Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

10 hasil
Subjek: substrat
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Substrat yang Berbeda Tehadap Percepatan Menetas Kepiting Bakau (scylla sp) di tambak Tradisional Kota Tarakan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kepiting bakau (Scylla sp.) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, ketersediaan benih masih banyak bergantung pada hasil tangkapan alam, sehingga diperlukan upaya pengembangan teknologi pembenihan yang efektif dan berkelanjutan. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi keberhasilan penetasan telur adalah jenis substrat yang digunakan selama pemeliharaan induk bertelur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan substrat yang berbeda terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau (Scylla sp.) di tambak tradisional Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 di tambak penelitian Universitas Borneo Tarakan, Kecamatan Tarakan Barat, Kalimantan Utara. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas dua perlakuan, yaitu substrat lumpur dan substrat pasir, masing-masing 10 ulangan. Hewan uji yang digunakan sebanyak 20 induk kepiting bakau betina bertelur dengan ukuran dan kondisi relatif seragam. Parameter yang diamati meliputi waktu penetasan telur, pertumbuhan bobot mutlak, dan tingkat kelangsungan hidup. Data dianalisis menggunakan uji Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat lumpur memberikan waktu penetasan lebih cepat, yaitu rata-rata 10 hari, dibandingkan substrat pasir selama 11 hari. Tingkat kelangsungan hidup pada substrat lumpur mencapai 70%, sedangkan substrat pasir 30%. Namun, hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan jenis substrat tidak berpengaruh signifikan terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau (p>0,05). Dengan demikian, jenis substrat tidak memberikan pengaruh nyata terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau di tambak tradisional.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMANFAATAN LIMBAH PADAT DARI PENGOLAHAN IKAN BANDENG (Chanos chanos) SEBAGAI SUMBER ENERGI LISTRIK PADA SISTEM MICROBIAL FUEL CELL (MFC) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN LUMPUR MANGROVE

