ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Lingkungan perairan tambak tradisonal yang stabil ditandai dengan keragaman plankton yang tinggi, jumlah individu setiap spesies tinggi dan merata serta kualitas air yang sesuai untuk pertumbuhan organisme budidaya, termasuk plankton sebagai pakan alami yang berukuran kecil (mikroskopik) yang jumlahnya sangat banyak dan tidak cukup kuat untuk menahan gerakan air yang begitu besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis – jenis plankton yang tumbuh pada tambak tradisional. Lokasi penelitian yaitu di tambak tradisional di Muara Bulungan. Lokasi tambak berada didekat muara. Sampel di ambil dari 1 tambak tradisional pada 3 stasiun yaitu stasiun 1 (sungai), stasiun 2 (In-let/pintu tambak), dan stasiun 3 (tengah tambak) dengan dua kali pengambilan sampel pada air pasang dan air surut. Data yang dikumpulkan akan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan 14 spesies fitoplankton yaitu Eucampia sp, Coscinodiscus sp, Chaetoceros sp, Pleurosigma sp, Melosira sp, dll, dan 5 spesies zooplankton yaitu Nauplius sp, Ostracoda sp, Lecane luna, Trichocherco, Calanus sp, dengan jumlah spesies yang berbeda-beda pada tiap stasiun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu sumberdaya perikanan yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi di Kalimantan Utara adalah kepiting bakau. Hal ini disebabkan karena di wilayah ini memiliki perairan dan mangrove yang masih mendukung kehidupan kepiting bakau sebagai habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perkembangan budidaya kepiting bakau di tambak tradisional dan di hutan mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan mengamati kondisi-kondisi yang terjadi melalui observasi secara langsung di lapangan. Parameter yang diukur pada penelitian ini seperti pertumbuhan berat, panjang tubuh, Survival Rate, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan yang baik untuk budidaya kepiting bakau terdapat pada hutan mangrove, dimana pertumbuhan berat dan panjang tubuh kepiting bakau pada hutan mangrove berat sekitar 160,6 gr dan panjang sekitar 11,7 cm sedangkan pada tambak tradisional pertumbuhannya, berat sekitar 134,9 gr dan panjang sekitar 10,8 cm. Tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau (Scylla serrata.) masih tergolong baik. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan kepiting pada lahan hutan mangrove lebih baik dibandingkan dengan tambak tradisional.