ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas ekspor penting Indonesia, termasuk di Kota Tarakan yang mampu mengekspor hingga 13 ribu ton udang windu setiap tahun keberbagai negara sehingga kualitas dan keamanan produk menjadi aspek yang sangat diperhatikan dalam rantai pasok ekspor. Kitosan berpotensi menjadi solusi alternatif yang aman, efektif, ramah lingkungan, dan mendukung praktik budidaya berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi senyawa kimia kitosan yang berasal dari kerang kapah sebagai potensi antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolyticus patogen udang windu, kitosan yang diperoleh merupakan senyawa hasil deasetilasi kitin yang berasal dari limbah cangkang kerang kapah. Pengujian derajat deasetilasi dilakukan menggunakan metode garis dasar Spektroskopi FTIR, kemudian dilanjutkan analisa difusi daya hambat. Hasil penelitian menunjukkan derajat deasetil kapah FTIR 3415 cm-1, kitin 3410 cm-1dan kitosan 3408 cm-1. Pengujian daya hambat menunjukkan rata-rata amoxilin 1% 1,00 mm, asam asetat 1% 1,67 mm, kemudian senyawa kitosan 0,5% 2,00 mm, 1% 1,67 mm, 1,5% 2,00 mm dan 2% 2,67 mm. Pengujian lanjutan perlakuan secara statistik terhadap potensi senyawa kitosan pada taraf kepercayaan 95% menunjukkan tidak terdapat perbedaan daya hambat antibakteri terhadap Vibrio parahaemolitycus, namun perlakuan 1,5% cukup menghambat dibanding perlakuan amoxilin 1%. Secara umum senyawa kitosan dari kerang kappah memiliki aktivitas antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolitycus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu merupakan golongan krustasea yang pertumbuhannya diikuti dengan pergantian kulit. Berdasarkan wawancara, salah satu permasalahan yang dialami oleh beberapa hatcheri di Pantai Amal Kota Tarakan adalah terhambatnya proses molting pada udang 2 fase pasca larva. Hal itu diduga terkait dengan ketersediaan pakan alami atau nutrisi. Pengaruh kualitas pakan alami yang diberikan mempengaruhi proses biosintesis hormon ekdisteroid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun karamunting terhadap percepatan molting pascalarva udang windu melalui waktu perendaman yang berbeda. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan 1 perendaman tanpa pemberian ekstrak daun karamunting, perlakuan kedua perendaman selama 4 jam, perlakuan ketiga perendaman selama 8 jam, dan perlakuan keempat perendaman selama 16 jam, dengan konsentrasi yang sama yaitu 50 ppm pada masing-masing perlakuan. Berdasarkan hasil yang diperoleh selama penelitian, persentase molting udang windu tertinggi adalah pada perlakuan perendaman 16 jam dengan persentase molting sebesar 62%. Tingkat kelangsungan hidup udang windu tertinggi juga diperoleh pada perlakuan perendaman 16 jam dengan nilai 86%. Dengan demikian perlakuan perendaman menggunakan ekstrak daun karamunting dengan konsentrasi 50 ppm pada benih udang berpengaruh nyata terhadap aktivitas molting dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Persentase molting tertinggi diperoleh pada perlakuan perendaman 16 jam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Permasalahan yang sering ditemukan pada usaha pembenihan udang windu di hatchery adalah kegagalan proses moulting dan pertumbuhan yang lambat pada post larva udang windu, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan penggunaan tumbuhan herbal ekstrak daun karamunting. Tumbuhan herbal ini memiliki senyawa bioaktif yang dapat berperan dalam meningkatkan laju pertumbuhan pada benur udang windu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dengan konsentrasi berbeda terhadap proses ganti kulit dan pertumbuhan pada post larva udang windu. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan kontrol (tanpa ekstrak), perlakuan 25 ppm, perlakuan 50 ppm dan perlakuan 75 ppm, pemeliharaan dilakukan selama 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase moulting udang tertinggi didapatkan pada perlakuan 50 ppm yaitu sebesar 89 %, sedangkan prensentase moulting terendah pada perlakuan kontrol yaitu 60 %. Kecepatan masa laten molting didapatkan pada perlakuan 50 ppm yang membutuhkan 10-12 jam untuk moulting. Tingkat kelangsungan hidup benur untuk semua perlakuan berkisar antara 62-82%, SR terendah didapatkan pada perlakuan kontrol yaitu 62%. Kesimpulan perendaman ekstrak daun karamunting dengan konsentrasi berbeda memberikan pengaruh terhadap proses ganti kulit dan kelangsungan hidup postlarva udang windu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu upaya meningkatkan kualitas pelet adalah melakukan pengkayaan. Pengkayaan pelet melalui penambahan berbagai senyawa, seperti vitamin, mineral, dan tumbuhan herbal baik berupa serbuk maupun ekstrak telah banyak dilaporkan para peneliti. Tumbuhan karamunting merupakan herbal yang memiliki pengaruh positif pada pertumbuhan benih udang windu. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pengkayaan pada pakan pelet dengan ekstrak daun karamunting terhadap laju pertumbuhan benur udang windu (Penaeus monodon) yang dipelihara di tambak tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, terdiri dari dua perlakuan dan lima ulangan, yakni; perlakuan kontrol pemberian pellet tanpa ekstrak daun karamunting dan perlakuan pengkayaan pakan pellet dengan ekstrak daun karamunting sebanyak 150 mg/kg. Pakan yang diberikan sebesar 5 % dari biomassa populasi, frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan (90 hari). Parameter penelitian yang diamati adalah hasil uji T, menunjukkan respon pertumbuhan yang lebih baik terhadap laju pertumbuhan udang windu yang diberikan pakan pelet yang telah diperkaya ekstrak daun karamunting sebesar 5,13%. Pengkayaan daun karamunting dapat mempengaruhi laju pertumbuhan udang windu dibandingan dengan perlakuan kontrol. Tingkat kelangsungan hidup (SR) dari pemeliharaan udang windu di akhir penelitian menunjukkan nilai yang berbeda nyata antar perlakuan. Tingkat kelangsungan hidup benur udang windu berkisar 49-61%. kontrol sebesar 61%, perlakuan ekstrak sebesar 49%. Berdasarkan hasil yang diperoleh selama penelitian, pengkayaan pakan pelet dengan penambahan ekstrak daun karamunting dapat mempengaruhi laju pertumbuhan udang windu Penambahan ekstrak daun karamunting memberikan respon yang positif pada pertumbuhan udang windu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu salah satu komoditas unggulan perikanan yang dikembangkan secara optimal karena memiliki nilai ekonomis tinggi baik di pasaran lokal dan internasional. Pembudidaya udang sering mengeluhkan rendah mutu benur yang menyebabkan laju pertumbuhan udang tidak optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji potensi tumbuhan karamunting sebagai growth promotor untuk meningkatkan laju pertumbuhan benur udang windu Penaeus monodon. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan bobot mutlak menunjukkan nilai yang berbeda nyata, dan Survival Rate menunjukkan nilai berbeda nyata antar perlakuan. Data pengukuran kualitas air dalam nilai yang baik yaitu suhu 27-28 oC, pH 7,5-8, DO 4,56-5,26 dan Salinitas 27-30 ppt. Rancangan percobaan penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan K (Kontrol) Perendaman tanpa eekstrak Perlakuan P1 (25 ppm) Perlakuan P2 (50 ppm) dan P3 (75 ppm) dengan perendaman ekstrak selama 24 jam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengkayaan Artemia salina sebagai pakan alami dalam kegiatan pembenihan udang windu telah banyak dilakukan untuk meningkatkan nilai nutrisinya. Pengkayaan artemia melalui penambahan berbagai senyawa, seperti vitamin, mineral, dan tumbuhan herbal. Salah satu herbal yang berpotensi sebagai imunostimulan alamiah adalah tumbuhan karamunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bioenrichment Artemia salina dengan ekstrak daun karamunting terhadap laju pertumbuhan benur udang windu (Penaeus monodon) yang dipelihara di tambak tradisional. Rancangan penelitian merupakan penelitian eksperimental yang terdiri dari dua perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan Kontrol, pemberian pakan tanpa perendaman ekstrak dan perlakuan pemberian pakan artemia yang diperkaya dengan ekstrak selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan spesifik tertinggi diperoleh pada pelakuan yang diberi pengkayaan ekstrak daun karamuntin, sebesar 12,65%. Sedangkan untuk laju pertumbuhan spesifik terendah didapatkan pada perlakuan kontrol sebesar 11,80%. Tingkat kelangsungan hidup pada semua perlakuan berkisar 10-16%. Bioenrichment Artemia salina menggunakan ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) memberikan hasil yang signifikan terhadap laju pertumbuhan lebih tinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Pakan merupakan faktor penting dalam keberhasilan budidaya udang windu (P. monodon). Untuk meningkatkan produktivitas udang windu maka pakan harus memenuhi kebutuhan protein yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis - jenis pakan yang digunakan untuk meningkatkan Survival Rate (SR) dari benur udang windu. Metodologi penelitian ini dilakukan secara observasi langsung dan kuisioner pada panti pembenihan udang windu yang berlokasi di Pantai Amal. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, yaitu membandingkan produktivitas benur udang windu pada tiap panti pembenihan di Amal, yaitu; CV. Windu Amal Mandiri, CV. Mutiara Benur, CV. Mutiara Biru, CV. Swastika, dan CV. Nusantara. Pakan alami dan buatan yang digunakan pada pembenihan udang windu di panti pembenihan Amal Lama, yaitu Car Frippak, Frippak CD, Frippak PL 150, Javonicus, Grafer, Spriulina, Artemia crystal, Lensy 150, Lenzy Zm, Artemia makay dan Lenzy 30. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan panti pembenihan udang windu CV. Windu Amal Mandiri, memberikan nilai survival rate tertinggi dan menghasilkan benur sebesar 26.000.000 ekor/siklus. Kata kunci : Udang Windu, Pakan, Hatcery, Benih, Survival Rate
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu di Kota Tarakan mempunyai potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar, sehingga menjadikan kota Tarakan sebagai salah satu sentra produksi udang windu di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontaminasi bakteri pada udang windu (Penaeus monodon ) di Hatchery Kota Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2021. di Labolatorium Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Tarakan ( BKIPM Tarakan ) dengan sampel udang windu (Peneus monodon) yang meliputi Sterilisasi alat dan bahan, Isolasi bakteri, identifikasi bakteri dan analisis data. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan studi observasional untuk memberikan gambaran mengenai penelitian yang dilakukan dengan mengamati kondisi – kondisi yang terjadi melalui observasi secara langsung. Hasil penelitian dengan melakukan analisis karakterisasi bakteri dengan uji biokimia pewarnaan gram negatif, katalase positif, oksidase positif, OF tanpa paraffin fermentatif, motility positif, indol negatif, ornitin positif, TSA tegak dan miring asam. Dapat disimpulkan hasil karakterisasi bakteri dan uji biokimia bahwa terdapat 16 isolat bakteri yang mengkontaminasi udang windu pada hatchery di kota Tarakan. Tiger prawns in Tarakan City have a large enough potential for fishery resources, making the city of Tarakan as one of the centers for tiger shrimp production in Indonesia. This study aims to determine the bacterial contamination of Vibrio spp. on tiger prawns (Penaeus monodon) in the Tarakan City Hatchery. This research was conducted in May – June 2021. at the Laboratory of the Fish Quarantine, Quality Control and Safety of Fishery Products Tarakan (BKIPM Tarakan) with samples of tiger shrimp (Peneus monodon) which includes sterilization of tools and materials, isolation of Vibrio bacteria, Vibrio bacteria and analysis data. The method used in this research is with observational studies to provide an overview of the research conducted by observing the conditions through direct observation. The results of the study were carried out by analyzing the characterization of bacteria with gram negative staining tests, positive catalase, positive oxidase, OF without fermentative paraffin, positive motility, negative indole, positive ornithine, upright TSA and acid skew. Can lock the results of bacterial characterization and biochemical tests that there are 16 isolates of Vibrio spp. which contaminate tiger prawns in hatcheries in the city of Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Udang windu di Kota Tarakan mempunyai potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar, sehingga menjadikan kota Tarakan sebagai salah satu sentra produksi udang windu di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontaminasi bakteri Vibrio spp. pada udang windu (Penaeus monodon ) di tambak tradisional Kota Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November – Desember 2020. di Labolatorium Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Tarakan ( BKIPM Tarakan ) dengan sampel udang windu (Peneus monodon) yang meliputi Sterilisasi alat dan bahan, Isolasi bakteri Vibrio, identifikasi bakteri Vibrio dan analisis data. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode Deskriptif Analitik dengan studi observasional untuk memberikan gambaran mengenai penelitian yang dilakukan dengan mengamati kondisi – kondisi yang terjadi melalui observasi secara langsung. Hasil penelitian dengan melakukan uji isolasi bakteri, pewarnaan gram, dan karakterisasi bakteri dapat disimpulkan bahwa terdapat 20 isolat bakteri Vibrio spp. yang mengkontaminasi udang windu pada tambak di jalan Akibalak dan tambak belakang bandara juata kota Tarakan. Kata kunci : Udang windu, Identifikasi Bakteri, Vibrio spp.