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Limbah padat industri hasil pengolahan ikan bandeng (Chanos chanos) di Kota Tarakan berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola, namun memiliki kandungan bahan organik tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif melalui teknologi Microbial Fuel Cell (MFC). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pemanfaatan limbah padat industri pengolahan ikan bandeng sebagai substrat penghasil energi listrik serta pengaruh penambahan lumpur mangrove terhadap performa tegangan listrik yang dihasilkan. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan sistem MFC single chamber yang terdiri dari dua perlakuan dengan perlakuan pertama menggunakan substrat limbah bandeng tanpa penambahan lumpur mangrove dan perlakuan kedua dengan penambahan lumpur mangrove. Berdasarkan hasil uji statistik independent sample t-test dengan pendekatan two-tail, diperoleh nilai t hitung (t Stat) sebesar 0,49 yang lebih kecil dibandingkan t tabel (t critical two tail) sebesar 1,98 pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05), sehingga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan tanpa penambahan lumpur mangrove dan dengan penambahan lumpur mangrove terhadap rata-rata tegangan listrik yang dihasilkan. Meskipun demikian, secara deskriptif kedua perlakuan mampu menghasilkan energi listrik selama 60 hari pengamatan, di mana perlakuan pertama (tanpa lumpur mangrove) menghasilkan rata-rata tegangan sebesar 0,67 V dengan standar deviasi (0,14) dan nilai maksimum mencapai 0,84 V, sedangkan perlakuan kedua (dengan lumpur mangrove) menghasilkan rata-rata tegangan sebesar 0,68 V dengan standar deviasi (0,19) dan nilai maksimum hingga 0,85 V. kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji statistik independent sample t-test, tidak terdapat adanya perbedaan yang signifikan antara kedua perlakuan. meskipun demikian, hasil penelitian dari limbah padat hasil pengolahan ikan bandeng memiliki potensi yang efektif digunakan sebagai substrat pada sistem MFC untuk menghasilkan energi listrik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN SUBSTRAT DOMINAN TERHADAP KELIMPAHAN DAN PERSEBARAN GASTROPODA PADA WILAYAH PESISIR PULAU TARAKAN DAN POTENSINYA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN BIOLOGI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gastropoda merupakan komponen penting dalam ekosistem pesisir yang kelimpahan dan persebarannya sering kali dipengaruhi oleh karakteristik habitat, khususnya tipe substrat. Namun, data ilmiah mengenai hubungan spesifik antara substrat dominan dengan struktur komunitas gastropoda di Pulau Tarakan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis substrat dominan, pola persebaran gastropoda, hubungan antara substrat dengan kelimpahan dan pola sebaran gastropoda, serta potensi hasil penelitian ini sebagai bahan ajar biologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei di empat stasiun pengamatan (KKMB, Tanjung Batu, Pantai Binalatung, dan Juata Laut). Pengambilan sampel gastropoda dilakukan menggunakan transek kuadrat 1x1 meter, sedangkan analisis tekstur sedimen menggunakan metode pengayakan basah (wet sieving) dan diklasifikasikan berdasarkan segitiga tekstur tanah USDA dan klasifikasi Shepard. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA, Korelasi Spearman, dan General Linear Model (GLM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat di seluruh stasiun bersifat homogen, didominasi oleh fraksi debu (silt) dengan persentase (lebih dari 50%), yang diklasifikasikan sebagai lempung berdebu (silty loam) hingga lempung liat berdebu (silty clay loam). Ditemukan 20 spesies gastropoda dengan pola persebaran dominan mengelompok (clumped) sebesar 45%. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis substrat dominan dengan kelimpahan maupun pola sebaran gastropoda (p > 0,05). Hal ini disebabkan oleh homogenitas substrat di lokasi penelitian, sehingga faktor substrat tidak menjadi faktor pembatas utama. Kelimpahan gastropoda diduga lebih dipengaruhi oleh ketersediaan bahan organik dan parameter abiotik lain. Hasil penelitian ini memiliki relevansi tinggi sebagai bahan ajar biologi materi Keanekaragaman Hayati dan Ekologi untuk tingkat SMA (Fase E/F) dan Perguruan Tinggi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STRUKTUR KOMUNITAS GASTROPODA DI LINGKUNGAN TAMBAK TRADISIONAL KOTA TARAKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pond waters are one of the artificial ecosystems that play a crucial role in supporting aquaculture activities. This study aims to determine the structure of the gastropod community and the relationship between substrate composition and water quality on the abundance and diversity of gastropod species in the traditional ponds of Tarakan City, North Kalimantan. The research was conducted from January to March 2025 using a descriptive method with a quantitative approach. Station and sampling point selection was conducted using purposive sampling based on vegetation characteristics, substrate, and human activities around the location. Gastropod and sediment samples were collected at three research stations, each with five observation points (1x1-meter plots), along with measurements of water physical-chemical parameters (temperature, salinity, pH, and dissolved oxygen). Gastropod species identification was conducted morphologically in the laboratory. The results showed six gastropod species belonging to two families, Potamididae and Neritidae, with Pirenella alata as the most dominant species. The highest diversity index value was found at station 1, with h' = 1.31, classified as moderate diversity, while stations 2 and 3 had h' values of 0.51 and 0.52, respectively, classified as low diversity. The dominance index showed low dominance at station 1 (c = 0.36) and high dominance at stations 2 and 3 (c = 0.68 and c = 0.74). The evenness index indicated stable values at stations 1 and 2, but low values at station 3. Environmental factors such as temperature, pH, and DO were within the optimal range for gastropod life, while salinity showed extreme fluctuations that were likely to have influenced species distribution and diversity. These findings highlight the importance of managing pond environmental quality and using gastropods as biological indicators in evaluating aquatic ecosystem conditions.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI PERTUMBUHAN BIBIT MANGROVE (Rhizhopora mucronata) DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE DAN KEPITING KELURAHAN PAMUSIAN KOTA TARAKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

STUDI PERTUMBUHAN BIBIT MANGROVE JENIS (Rhizhopora mucronata) DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE DAN KEPITING KELURAHAN PAMUSIAN KOTA TARAKAN ABSTRAK Hutan mangrove di definisikan sebagai hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara yang terpengaruh oleh pasang surut air laut, tergenang air laut, tetapi tidak terpengaruhi oleh iklim hutan mangrove. Hutan mangrove terdapat pada tanah berlumpur, berpasir, atau tanah berpasir. Rhizophora mucronata adalah salah satu jenis mangrove. Salah satu alasan yang membuat jenis ini banyak dipilih untuk rehabilitasi hutan mangrove karena buahnya yang mudah diperoleh, mudah disemai serta dapat tumbuh pada daerah ge-nangan pasang yang tinggi maupun genangan rendah,Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan pertumbuhan bibit mangrove jenis (Rhizophora mucronata) di Kawasan Konservasi Mangrove dan Kepiting Kelurahan Pamusian Kota Tarakan. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan April 2024 yang meliputi persiapan bahan penelitian pengukuran data pertumbuhan di lapangan dan pengolahan data. Lokasi penelitian berada di pembibitan mangrove KKMK Kelurahan Pamusian Kota Tarakan. Pada tahap awal penelitian, dilakukan persiapan dengan mengumpulkan kecambah benih Rhizophora mucronata yang akan diteliti yaitu sebanyak 120 buah pada masing – masing lokasi penelitian. Agar mendapatkan kondisi buah yang memiliki umur yang sama, maka penentuan bibit dilakukan dengan mempertimbang induk pohon yang sama. Pengamatan juga dilakukan secara visual terhadap buah mangrove yang ditemukan dengan memperhatikan ukuran dan kondisi buah mangrove. Pada tahap persiapan berikutnya adalah mendapatkan data awal benih mangrove dengan mengukur panjang kecambah awal dan panjang tunas awal yang telah didapatkan,Jenis bibit yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis Rhizophora mucronata. Sumber bibit berasal pohon induk Rhizophora mucronata dari KKMK. Jumlah bibit yang dgunakan sebanyak 120 bibit mangrove siap tanam. Adapun ukuran panjang kecambah bibit mangrove Rhizhopora. mucronate antara 49, cm sampai dengan 80 cm.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KONDISI MANGROVE PADA AREA LAHAN BEKAS TAMBAK DI KELURAHAN KARANG HARAPAN KOTA TARAKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hutan mangrove merupakan sumber daya alam tropis yang mempunyai manfaat ganda, baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun ekologi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis jenis mangrove di lahan bekas tambak dan mengetahui kondisi hutan mangrove di lahan bekas tambak Kelurahan Karang Harapan Kota Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – September 2023. Pengambilan data menggunakan metode penelitian purposive sampling. Data vegetasi mangrove terbagi atas 3 kriteria yaitu semai, anakan dan pohon dengan jumlah 8 plot dengan ukuran 10m x 10m untuk semai, 5m x 5m untuk pohon, dan 1m x 1m untuk anakan. Penelitian ini menggunakan analisis data vegetasi mangrove yang meliputi Kerapatan Jenis (Ki), Kerapatan relatif (KR), Frekuensi Jenis (F), Frekuensi Relatif (FR), Basal Area (BA), Penutupan jenis atau dominansi jenis (D), Penutupan relatif atau dominansi relatif (DR), dan Indeks nilai penting (INP). Serta data pendukung yaitu salinitas dan substrat. Penelitian ini dilakukan dengan 2 titik lokasi, luasan areal tambak titik lokasi 1 sekitar 1,97 ha, sedangkan luasan pada areal tambak titik lokasi 2 sekitar 19,29 ha. Pada lokasi penelitian ditemukan 2 jenis mangrove yaitu Sonneratia alba, dan Avicennia alba. Dari hasil penelitian data vegetasi kriteria kerapatan mangrove yang dihasilkan sebesar 6,178 ind/ha, ini menunjukkan bahwa kondisi mangrove memiliki kriteria sangat padat. Kondisi substrat yang ada di lahan bekas tambak memiliki jenis substrat yang (Clay Loam) Lempung berliat dan (Sandy Clay Loam) Lempung liat berpasir dan salinitas di lokasi sampling pada saat terendam (pasang) berkisar 25-30 ppt. Mangrove pada kondisi ini tergolong batas toleransi karena masih mendukung untuk kehidupan vegetasi mangrove yang ada pada wilayah tersebut.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

pengaruh substrat yang berbeda terhadap percepatan matang ovari kepiting bakau (Scylla sp) ditambak tradisional kota tarakan

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting dan merupakan komoditi yang potensial di Provinsi Kalimantan Utara. Pengembangan budi daya kepiting bakau masih terus dilakukan salah satunya adalah penelitian tentang penggunaan subtract untuk merangsang percepatan matang ovari induk betina kepiting bakau. Tujuan penelitian ini untuk memahami dampak dari substrat yang berbeda terhadap percepatan kematangan ovari kepiting bakau (Scylla sp). Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan antara lain; 3 perlakuan dan 5 ulangan dan penyuntikan formula oil crab dengan dosis ( 0,2 ml/ekor). Perlakuan A Tanpa Substrat, Perlakuan B Substrat Pasir dan perlakuan C Substrat Lumpur. Dari hasil penelitian ini dapat diperoleh data bahwa pada perlakuan B subtract pasir lebih cepat matang ovari dibandingkan perlakuan lainnya. Proses reproduksi kepiting bakau dapat distimulasi menggunakan hormon oil crab, yang secara signifikasi yang berpengaruh Berdasarkan uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa pertumbuhan berat badan mutlak kepiting bakau selama pemeliharaan kurang lebih (40 hari) dengan masing-masing perlakuan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (F > 0.05). Data kualitas air selama penelitian menunjukkan suhu berkisar 26-30C, salinitas 22-30 ppt, DO 5.7-6.7 mg/l, pH 7.8-8.5 dan ammonia 0.08-0.13 mg/l.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kondisi hutan mangrove di kawasan konservasi mangrove dan kepiting kelurahan pamusian kota tarakan provinsi kalimanta utara

