Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

5 hasil
Subjek: Hutan Mangrove
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUKTUR KOMUNITAS FAUNA MAKROBENTOS PADA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KELURAHAN KAMPUNG EMPAT KOTA TARAKAN

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tarakan telah menetapkan ekosistem ini sebagai area konservasi pada tahun 2006 dan memiliki luas sekitar 32 ha. Namun, ekosistem mangrove saat ini menghadapi ancaman besar, terutama penggunaan lahan untuk budidaya tambak. Organisme fauna makrobentos memiliki peran penting sebagai bioindikator kualitas lingkungan, penyeimbang rantai makanan, serta penyedia jasa ekosistem. Komposisi maupun kepadatan fauna makrobentos akan merespon modifikasi mutu habitat melalui penyesuaian diri, tergantung pada tingkat toleransi atau kepekaannya terhadap perubahan lingkungan. Komunitas fauna makrobentos tidak hanya berperan sebagai indikator pencemaran, tetapi juga dapat digunakan sebagai tanda kembalinya fungsi vegetasi mangrove. Hal ini dapat dilakukan dengan menganalisis struktur komunitas fauna makrobentos yang ada dalam lapisan vegetasi mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur komunitas fauna makrobentos yang berasosiasi dengan hutan mangrove berdasarkan nilai indeks ekologisnya. Struktur komunitas fauna makrobentos dinilai berdasarkan Indeks Kekayaan Jenis (R), Indeks Keanekaragaman Jenis (H’), Indeks Keseragaman Jenis (E), Indeks Dominansi (C) dan Indeks Nilai Penting (INP). Nilai indeks ekologis yang dihasilkan R = 0,79; H’ = 0,73; E = 0,81 dan C = 0,21. Indeks ekologi menunjukkan komunitas makrozoobenthos yang berasosiasi dengan hutan mangrove di Kelurahan Kampung Empat memiliki keterbatasan jenis organisme, berada dalam kondisi kurang stabil, distribusi individu antar spesies tergolong merata, tidak ada spesies tertentu yang mendominasi secara ekstrem, sehingga proporsi jumlah individu antar spesies berada dalam kondisi yang relatif seimbang. Tidak terdapat spesies tertentu yang mendominasi komunitas secara berlebihan, mengindikasikan bahwa distribusi kekuasaan antar spesies cenderung tersebar, yang secara otomatis memperkuat interpretasi terhadap rendahnya tekanan dominansi di kawasan tersebut. Secara umum, seluruh spesies yang ditemukan memiliki nilai INP 100%. Rendahnya nilai INP mengindikasikan bahwa tidak ada satu spesies pun yang mendominasi secara mutlak. Hal ini menunjukkan bahwa peran ekologis dan sumber daya makanan terdistribusi secara kompetitif diantara spesies-spesies yang ada.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Peran Masyarakat Adat Tidung Dalam Konservasi Hutan Mangrove Dan Pemanfaatan Sumber Daya alam Serta Potensinya Bagi Pembelajaran Biologi

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hutan mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis tinggi, namun saat ini menghadapi ancaman kerusakan serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran masyarakat adat Tidung dalam konservasi serta pemanfaatan berkelanjutan hutan mangrove di Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni 2025 dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan etnografi. Subjek penelitian ditentukan secara purposif, meliputi tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga yang terlibat aktif dalam kegiatan konservasi. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara semi-terstruktur, observasi partisipan, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta divalidasi menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat Tidung berperan penting dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove melalui penerapan kearifan lokal. Aturan adat “Maliu” melarang penebangan sembarangan dan tindakan yang merusak lingkungan. Selain itu, masyarakat aktif melakukan penanaman kembali serta pengawasan kolektif terhadap kawasan pesisir. Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan secara seimbang dan berkelanjutan, seperti pemanfaatan hasil perikanan untuk pangan dan ekonomi, serta penggunaan kayu, nipah, dan tanaman obat untuk kebutuhan sehari-hari. Praktik ini mencerminkan harmoni antara kepentingan ekonomi, sosial-budaya, dan kelestarian lingkungan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI KEBERADAAN MIKROPLASTIK PADA KEPITING BAKAU (Scylla spp) DI HUTAN MANGROVE KOTA TARAKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pertumbuhan dan padatnya jumlah penduduk di wilayah pesisir menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar hutan mangrove. Sampah plastik yang akan terakumulasi dan terfragmentasi menjadi ukuran yang kecil hingga berukuran 5 mm yang disebut mikroplastik. Mikroplastik dapat membahayakan biota yang hidup disekitaran hutan mangrove, seperti kepiting bakau (Scylla spp) yang merupakan mata perdagangan masyarakat dengan nilai ekonomis tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keberadaan, karakteristik, dan kelimpahan mikroplastik pada insang kepiting bakau (Scylla spp) di KKMB dan Muara Sungai Karungan kota Tarakan. Metode penelitian yang digunakan meliputi identifikasi kebradaan, karakteristik mikroplastik yaitu bentuk, warna, ukuran dan analisis kelimpahan. Keberadaan mikroplastik pada insang Kepiting bakau (Scylla spp) telah teridentifikasi pada semua lokasi. Pada bentuk yang ditemukan KKMB fiber 3 partikel, film 9 partikel, filamen 16 partikel, fragmen 20 partikel. Untuk Muara Sungai Karungan film 3 partikel, fiber 11 partikel, fragmen 13 partikel, filamen 30 partikel. Warna yang ditemukan KKMB merah 1 partikel, hijau 1 partikel, hitam 9 partikel, coklat 37 partikel. Untuk Muara Sungai Karungan hijau 8 partikel, hitam 14 partikel, coklat 35 partikel. Ukuran yang ditemukan di KKMB 20-40 µm 1 partikel, 40-60 µm 5 partikel, 60-80 µm 4 partikel, 80-100 µm 2 partikel, 100-500 µm 23 partikel, 500-1000 µm 10 partikel, 1000-5000 µm 3 partikel. Untuk Muara Sungai Karungan 20-40 µm 0 partikel, 40-60 µm 1 partikel, 60-80 µm 2 partikel, 80-100 µm 1 partikel, 100-500 µm 23 partikel, 500-1000 µm 22 partikel, 1000-5000 µm 8 partikel. Dengan kelimpahan mikroplastik pada lokasi KKMB terdapat sebanyak 48 partikel, sedangkan lokasi Muara Sungai karungan 57 partikel.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kondisi hutan mangrove di kawasan konservasi mangrove dan kepiting kelurahan pamusian kota tarakan provinsi kalimanta utara

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Mangrove adalah jenis vegetasi yang terdapat di daerah pantai tropis. Hutan mangrove adalah salah satu hutan yang potensial dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanfaatan hutan mangrove yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan rehabilitasi dapat menyebabkan penurunan luasan mangrove yang menyebabkan berkurangnya fungsi mangrove dalam ekosistem. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove adalah tanah atau substrat. Tujuan dari penelitian ini, mengidentifikasi jenis mangrove dan mengetahui kondisi struktur komunitas di Kawasan Konservasi Mangrove dan Kepiting Kelurahan Pamusian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Oktober 2023. Metode Pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Pengamatan dilakukan pada 22 plot dengan ukuran 10m x 10 m untuk pohon, 5 x 5m untuk anakan dan 1m x 1m untuk semai. Penelitian ini menggunakan analisis data vegetasi mangrove yang meliputi analisis Kerapatan Jenis, Kerapatan Relatif, Frekuensi Jenis, Frekuensi Relatif, Dominansi, Dominansi Relatif, dan Indeks Nilai Penting. Serta data pendukung yaitu salinitas dan substrat. Pada kawasan ditemukan 10 jenis mangrove namun hanya 5 jenis yang masuk dalam transek pengamatan. Dari hasil analisis data vegetasi kriteria kerapatan mangrove yang didapatkan sebesar 1.627 ind/ha dan masuk dalam kriteria sangat padat. Kondisi substrat dilokasi terdiri dari lempung berliat (clay loam) dan lempung liat berpasir (sandy clay loam) dan salinitas pada saat pasang surut 20 ppt. Mangrove pada kawasan ini tergolong dalam kriteria sangat padat dan tergolong dalam kondisi baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI PENGEMBANGAN BUDIDAYA PEMBESARAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI TAMBAK TRADISIONAL DAN HUTAN MANGGROVE

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Salah satu sumberdaya perikanan yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi di Kalimantan Utara adalah kepiting bakau. Hal ini disebabkan karena di wilayah ini memiliki perairan dan mangrove yang masih mendukung kehidupan kepiting bakau sebagai habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perkembangan budidaya kepiting bakau di tambak tradisional dan di hutan mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan mengamati kondisi-kondisi yang terjadi melalui observasi secara langsung di lapangan. Parameter yang diukur pada penelitian ini seperti pertumbuhan berat, panjang tubuh, Survival Rate, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan yang baik untuk budidaya kepiting bakau terdapat pada hutan mangrove, dimana pertumbuhan berat dan panjang tubuh kepiting bakau pada hutan mangrove berat sekitar 160,6 gr dan panjang sekitar 11,7 cm sedangkan pada tambak tradisional pertumbuhannya, berat sekitar 134,9 gr dan panjang sekitar 10,8 cm. Tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau (Scylla serrata.) masih tergolong baik. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan kepiting pada lahan hutan mangrove lebih baik dibandingkan dengan tambak tradisional.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail