Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

8 hasil
Subjek: Moulting
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PERBEDAAN SALINITAS TERHADAP PERCEPATAN MOULTING KEPITING BAKAU (Scylla serrata)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Metode mutilasi pada kepiting bakau perlu dikurangi meskipun sangat memicu percepatan moulting. Uji manipulasi lingkungan pada budidaya kepiting soka perlu dilakukan yakni menggunakan kejutan salinitas air pada media pemeliharaan tanpa adanya mutilasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji proses moulting kepiting bakau (Scylla serrata) yang optimal dengan menggunakan perbedaan salinitas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan meliputi: perlakuan A salinitas 5 ppt; perlakukan B salinitas 10 ppt; perlakuan C salinitas 15 ppt; dan perlakuan D salinitas 20 ppt. Kepiting yang digunakan memiliki bobot tubuh berkisar antara 40 – 60 gram berjenis kelamin jantan dengan jumlah 16 ekor sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A memiliki waktu tercepat pada proses moulting, dengan hasil rata – rata 18 hari diikuti perlakuan B dengan lama waktu sekitar 32 hari, perlakuan C sekitar 34 hari dan perlakuan D tidak terjadi proses moulting pada waktu yang ditentukan. Hasil dari tingkat kelangsungan hidup selama penelitian adalah perlakuan B dan C memiliki tingkat kelangsungan hidup terbaik sekitar 100% sedangkan perlakuan A dan D dengan tingkat kelangsungan hidup yang cukup baik sekitar 75%. Berdasarkan uji ANOVA tidak terjadi perbedaan yang nyata antara perlakuan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Penambahan Formula Oil Crab terhadap Percepatan Moulting dan Kelangsungan Hidup Kepiting Bakau (Scylla spp.)

2024•

Kepiting bakau soft crab (soka) memiliki nilai ekonomis di Kalimantan Utara. Kepiting dalam fase ini mempunyai keunggulan yaitu mempunyai cangkang yang lunak sehingga dapat dikonsumsi secara utuh.Budidaya kepiting pada fase ini menggunakan metode multilasi pada seluruh kaki jalan dan kaki renangnya. Hal ini yang menyebabkan rendahnya kelangsungan hidup kepiting dan seringnya produk tidak diterima pasar karena dianggap metode ini terlalu kejam pada hewan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efaktifitas penggunaan hormon tiroksin pada formula oil crab untuk mengantikan metode budidaya kepiting model multilasi. Penelitian ini menggunakan kepiting bakau dengan ukuran bobot 80-90 gr yang diperoleh dari nelayan yang ada di kota tarakan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penambahan formula oil crab untuk mempercepat proses ganti kulit (moulting) yang dibandingkan dengan control dengan menggunakan metode multilasi. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi percepatan moulting, survival rate, pertumbuhan bobot mutlak dan parameter kualiatas air. Pemberian formula oil crab dengan dosis 0,2 ml memberikan hasil laju kecepatan moulting yang tercepat dibandingkan dengan control. Nilai kelangsungan hidup (SR) tertinggi diperoleh pada perlakuan A (Kontrol) multilasi sebesar 90% perlakuan B pemberian oil crab sebesar 80%. Pertumbuhan bobot badan mutlak yang terbaik didapatkan pada perlakuan B oil crab dengan bobot rata-rata yaitu 117.96 gram dibandingkan antara perlakuan A (Kontrol) mutilasi dengan bobot rata-rata 91,03 gram. berdasarkan uji sidik ragam menunjukkan bahwa pertumbuhan berat badan mutlak kepiting bakau selama pemeliharaan 30 hari dengan masing-masing perlakuan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (F 0.05).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PADAT TEBAR YANG BERBEDA TERHADAP SINTASAN HIDUP UDANG WINDU (PL-2) DENGAN PERENDAMAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia sebagai produsen dan eksportir utama produk hasil perikanan. Menurunnya permintaan udang windu khususnya benur disebabkan karena ketersediaan benur udang (post larva) yang belum memenuhi standar. Permasalahan utama yang dihadapi dalam pembenihan udang windu adalah rendahnya sintasan hidup terutama pada stadia PL-2. Rendahnya sintasan hidup benur disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya penurunan daya dukung lingkungan, pH, alkalinitas, pakan dan hormon termasuk padat penebaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji padat penebaran yang berbeda terhadap sintasan hidup benih udang windu yang mendapatkan perlakuan perendaman ekstrak daun karamunting. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yaitu; rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Padat penebaran yang digunakan dalam setiap wadah berbeda-beda yaitu 5, 10, 15 dan 20 ind/L. Hasil menunjukkan perendaman ekstrak daun karamunting pada benur dengan jumlah padat penebaran yang berbeda mempengaruhi sintasan hidup dan persentase moulting. Perlakuan padat penebaran 10ind/L menunjukkan sintasan hidup tertinggi di akhir penelitian, sedangkan untuk persentase moulting yang terbaik diperoleh pada perlakuan padat penebaran 5 ind/L. Penggunaan ekstrak daun karamunting pada benur dengan jumlah padat penebaran yang berbeda berpengaruh sangat nyata pada sintasan hidup.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

LAJU PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP PL-2 UDANG WINDU (Penaeus monodon) DENGAN PERENDAMAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Salah satu permasalahan yang sering ditemukan pada usaha pembenihan udang windu di hatchery Kota Tarakan yaitu tidak terjadinya proses moulting pada fase Post Larva udang windu khususnya fase PL-2 sehingga mengakibatkan pertumbuhan yang lambat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan penggunaan tumbuhan herbal ekstrak daun karamunting. Tumbuhan herbal ini memiliki senyawa bioaktif yang dapat berperan dalam meningkatkan laju pertumbuhan pada benur udang windu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) terhadap laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup Post Larva Udang Windu (Penaeus monodon) serta menentukan perlakuan dengan konsentrasi terbaik.. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan kontrol (tanpa ekstrak), perlakuan 25 ppm, perlakuan 50 ppm dan perlakuan 75 ppm. Pemeliharaan dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang udang tertinggi didapatkan pada perlakuan 50 ppm yaitu sebesar 1,1 cm, sedangkan pertumbuhan panjang terendah pada perlakuan kontrol yaitu 0,5 cm. Tingkat kelangsungan hidup benur untuk semua perlakuan berkisar antara 77-83%. Kelangsungan hidup tertinggi didapatkan pada perlakuan 50 ppm yaitu sebesar 83%, sedangkan Kelangsungan hidup terendah didapatkan pada perlakuan kontrol yaitu 62%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu perendaman ekstrak daun karamunting dengan konsentrasi berbeda memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang windu.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum L) DAN HORMON TIROKSIN PADA AKTIVITAS MOULTING KEPITING BAKAU (Scylla spp)

2023•

Pertumbuhan kepiting bakau melalui proses moulting membutuhkan hormon steroid. Salah satu bahan baku yang memiliki kandungan bioaktif seperti hormon steroid adalah daun karamunting (M. malabathricum L). tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stimulan moulting kepiting bakau (Scylla sp) dengan pemberian kombinasi ekstrak daun karamunting (M. malabathricum L) dan hormon tiroksin. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode eksperimental, yaitu menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan 5 ulangan. Perlakuan A (kontrol), perlakuan B ( ekstrak karamunting 3 µg/g dan tiroksin 50 µg/g), perlakuan C (ekstrak karamunting 5 µg/g dan tiroksin 50 µg/g) dan perlakuan D (ekstrak karamunting 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase moulting pada perlakuan 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g yaitu 100% sementara perlakuan 3 µg/g dan tiroksin 50 memberikan hasil 80% dan perlakuan terendah didapati pada perlakuan kontrol sebesar 60 %. Hasil dari masa laten moulting didapati waktu moulting tercepat pada perlakuan 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g disusul pada perlakuan 5 µg/g dan tiroksin 50 µg/g selama 15 sampai 24 hari dan perlakuan 3 µg/g dan tiroksin 50 µg/g memberikan waktu selama 16 sampai 31 hari dan paling lama didapati pada perlakuan control sebesar 20 sampai 60 hari . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemberian ekstrak daun karamunting (M. malabathcricum L) dan hormon tiroksin dapat berperan teerhadap stimulan moulting pada kepiting bakau (Scylla spp).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERCEPATAN MOULTING POST LARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DIRENDAM EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum) DENGAN ONSENTRASI BERBEDA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Permasalahan yang sering ditemukan pada usaha pembenihan udang windu di hatchery adalah kegagalan proses moulting dan pertumbuhan yang lambat pada post larva udang windu, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan penggunaan tumbuhan herbal ekstrak daun karamunting. Tumbuhan herbal ini memiliki senyawa bioaktif yang dapat berperan dalam meningkatkan laju pertumbuhan pada benur udang windu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dengan konsentrasi berbeda terhadap proses ganti kulit dan pertumbuhan pada post larva udang windu. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan kontrol (tanpa ekstrak), perlakuan 25 ppm, perlakuan 50 ppm dan perlakuan 75 ppm, pemeliharaan dilakukan selama 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase moulting udang tertinggi didapatkan pada perlakuan 50 ppm yaitu sebesar 89 %, sedangkan prensentase moulting terendah pada perlakuan kontrol yaitu 60 %. Kecepatan masa laten molting didapatkan pada perlakuan 50 ppm yang membutuhkan 10-12 jam untuk moulting. Tingkat kelangsungan hidup benur untuk semua perlakuan berkisar antara 62-82%, SR terendah didapatkan pada perlakuan kontrol yaitu 62%. Kesimpulan perendaman ekstrak daun karamunting dengan konsentrasi berbeda memberikan pengaruh terhadap proses ganti kulit dan kelangsungan hidup postlarva udang windu.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN ALAMI YANG BERBEDA TERHADAP PERCEPATAN MOULTING KEPITING BAKAU (Scylla Sp) DI TAMBAK TRADISIONAL KOTA TARAKAN KALIMANTAN UTARA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Pemberian pakan alami yang berbeda dapat merangsang tubuh kepiting bakau untuk melakukan pergantian kulit atau biasa disebut dengan moulting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan alami yang berbeda terhadap percepatan moulting kepiting bakau (Scylla sp). Metode penelitian dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan 5 kali ulangan. Perlakuan 1 (Kontrol), Perlakuan 2 (pemberian pakan Rucah), Perlakuan 3 (pemberian pakan cumi-cumi), Perlakuan 4 (pemberian pakan kepiting karacca). Berdasarkan hasil penelitian, kepiting bakau perlakuan kontrol (mutilasi) dapat moulting secara seluruhnya pada hari ke 19-23, sedangkan pada perlakuan lainnya belum mengalami moulting hingga akhir penelitian. Berdasarkan uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa pertumbuhan berat bobot badan mutlak kepiting bakau selama pemeliharaan 30 hari dengan perlakuan yang berbeda, didapatkan hasil pada perlakuan kontrol PM (Mutilasi dengan pakan ikan Rucah) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya PR(Pakan Rucah), PC (Pakan Cumi-cumi), PK (Pakan Karaca), ( p 0.05 ). Sedangkan antara perlakuan PR(Pakan Rucah), PC (Pakan Cumi-cumi) dan PK (Pakan Karaca) tidak berbeda nyata. Dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan rucah dengan mutilasi memberikan hasil terbaik pada proses percepatan moulting kepiting bakau dibandingkan dengan perlakuan pemberian pakan tanpa proses mutilasi. ABSTRACT Giving different natural food can trigger the body of the mud crab to change its skin or commonly called moulting. This study aims to determine the effect of different natural feeds on the acceleration of moulting of mud crab (Scylla Sp). The research method used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. Treatment 1 (Control), treatment 2 (Feeding trash), Treatment 3 (feeding squid), Treatment 4 (feeding karacca crabs). Based on the research, the control treatment (mutilated) mangrove crabs could experience moulting as a whole on days 19-23, while inother treatments they had not experienced moulting until the end of the study. Test Based on variance (ANOVA) showed that the absolute weight growth of mangrove crabs during maintenance for 30 days with different treatments, obtained resultin the PM control treatment (Mutilation with Rucah fish feed) significantly different from other treatments PR (Rucah Feed), PC (Squid Feed), PK (karaca Feed), (p 0.05). Meanwhile, the PR (Rucah Feed), PC (Squid Feed) and PK (karaca Feed) treatments were not significantly different. It can be concluded that the feeding of trash with mutilation gave the best results in the accelerated moulting process of mud crabs compared to feeding without the process of mutilation.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI EFEKTIFITAS OIL CRAB TERHADAP KECEPATAN MOULTING KEPITING BAKAU (Scylla serrata)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Umumnya metode yang digunakan dalam proses molting pada kepiting bakau adalah mutilasi. Mutilasi adalah pemotongan organ kepiting. Selain mutilasi, formula oil crab dapat mempercepat proses moulting kepiting. Menggunakan formula oil crab sebagai stimulan moulting adalah sebuah penelitian baru-baru ini. Formula oil crab adalah formula yang terdiri dari campuran hormon tiroksin dan NaCl fisiologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas kepiting bakau terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau pada saat moulting. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dan Rancangan Acak Lengkap (RAL), empat perlakuan dan lima ulangan. Hewan uji yang digunakan adalah 20 ekor kepiting jantan dengan berat 90 – 110 g/ekor. Perlakuan terdiri dari kontrol, mutilasi, pemberian formula oil crab dengan dosis 0,1 dan 0,5 ml/ekor. Parameter yang diamati adalah kecepatan molting, persentase molting, pertumbuhan bobot mutlak dan kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis 0,5 ml memberikan kecepatan molting tercepat dibandingkan perlakuan lainnya dengan rentang waktu 9-14 hari, tapi kelangsungan hidupnya rendah di bandingkan dengan perlakuan lainnya hal ini diduga karena perlakuan dosis 0,5 memberikan pengaruh stress pada kepiting sehingga menyebabkan kematian. Perlakuan kontrol, perlakuan dosis formulaoil crab 0,1 per ekor dan mutilasi memberikan kelangsungan hidup 100%. Semakin tinggi persentase moulting yang diperoleh pada perlakuan pemberian formula oil crab dengan dosis 0,1 ml/ekor, mutilasi dan kontrol dengan kadar 100%, pemberian formula oil crab dengan dosis 0,1 ml berpengaruh terhadap persentase moulting, pertumbuhan dan kelangsungan hidup tertentu. Sebaliknya, pemberian formula oil crab dengan dosis 0,5 ml memberikan porsi moulting, pertumbuhan spesifik dan kelangsungan hidup yang lebih rendah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail