Abstrak
Kepiting bakau soft crab (soka) memiliki nilai ekonomis di Kalimantan Utara. Kepiting dalam fase ini mempunyai keunggulan yaitu mempunyai cangkang yang lunak sehingga dapat dikonsumsi secara utuh.Budidaya kepiting pada fase ini menggunakan metode multilasi pada seluruh kaki jalan dan kaki renangnya. Hal ini yang menyebabkan rendahnya kelangsungan hidup kepiting dan seringnya produk tidak diterima pasar karena dianggap metode ini terlalu kejam pada hewan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efaktifitas penggunaan hormon tiroksin pada formula oil crab untuk mengantikan metode budidaya kepiting model multilasi. Penelitian ini menggunakan kepiting bakau dengan ukuran bobot 80-90 gr yang diperoleh dari nelayan yang ada di kota tarakan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penambahan formula oil crab untuk mempercepat proses ganti kulit (moulting) yang dibandingkan dengan control dengan menggunakan metode multilasi. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi percepatan moulting, survival rate, pertumbuhan bobot mutlak dan parameter kualiatas air. Pemberian formula oil crab dengan dosis 0,2 ml memberikan hasil laju kecepatan moulting yang tercepat dibandingkan dengan control. Nilai kelangsungan hidup (SR) tertinggi diperoleh pada perlakuan A (Kontrol) multilasi sebesar 90% perlakuan B pemberian oil crab sebesar 80%. Pertumbuhan bobot badan mutlak yang terbaik didapatkan pada perlakuan B oil crab dengan bobot rata-rata yaitu 117.96 gram dibandingkan antara perlakuan A (Kontrol) mutilasi dengan bobot rata-rata 91,03 gram. berdasarkan uji sidik ragam menunjukkan bahwa pertumbuhan berat badan mutlak kepiting bakau selama pemeliharaan 30 hari dengan masing-masing perlakuan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (F 0.05).