ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman labu kuning Golden Mama 35 merupakan salah satu tanaman sumber pangan yang kaya kandungan gizi. Selain itu, tanaman ini juga memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Dalam budidaya labu Golden Mama 35 ada beberapa permasalahan yang dihadapi petani, diantaranya adalah produksi yang masih rendah. Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi dengan memberikan hormon pada tanaman tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh hormon GA3 terhadap pertumbuhan generative dan produksi labu kuning Golden Mama 35, serta mengetahui konsentrasi hormon GA3 yang memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan generative dan produksi labu kuning Golden Mama 35. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok 1 faktor yaitu konsentrasi GA3 yang tediri dari P0 = Kontrol (0 ppm), P1 = 1,5 ppm GA3 / Tanaman, P2 = 2 ppm GA3 / Tanaman, dan P3 = 2,5 ppm GA3 / Tanaman. Percobaan diulang sebanyak 6 kali, sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Parameter penelitian adalah umur berbunga, jumlah bunga, persentase bunga menjadi buah, rata-rata berat buah, berat buah/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon GA3 memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan generative dan produksi labu kuning Golden Mama 35. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pertumbuhan generative dan produksi labu kuning Golden Mama 35 akibat perlakuan konsentrasi hormone yang berbeda pada parameter umur berbunga, jumlah bunga betina, berat per buah dan berat buah/tanaman. Sedangkan pada parameter persentase bunga menjadi buah menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi hormone tidak memberikan pengaruh yang nyata. Berdasarkan uji BNT 5 % diperoleh hasil bahwa konsentrasi hormone yang memberikan nilai pertumbuhan generative dan produksi terbaik yaitu perlakuan P2 untuk umur berbunga (15 hari), perlakuan P3 untuk jumlah bunga betina (5,83), rata-rata berat buah (1812,87 g) dan berat buah per tanaman (8762, 33 g).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Ikan jenis ini sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia, dan merupakan salah satu sumber penghasilan yang potensial di kalangan pembudidaya ikan. Metode yang dapat digunakan adalah dengan modifikasi pakan. Pakan dapat dimodifikasi dengan memberikan komponen tertentu yang dapat mempercepat proses pembentukan vitellogenin atau bakal kuning telur di dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan kualitas larva yang dihasilkan.Penelitian bertujuan untuk mengetahui penyerapan kuning telur pada larva ikan lele (Clarias gariepenus) dengan menggunakan pakan tepung kunyit dan hormon tiroksin. Penelitian terdiri dari empat perlakuan, yaitu perlakuan kontrol,penambahan tepung kunyit 4,8 g/kg pakan, penambahan tiroksin 0,1 g/kg pakan, penambahan tiroksin 0, 1 gram dan kunyit 4,8 g/ kg pakan. Parameter yang diamati adalah penyerapan kuning telur, panjang larva, kelansungan hidup (SR) larva ikan serta beberapa parameter kualitas air seperti Suhu dan pH. Hasil Penelitian terbaik diperoleh pada perlakuan penambahan tepung kunyit 4,8 g/kg pakan yang menunjukkan penyerapan kuning telur bertahan hingga hari ke 5, dan panjang larva berukuran 7,35 mm, dan kelangsungan hidup (SR) 85%. Sedangkan untuk kualitas suhu berkisaran 27°C -29°C, pH berkisaran 6 - 7. Dari semua hasil parameter yang diukur menunjukkan bahwa dengan pemberian tepung kunyit dengan dosis 4,8 g/kg pada pakan mampu meningkatkan penyerapan kuning telur ikan serta meningkatkan kualitas larva ikan lele.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia sebagai produsen dan eksportir utama produk hasil perikanan. Menurunnya permintaan udang windu khususnya benur disebabkan karena ketersediaan benur udang (post larva) yang belum memenuhi standar. Permasalahan utama yang dihadapi dalam pembenihan udang windu adalah rendahnya sintasan hidup terutama pada stadia PL-2. Rendahnya sintasan hidup benur disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya penurunan daya dukung lingkungan, pH, alkalinitas, pakan dan hormon termasuk padat penebaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji padat penebaran yang berbeda terhadap sintasan hidup benih udang windu yang mendapatkan perlakuan perendaman ekstrak daun karamunting. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yaitu; rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Padat penebaran yang digunakan dalam setiap wadah berbeda-beda yaitu 5, 10, 15 dan 20 ind/L. Hasil menunjukkan perendaman ekstrak daun karamunting pada benur dengan jumlah padat penebaran yang berbeda mempengaruhi sintasan hidup dan persentase moulting. Perlakuan padat penebaran 10ind/L menunjukkan sintasan hidup tertinggi di akhir penelitian, sedangkan untuk persentase moulting yang terbaik diperoleh pada perlakuan padat penebaran 5 ind/L. Penggunaan ekstrak daun karamunting pada benur dengan jumlah padat penebaran yang berbeda berpengaruh sangat nyata pada sintasan hidup.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Pertumbuhan kepiting bakau melalui proses moulting membutuhkan hormon steroid. Salah satu bahan baku yang memiliki kandungan bioaktif seperti hormon steroid adalah daun karamunting (M. malabathricum L). tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stimulan moulting kepiting bakau (Scylla sp) dengan pemberian kombinasi ekstrak daun karamunting (M. malabathricum L) dan hormon tiroksin. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode eksperimental, yaitu menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan 5 ulangan. Perlakuan A (kontrol), perlakuan B ( ekstrak karamunting 3 µg/g dan tiroksin 50 µg/g), perlakuan C (ekstrak karamunting 5 µg/g dan tiroksin 50 µg/g) dan perlakuan D (ekstrak karamunting 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase moulting pada perlakuan 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g yaitu 100% sementara perlakuan 3 µg/g dan tiroksin 50 memberikan hasil 80% dan perlakuan terendah didapati pada perlakuan kontrol sebesar 60 %. Hasil dari masa laten moulting didapati waktu moulting tercepat pada perlakuan 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g disusul pada perlakuan 5 µg/g dan tiroksin 50 µg/g selama 15 sampai 24 hari dan perlakuan 3 µg/g dan tiroksin 50 µg/g memberikan waktu selama 16 sampai 31 hari dan paling lama didapati pada perlakuan control sebesar 20 sampai 60 hari . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemberian ekstrak daun karamunting (M. malabathcricum L) dan hormon tiroksin dapat berperan teerhadap stimulan moulting pada kepiting bakau (Scylla spp).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Tingginya peningkatan permintaan terhadap induk kepiting bakau menyebabkan semakin tingginya penangkapan kepiting di alam. Salah satu usaha untuk memenuhi permintaan pasar yaitu dengan melakukan kegiatan percepatan pematangan ovari melalui pendekatan hormonal maupun ekstrak yang memiliki sifat reproductive-like hormone. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas pemberian pakan yang berbeda dengan kombinasi ekstrak daun karamunting dan ethinylestradiol terhadap percepatan dan pematangan ovari induk kepiting bakau (Scylla spp). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Terdapat 4 pakan alami yang digunakan : A (Ikan mujair), B (Temberungun), C (Kepiting Karaca), dan D (Udang) yang di injeksi ekstrak daun karamunting 0,75 mg/g dan hormon ethinylestradiol 0,1 g/g. Hasil penelitian menunjukan pematangan ovari kepiting bakau dalam kurun waktu 20 hari dengan nilai GSI 6,53%. Sedangkan untuk perlakuan pakan temberungun menunjukan peningkatan nilai GSI terbesar 9,70%. Perlakuan pakan karaca menunjukan peningkatan nilai GSI sebesar 9,21% dan perlakuan pakan udang menunjukan hasil GSI sebesar 9,27%. Berdasarkan kesimpulan penggunaan estrak daun karamunting, hormon ethinylestradiol dan pakan yang berbeda menunjukkan performa reproduksi dengan permberian pakan temberungun lebih efektiv dalam percepatan kematangan gonad kepiting bakau jika dibandingkan dengan kepiting karaca, udang dan ikan mujair.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu adalah golongan crustacea yang pertumbuhannya diikuti dengan ganti kulit (molting). Berdasarkan wawancara yang dilakukan, salah satu masalah yang dialami oleh beberapa hatchery di Pantai Amal kota Tarakan adalah Terhambatnya proses molting pada udang fase Post Larva 2. Hal ini diduga berkaitan dengan ketersedian pakan alami atau nutrisi yang diberikan, pengaruh kualitas pakan alami yang diberikan tersebut mempengaruhi proses biosintesis hormon ekdisteroid. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses molting salah satunya menggunakan tumbuhan herbal yaitu tumbuhan karamunting. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengayaan Artemia salina menggunakan ekstrak daun karamunting (Melastoma malabatricum) dengan konsentrasi yang berbeda dalam mempercepat proses molting pada fase PL 2 udang windu (Penaeus monodon). Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan 1 yaitu tanpa pemberian ekstrak daun karamunting, perlakuan kedua yaitu perendaman dengan konsentrasi ekstrak 50 ppm , perlakuan ketiga yaitu perendaman dengan konsentrasi ekstrak 100 ppm dan perlakuan keempat dengan konsentrasi 150 ppm. Dari hasil penelitian ini didapatkan persentase molting udang windu tertinggi yaitu dengan konsentrasi ekstrak 100 ppm dengan nilai persentase molting sebesar 67%. Tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) udang windu yang tertinggi juga diperoleh pada perlakuan 100 ppm yaitu sebanyak 70%. Dengan demikian konsentrasi ekstrak daun karamunting yang terbaik dan mampu meningkatkan persentase molting dan kelangsungan hidup post larva udang windu adalah 100 ppm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tumbuhan herbal memiliki senyawa bioaktif yang dapat berperan sebagai agen dalam meningkatkan laju pertumbuhan organisme yang dibudidayakan. Kandungan senyawa bioaktif dari tumbuhan karamunting seperti flavonoid, tanin, saponin, fenolat dan isoflavonoid, memiliki potensi sebagai agen yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan dan sebagai tonik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek pemberian pakan alami Artemia salina yang diperkaya ekstrak daun karamunting terhadap laju pertumbuhan benur udang windu (Penaeus monodon). Rancangan penelitian terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu; kontrol (tanpa perendaman ekstrak), dan perlakuan 8, 16 dan 24 jam (perendaman dengan menggunakan ekstrak daun karamunting), pemeliharaan benur dilakukan selama 8 hari. Parameter yang diamati adalah persentase moulting, survival rate, dan kualitas air Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak dengan perendaman 24 jam memberikan persentase molting tertinggi. yaitu 124% sedangkan untuk persentase terendah diperoleh pada perlakuan kontrol, sebesar 73 %. Nilai sintasan hidup tertinggi juga diperoleh pada perlakuan 24 jam, yaitu 69%. Bioenrichment Artemia salina menggunakan ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dengan lama perendaman 24 jam memberikan hasil yang signifikan berbeda terhadap persentase molting dan sintasan hidup benur udang windu pada stadia post larva. Ekstrak daun karamunting berpotensi sebagai promotor pertumbuhan pada udang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kunyit (Curcuma domestica val) merupakan tanaman herbal yang sejak lama digunakan sebagai bumbu makanan dan obat. Kandungan terbesar dalam kunyit adalah kurkumin yakni sebesar 94%. Kurkumin bersifat sebagai antioksidan dan dapat diterapkan dalam bidang akuakultur salah satunya dicampur dalam pakan ikan karena dapat meningkatkan metabolisme dan penyerapan nutrisi. Penambahan Penggunaan teknik rekayasa hormonal merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas pengembangan beberapa ikan air tawar termasuk ikan lele. Beberapa hormon yang telah diketahui memiliki peranan positif dalam meningkatkan pertumbuhan ikan antara lain hormon tiroksin. Hormon tiroksin merupakan salah satu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid berfungsi untuk membentuk, menyimpan, dan mengeluarkan zat yang berhubungan dengan pengaturan laju metabolisme. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung kunyit maupun tiroksin sebagai bahan alternatif campuran pakan ikan untuk meningkatkan pertumbuhan benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan 3 ulangan. Perlakuan pakan yang diberikan yaitu tanpa pemberian ekstrak (P1), penambahan kunyit 4,8 gr/kg pakan (P2), penambahan tiroksin 0,1 mg/kg pakan (P3) dan penambahan kunyit 4,8 g/kg pakan dikombinasikan dengan tiroksin 0,1 mg/kg pakan (P4). Berdasarkan analisis statistik ANOVA (SPSS 20) pertumbuhan panjang mutlak, berat mutlak dan SGR (Specific Growth Rate) menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata disetiap perlakuannya. Data pengukuran kualitas air yaitu suhu 27-28 0C, nilai pH 6-7 dan nilai amoniak 0,006-0,014 mg/l. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian tepung kunyit 4,8 g/kg pakan dikombinasikan dengan tiroksin 0,1 mg/kg pakan (P4) menunjukan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, sehingga dapat kita ketahui bahwa penambahan ekstrak kunyit maupun tiroksin dapat meningkatkan pertumbuhan benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Abstract Turmeric (Curcuma domestica val) is an herbal plant that has long been used as a spice in food and medicine. The largest content in turmeric is curcumin, which is 94%. Curcumin is an antioxidant and can be applied in aquaculture, one of which is mixed in fish feed because it can increase metabolism and nutrient absorption. Addition The use of hormonal engineering techniques is one way that can be done to improve the quality of development of some freshwater fish, including catfish. Several hormones that have been known to have a positive role in increasing fish growth include the hormone thyroxine. Thyroxine is a hormone produced by the thyroid gland. The thyroid gland functions to form, store, and secrete substances related to the regulation of metabolic rate. This study was conducted to determine the effect of adding turmeric flour and thyroxine as an alternative ingredient in fish feed mixtures to increase the growth of African catfish (Clarias gariepinus) fry. The study used a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications. The feed treatments given were without extract (P1), adding turmeric 4.8 g/kg feed (P2), adding thyroxine 0.1 mg/kg feed (P3) and adding turmeric 4.8 g/kg feed combined with thyroxine. 0.1 mg/kg feed (P4). Based on the statistical analysis of ANOVA (SPSS 20) absolute length growth, absolute weight and SGR (Specific Growth Rate) showed that the results were not significantly different in each treatment. Water quality measurement data are temperature 27-280C, pH value 6-7 and ammonia value 0.006-0.014 mg/l. Based on the results of this study showed that the administration of turmeric flour 4.8 g/kg of feed combined with thyroxine 0.1 mg/kg of feed (P4) showed better results than other treatments, so we can know that the addition of turmeric extract and thyroxine can increasing the growth of African catfish (Clarias gariepinus).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Watermelon (Citrullus vulgaris) is indonesia's most popular fruits. As a result, in order to increase the production of these plants, it is important to create culture technologies. Increased production is essential not only in terms of quantity, but also in terms of producing high-quality fruit. Nitrogen (N), phosporus (P), and potassium (K) fertilizers, as well as the use of Growth Regulators (ZPT), can be used to increase watermelon yields. The hormone gibberellins is one of the most commonly used growth regulators. This study took place on the grounds of the University of Borneo Tarakan's Faculty of Agriculture from February to December 2021. The study used a factorial randomized block design (RAK) with two treatment factors: NPK fertilizer with four levels of N0 ( no treatment), N1 (1,5 grams/plant), N2 (3 grams/plant), N3 (5 grams/plant) and gibberellins with four levels of G0 (no treatment), G1 (100 ppm), G2 (200 ppm), and G3 ( 300 ppm). The results of this study showed that the application of NPK fertilizer had no significant effect on the growth characteristics of 2 WAP, but had a substantial effect on 3 WAP and 4 WAP. The use of NPK fertilizer resulted in a considerable difference in the production metrics. Gibberellin administration had no discernible influence on growth or output measures. Growth and production characteristic were unaffected by the combination of the two treatments.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tingginya peningkatan permintaan terhadap induk kepiting bakau menyebabkan semakin tingginya penangkapan kepiting di alam. Salah satu usaha untuk memenuhi permintaan pasar yaitu dengan melakukan kegiatan percepatan pematangan ovari melalui pendekatan hormonal baik menggunakan hormon sintetik maupun ekstrak yang memiliki sifat reproductive-like hormone. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hormon ethinylestradiol yang dikombinasikan dengan ekstrak daun karamunting sebagai sumber induktor alternatif pada pematangan ovari kepiting bakau. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Terdapat 4 formulasi kombinasi hormon: tanpa hormon (A), ekstrak daun karamunting 0.25 mg/g dan hormon ethinylestradiol 0.1 g/g (B), ekstrak daun karamunting 0.5 mg/g dan hormon ethinylestradiol 0.1 g/g (C), ekstrak daun karamunting 0.75 mg/g dan hormon ethinylestradiol 0.1 g/g (D). Hasil penelitian ini menujukan bahwa pemberian kombinasi ekstrak daun karamunting dan hormon ethinylestradiol pada perlakuan D dapat mempercepat pematangan ovari kepiting bakau dalam kurun waktu 20 hari dengan nilai GSI sebesar 21,45%. Pemberian kombinasi ekstrak daun karamunting dan hormon ethinylestradiol dapat mempercepat kematangan ovari kepiting bakau di bandingkan perlakuan kontrol.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis penting dengan permintaan yang semakin meningkat. Dalam rangka meningkatkan produksi kepiting bakau, maka perlu adanya peningkatan atau percepatan pematangan ovari sehingga ketersediaan benih juga meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju kematangan ovari kepiting bakau (Scylla serrata) dengan pemberian ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dan hormon tiroksin pada pakan yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 ulangan dengan pengambilan data menggunakan, GSI (Gonad somatik indeks), HSI (Hepato somatik indeks) dan SR (Survival rate). Analisis data dilakukan dengan menggunakan sidik ragam ANOVA dan sofware SPSS 25.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dan hormon tiroksin dengan pemberian pakan udang mendapatkan nilai terbaik yang telah memasuki TKO IV dalam kurun waktu 20 hari. Mud crab is a comodity with a good economic value and increasing demand. In order to increase the production of mud crab, it is necessary to accelerate the maturation of the ovaries to boost the seed availability. The purpose of thr research was to determine the rate of maturity of the ovaries of mud crab (Scylla serrata) by giving karamunting (Melastoma malabathricum) and thyroxine hormone in different feeds. This research employed an experimental method with a completely randomized design (CRD) with 4 treatment and 3 replication and the data collected include GSI (Gonad Somatik Index), HSI (Hepato Somatik Index), and SR (Survival Rate). The technique of data analysis was performed using ANOVA variance of SPSS 25,0 software, The results of the research showed that the administration of karamunting leaf extract (Melastoma malabathricum) and the hormone thyroxine with shrimp feeding has resulted in the best value in which the ovarian has developed its TKO IV in a period of 20 days.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan lele merupakan salah satu komoditas yang sangat diminati masyarakat dan ikan lele juga memiliki permintaan pasar yang cukup tinggi. Upaya dalam peningkatan produksi ikan lele melalui subsektor perikanan budidaya dapat dicapai dengan adanya penyediaan benih yang cukup tahan dan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari uji tantang pada benih ikan lele tanpa pemberian pakan Pasca Pemijahan Dengan Induk Yang Diberi Tepung Kunyit (Curcuma domestika) Dan Hormon Tiroksin. Uji tantang yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan benih ikan lele berumur 3 hari. Penelitian terbagi menjadi dua tahapan, tahapan pertama yaitu pemberian dosis (4,8 gram tepung kuyit, 0,1 mg horomon tiroksin). tahapan kedua yaitu pengujian dosis. Uji tantang pada benih ikan lele dilakukan selama 12 hari. Parameter yang diukur selama penelitian yaitu kelangsungan hidup, dan pertumbuhan benih ikan lele, serta parameter kualitas air (pH, suhu, DO, dan amoniak). Hasil penelitian menunjukkan kelangsungan hidup benih ikan lele pada pemijahan induk yang diberi tepung kunyit (4,8 gram) sebesar 42% dan hormon tiroksin (0,1 mg) sebesar 45%, sedangkan perlakuan pada kontrol sebesar 45%. Hasil pertumbuhan pada benih ikan lele menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh antar perlakuan. Sedangkan, hasil pengukuran kualitas air selama penelitian didapatkan hasil pengukuran yang masih tergolong baik bagi benih ikan lele (Clarias gariepinus) Catfish is a commodity highly preferred by many people and demanded by the markets. The efforts made to increase the catfish production through aquaculture sub-sector can be achieved when the quality and resistant seeds are adequately provided. This research aimed to figure out the effect of non-feeding challenge test on catfish seeds after spawned from broodstock administered with turmeric powder (Curcuma domestica) and thyroxine hormone. The challenge test was conducted in this research using 3-day old catfish seeds. The research was divided into two stages: dosage administration (4.8 grams of turmeric powder and 0.1 mg of thyroxine hormone), dosage testing. Challenge test on catfish feeds was performed in 12 days. The measured parameters included the catfish seeds’ survival and growth, as well as water quality level (pH, temperature, DO, and ammonia). The research results showed that cthe carfish seeds’ survival level spawned from their broodstocks administered with turmeric powder (4.8 grams) was 42% and those with thyroxine hormone (0.1 mg) wa 45%, while the control treatment was 45%. The research results also shot that the growth of catfish seeds had no significant different with that in the other treatments. In addition, the research results indicate that the water quality was still relatively good for the catfish seeds (Clarias gariepinus).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pertumbuhan kepiting bakau melalui proses moulting membutuhkan hormon ekdisteroid. Hormon ekdisteroid dihasilkan oleh hewan dan tumbuhan. Pada tumbuhan, ekdisteroid dikenal dengan fitoekdisteroid. Salah satu bahan baku yang memiliki kandungan bioaktif seperti hormon ekdisteroid adalah daun karamunting (Melastoma malabathricum L). Tujuan penelitian ini adalah menguji potensi karamunting sebagai sumber pengganti hormon yang berasal dari tumbuhan untuk stimulan proses moulting pada kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan A (Kontrol), perlakuan B (3 µg/g), perlakuan C (5 µg/g) dan perlakuan D (7 µg/g). Diperoleh hasil bahwa penyuntikan dengan dosis terbaik adalah 5 µg/g bobot tubuh memberikan presentase moulting terbaik dengan nilai sintasan hidup 100%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada pemberian ekstrak daun karamunting (Melastoma malabthricum L) dapat berperan terhadap stimulant moulting pada kepiting bakau (Scylla serrata). The growth of mangrove crabs through the moulting process requires ecdysteroid hormones. Ecdysteroid hormones are produced by animals and plants. In plants, ecdysteroids are known as phytoecdysteroids. One of the raw materials that has bioactive content such as ecdysteroid hormones is karamunting leaf (Melastoma malabathricum L). The purpose of this study was to examine the potential of karamunting as a substitute source of plant-derived hormones to stimulant the moulting process in mud crabs (Scylla serrata). This research is an experimental study, using a completely randomized design with 4 treatments and 5 replications. Treatment A (control), treatment B (3 g/g), treatment C (5 g/g) and treatment D (7 g/g). That the results of the injection with the best dose of 5 g/g body weight giving the best percentage of moulting with a survival value of 100% serrata).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jagung merupakan salah satu komoditas yang berperan penting di Indonesia, namun produksi jagung masih belum dapat memenuhi kebutuhan jagung secara nasional. Maka dari itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi jagung di Indonesia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan proses perkecambahan benih jagung. Perlakuan benih merupakan salah satu perlakuan yang bertujuan meningkatkan proses perkecambahan benih jagung di lapangan. PGPR yang mampu memproduksi hormon IAA merupakan salah satu bahan dalam perlakuan benih. Hormon IAA merupakan auksin yang berperan dalam merangsang imbibisi, mempercepat perkecambahan benih, meningkatkan aktivitas enzim, dan mendorong pemanjangan sel batang dan akar. Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan memiliki 14 isolat rhizobakteri indigenous penambat nitrogen dan 2 pelarut fosfat, namun belum diketahui dalam menghasilkan hormon IAA. Tujuan penelitian untuk mendapatkan isolat penambat nitrogen dan pelarut fosfat yang mampu menghasilkan hormon IAA dan mengetahui pengaruhnya terhadap perkecambahan benih jagung. Penelitian dilakukan dua tahap, yaitu uji rhizobakteri penghasil hormon IAA dengan metode spektrofotometri dan uji kemampuan rhizobakteri terhadap perkecambahan jagung dengan metode perendaman benih. Analisis data uji rhizobakteri penghasil hormon IAA menggunakan metode deskriptif kuantitatif sedangkan uji perkecambahan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu : P0 (aquades), P1 (NB), P2 (B5(6)), P3 (B1(17)), P4 (B3(12)) dan P5 (B3(16)). Perlakuan P2, P3, P4 dan P5 benih direndam dengan kerapatan isolat rhizobakteri 108 cfu/ml. Parameter penelitian yaitu daya kecambah, laju perkecambahan, potensi tumbuh benih, kecepatan tumbuh benih, tinggi tanaman, panjang akar dan jumlah akar. Hasil penelitian menunjukkan isolat rhizobakteri penambat nitrogen dan pelarut fosfat mampu menghasilkan hormon IAA. Isolat B5(6) = 55,19 ppm, B1(17) = 31,99 ppm, B3(12) = 48,14 ppm dan B3(16) = 62,23 ppm. Hasil penelitian perlakuan isolat rhizobakteri terhadap perkecambahan jagung menunjukkan konsentrasi hormon IAA yang dihasilkan masih belum memenuhi kebutuhan jagung untuk meningkatkan proses perkecambahannya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Pematangan gonad pada kepiting bakau dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu; lingkungan, nutrisi dan hormonal. Penelitian ini bertujuan menguji pemberian ethinyl estradiol sebagai stimulator dalam proses pematangan ovari kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Terdiri dari tiga perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan, yaitu A. kontrol (0 μg/g), B. ovaprim (0.5μg/g) dan C. ethinyl estradiol (0.1μg/g). Kegiatan pemeliharaan dilakukan selama 20 hari. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa penyuntikan ethinyl estradiol (0.1μg/g) dan ovaprim (0.5μg/g) memberikan pengaruh terhadap perkembangan dan percepatan pematangan ovari kepiting bakau (Scylla serrata) dibandingkan perlakuan kontrol. Perkembangan dan percepatan maturasi ovari ditentukan dengan bertambahnya nilai GSI, perubahan pada volume dan warna ovari.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu upaya meningkatkan produksi ikan gurami adalah dengan meningkatkan kualitas pakan calon induk agar menghasilkan telur dan benih yang berkualitas. Peningkatan pakan calon induk dilakukan dengan pengkayaan pakan yaitu dengan mengkombinasi pakan pelet dengan bahan baku alam yang mengandung hormon yang dapat membantu dalam mempercepat reproduksi, seperti daun katuk dan rimpang kunyit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan yang telah dikombinasi dengan esktrak katuk dan tepung kunyit terhadap profil hormon estradiol pada induk ikan gurami. Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan yaitu (P0) pakan komersial tanpa pencampuran ekstrak katuk dan tepung kunyit, (P1) pakan komersial dengan tepung kunyit 4,8 gram/kg pakan, (P2) pakan komersial dengan tepung katuk 0,6 gram/kg pakan, (P3) pakan komersial dengan tepung kunyit 4,8 gram/kg pakan dan tepung katuk 0,6 gram/kg pakan, dengan pemberian pakan dilakukan selama 8 minggu dan pengambilan serum darah dilakukan per dua minggu. Hasil pengukuran hormon estradiol-17β pada perlakuan terbaik yaitu (P3) dengan kisaran nilai 457,53±21,62 pg/ml sampai dengan 1705,10±875,30 pg/ml. Hasil pengukuran suhu, pH dan DO berada dalam kisaran yang optimum hidup ikan gurami. Pakan yang dikombinasi dengan tepung kunyit dan ekstrak kunyit dapat meningkatkan konsentrasi estradiol yang ada di dalam darah induk gurami yang akan digunakan dalam perkembangan gonad.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rumput laut Kappaphycus alvarezii salah satu jenis rumput laut yang banyak dibudidayaka, Rumput dan menjadi salah satu komuditas perikanan yang penting. Salah satu upaya untuk menyediakan bibit secara kontinyu adalah melalui kultur jaringan. Teknik kultur jaringan rumput laut sangat dipengaruhi oleh pupuk dan hormon sebagai pertumbuhan talus. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah penurunan kualitas bibit K. alvarezii di masa mendatang adalah melalui kultur in vitro. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengunaan hormon pertumbuhan terhadap tingkat kelangsungan hidup talus, berat mutlak Rumput laut K.alvarezii yang tumbuh, dan panjang talus jaringan rumput laut K.alvarezii yang dibudidayakan secara in vitro. Parameter yang diuji meliputi pertumbuhan berat mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, kelangsungan hidup, dan kualitas air. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan P4 dengan penambahan Pupuk conwi dan Hormon combo C (P&H) mampu menghasilkan 0,186 gram berat mutlak, 0,333 cm pertumbuhan panjang, dan kelangsungan hidup rumput laut 100% tingkat kelangsungan hidup diatas 50 % tergolong baik. Namun demikian, hasil uji sidik ragam dari seluruh perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dari keseluruhan parameter yang diamati. Berdasarkan hasil penelitian diketahui peningkatan pertumbuhan talus rumput laut K.alvarezii dengan kombinasi Pupuk dan Hormon (P&H) mampu meningkatkan pertumbuhan optimal pada panjang talus, berat talus dan kelangsungan hidup talus rumput laut K.alvarezii.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2017•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Pertumbuhan kepiting bakau melalui proses molting membutuhkan hormon ekdisteroid. Salah satu bahan baku yang memiliki hormon ekdisteroid adalah daun karamunting (Melastoma malabathricum L). Tujuan penelitian ini adalah menguji potensi karamunting sebagai sumber pengganti hormon yang berasal dari tumbuhan untuk stimulan proses molting pada kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan 11 ulangan. Perlakuan A (kontrol), perlakuan B (9 µg/g), perlakuan C (15 µg/g), dan perlakuan D. (21 µg/g). Dari hasil penelitian pemberian ekstrak daun karamuntinng pada perlakuan B menunjukkan laju kecepatan molting terbaik yaitu sekitar 5-25 hari. Persentase molting terbaik pada perlakuan A dan B yakni sebesar 36,36%. Pertumbuhan lebar karapas dan laju pertumbuhan harian pada perlakuan B menujukkan hasil terbaik yaitu 1,6 cm dan 2,71%.