ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu merupakan golongan krustasea yang pertumbuhannya diikuti dengan pergantian kulit. Berdasarkan wawancara, salah satu permasalahan yang dialami oleh beberapa hatcheri di Pantai Amal Kota Tarakan adalah terhambatnya proses molting pada udang 2 fase pasca larva. Hal itu diduga terkait dengan ketersediaan pakan alami atau nutrisi. Pengaruh kualitas pakan alami yang diberikan mempengaruhi proses biosintesis hormon ekdisteroid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun karamunting terhadap percepatan molting pascalarva udang windu melalui waktu perendaman yang berbeda. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan 1 perendaman tanpa pemberian ekstrak daun karamunting, perlakuan kedua perendaman selama 4 jam, perlakuan ketiga perendaman selama 8 jam, dan perlakuan keempat perendaman selama 16 jam, dengan konsentrasi yang sama yaitu 50 ppm pada masing-masing perlakuan. Berdasarkan hasil yang diperoleh selama penelitian, persentase molting udang windu tertinggi adalah pada perlakuan perendaman 16 jam dengan persentase molting sebesar 62%. Tingkat kelangsungan hidup udang windu tertinggi juga diperoleh pada perlakuan perendaman 16 jam dengan nilai 86%. Dengan demikian perlakuan perendaman menggunakan ekstrak daun karamunting dengan konsentrasi 50 ppm pada benih udang berpengaruh nyata terhadap aktivitas molting dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Persentase molting tertinggi diperoleh pada perlakuan perendaman 16 jam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu adalah golongan crustacea yang pertumbuhannya diikuti dengan ganti kulit (molting). Berdasarkan wawancara yang dilakukan, salah satu masalah yang dialami oleh beberapa hatchery di Pantai Amal kota Tarakan adalah Terhambatnya proses molting pada udang fase Post Larva 2. Hal ini diduga berkaitan dengan ketersedian pakan alami atau nutrisi yang diberikan, pengaruh kualitas pakan alami yang diberikan tersebut mempengaruhi proses biosintesis hormon ekdisteroid. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses molting salah satunya menggunakan tumbuhan herbal yaitu tumbuhan karamunting. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengayaan Artemia salina menggunakan ekstrak daun karamunting (Melastoma malabatricum) dengan konsentrasi yang berbeda dalam mempercepat proses molting pada fase PL 2 udang windu (Penaeus monodon). Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan 1 yaitu tanpa pemberian ekstrak daun karamunting, perlakuan kedua yaitu perendaman dengan konsentrasi ekstrak 50 ppm , perlakuan ketiga yaitu perendaman dengan konsentrasi ekstrak 100 ppm dan perlakuan keempat dengan konsentrasi 150 ppm. Dari hasil penelitian ini didapatkan persentase molting udang windu tertinggi yaitu dengan konsentrasi ekstrak 100 ppm dengan nilai persentase molting sebesar 67%. Tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) udang windu yang tertinggi juga diperoleh pada perlakuan 100 ppm yaitu sebanyak 70%. Dengan demikian konsentrasi ekstrak daun karamunting yang terbaik dan mampu meningkatkan persentase molting dan kelangsungan hidup post larva udang windu adalah 100 ppm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pembenihan udang windu merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan benih udang windu (Penaeus monodon) dengan kualitas yang baik dan jumlah yang memadai. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan udang windu yaitu aktivitas ganti kulit (molting). Secara alami udang dapat molting karena adanya hormon molting yang disebut ekdisteroid. Hormon ini merupakan hormon steroid utama pada krustasea dan arthopoda yang memiliki fungsi utama sebagai pengatur proses molting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun karamunting (M. malabathricum) terbaik, yang memberi pengaruh dalam meningkatkan persentase molting pada fase PL 2 udang windu (P. monodon). Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan persentase molting udang tertinggi didapatkan pada konsentrasi ekstrak 50 ppm dengan nilai persentase molting sebesar 84% dan tingkat kelangsungan hidup udang tertinggi juga diperoleh pada perlakuan 50 ppm yaitu sebesar 82%. Penggunaan ekstrak karamunting berperan sebagai growth promotor dan berpotensi sebagai stimulator molting. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian menunjukkan bahwa kisaran yang diperoleh masih berada pada normal yang baik bagi kehidupan udang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PEMANFAATAN IKAN TEMPAKUL (Periophthalmodon schlosseri) SEBAGAI PAKAN ALAMI PADA BUDIDAYA KEPITING SOKA DITAMBAK TRADISIONAL KOTA TARAKAN ABSTRAK Pulau Tarakan merupakan salah satu pulau di Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki luas sekitar 250 km2 dan sebagian besar pesisirnya masih ditum buhi oleh hutan mangrove. Pada Pulau Tarakan terdapat usaha budidaya kepiting bakau yang salah satunya adalah budidaya kepiting soka (soft crab). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan ikan tempakul (Periophthalmodon schlosseri ) sebagai pakan alami pada budidaya kepiting soka di kota Tarakan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Percobaan terdiri dari 3 (tiga) perlakuan dengan 5 (lima) ulangan yaitu perlakuan A diberikan pakan alami mujair, perlakuan B diberikan pakan alami berupa ikan tempakul (Periophthalmodon schlosseri, dan perlakuan C diberikan pakan alami berupa udang. Berdasarkan hasil pemeliharaan, diperoleh nilai kelangsungan hidup (SR) yang paling tinggi yaitu terdapat pada perlakuan B pakan ikan tempakul 80%, dan perlakuan A pakan ikan mujair 60%, sementara perlakuan C pakan udang mendapatkan SR yang sangat rendah yaitu 40%. Proses molting yang paling cepat pada perlakuan B pakan ikan tempakul yaitu dengan rata-rata 23 hari, sedangkan pada pelakuan A pakan ikan mujair membutuhkan waktu 26 hari, dan perlakuan C pakan udang membutuhkan waktu molting 27 hari. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil pertumbuhan berat mutlak yang terbaik didapatkan pada perlakuan A pakan ikan mujair dengan bobot rata-rata 25% dibandingkan antara perlakuan B pakan ikan tempakul dengan bobot rata-rata yaitu 24% dan perlakuan C pakan udang dengan bobot rata-rata yaitu 16,5%. Hasil anova pada percepatan moulting menunjukkan bahwa semua perlakuan tidak berbeda nyata (P > 0,05); berat mutlak pada semua perlakuan tidak berbeda nyata (P > 0,05) ; kelangsungan hidup pada semua perlakuan berbeda sangat nyata (P 0,05).