ThesisOpen AccessMetadata saja
•
Udang windu (Panaeus monodon) merupakan salah satu produk ekspor yang mengalami penurunan produksi diakibatkan oleh penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio harveyi, menyebabkan penyakit luminescent Vibrio atau vibriosis. Usaha yang digunakan untuk menanggulangi penyakit ini dengan menggunakan antibiotik, namun pemberian dalam jangka panjang akan menyebabkan bakteri menjadi resisten. Penggunaan bahan alami merupakan solusi yang efektif untuk menggantikan antibiotik, salah satunya yaitu rumput laut (Kappaphycus alvarezii). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak rumput laut terhadap bakteri V. harveyi secara in-vitro. Alkohol 70% digunakan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi. Pengujian antibakteri dengan menggunakan metode difusi kertas cakram, konsentrasi yang digunakan untuk uji antibakteri yaitu 5%, 10%, 15% dan 20%. Hasil penelitian uji antibakteri menunjukkan ekstrak rumput laut dengan konsentrasi 5% memiliki zona hambat sebesar 7 mm, 10% sebesar 7,1 mm, 15% sebesar 7,3 mm dan pada konsentrasi 20% memiliki zona hambat yang terbesar dengan diameter hambat 13,3 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila menjadi kendala dalam budidaya ikan sehingga diperlukan alternatif antibakteri alami seperti bawang putih (Allium sativum) yang mengandung senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak bawang putih dengan pelarut kombinasi etanol dan air secara in vitro menggunakan metode defusi cakram dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan 3 kali ulangan. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak dengan pelarut dominan etanol rasio 70:30 lebih mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan zona hambat sebesar 13,33 mm (kategori kuat), diikuti ekstrak kombinasi pelarut rasio 50:50 sebesar 11,33 mm lalu kontrol positif sebesar 11,33 mm dan ekstrak kombinasi pelarut rasio 30:70 sebesar 5,33 mm, sedangkan kontrol negatif tidak menunjukkan daya hambat. Analisis ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antar perlakuan (p = 0,091). Dengan demikian, kombinasi pelarut etanol dan air berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri, dengan pelarut dominan etanol sebagai perlakuan efektif dalam melarutkan senyawa antibakteri pada bawang putih yang menghambat pertumbuhan A.hydrophila
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu komoditas perikanan yang melimpah di perairan Pantai Amal Baru Kota Tarakan dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Salah satu bentuk inovasi pemanfaatannya adalah pembuatan soap sheet seaweed, yaitu sabun berbentuk lembaran tipis yang praktis, higienis, dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sifat fisik dan kimia soap sheet seaweed berbasis rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Metode penelitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap pertama pembuatan tepung rumput laut, tahap kedua ekstraksi rumput laut dengan metode pemanasan menggunakan variasi konsentrasi 5%, 10%, dan 15%, dan tahap ketiga pengujian karakteristik soap sheet seaweed yang meliputi pengujian sifat kimia berupa kadar air, pH, dan alkali bebas, serta pengujian sifat fisik berupa uji organoleptik, tinggi busa, dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Data hasil pengujian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air soap sheet seaweed berkisar antara 20,50–32,00%, nilai pH berada pada kisaran 9,3–9,86, dan kadar alkali bebas sebesar 0,004–0,008%, yang seluruhnya memenuhi standar SNI. Tinggi busa berada pada kisaran 2,5–3,1 cm dan memenuhi persyaratan mutu sabun. Uji organoleptik menunjukkan bahwa konsentrasi 10% memiliki tingkat kesukaan panelis tertinggi terhadap warna, aroma, dan tekstur. Aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa konsentrasi 15% menghasilkan daya hambat terbesar terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa soap sheet seaweed berbasis rumput laut Kappaphycus alvarezii memenuhi standar mutu sabun, memiliki aktivitas antibakteri, serta berpotensi dikembangkan sebagai produk inovatif yang praktis dan higienis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jenis rumput laut Kappaphycus alvarezii memiliki kandungan senyawa yang bermanfaat untuk melindungi kulit dari penuaan dini dan diduga dapat menghambat perkembangan bakteri yang dapat menimbulkan jerawat. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruhnya terhadap rendemen, aktivitas antioksidan, kemampuan antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes, serta tingkat penerimaan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rendemen rumput laut kering sebesar 20,57%, yang menunjukkan bahwa proses pengeringan yang dilakukan telah berlangsung secara efektif dan sesuai dengan karakteristik bahan baku rumput laut. Aktivitas antioksidan terbesar terdapat pada konsentrasi 25 mg/L sebesar 41,55% dengan perlakuan 40:60, sedangkan aktivitas terendah muncul pada konsentrasi 75 mg/L sebesar 7,14% pada perlakuan 60:40. Berdasarkan uji antibakteri hasil pengukuran diameter zona hambat (mm), seluruh formulasi masker dengan variasi rasio (20:80, 40:60, 60:40, dan 80:20) termasuk dalam kategori sedang, dengan diameter zona hambat berkisar antara 6 hingga 9 mm. Secara spesifik, formulasi 20:80 menunjukkan nilai tertinggi yaitu 9 mm, diikuti oleh 40:60 (8 mm), 60:40 (7 mm), dan 80:20 (6 mm). Berdasarkan uji organoleptik terhadap 30 panelis. Pada uji organoleptik formula 20:80 paling disukai dari segi warna, tekstur, dan aroma. Secara keseluruhan, masker wajah berbahan dasar rumput laut dengan kombinasi bahan alami ini berpotensi menjadi produk perawatan kulit yang aman, efektif, dan dapat menjadi alternatif pengganti produk berbahan kimia sintetis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Indonesia memiliki wilayah pesisir yang kaya akan biodiversitas, termasuk gastropoda Stramonita gradata dari famili Muricidae yang berpotensi menghasilkan senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa aktif dan mengevaluasi aktivitas antibakteri ekstrak S. gradata dari kawasan Pantai Amal, Kota Tarakan. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dengan rendemen 5,41%. Hasil uji fitokimia menunjukkan keberadaan alkaloid, steroid, dan fenol hidrokuinon secara konsisten, flavonoid hanya muncul pada sebagian ulangan, sedangkan saponin dan tanin tidak terdeteksi. Aktivitas antibakteri diuji terhadap Vibrio parahaemolyticus pada konsentrasi 10 mg/ml dan 20 mg/ml, dengan kontrol positif berupa ampisilin (12,5 mg) dan kontrol negatif berupa etanol (25 ml). Hasil pengujian memperlihatkan adanya zona hambat pada perlakuan ekstrak (0–5 mm), meskipun lebih kecil dan kurang konsisten dibandingkan kontrol positif, sedangkan kontrol negatif tidak menunjukkan daya hambat. Kesimpulannya, ekstrak S. gradata memiliki potensi sebagai sumber senyawa antibakteri alami, namun efektivitasnya masih rendah sehingga memerlukan penelitian lanjutan dengan variasi konsentrasi lebih luas, metode ekstraksi yang berbeda, serta uji in vivo untuk menilai keamanan dan efektivitasnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kitosan dari cangkang kepiting bakau memiliki banyak manfaat yang dapat diaplikasikan dalam bidang kosmetik. Salah satu sediaan kosmetik yang dapat diaplikasikan adalah produk make-up remover. Modifikasi ukuran kitosan menjadi nanopartikel dilakukan untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan ukuran nanopartikel kitosan cangkang kepiting bakau dan mendapatkan karakteristik fisikokimia dan mikrobiologi sediaan make-up remover berbasis nanopartikel kitosan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif pada analisis ukuran nanokitosan dan karakteristik fisikokimia makeup- remover. Karakteristik mikrobiologi berupa uji aktifitas antibakteri make-up remover menggunakan analysis of variant pada selang kepercayaan 95% dengan satu faktor yaitu penambahan nanopartikel kitosan pada taraf F0 (0%), F1 (0,1%), F2 (0,3%), F3 (0,5%). Hasil penelitian menunjukkan ukuran nanopartikel kitosan sebesar 67,07 nm. Make-up remover pada konsentrasi 0%, 0,1%, 0,3% dan 0,5% tidak berwarna (bening), aroma jasmine dan berbentuk cair. Make-up remover pada konsentrasi 0%, 0,1%, 0,3% dan 0,5% menghasilkan nilai pH 5,01 – 5,08 sesuai dengan standar SNI 16-4380-1996. Seluruh konsentrasi formula make-up remover mengandung logam berat merkuri (Hg) 0,02 mg/kg, arsen (As) 0,0008 mg/kg, kadmium (Cd) 0,00011 mg/kg, dan timbal (Pb) 0,05 mg/kg. Semua formulasi tidak melebihi batas maksimum cemaran logam berat yang ditetapkan oleh Peraturan Badan BPOM No. 12 Tahun 2019. Sediaan Make up remover nanopartikel kitosan mampu menghambat bakteri gram positif Propionibacterium acnes dengan menghasilkan zona hambat pada F0 (0%) 18,6±3,51 mm, F1 (0,1%) 24,3±4,04 mm, F2 (0,3%) 22,8±1,15 dan F3 (0,5%) 16±1,25. Aktivitas antibakteri make-up remover nanopartikel kitosan terhadap Propionibacterium acnes pada penelitian ini termasuk kategori kuat hingga sangat kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan sabun untuk mencuci tangan meningkat sejak covid 19 hingga memasuki masa new normal. Inovasi pembuatan produk sabun terus dikembangkan salah satunya paper soap berbahan nanopartikel kitosan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan ukuran nanopartikel dari kitosan cangkang kepiting bakau (Scylla sp.) serta menentukan formulasi terbaik dari paper soap antibakteri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriftif kuantitatif untuk menentukan ukuran nanopartikel kitosan, pH, kadar air, alkali bebas, dan organoleptik. Aktivitas antibakteri paper soap menggunakan analysis of variant pada selang kepercayaan 95% dengan satu faktor yaitu penambahan nanopartikel kitosan pada taraf 0%; 0,25%; 0,5%; 0,75%; 1% dan 2 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan ukuran nanopartikel kitosan cangkang kepiting bakau 67,07 nm. Paper soap konsentrasi 0%; 0,25%; 0,5%; 0,75%; 1% menghasilkan nilai pH berkisar 9.18-9.27 sesuai dengan SNI yaitu 4-10. Kadar air paper soap berturut-turut yaitu 18,25, 20,25, 22,5, 32 dan 35,25. Kadar alkali bebas berkisar 0,003-0,01 % sesuai SNI sebesar 0,14%. Nilai organoleptik semua konsentrasi memiliki aroma jasmine dan menunjukkan warna putih kekuningan. Paper soap berbasis nanopartikel kitosan mampu menghambat aktivitas bakteri gram positif Staphylococcus aureus dan menghasilkan zona bening sebesar 3.5± 0.70 mm, 5±0 mm, 14±0.70 mm, 10.25±0.35 mm, 10.75±2.47 mm. Konsentrasi 0,5% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Dan gram negatif Echerichia coli menghasilkan zona bening sebesar 4.50 ± 0.00 mm, 5.00 ± 0.00 mm, 9.75± 1.06 mm, 11.50 ± 4.24 mm, 7.50± 0.00 mm. Konsentrasi 0,75% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Echerichia coli. Aktivitas antibakteri nanopartikel kitosan pada penelitian ini termasuk kategori lemah hingga kuat. Paper soap nanopartikel kitosan dari cangkang kepiting bakau yang dihasilkan sesuai dengan standar SNI dan terbukti mampu menghambat aktivitas bakteri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Spons Clathria sp. merupakan salah satu biota laut yang hidup di perairan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Biota laut ini tidak memiliki organ pada tubuhnya, tetapi memiliki kemampuan yang unik dalam menyaring bakteri dan karbon organik terlarut yang ada di lingkungan perairan, dengan memanfaatkan pori – porinya untuk mengubah zat ini menjadi partikel tersuspensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi bakteri yang berasosiasi dengan spons Clathria sp. dari perairan Pulau Derawan, mengidentifikasi secara morfologi jenis bakteri spons Clathria sp., dan menentukan aktivitas terbaik daya hambat bakteri asosiasi spons Clathria sp. terhadap bakteri (MDR). Proses penelitian terbagi menjadi tiga tahap: isolasi strain bakteri, identifikasi morfologi, dan prosedur overlay yang dilanjutkan dengan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan jaringan dari spons Clathria sp. berhasil mendapatkan 23 isolat bakteri, dua morfologi koloni dominan yang diidentifikasi adalah Round with scalloped margin dan Round with raised margin, ditambah dengan formasi pinggiran Undulate dan Lobate. Adapun warna koloni yang dominan yaitu putih dan kuning, dengan elevasi Flat dan Raised. Teknik pewarnaan gram mengungkapkan adanya 17 isolat gram positif bersama dengan 6 isolat gram negatif, dengan menunjukkan morfologi bentuk sel bakteri coccus dan bacillus. Isolat SC06 menunjukkan aktivitas antibakteri signifikan dengan diameter penghambatan rata – rata 21,5 ± 2,12mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus, dan 15,5 ± 2,12mm terhadap bakteri Escherichia coli. hasil ini membuka potensi besar untuk pemanfaatan sifat antibakteri dari bakteri yang berasosiasi dengan spons laut dalam aplikasi klinis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Kalimantan merupakan salah satu pulau terbesar yang ada di Indonesia dan memiliki pulau-pulau kecil salah satunya adalah pulau Derawan. Pulau derawan dikenal juga sebagai daerah episenter kehidupan laut yang memiliki keragaman biota laut salah satunya adalah bulu babi. Bulu babi dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat-obatan yang berkhasiat, selain itu gonad bulu babi memiliki kandungan omega 3. Tujuan dari penelitian ini mengidentifikasi pengukuran morfometrik, memperoleh rendemen ekstrak kasar menggunakan larutan metanol, etil asetat, dan n-heksana, menganalisis aktivitas antioksidan dan antibakteri dari gonad bulu babi, dan memperoleh senyawa bioaktif dan nilai toksisitas dari ekstrak gonad bulu. Penelitian diawali dengan pengujian morfometrik yang meliputi pengukuran panjang, diameter, berat daging, dan berat cangkang dengan hasil morfometrik didapatkan panjang total 6,48 cm, diameter 4,99 cm, berat total 51,90 gram, berat gonad 4,33 gram, berat cangkang kosong 33,63 gram, dan rendemen gonad 4,32%. gonad bulu babi diekstrak melalui proses maserasi dengan 3 pelarut. Hasil rendemen ekstrak didapatkan metanol sebanyak 2,41%, etil asetat sebanyak 0,85%, dan n-heksana sebanyak 0.28%. uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1 Diphenyl-2-Pikrylhydrazyl) hasil yang didapatkan nilai IC50 dengan ekstrak metanol 2,14 µg/mL, etil asetat 2,59 µg/mL, n-heksana 1,83 µg/mL, asam askorbat 1,55 µg/mL. Uji aktivitas antibakteri menggunakan bakteri E. coli, dan S.aereus hasil yang didapatkan dari ketiga ekstrak metanol, atil asetat, n-heksana mendapatkan hasil yang sama yakni 6,00 mm dengan gram positif dan gram mendapatkan hasil bakteri E.coli 24,69 mm dan bakteri S.aereus 25,31 mm untuk gram negative mendapatkan hasil yang sama yakni 6,00 mm sehingga tidak memiliki aktivitas antibakteri. Dan uji toksisitas menggunakan metode BSLT mendapatkan hasil metanol 171,56 µg/mL, etil asetat 159,84 µg/mL, n-heksana 354,10 µg/mL. Pengujian fitokimia ekstrak gonad bulu babimenggunakan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, fenol, steroid mendapatkan hasil yang kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN DAN BIJI JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI DAN ANTIOKSIDAN Abstrak Tanaman jarak pagar mengandung senyawa bioaktif dan telah banyak perhatian karena manfaatnya sebagai antimicrobial, antiinflamasi, antikanker, serta antioksidan. Tanaman jarak pagar memiliki kandungan senyawa kimia seperti saponin, alkaloid, tannin, terpenoid, yang dimana senyawa tersebut memiliki potensi sebagai antibakteri dan antioksidan. Tujuan penelitian ini mengetahui potensi ekstrak daun dan biji jarak pagar sebagai antibakteri dan antioksidan, mengetahui konsentrasi yang paling efektif untuk digunakan sebagai antibakteri dan antioksidan serta mengetahui bagian tumbuhan yang memberikan hasil terbaik sebagai antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 10 perlakuan yaitu K(+)B1, K(+)B2, K(-)B1, K(-)B2, K1B1, K1B2, K2B1, K2B2, K3B1 dan K3B2. Parameter pengamatan penelitian adalah persentase rendemen dan persentase penghabatan. Hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan K3B1 memiliki nilai tertinggi dari beberapa prlakuan yaitu 53.53%. Bagian tanaman jarak pagar yang memiliki potensi sebagai antibakteri dan antioksidan adalah pada bagian daun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gastropoda merupakan salah satu kelas dari filum moluska yang memiliki senyawa aktif dan berpotensi sebagai antibakteri. Antibakteri adalah senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri yang bersifat merugikan pada suatu biota maupun manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa aktif dan aktivitas anti bakteri pada ekstrak gastropoda Cassidula spp., Cerithidea obtusa, Telescopium spp., Chicoreus spp., Cerithidea cingulata, Nerita spp. Penelitian ini dimulai dari pengambilan sampel, preparasi, ekstraksi, pengujian senyawa aktif yang terdiri dari uji alkaloid, steroid, flavonoid, saponin (uji busa), fenol hidrokuinon dan tanin, serta pengujian aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak gastropoda yang digunakan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus yang memiliki zona hambat yaitu Chicoreus spp. (11 mm), Cerithidea obtusa (10 mm), Cerithidea cingulata (11,5 mm), dapat dikategorikan kuat, dan Cassidula spp. (5 mm), Nerita spp. (6 mm) dikategorikan sedang, dan Telescopium spp. (3 mm) dikategorikan kurang. Senyawa aktif yang terkandung pada setiap jenis gastropoda yaitu alkaloid, flavonoid, dan fenol hidrokuinon, sedangkan senyawa steroid hanya terdapat pada Telescopium spp., dan Cassidula spp., dan senyawa saponin terdapat pada ekstrak Nerita spp., Cerithidea obtusa, Chicoreus spp., dan Cerithidea cingulata.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Udang windu merupakan komoditas andalan di Kota Tarakan, dikarenakan udang memiliki beberapa keunggulan yakni kandungan gizi yang tinggi, ukuran panen yang relatif besar dan memiliki cita rasa yang manis dan gurih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder pada ekstrak kulit buah pepaya dan menentukan dosis terbaik ekstrak kulit buah pepaya dalam menghambat pertumbuhan bakteri V. parahaemolyticus. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Ekstraksi kulit buah pepaya dilakukan dengan metode maserasi menggunakan alkohol 70%. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 10%, 20% dan 30%. Kontrol positif yang digunakan adalah tetracycline dan kontrol negatif aquadest. Uji aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro dengan metode difusi cakram. Uji kualitatif senyawa fitokimia menunjukkan kulit pepaya mengandung senyawa Alkaloid, Flavonoid, Fenol hidrokuinon, dan Tanin. Hasil uji in vitro menunjukkan ekstrak kulit buah pepaya (C papaya) pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan diperoleh rata – rata diameter hambatan secara berturut – turut sebesar 7.00 mm, 1.85 mm dan 4.50 mm. Anilisis data menggunakan ANOVA dengan uji F dan dilanjutkan uji Duncan. Hasil yang diperoleh menunjukkan zona hambat terbesar pada konsentrasi 10% dengan nilai 7.00 mm. Sehingga diketahui dosis terbaik terbaik ekstrak kulit buah pepaya terletak pada konsentrasi 10%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Salah satu kendala pada budidaya udang windu yaitu serangan penyakit kunang – kunang (luminescent vibriosis) yang disebabkan oleh bakteri Vibrio harveyi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak biji pepaya (Carica papaya) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio harveyi yang diujikan secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Ekstraksi biji pepaya dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 10%, 20%, dan 30%. Kontrol positif yang digunakan adalah tetracycline dan kontrol negatif akuadest. Uji aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro dengan metode difusi cakram. Uji kualitatif senyawa fitokimia menunjukkan biji pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol hidrokuinon, tanin dan steroid. Hasil uji in vitro menunjukkan ekstrak biji pepaya (Carica papaya) pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan diperoleh rata – rata diameter hambatan secara berturut – turut sebesar 4,90 mm, 8,70 mm dan 16,70 mm. Analisis data menggunakan one-way ANOVA dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil yang diperoleh terdapat perbedaan yang signifikan (P0,005) antara konsentrasi ekstrak 30% dengan konsentrasi 10%, 20%, kontrol positif dan kontrol negatif. Sehingga dapat disimpukan bahwa ekstrak biji pepaya memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Vibrio harveyi dan semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka akan semakin besar zona hambat yang terbentuk.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bakteri (Aeromonas hydrophila) merupakan jenis bakteri yang bersifat pathogen dan dapat menyebabkan penyakit sistemik serta mengakibatkan kematian secara massal. Infeksi bakteri A.hydrophila dapat menyebabkan penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS). Infeksi bakteri A.hydrophila menjadi penyebab penyakit yang menyerang ikan air tawar baik ikan hias maupun ikan konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun ketapang terhadap bakteri A.hydrophila. Aquades digunakan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi. Pengujian antibakteri dengan menggunakan metode difusi kertas cakram. Pada uji antibakteri dilakukan sebanyak 6 perlakuan 3 ulangan yaitu, kontrol positif (Tetrachyline), kontrol negatif (Aquades), A 500ppm, B 750ppm, C 1000ppm dan D 1250ppm. Hasil penelitian uji antibakteri menunjukkan ekstrak daun ketapang dengan konsentrasi terbaik yaitu pada perlakuan D dengan konsentrasi 1250ppm sebesar 28mm. Aeromonas hydrophila is a pathogenic bacterial type which can cause a systemic disease and even mass death. A. hydrophila bacterial infection causes a disease attacking the freshwater fish, both ornamental and consumption fish. This research aimed to figure out the inhibitory power of ketapang leaf extract against A. hydrophila bacteria. Distilled water was used as a solvent in the extraction process. Antibacterial testing was conducted using a paper disc diffusion method in 6 treatments positive control (Tetrachyline), negative control, (Aquades), A 500ppm, B 750ppm, C 1000ppm and D 1250ppm with 3 repetitions. The antibacterial testing results showed that the best concentration of ketapang leaf extract was in treatment D with the concentration of 1250ppm at 28mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Abstrak Akar kuning dan laos sebagai obat tradisional masyarakat indonesia. Oleh karena itulah perlu membuktikan secara ilmiah terkait khasiat kedua bahan tersebut melalui uji bioaktivitas. Tujuan penelitian ini yaitu menguraikan persentase rendeman yang didapatkan dari masing-masing ekstrak akar kuning dan laos yang dihasilkan, mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder dengan fitokimia, menguji kosentrasi ekstrak akar kuning dan laos sebagai antibakteri serta menguji potensi ekstrak akar kuning dan laos sebagai antioksidan. Pada penelitian ini menggunakan metode maserasi suksesif bertingkat, skrining fitokimia, agar difusi sumuran dan DPPH. Hasil yang didapatkan yaitu sampel akar kuning heksan, etil asetat dan metanol masing-masing memiliki persentase rendeman sebesar 0,16% , 0,18%, 1,44 %. Kemudian untuk sampel laos heksan, etil asetat dan metanol memiliki persentase rendeman sebesar 1,77%, 0,64%, 2,37%. Selanjutnya hasil skrining fitokimia yaitu pada akar kuning metanol mengandung alkaloid, fenol, saponin, tanin dan flavanoid. Disamping itu laos heksan dan etil asetat mengandung alkaloid dan steroid, untuk laos metanol yaitu alkaloid dan tanin. Selain itu, aktivitas antibakteri terdapat pada kosentrasi 2000 ppm yaitu ekstrak akar kuning metanol di bakteri uji Sterptococcus aureus, Sterptococcus sobrinus, Ralstonia solanacearum dan Propionibacterium acnes dengan masing-masing daya hambat sebesar 34%, 32%, 32% dan 28% dan 1000 ppm pada R. Solanacearum sebesar 24%. Kemudian pada laos etil asetat di bakteri uji S. Sobrinus dan R. Solanacearum yakni masing-masing daya hambat sebesar 29% dan 36% di 2000 ppm dan 1000 ppm sebesar 29%, 36%. Terakhir berdasarkan hasil pengujian DPPH didapatkan ekstrak laos metanol memiliki aktivitas antioksidan tertinggi sebesar 95,01%. Abstract Yellow root (Arcangelisia jlava Merr) and Laos (Alpinia galanga) are used as traditional medicine for Indonesian people. Therefore, it is necessary to scientifically prove the efficacy of these two materials through bioactivity tests. The purposes of this study were to describe the percentage of soaking of each of the extracts of the Yellow Roots and Laos, identify the content of secondary . metabolites with phytochemicals, test the concentration of extracts of the Yellow Roots and Laos as antibacterial, and test the potential of extracts of the Yellow Roots and Laos as antioxidants. This study used the methods of stratified successive maceration, phytochemical screening, agar well diffusion and DPPH. The results showed that the Yellow Root samples of hexane, ethyl acetate and methanol each had soaking percentage of 0.16%, 0.18%, and 1.44%. Then, for the Laos hexane, ethyl acetate, and methanol samples, the soaking percentages were 1.77%, 0.64%, and 2.37%. Furthermore, the results of phytochemical screening, namely methanol Yellow Roots contained alkaloids, phenols, saponins, tannins and flavonoids. Besides, Laos hexane and ethyl acetate contained alkaloids and steroids, for Laos methanol were alkaloids and tannins. In addition, antibacterial activity was found at a concentration of 2000 ppm, namely methanol Yellow Root extract in the test bacteria Staphylococcus aureus, Streptococcus sobrinus, Ralstonia solanacearum and Propionibacterium acnes with inhibitory powers of 34%, 32%, 32% and 28% and 1000 ppm, respectively, in R. Solanacearum by 24%. Then on Laos ethyl acetate in the test bacteria S. Sobrinus and R. Solanacearum, 29% and 36% inhibition were at 2000 ppm and at 1000 ppm were 29%, 36%, respectively. Finally, based on the results of the DPPH test, it was found that the Laos methanol extract had the highest antioxidant activity of 95.01 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Tumbuhan mangrove merupakan tumbuhan yang tumbuh subur dikawasan pesisir salah satunya di pesisir Kota Tarakan diantaranya adalah Bruguiera parviflora dan Bruguiera cylindrica. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi yang efektif dari dua tumbuhan mangrove tersebut sebagai antibakteri dan antioksidan. Metode uji antioksidan menggunakan metode DPPH menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 517 nm, pada uji antibakteri menggunakan metode difusi agar sumuran dengan konsentrasi 2000, 1000, dan 500 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan tumbuhan mangrove B. parviflora tertinggi dihasilkan oleh ekstrak daun metanol dengan nilai persentase hambat sebesar 86,66%, sedangkan pada B. cylindrica aktivitas antikosidan tertinggi dihasilkan oleh ekstrak batang metanol dengan nilai persentase hambat sebesar 78, 30%. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri B. parviflora tertinggi dihasilkan oleh ekstrak batang etil asetat pada konsentrasi 2000 ppm dengan nilai persentase hambat sebesar 57, 6% terhadap bakteri Ralstonia solanacearum, sedangkan pada B. cylindrica aktivitas antibakteri tertinggi dihasilkan oleh ekstrak batang etil asetat pada konsentrasi 2000 ppm dengan nilai persentase hambat sebesar 45% terhadap bakteri R. solanacearum. ABSTRACK Mangrove plants that thrive in coastal ares are of Tarakan city include Bruguiera parviflora and Bruguiera cylindrica. This study aimed to determine teh effective concentration of the two mangrove plants as antibacterial and antioxidant. The antioxidant test was carried out through the DPPH method using a spectrophotometer with a wavelength 0f 517 nm. The antibacterial test was carried out through the agar diffusion method with a concentration of 2000, 1000, and 500 ppm. The results showed that the highest antioxidant activity of mangrove B. parviflora was produced by methanol leaf extract with an anhibitory percentage value of 8.66%, while in B. cylindrica the highest antioxidant activity was produced by methanol stem extract with an inhibitory percentage value of 78.30%. the results of the antibacterial test showed that the highest antibactrial activity of B. parviflora was produced by ethyl acetate stem extract at a concentration of 2000 ppm with an inhibitory percentage value of 57.6% against the bacterium Ralstonia solanacearum, while in B. cylndrica the highest antibacterial activity was produced by ethyl acetate stem extract at concentration of 2000nppm with a percentage of inhibtion value of 45% against the bacteria R. solanacearum.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
The utilization of traditional medicinal plants has been carried out by the Berusu Dayak tribe from generation to generation, among which they use Padaran (Z. montanum) and turmeric (C. longa), which are known to have antibacterial, antioxidant, and anticancer activities. The purpose of this study was to determine the percentage of antibacterial inhibition and antioxidant potential of the extracts of Padaran rhizome and turmeric. The plants were extracted with hexane, ethyl acetate, and methanol as solvents. Antibacterial activity was carried out against the bacteria Ralstonia solanacearum, Staphylococcus aureus, Streptococcus sobrinus, Salmonella typhi, Propianibacterium acnes using the agar well diffusion method with concentrations of 500, 1000, and 2000 ppm. Antioxidant activity was tested by DPPH free radical activity mechanism. The results showed that the extracts of Padaran rhizome and turmeric did not have antibacterial activity in the absence of an inhibition zone formed. The highest antioxidant activity againts DPPH was shown by ethyl acetat extract of Padaran rhizome (Z. montanum) with an inhibition of 89.65%, and the extract of turmeric (C. longa) obtained the highest inhibitory value in ethyl solvent of 82.79%. This study showed the potential of the rhizome of Padaran (Z. montanum) and turmeric (C. longa) plants which were used by the Berusu Dayak tribe as natural antioxidants. Pemanfaatan tanaman obat tradisional dilakukan oleh suku Dayak Berusu secara turun temurun, diantara yang digunakannya adalah tanaman padaran (Z. montanum) dan kunyit (C. longa), yang dikenal memiliki aktivitas antibakteri, antioksidan, dan antikanker. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persentase hambatan antibakteri dan potensi antioksidan ekstrak rimpang padaran dan kunyit. Tananam diekstrak dengan pelarut heksan, etil asetat, dan metanol. Aktivitas antibakteri dilakukan terhadap bakteri Ralstonia solanacearum, Staphylococcus aureus, Streptococcus sobrinus, Salmonella typhi, Propionibacterium acnes menggunakan metode difusi agar sumuran dengan konsentrasi 500, 1000, dan 2000 ppm. Aktivitas antioksidan diuji dengan mekanisme aktivitas radikal bebas DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rimpang padaran dan kunyit tidak memiliki aktivitas antibakteri dengan tidak adanya zona hambat yang terbentuk. Aktivitas antioksidan tertinggi terhadap DPPH ditunjukkan oleh ekstrak etil asetat rimpang padaran (Z. montanum) dengan penghambatan sebesar 89,65%, dan pada ekstrak tanaman kunyit (C. longa) diperoleh nilai penghambatan tertinggi pada pelarut etil yaitu sebesar 82,79%. Penelitian ini menunjukkan potensi rimpang tanaman padaran (Z. montanum) dan kunyit (C. longa) yang dimanfaatkan suku Dayak Berusu sebagai antioksidan alami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya hayati yang melimpah, salah satunya adalah hutan penelitian Universitas Borneo Tarakan di Kota Tarakan Kalimantan Utara yang dapat digunakan untuk kegiatan praktek dan penelitian. Garcinia sp, Ampelocissus polystachya (Wall.ex M.A Lawson) Planch, Garcinia bancana Miq, Guioa pterorhachis Welzen dan Pterisanthes cissioides dari hutan penelitian Borneo memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan antimikroba karena adanya senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada tumbuhan. Kelima tumbuhan tersebut diduga memiliki potensi sebagai antimikroba seperti menghambat Streptococcus sobrinus, Propionibacterium acnes, Streptococcus mutans, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus, Candida albicans dan Ralstonia solanacearum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi paling efektif dari lima tumbuhan dalam mengambat aktivitas antimikroba dan antioksidan. Penelitian ini menggunakan metode difusi agar sumuran dengan variasi konsentrasi 2500 ppm, 5000 ppm dan 10000 ppm. Kontrol positif pada penelitian ini yaitu chloramphenicol dengan konsentrasi 100 ppm dan kontrol negatifnya etanol 40%. Selain itu juga menggunakan metode DPPH penangkal radikal bebasnya pada uji antioksidan. Hasil penelitian menunjukan aktivitas penghambatan tertinggi >50% menunjukan bahwa ekstrak Garcinia bancana Miq memiliki daya hambat tertinggi terhadap bakteri Streptococcus sobrinus pada konsentrasi 10000 ppm dan 5000 ppm dengan nilai persentase hambat secara berturut-turut 77% dan 57%. Hasil pengujian aktivitas antioksidan tertinggi >70% pada ekstrak daun Garcinia sp pada konsentrasi 100 ppm, 50 ppm dan 25 ppm dengan nilai persentase hambat secara berturut-turut 90,81%, 80,58% dan 73,04%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•
Salah satu faktor yang menyebabkan turunnya hasil produksi budidaya ikan ialah adanya serangan dari bakteri patogen yaitu Aeromonas hydrophila. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit Motil Aeromonas Septicemia. Sejauh ini penanggulangan infeksi bakteri dilakukan dengan penggunaan antibiotik, sehingga dalam jangka waktu lama diduga akan menyebabkan resisten terhadap ikan budidaya. Fitofarmaka merupakan solusi yang efektif dan aman untuk menggantikan antibiotik kimia dikarenakan berasal dari bahan alam, salah satunya ialah kulit pisang kepok Musa paradisiaca L. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas dan penentuan konsentrasi hambat minimum dan bunuh minimum ekstrak kulit pisang kepok terhadap aktivitas bakteri A. hydrophila secara In-vitro. Aquades, etanol, dan 2-propanol digunakan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi. Perlakuan konsentrasi untuk uji KHM dan KBM yaitu 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%. Ekstrak dengan pelarut aquades memiliki zona hambat terbesar sebesar 6.5 ± 0.54mm dan nilai konsentrasi hambat minimum adalah 24%, sedangkan konsentrasi bunuh minimum sebesar 40%. Hasil uji in-vitro menunjukkan bahwa ekstrak kulit pisang kepok memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hutan Penelitian Borneo memiliki keanekaragaman sumber daya hayati yang melimpah diperuntukkan untuk kegiatan praktek dan penelitian. Trema cannabina L. dan Cratoxylum sumatranum (jack) blume dari Hutan Penelitian Borneo memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan antibakteri karena adanya senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada tumbuhan. Oleh karena itu, tumbuhan hutan penelitian Borneo diduga memiliki potensi sebagai antibakteri seperti menghambat bakteri Ralstonia solanacearum dan Propionibacterium acnes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi paling efektif dari ekstrak tumbuhan T. cannabina dan C. sumatranum yang dapat berperan sebagai antioksidan dan juga menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Penelitian ini menggunakan metode difusi agar sumuran dengan variasi konsentrasi 2500 ppm, 5000 ppm dan 10000 ppm. Kontrol positif pada penelitian ini yaitu Chloramphenicol dengan konsentrasi 100 ppm dan kontrol negatifnya etanol 40%. Selain itu juga menggunakan metode DPPH penangkal radikal bebasnya pada uji antioksidan. Hasil penelitian menunjukan aktivitas antioksidan tertinggi ditunjukkan konsentrasi 100 ppm ekstrak daun C. sumatranum dengan nilai persentase hambat sebesar 78,31%, Sedangkan pada ekstrak daun T. cannabina menghambat sebesar 76,24%. Hasil yang diperoleh pada uji antibakteri penghambatan tertinggi ditunjukkan oleh ekstrak daun C. sumatranum memiliki daya hambat terhadap R. solanacearum dan P.acnes pada konsentrasi 10000 ppm yaitu sebesar 60% dan 90,7%. sedangkan ekstrak daun T. cannabina menghambat R. Solanacearum pada konsentrasi 10000ppm yaitu 33,5%.