0,819 > 0,05 maka H0 diterima, nilai Fhit 0,201 Ftabel 3,47 maka hipotesa H0 (null) diterima ukuran mata jaring tidak memberi pengaruh nyata terhadap hasil tangkapan (gillnet). Uji anova berdasarkan jumlah individu hasil tangkapan yaitu 0,036 0,05 maka Ha diterima. Nilai Fhit 3,908 > Ftabel 3,47 maka hipotesa Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan ukuran mesh size memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah hasil tangkapan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail