Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

5 hasil
Subjek: Ekdisteroid
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH BIOENRICHMENT Artemia salina MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum) DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA PADA AKTIVITAS Molting POSTLARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon).

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Udang windu adalah golongan crustacea yang pertumbuhannya diikuti dengan ganti kulit (molting). Berdasarkan wawancara yang dilakukan, salah satu masalah yang dialami oleh beberapa hatchery di Pantai Amal kota Tarakan adalah Terhambatnya proses molting pada udang fase Post Larva 2. Hal ini diduga berkaitan dengan ketersedian pakan alami atau nutrisi yang diberikan, pengaruh kualitas pakan alami yang diberikan tersebut mempengaruhi proses biosintesis hormon ekdisteroid. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses molting salah satunya menggunakan tumbuhan herbal yaitu tumbuhan karamunting. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengayaan Artemia salina menggunakan ekstrak daun karamunting (Melastoma malabatricum) dengan konsentrasi yang berbeda dalam mempercepat proses molting pada fase PL 2 udang windu (Penaeus monodon). Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan 1 yaitu tanpa pemberian ekstrak daun karamunting, perlakuan kedua yaitu perendaman dengan konsentrasi ekstrak 50 ppm , perlakuan ketiga yaitu perendaman dengan konsentrasi ekstrak 100 ppm dan perlakuan keempat dengan konsentrasi 150 ppm. Dari hasil penelitian ini didapatkan persentase molting udang windu tertinggi yaitu dengan konsentrasi ekstrak 100 ppm dengan nilai persentase molting sebesar 67%. Tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) udang windu yang tertinggi juga diperoleh pada perlakuan 100 ppm yaitu sebanyak 70%. Dengan demikian konsentrasi ekstrak daun karamunting yang terbaik dan mampu meningkatkan persentase molting dan kelangsungan hidup post larva udang windu adalah 100 ppm.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH LAMA PERENDAMAN BIOENRICHMENT Artemia salina MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum) TERHADAP AKTIVITAS MOLTING BENUR UDANG WINDU (Penaues monodon)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tumbuhan herbal memiliki senyawa bioaktif yang dapat berperan sebagai agen dalam meningkatkan laju pertumbuhan organisme yang dibudidayakan. Kandungan senyawa bioaktif dari tumbuhan karamunting seperti flavonoid, tanin, saponin, fenolat dan isoflavonoid, memiliki potensi sebagai agen yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan dan sebagai tonik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek pemberian pakan alami Artemia salina yang diperkaya ekstrak daun karamunting terhadap laju pertumbuhan benur udang windu (Penaeus monodon). Rancangan penelitian terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu; kontrol (tanpa perendaman ekstrak), dan perlakuan 8, 16 dan 24 jam (perendaman dengan menggunakan ekstrak daun karamunting), pemeliharaan benur dilakukan selama 8 hari. Parameter yang diamati adalah persentase moulting, survival rate, dan kualitas air Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak dengan perendaman 24 jam memberikan persentase molting tertinggi. yaitu 124% sedangkan untuk persentase terendah diperoleh pada perlakuan kontrol, sebesar 73 %. Nilai sintasan hidup tertinggi juga diperoleh pada perlakuan 24 jam, yaitu 69%. Bioenrichment Artemia salina menggunakan ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dengan lama perendaman 24 jam memberikan hasil yang signifikan berbeda terhadap persentase molting dan sintasan hidup benur udang windu pada stadia post larva. Ekstrak daun karamunting berpotensi sebagai promotor pertumbuhan pada udang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERSENTASE MOLTING POST LARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum) PADA KONSENTRASI YANG BERBEDA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pembenihan udang windu merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan benih udang windu (Penaeus monodon) dengan kualitas yang baik dan jumlah yang memadai. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan udang windu yaitu aktivitas ganti kulit (molting). Secara alami udang dapat molting karena adanya hormon molting yang disebut ekdisteroid. Hormon ini merupakan hormon steroid utama pada krustasea dan arthopoda yang memiliki fungsi utama sebagai pengatur proses molting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun karamunting (M. malabathricum) terbaik, yang memberi pengaruh dalam meningkatkan persentase molting pada fase PL 2 udang windu (P. monodon). Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan persentase molting udang tertinggi didapatkan pada konsentrasi ekstrak 50 ppm dengan nilai persentase molting sebesar 84% dan tingkat kelangsungan hidup udang tertinggi juga diperoleh pada perlakuan 50 ppm yaitu sebesar 82%. Penggunaan ekstrak karamunting berperan sebagai growth promotor dan berpotensi sebagai stimulator molting. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian menunjukkan bahwa kisaran yang diperoleh masih berada pada normal yang baik bagi kehidupan udang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

OPTIMALISASI DOSIS PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum L) PADA PROSES GANTI KULIT KEPITING BAKAU (Scylla serrata)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pertumbuhan kepiting bakau melalui proses moulting membutuhkan hormon ekdisteroid. Hormon ekdisteroid dihasilkan oleh hewan dan tumbuhan. Pada tumbuhan, ekdisteroid dikenal dengan fitoekdisteroid. Salah satu bahan baku yang memiliki kandungan bioaktif seperti hormon ekdisteroid adalah daun karamunting (Melastoma malabathricum L). Tujuan penelitian ini adalah menguji potensi karamunting sebagai sumber pengganti hormon yang berasal dari tumbuhan untuk stimulan proses moulting pada kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan A (Kontrol), perlakuan B (3 µg/g), perlakuan C (5 µg/g) dan perlakuan D (7 µg/g). Diperoleh hasil bahwa penyuntikan dengan dosis terbaik adalah 5 µg/g bobot tubuh memberikan presentase moulting terbaik dengan nilai sintasan hidup 100%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada pemberian ekstrak daun karamunting (Melastoma malabthricum L) dapat berperan terhadap stimulant moulting pada kepiting bakau (Scylla serrata). The growth of mangrove crabs through the moulting process requires ecdysteroid hormones. Ecdysteroid hormones are produced by animals and plants. In plants, ecdysteroids are known as phytoecdysteroids. One of the raw materials that has bioactive content such as ecdysteroid hormones is karamunting leaf (Melastoma malabathricum L). The purpose of this study was to examine the potential of karamunting as a substitute source of plant-derived hormones to stimulant the moulting process in mud crabs (Scylla serrata). This research is an experimental study, using a completely randomized design with 4 treatments and 5 replications. Treatment A (control), treatment B (3 g/g), treatment C (5 g/g) and treatment D (7 g/g). That the results of the injection with the best dose of 5 g/g body weight giving the best percentage of moulting with a survival value of 100% serrata).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemberian Ekstrak Daun Karamunting (Melastoma malabathricum L) Sebagai Stimulator Molting Pada Kepiting Bakau (Scylla serrata)

2017•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Pertumbuhan kepiting bakau melalui proses molting membutuhkan hormon ekdisteroid. Salah satu bahan baku yang memiliki hormon ekdisteroid adalah daun karamunting (Melastoma malabathricum L). Tujuan penelitian ini adalah menguji potensi karamunting sebagai sumber pengganti hormon yang berasal dari tumbuhan untuk stimulan proses molting pada kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan 11 ulangan. Perlakuan A (kontrol), perlakuan B (9 µg/g), perlakuan C (15 µg/g), dan perlakuan D. (21 µg/g). Dari hasil penelitian pemberian ekstrak daun karamuntinng pada perlakuan B menunjukkan laju kecepatan molting terbaik yaitu sekitar 5-25 hari. Persentase molting terbaik pada perlakuan A dan B yakni sebesar 36,36%. Pertumbuhan lebar karapas dan laju pertumbuhan harian pada perlakuan B menujukkan hasil terbaik yaitu 1,6 cm dan 2,71%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail