ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu kegiatan nelayan tangkap yang ada di Desa Ruhui Rahayu, Kabupaten Bulungan adalah menangkap kepiting bakau (Scylla sp.) sehingga dilakukan penelitian tentang efektivitas umpan yang berpengaruh terhadap hasil tangkapan kepiting bakau (Scylla sp.). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis umpan yang lebih efektiv dalam pengoperasian bubu lipat kepiting agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan sejak tanggal 25 Februari – 25 Maret 2020 di Desa Ruhui Rahayu, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan dengan metode purpose sampling. Penelitian ini menggunakan 3 jenis perlakuan dimana perlakuan 1 (Ikan Gulama Basah), perlakuan 2 (Ikan Gulama Kering), perlakuan 3 (Kelapa Busuk) dan kontrol (Tanpa Umpan). Berdasarkan hasil penelitian, bahwa perlakuan 2 (Ikan Kering) memiliki nilai efektivitas paling besar dengan angka 37,5 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis kepiting bakau dan kelimpahannya di tambak tradisional kota Tarakan. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif dengan mengambarkan dan menguraikan data primer yang diperoleh di lapangan, serta didukung dengan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kepiting bakau yang tertangkap sebanyak 32 ekor. Berdasarkan data bobot dan panjang dari ketiga lokasi yang diperoleh dari empat kali sampling, didapatkan kisaran bobot tubuh sebesar 443,5 g dan panjang 12,3 cm. Kepiting yang tertangkap di tambak daerah Mulawarman, memiliki ukuran tubuh dan bobot yang lebih besar dibandingkan dengan kepiting dari kedua lokasi tambak tradsional lainnya. Jenis kepiting bakau yang tertangkap adalah spesies Scylla serrate. Rasio jenis kelamin kepiting bakau dari ketiga lokasi, yaitu. Pasar Tenguyun, Kampung Empat dan Mulawarman, menunjukkan rasio jenis kelamin didominasi oleh individu jantan. Untuk status reproduksi pada individu betina, ditemukan TKG yang bervariasi, yaitu; TKO I, TKO II dan TKO III. Kesimpulan dari tiga lokasi tambak tradisional jenis kepiting bakau yang teridentifikasi adalah Scylla serrate. Jumlah kepiting yang tertangkap paling banyak didapatkan pada lokasi tambak trandisional Kampung Empat sebanyak 13 ekor sedangkan untuk rasio jenis kelamin dari tiga lokasi tambak tradisional, didominasikan individu jantan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau (Scylla sp.) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, ketersediaan benih masih banyak bergantung pada hasil tangkapan alam, sehingga diperlukan upaya pengembangan teknologi pembenihan yang efektif dan berkelanjutan. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi keberhasilan penetasan telur adalah jenis substrat yang digunakan selama pemeliharaan induk bertelur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan substrat yang berbeda terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau (Scylla sp.) di tambak tradisional Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 di tambak penelitian Universitas Borneo Tarakan, Kecamatan Tarakan Barat, Kalimantan Utara. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas dua perlakuan, yaitu substrat lumpur dan substrat pasir, masing-masing 10 ulangan. Hewan uji yang digunakan sebanyak 20 induk kepiting bakau betina bertelur dengan ukuran dan kondisi relatif seragam. Parameter yang diamati meliputi waktu penetasan telur, pertumbuhan bobot mutlak, dan tingkat kelangsungan hidup. Data dianalisis menggunakan uji Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat lumpur memberikan waktu penetasan lebih cepat, yaitu rata-rata 10 hari, dibandingkan substrat pasir selama 11 hari. Tingkat kelangsungan hidup pada substrat lumpur mencapai 70%, sedangkan substrat pasir 30%. Namun, hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan jenis substrat tidak berpengaruh signifikan terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau (p>0,05). Dengan demikian, jenis substrat tidak memberikan pengaruh nyata terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau di tambak tradisional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Kepiting bakau (Scylla spp.) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi produksi, sumber pasokan, ukuran, harga, bentuk pemasaran, serta potensi keberlanjutan kepiting bakau yang dipasarkan di CV. Cakke Bone. Penelitian dilaksanakan pada Februari sampai Maret 2026 dengan metode deskriptif eksploratif melalui survei, wawancara, kuesioner, dan observasi langsung terhadap aktivitas usaha kepiting bakau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV. Cakke Bone berperan sebagai eksportir dan pengumpul yang memperoleh kepiting bakau dari nelayan dan pengepul lain, terutama dari tambak di wilayah Kalimantan Utara. Produksi kepiting dipengaruhi oleh kondisi pasang surut, yaitu sekitar 3.000 kg per hari saat pasang tinggi dan 1.000 kg per hari saat pasang rendah, dengan rata-rata produksi sekitar 12.000 kg per minggu. Kepiting dipasarkan dalam bentuk hidup dan disortir untuk tujuan pasar dalam negeri dan ekspor. Harga jual ditentukan oleh ukuran dan jenis kelamin kepiting Dimana kepiting jantan yang ukuran 200-400 gr harganya sekitar Rp50.000, kepiting jantan yang ukuran 400-600 gr harganya sekitar Rp65.000/kg, dan kepiting jantan yang ukuran 700-1000 gr harganya sekitar Rp85.000/kg, sedangkan kepiting betina (CBK, CBH) harganya sekitar Rp 100.000-150.000/kg. Berdasarkan hasil menelitian terlihat bahwa potensi kepiting bakau di Kota Tarakan masih tinggi, namun keberlanjutannya perlu didukung melalui perlindungan kawasan mangrove, pengaturan ukuran tangkap, pencatatan pasokan, serta perlindungan terhadap kepiting betina bertelur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Abstrak Tingkat sintasan larva kepiting bakau (Scylla serrata) selama masa pemeliharaan di hatchery masih tergolong rendah, terutama pada stadia zoea. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya kualitas nutrisi dari pakan alami seperti rotifera (Brachionus plicatilis) dan Artemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan vitamin C pada rotifera dan artemia terhadap kelangsungan hidup (sintasan) larva kepiting bakau. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan berupa perbedaan dosis vitamin C (0 ppm, 200 ppm, 250 ppm, dan 300 ppm). Parameter utama yang diamati adalah sintasan larva selama pemeliharaan dari stadia zoea I hingga crablet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C secara signifikan meningkatkan sintasan larva, dengan hasil terbaik diperoleh pada perlakuan dosis 300 ppm. Hasil sintasan stadia crablet tertinggi sebesar 5,83%. Kualitas air selama penelitian masih berada dalam kisaran optimal. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengayaan pakan alami menggunakan vitamin C dapat meningkatkan nutrisi dan memperbaiki tingkat kelangsungan hidup larva kepiting bakau pada stadia Zoea- Crablet.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau (Scylla spp) merupakan salah satu komoditas ekonomis dan saat ini keberadaan induk yang matang ovari dalam kondisi yang menguatirkan akibat penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi induk kepiting bakau (Scylla spp) matang ovari yang diperjualkan di Kalimantan Utara. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif meliputi; survey lokasi, pengambilan sampel, pengukuran berat, panjang, lebar, pengamatan Tingkat Kematangan Ovari (TKO) serta melakukan wawancara. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hasil tambak atau pos yang ada di Kaltara dikumpul dalam satu penampungan dan dikirim ke Sentra Kelautan Perikanan dan Terpadu (SKPT) Pulau Sebatik sebelum di ekspor ke luar Negeri. Bobot kepiting betina yang diperjualkan rata-rata 200 - 600 gram, panjang karapas rata-rata 68,85 mm - 99,25 mm dan lebar rata-rata 113,65 mm - 157,09 mm. Produksi kepiting bakau (Scylla spp) betina dengan Tingkat Kematangan Ovari (TKO) dari TKO I, TKO II dan TKO III yang telah diperjualkan di Kalimantan Utara mencapai 1.600.870 kg/tahun. Kata Kunci : Induk Kepiting Bakau, Matang Ovari, Kalimantan Utara
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau (Scylla spp) merupakan salah satu komoditas ekonomis dan saat ini keberadaan induk yang matang ovari dalam kondisi yang menguatirkan akibat penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi induk kepiting bakau (Scylla spp) matang ovari yang diperjualkan di Kalimantan Utara. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif meliputi; survey lokasi, pengambilan sampel, pengukuran berat, panjang, lebar, pengamatan Tingkat Kematangan Ovari (TKO) serta melakukan wawancara. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hasil tambak atau pos yang ada di Kaltara dikumpul dalam satu penampungan dan dikirim ke Sentra Kelautan Perikanan dan Terpadu (SKPT) Pulau Sebatik sebelum di ekspor ke luar Negeri. Bobot kepiting betina yang diperjualkan rata-rata 200 - 600 gram, panjang karapas rata-rata 68,85 mm - 99,25 mm dan lebar rata-rata 113,65 mm - 157,09 mm. Produksi kepiting bakau (Scylla spp) betina dengan Tingkat Kematangan Ovari (TKO) dari TKO I, TKO II dan TKO III yang telah diperjualkan di Kalimantan Utara mencapai 1.600.870 kg/tahun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Juata Laut merupakan wilayah Kecamatan Tarakan Utara yang menjadikan sumber perikanan sebagai unggulan salah satunya berupa kepiting bakau matang ovari. Saat ini belum ada data tentang karakteristik produksi kepiting bakau matang ovari. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik kepiting bakau (Scylla serrata) betina matang ovari dari TKO I, TKO II dan TKO III yang diperdagangkan daerah Juata Laut Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, situasi serta variabel yang menjadi objek penelitian dengan melakukan kuesioner langsung ke lokasi. Pengamatan pada kepiting bakau betina pada setiap lokasi meliputi: sumber asal kepiting bakau (Scylla serrata), tujuan ekspor, jumlah ekspor, berat, panjang, lebar dan tingkat kematangan ovari (TKO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total kepiting bakau betina matang ovari TKO III (CBH) yang diperdagangkan sekitar 22.190 kg, kepiting TKO II (CBK) sekitar 4.074 kg, sedangkan kepiting TKO I (%) tidak di ekspor karena kurangnya permintaan pasar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomis penting di Kalimantan Utara. Budidaya pengemukan kepiting bakau telah dilakukan di daerah ini. Penggemukan kepiting dapat dilakukan terhadap kepiting bakau jantan dan betina dewasa tetapi dalam keadaan kosong/kurus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai pakan non ekonomis pada budidaya penggemukan kepiting bakau. Penelitian ini menggunakan metode ekperimen dengan 3 perlakuan dan 3 pengulangan. Perlakuan tersebut antara lain: Perlakuan A penggunaan ikan mujair, Perlakuan B penggunaan temburungun, Perlakuan C penggunaan Udang krosok. Hewan uji yang digunakan yaitu kepiting bakau yang beratnya 150-200 gr sebanyak 15 ekor berkelamin jantan. Hasil pertumbuhan bobot mutlak yang terbaik didapatkan pada perlakuan C dengan penambahan bobot rata-rata akhir yakni 12,7 gram, selanjutnya perlakuan B dengan penambahan rata-rata akhir yakni 9 gram, dan perlakuan A dengan penambahan bobot rata-rata akhir yakni 7 gram. Berdasarkan analisa sidik ragam anova menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedaan nyata antar perlakuan pada pertumbuhan bobot kepiting. Survival rate untuk semua perlakuan sebesar 100%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Perairan Tarakan di Kalimantan Utara merupakan salah satu kawasan pesisir yang memiliki kekayaan hayati cukup besar antara lain biota laut seperti kepiting bakau. Kepiting bakau betina matang ovari merupakan komoditi yang bernilai ekonomis. Informasi tentang siklus reproduksi kepiting betina di daerah ini masih sangat jarang. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari siklus produksi kepiting bakau induk betina matang ovari di Kota Tarakan. Metode penelitian ini mengunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang didapatkan dengan melakukan survei, wawancara, dan pengamatan langsung di lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa produksi induk betina kepiting bakau di perairan Tarakan memiliki pola siklus dengan puncak produksi tertinggi terjadi pada bulan Desember hingga Februari, sedangkan produksi terendah terjadi pada bulan Agustus hingga Oktober. Tingkat kematangan ovari (TKO) induk betina kepiting bakau sebagian besar berada pada TKO II sebanyak 642-833 kg dan TKO III sebanyak 2121-2794 kg. Penanganan induk kepiting bakau matang ovari (TKO I-III) dilakukan dengan cara sortir, sterilisasi, dan pengikatan kaki sebelum diangkut menggunakan wadah styrofoam yang dilengkapi dengan alas basah atau es batu untuk menjaga kelembaban. Ketersediaan induk betina kepiting bakau matang ovari sangat penting untuk mendukung kegiatan budidaya kepiting bakau dan menjaga keberlanjutan populasi di alam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Metode mutilasi pada kepiting bakau perlu dikurangi meskipun sangat memicu percepatan moulting. Uji manipulasi lingkungan pada budidaya kepiting soka perlu dilakukan yakni menggunakan kejutan salinitas air pada media pemeliharaan tanpa adanya mutilasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji proses moulting kepiting bakau (Scylla serrata) yang optimal dengan menggunakan perbedaan salinitas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan meliputi: perlakuan A salinitas 5 ppt; perlakukan B salinitas 10 ppt; perlakuan C salinitas 15 ppt; dan perlakuan D salinitas 20 ppt. Kepiting yang digunakan memiliki bobot tubuh berkisar antara 40 – 60 gram berjenis kelamin jantan dengan jumlah 16 ekor sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A memiliki waktu tercepat pada proses moulting, dengan hasil rata – rata 18 hari diikuti perlakuan B dengan lama waktu sekitar 32 hari, perlakuan C sekitar 34 hari dan perlakuan D tidak terjadi proses moulting pada waktu yang ditentukan. Hasil dari tingkat kelangsungan hidup selama penelitian adalah perlakuan B dan C memiliki tingkat kelangsungan hidup terbaik sekitar 100% sedangkan perlakuan A dan D dengan tingkat kelangsungan hidup yang cukup baik sekitar 75%. Berdasarkan uji ANOVA tidak terjadi perbedaan yang nyata antara perlakuan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting dan merupakan komoditi yang potensial di Provinsi Kalimantan Utara. Pengembangan budi daya kepiting bakau masih terus dilakukan salah satunya adalah penelitian tentang penggunaan subtract untuk merangsang percepatan matang ovari induk betina kepiting bakau. Tujuan penelitian ini untuk memahami dampak dari substrat yang berbeda terhadap percepatan kematangan ovari kepiting bakau (Scylla sp). Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan antara lain; 3 perlakuan dan 5 ulangan dan penyuntikan formula oil crab dengan dosis ( 0,2 ml/ekor). Perlakuan A Tanpa Substrat, Perlakuan B Substrat Pasir dan perlakuan C Substrat Lumpur. Dari hasil penelitian ini dapat diperoleh data bahwa pada perlakuan B subtract pasir lebih cepat matang ovari dibandingkan perlakuan lainnya. Proses reproduksi kepiting bakau dapat distimulasi menggunakan hormon oil crab, yang secara signifikasi yang berpengaruh Berdasarkan uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa pertumbuhan berat badan mutlak kepiting bakau selama pemeliharaan kurang lebih (40 hari) dengan masing-masing perlakuan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (F > 0.05). Data kualitas air selama penelitian menunjukkan suhu berkisar 26-30C, salinitas 22-30 ppt, DO 5.7-6.7 mg/l, pH 7.8-8.5 dan ammonia 0.08-0.13 mg/l.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas yang memeiliki nilai ekonomis penting di Kalimantan Utara nilai jualnya cukup tinggi terutama pada kepiting telur dan kepiting soka (soft crab). Pakan merupakan salah satu faktor yang penting untuk menghasilkan produksi yang maksimal dalambudidaya kepiting telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas jenis pakan non ekonomis yang terbaik terhadap percepatan matang ovari kepiting bakau (Scylla spp) yang dibudidayakan di Tambak Tradisonal. Rancangan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan acak lengkap Percobaan. Yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan A : ikan mujair, Perlakuan B : Udang, Perlakuan C : temburungun T. telescocium, Perlakuan D : kepiting keraca. Parameter yang diuji meliputi Percepatan Tingkat Kematangan Ovari Induk Kepiting Bakau, Pertumbuhan Bobot Mutlak dan Survival Rate (SR). Hasil percepatan matang ovari terbaik ada pada perlakuan udang, Hal ini diduga karena kandungan nutrisi yang terkandung dalam pakan udang-udangan sangat optimal untuk proses percepatan matang ovari. Berdasarkan uji sidik ragam anova menunjukkan bahwa pertumbuhan berat badan mutlak kepiting bakau selama pemeliharaan kurang lebih (40 hari) dengan masing-masing perlakuan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (F table F hitung). Hasil pengukuran pertumbuhan bobot mutlak yang terbaik didapatkan pada perlakuan udang dengan penambahan bobot rata rata akhir yakni 12,4 gram.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pertumbuhan dan padatnya jumlah penduduk di wilayah pesisir menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar hutan mangrove. Sampah plastik yang akan terakumulasi dan terfragmentasi menjadi ukuran yang kecil hingga berukuran 5 mm yang disebut mikroplastik. Mikroplastik dapat membahayakan biota yang hidup disekitaran hutan mangrove, seperti kepiting bakau (Scylla spp) yang merupakan mata perdagangan masyarakat dengan nilai ekonomis tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keberadaan, karakteristik, dan kelimpahan mikroplastik pada insang kepiting bakau (Scylla spp) di KKMB dan Muara Sungai Karungan kota Tarakan. Metode penelitian yang digunakan meliputi identifikasi kebradaan, karakteristik mikroplastik yaitu bentuk, warna, ukuran dan analisis kelimpahan. Keberadaan mikroplastik pada insang Kepiting bakau (Scylla spp) telah teridentifikasi pada semua lokasi. Pada bentuk yang ditemukan KKMB fiber 3 partikel, film 9 partikel, filamen 16 partikel, fragmen 20 partikel. Untuk Muara Sungai Karungan film 3 partikel, fiber 11 partikel, fragmen 13 partikel, filamen 30 partikel. Warna yang ditemukan KKMB merah 1 partikel, hijau 1 partikel, hitam 9 partikel, coklat 37 partikel. Untuk Muara Sungai Karungan hijau 8 partikel, hitam 14 partikel, coklat 35 partikel. Ukuran yang ditemukan di KKMB 20-40 µm 1 partikel, 40-60 µm 5 partikel, 60-80 µm 4 partikel, 80-100 µm 2 partikel, 100-500 µm 23 partikel, 500-1000 µm 10 partikel, 1000-5000 µm 3 partikel. Untuk Muara Sungai Karungan 20-40 µm 0 partikel, 40-60 µm 1 partikel, 60-80 µm 2 partikel, 80-100 µm 1 partikel, 100-500 µm 23 partikel, 500-1000 µm 22 partikel, 1000-5000 µm 8 partikel. Dengan kelimpahan mikroplastik pada lokasi KKMB terdapat sebanyak 48 partikel, sedangkan lokasi Muara Sungai karungan 57 partikel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Faktor-faktor yang berperan dalam proses moulting kepiting bakau terdiri dari faktor eksternal dan faktor interal. Faktor eksternal yang digunakan yang dapat digunakan dalam budi daya kepiting bakau adalah penambahan hormon. Formula oil crab mengandung hormon dapat merangsang tubuh kepiting bakau melakukan pergantian kulit atau moulting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bobot kepiting yang optimal untuk budidaya kepiting soka/ moulting dengan penambahan formulas oil crab. Metode penelitian dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulagan. Perlakuan 1 (kontrol) dengan bobot 70-80 gr, perlakuan 2 dengan bobot 80-90gr, perlakuan 3 dengan bobot 90-100gr, dan perlakuan 4 dengan bobot 101-110gr dengan menggunakan metode penambahan formulasi oil crab dengan dosis 0,1 mg/ekor. Berdasarkan hasil penelitian bahwa perlakuan moulting terbaik terdapat pada perlakuan 3 yakni 80%, sedangkan presentase moulting terendah terdapat pada perlakuan 2 yakni 0% atau tidak ada yang moulting selama waktu penelitian. Berdasarkan hasil pengamatan percepatan waktu moulting didapatkan bahwa perlakuan 3 memiliki waktu tercepat di bandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu sekitar 19 hari. Selanjutnya secara berurutan pada perlakuan 1 sekitar 23 hari dan perlakuan 4 sekitar 24 hari. Sedangkan perlakuan 2 tidak ada yang moulting. Berdasarkan pemeliharaan selama 30 hari, diperoleh nilai kelangsungan hidup (SR) S. serrata sebesar 100% untuk perlakuan 1, 3, dan 4. Kelangsungan hidup kepiting bakau selama pemeliharaan 30 hari, diperoleh hasil tertinggi 100% dan yang rendah 80%. Berdasarkan hasil uji Anova bahwa perlakuan perbedaan bobot kepiting menunjukkan perbedaan yang nyata (P0,05) pada presensate moulting kepiting antar perlakuan namun tidak berbeda nyata (P>0,05) pada percepatan moulting dan kelangsungan hidup kepiting. Data kualitas air selama penelitian suhu berkisar 24-35 oC, Do 4,7-6,5 mg/L, Salinitas 10-15 ppt dan pH 5-6.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kitosan dari cangkang kepiting bakau memiliki banyak manfaat yang dapat diaplikasikan dalam bidang kosmetik. Salah satu sediaan kosmetik yang dapat diaplikasikan adalah produk make-up remover. Modifikasi ukuran kitosan menjadi nanopartikel dilakukan untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan ukuran nanopartikel kitosan cangkang kepiting bakau dan mendapatkan karakteristik fisikokimia dan mikrobiologi sediaan make-up remover berbasis nanopartikel kitosan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif pada analisis ukuran nanokitosan dan karakteristik fisikokimia makeup- remover. Karakteristik mikrobiologi berupa uji aktifitas antibakteri make-up remover menggunakan analysis of variant pada selang kepercayaan 95% dengan satu faktor yaitu penambahan nanopartikel kitosan pada taraf F0 (0%), F1 (0,1%), F2 (0,3%), F3 (0,5%). Hasil penelitian menunjukkan ukuran nanopartikel kitosan sebesar 67,07 nm. Make-up remover pada konsentrasi 0%, 0,1%, 0,3% dan 0,5% tidak berwarna (bening), aroma jasmine dan berbentuk cair. Make-up remover pada konsentrasi 0%, 0,1%, 0,3% dan 0,5% menghasilkan nilai pH 5,01 – 5,08 sesuai dengan standar SNI 16-4380-1996. Seluruh konsentrasi formula make-up remover mengandung logam berat merkuri (Hg) 0,02 mg/kg, arsen (As) 0,0008 mg/kg, kadmium (Cd) 0,00011 mg/kg, dan timbal (Pb) 0,05 mg/kg. Semua formulasi tidak melebihi batas maksimum cemaran logam berat yang ditetapkan oleh Peraturan Badan BPOM No. 12 Tahun 2019. Sediaan Make up remover nanopartikel kitosan mampu menghambat bakteri gram positif Propionibacterium acnes dengan menghasilkan zona hambat pada F0 (0%) 18,6±3,51 mm, F1 (0,1%) 24,3±4,04 mm, F2 (0,3%) 22,8±1,15 dan F3 (0,5%) 16±1,25. Aktivitas antibakteri make-up remover nanopartikel kitosan terhadap Propionibacterium acnes pada penelitian ini termasuk kategori kuat hingga sangat kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau (Syclla serrata) merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomis penting di Kalimantan Utara dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi terutama pada kepiting telur dan kepiting soka (Soft crab). Tingginya permintaan kepiting menyebabkan semakin tingginya penangkapan di alam. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui jenis pakan yang baik terhadap proses berried induk kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 kali ulangan, yaitu Perlakuan A (Kerang darah), perlakuan B (Hati sapi) dan perlakuan C (Cacing laut) sebanyak 5 % dari bobot tubuh induk Kepiting Bakau (Scylla serrata). Analisis yang dilakukan antara lain : data percepatan proses berried, FCR, dan pengamatan beberapa parameter kualitas air. Berdasarkan hasil penelitian bahwa percepatan proses berried yang menggunakan pakan segar terbaik pada perlakuan A (Kerang darah) selama 14 hari dan mempunyai rata-rata rasio konversi pakan terkecil 5,31. Hasil uji statiska (ANOVA) dengan tingkat ketelitian 95% (P0,05) menunjukan hasil yang berbeda nyata selanjutnya dilakukan uji Tukey untuk melihat perbedaan antar perlakuan. Hasil uji menunjukan perlakuan A berbeda nyata terhadap semua perlakuan sedangkan perlakuan B dan C tidak berbeda nyata. Hasil uji kualitas selama penelitian berada dalam kondisi normal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu sumberdaya perikanan yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi di Kalimantan Utara adalah kepiting bakau. Hal ini disebabkan karena di wilayah ini memiliki perairan dan mangrove yang masih mendukung kehidupan kepiting bakau sebagai habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perkembangan budidaya kepiting bakau di tambak tradisional dan di hutan mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan mengamati kondisi-kondisi yang terjadi melalui observasi secara langsung di lapangan. Parameter yang diukur pada penelitian ini seperti pertumbuhan berat, panjang tubuh, Survival Rate, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan yang baik untuk budidaya kepiting bakau terdapat pada hutan mangrove, dimana pertumbuhan berat dan panjang tubuh kepiting bakau pada hutan mangrove berat sekitar 160,6 gr dan panjang sekitar 11,7 cm sedangkan pada tambak tradisional pertumbuhannya, berat sekitar 134,9 gr dan panjang sekitar 10,8 cm. Tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau (Scylla serrata.) masih tergolong baik. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan kepiting pada lahan hutan mangrove lebih baik dibandingkan dengan tambak tradisional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan sabun untuk mencuci tangan meningkat sejak covid 19 hingga memasuki masa new normal. Inovasi pembuatan produk sabun terus dikembangkan salah satunya paper soap berbahan nanopartikel kitosan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan ukuran nanopartikel dari kitosan cangkang kepiting bakau (Scylla sp.) serta menentukan formulasi terbaik dari paper soap antibakteri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriftif kuantitatif untuk menentukan ukuran nanopartikel kitosan, pH, kadar air, alkali bebas, dan organoleptik. Aktivitas antibakteri paper soap menggunakan analysis of variant pada selang kepercayaan 95% dengan satu faktor yaitu penambahan nanopartikel kitosan pada taraf 0%; 0,25%; 0,5%; 0,75%; 1% dan 2 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan ukuran nanopartikel kitosan cangkang kepiting bakau 67,07 nm. Paper soap konsentrasi 0%; 0,25%; 0,5%; 0,75%; 1% menghasilkan nilai pH berkisar 9.18-9.27 sesuai dengan SNI yaitu 4-10. Kadar air paper soap berturut-turut yaitu 18,25, 20,25, 22,5, 32 dan 35,25. Kadar alkali bebas berkisar 0,003-0,01 % sesuai SNI sebesar 0,14%. Nilai organoleptik semua konsentrasi memiliki aroma jasmine dan menunjukkan warna putih kekuningan. Paper soap berbasis nanopartikel kitosan mampu menghambat aktivitas bakteri gram positif Staphylococcus aureus dan menghasilkan zona bening sebesar 3.5± 0.70 mm, 5±0 mm, 14±0.70 mm, 10.25±0.35 mm, 10.75±2.47 mm. Konsentrasi 0,5% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Dan gram negatif Echerichia coli menghasilkan zona bening sebesar 4.50 ± 0.00 mm, 5.00 ± 0.00 mm, 9.75± 1.06 mm, 11.50 ± 4.24 mm, 7.50± 0.00 mm. Konsentrasi 0,75% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Echerichia coli. Aktivitas antibakteri nanopartikel kitosan pada penelitian ini termasuk kategori lemah hingga kuat. Paper soap nanopartikel kitosan dari cangkang kepiting bakau yang dihasilkan sesuai dengan standar SNI dan terbukti mampu menghambat aktivitas bakteri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis yang penting di Kalimantan Utara. Karena tingginya permintaan kepiting menyebabkan semakin tingginya penangkapan dialam mulai dari ukuran yang sangat kecil hingga induk yang matang gonad. Untuk mengurangi penangkapan kepiting bakau secara berlebihan dialam, salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah budidaya. Akan tetapi secara teknis pelaksanaan dari budidaya kepiting ini masih terdapat kendala salah satunya adalah rendahnya kualitas rotifer sebagai pakan alami yang diberikan pada larva. Tujuan penelitian mengetahui efektivitas pemberian rotifer yang diperkaya dengan asam lemak terhadap sintasan larva Kepiting Bakau (Scylla serrata). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 kali ulangan, yaitu perlakuan A (Rotifer + Ragi Roti), perlakuan B (Rotifer + Scoot Emulsion)), dan perlakuan C (Rotifer) dan dengan kepadatan zoea 20 ind/L. Dilakukan juga Analisa kualitas air yaitu salinitas, pH, suhu, dan DO. Hasil peneitian menunjukan bahwa tingkat sintasan terbaik terjadi pada perlakuan B (Rotifera + Scoot Emulsion). Hasil uji statistika (ANOVA) sintasan dengan tingkat ketelitian 95% (P0,05) menunjukkan hasil yangbeda nyata, Selanjutnya di lakukan uji Duncan untuk melihat perbedaan antara perlakuan. Hasil uji menunjukan perlakuan B berbeda nyata terhadap semua perlakuan, sedangkan pada perlakuan A dan C tidak berbeda nyata. Hasil uji kualitas air selama penelitian berada dalam kondisi optium.