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Mangrove adalah jenis vegetasi yang terdapat di daerah pantai tropis. Hutan mangrove adalah salah satu hutan yang potensial dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanfaatan hutan mangrove yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan rehabilitasi dapat menyebabkan penurunan luasan mangrove yang menyebabkan berkurangnya fungsi mangrove dalam ekosistem. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove adalah tanah atau substrat. Tujuan dari penelitian ini, mengidentifikasi jenis mangrove dan mengetahui kondisi struktur komunitas di Kawasan Konservasi Mangrove dan Kepiting Kelurahan Pamusian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Oktober 2023. Metode Pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Pengamatan dilakukan pada 22 plot dengan ukuran 10m x 10 m untuk pohon, 5 x 5m untuk anakan dan 1m x 1m untuk semai. Penelitian ini menggunakan analisis data vegetasi mangrove yang meliputi analisis Kerapatan Jenis, Kerapatan Relatif, Frekuensi Jenis, Frekuensi Relatif, Dominansi, Dominansi Relatif, dan Indeks Nilai Penting. Serta data pendukung yaitu salinitas dan substrat. Pada kawasan ditemukan 10 jenis mangrove namun hanya 5 jenis yang masuk dalam transek pengamatan. Dari hasil analisis data vegetasi kriteria kerapatan mangrove yang didapatkan sebesar 1.627 ind/ha dan masuk dalam kriteria sangat padat. Kondisi substrat dilokasi terdiri dari lempung berliat (clay loam) dan lempung liat berpasir (sandy clay loam) dan salinitas pada saat pasang surut 20 ppt. Mangrove pada kawasan ini tergolong dalam kriteria sangat padat dan tergolong dalam kondisi baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KONDISI MANGROVE PADA AREAL LAHAN BEKAS TAMBAK DI KELURAHAN PAMUSIAN KOTA TARAKAN

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hutan mangrove merupakan ekosistem peralihan antara daratan dan lautan di sebagian besar sepanjang garis pantai tropis dan subtropis yang tergenang air laut. Mangrove dapat tumbuh di area bekas tambak. Lahan tambak yang sudah lama ditinggal akan ditumbuhi oleh mangrove secara alami yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Adapun tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi dan menganalisis jenis mangrove serta mengetahui kondisi mangrove yang ada di lahan bekas tambak. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data vegetasi mangrove tingkat anakan dan semai serta data pendukung yaitu, salinitas dan substrat. Penentuan letak titik petak untuk sampling mangrove dilakukan dengan metode purposive sampling. Pada penelitian ini ditemukan 3 jenis mangrove yaitu Sonnerata alba, Avicennia lanata dan Avicennia alba. Indeks Nilai Penting (INP) mangrove di lahan bekas tambak tergolong baik yang dibuktikan nilai INP yang didapatkan tidak ada yang 15%. Hal ini berarti jenis mangrove yang didapatkan di lokasi penelitian berperan penting dalam pembentukan ekosistem mangrove. Kerapatan didapatkan sebesar 1.910 ind/ha dan termasuk dalam kriteria sangat padat. Salinitas air laut pada saat pasang berkisar 25º/ₒₒ-30º/ₒₒ. Dari hasil yang didapatkan jenis substrat di lahan tambak memiliki dua jenis substat yaitu, Sandy Clay (liat berpasir) dan Sandy Clay Loam (lempung liat berpasir). Mangrove pada Bekas Tambak tergolong dalam kriteria sangat padat dan tergolong dalam kondisi baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KORELASI JENIS SUBSTRAT DENGAN KERAPATAN RHIZOPHORA SP DI HUTAN MANGROVE KOTA TARAKAN

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove. Kerapatan mangrove sangat dipengaruhi oleh jenis substrat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara jenis substrat terhadap kerapatan pohon Rhizophora sp di hutan mangrove Kota Tarakan dengan membandingkan jenis substrat terhadap kerapatan spesies tersebut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2019 metode yang digunakan dalam penelitian ini metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan di 3 stasiun yaitu daerah Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) dan Kawasan Konservasi Mangrove Mamburungan Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Hasil penelitian terdapat 3 jenis substrat yaitu lempung liat berdebu, lempung berdebu dan liat berdebu. Terdapat 3 jenis vegetasi Rhizophora sp yaitu Rhizophora Apiculata, Rhizophora Mucronata dan Rhizophora Stylosa.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail