Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

13 hasil
Subjek: ekstraksi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Aktivitas Antioksidan Senyawa Astaxanthin Yang Diisolasi Dari Kulit Udang Windu ( Penaeus monodon) Menggunakan Pelarut Hexana: isopropanol

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kulit udang windu (Penaeus monodon) merupakan limbah hasil perikanan yang melimpah dan berpotensi sebagai sumber astaxanthin, sebuah senyawa karotenoid dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Penelitian ini bertujuan mengekstraksi astaxanthin dari kulit udang windu yang ada di Kota Tarakan menggunakan pelarut hexana: isopropanol (3:2) serta menguji potensi antioksidannya. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut hexana: isopropanol (3:2 v/v) selama 3 hari, pada suhu ruang ekstrak dikarakterisasi kadar astaxanthinnya menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 476 nm, aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode ABTS (2,2'-azino-bis (3ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)) pada panjang gelombang 741 nm dengan Trolox sebagai standar pembanding. Hasil penelitian menunjukkan kadar astaxanthin yang diperoleh dengan nilai rata rata 104,77 µg/g ± 11,93 µg/g. Pengujian aktivitas antioksidan dengan metode ABTS menunjukkan bahwa ekstrak astaxanthin dari kulit udang windu memiliki nilai % inhibisi sebesar 11,63% dengan nilai TEAC (Trolox Equivalent Antioxidant Capacity) sebesar 0,0721 µmol TE/g sampel kering. Kombinasi pelarut hexana dan isopropanol terbukti efektif mengisolasi astaxanthin dari limbah kulit udang. Penelitian ini memberikan informasi penting mengenai potensi pemanfaatan limbah kulit udang windu sebagai sumber antioksidan alami bernilai ekonomi tinggi, sekaligus solusi pengelolaan limbah perikanan yang lebih berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kajian Kadar Aspal Hasil Ekstraksi Penghamparan Campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) Pada Runway Bandara Udara Juwata Tarakan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Landasan pacu (runway) merupakan fasilitas utama pada bandar udara yang harus memenuhi persyaratan teknis perkerasan untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan operasi pesawat. Salah satu parameter penting dalam pengendalian mutu perkerasan lentur adalah kesesuaian kadar aspal pada lapisan Asphalt Concrete–Wearing Course (AC-WC) terhadap nilai yang direncanakan dalam Job Mix Design. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai kadar aspal hasil ekstraksi menggunakan metode sentrifugal dan metode refluks pada campuran AC-WC yang telah dihampar pada runway Bandar Udara Juwata Tarakan, membandingkan hasil kedua metode tersebut, serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan kadar aspal rencana berdasarkan spesifikasi Bina Marga. Sampel penelitian diperoleh dari hasil core drill lapisan AC-WC di lokasi runway. Pada penelitian menunjukkan nilai kadar aspal hasil ekstraksi sentrifugal memiliki rata-rata 5,68% dan refluks dengan rata-rata 5,70%, secara statistik tidak memiliki perbedaan secara signifikan terhadap JMD. Namun, metode refluks memiliki variasi data yang lebih kecil sehingga, dapat dinilai metode tersebut memiliki ketelitian yang lebih baik. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pengendalian mutu pada campuran beraspal pada perkerasan runway serta menjadi referensi dalam pemilihan metode ekstraksi aspal dilaboratorium.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kajian Kadar Aspal Campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) Yang di Hamparkan Pada Taxiway Bandara Juwata Tarakan.

2026•

Kadar aspal merupakan parameter krusial dalam menentukan kualitas perkerasan Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC) pada infrastruktur bandar udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar aspal aktual pada campuran AC- WC yang dihampar di Taxiway Bandar Udara Juwata Tarakan dengan membandingkan hasil pengujian melalui metode Sentrifugal dan metode Refluks terhadap Job Mix Design (JMD). Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan mengambil sampel lapangan melalui teknik core drill. Hasil ekstraksi secara statistik menggunakan uji t-test independen untuk membandingkan kedua metode tersebut, serta uji ANOVA untuk menilai kesesuaiannya dengan nilai JMD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar aspal menggunakan metode Sentrifugal adalah 4,99%, sedangkan metode Refluks adalah 5,68%, dibandingkan dengan nilai JMD sebesar 5,70%. Meskipun secara statistik tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode (p-value 0,25 > 0,05), evaluasi teknis berdasarkan Spesifikasi Bina Marga menunjukkan bahwa metode Refluks memiliki deviasi yang sangat kecil (0,02%) dan memenuhi batas toleransi ±0,3%. Sebaliknya, metode Sentrifugal menghasilkan deviasi sebesar 0,71% yang melampaui batas toleransi tersebut. Hasil Penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pengendalian mutu pada campuran beraspal perkerasan taxiway serta menjadi referensi dalam pemilihan metode ekstraksi aspal dilaboratorium.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EKSTRAKSI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SENYAWA ASTAXANTHIN DARI KULIT UDANG WINDU (Penaeus monodon)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kulit udang Windu (Penaeus monodon) merupakan limbah hasil perikanan yang melimpah dan berpotensi sebagai sumber astaxanthin, sebuah senyawa karotenoid dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi astaxanthin dari kulit udang windu asal Tarakan, mengkuantifikasi kadarnya, serta menguji aktivitas antioksidannya. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut aseton 100% selama 5 hari pada rasio bahan terhadap pelarut 1:10 (b/v). Kadar astaxanthin dianalisis secara spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 476 nm, sedangkan aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan dinyatakan dalam nilai IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak astaxanthin yang dihasilkan memiliki warna merah-oranye khas dengan kadar rata-rata sebesar 78,61±4,45 µg/g. Uji aktivitas antioksidan menghasilkan nilai IC50 sebesar 262,5±15.77 µg/mL, yang mengindikasikan bahwa ekstrak astaxanthin memiliki aktivitas antioksidan yang lemah. Dengan demikian, kulit udang windu (Penaeus monodon) dari perairan Tarakan terbukti berpotensi sebagai sumber astaxanthin alami dengan aktivitas antioksidan yang lemah, hasil lemah ini disebabkan oleh ekstrak yang belum murni sehingga perlu penelitian lanjutan dalam pemurnian astaxanthin untuk dapat dimanfaatkan lebih lanjut dalam industri pangan, farmasi, atau kosmetik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

pengaruh proses ekstraksi KOH dan penambahan NaCl terhadap struktur kappa karagenan dari Kappaphycus alvarezii

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH PROSES EKSTRAKSI KOH DAN PENAMBAHAN NACL TERHADAP STRUKTUR KAPPA KARAGENAN DARI Kappaphycus alvarezii Abstrak Pengolahan rumput laut di Tarakan masih dalam berbentuk kering sehingga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan inovasi dan hirisasi produk akhir dari rumput laut seperti pembuatan tepung karagenan. Tepung karagenan yang dihasilkan melalui proses ektraksi memiliki berbagai manfaat dalam bidang industri makanan, obat-obatan dan kosmetik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh konsentrasi KOH terhadap presentasi rendemen yang dihasilkan dari rumput laut Kappaphycus alvarezii, mengidentifikasi ekstraksi KOH dan penambahan NaCl terhadap sifat fisik karagenan. Metode penelitian ini dibagi beberapa tahap yakni tahap pertama preparasi sampel, tahap kedua ekstraksi KOH menggunakan konsentrasi KOH 0,1N, 0,3N, 0,5N dan tahap ketiga penepungan. Pengujian yang diamati meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, serat kasar, viskositas dan FTIR. Hasil pengujian karagenan dengan konsentrasi KOH 0,1N menghasilkan rendemen 23,6%, kadar air 6%, kadar abu 15%, serat kasar 20%, dan viskositas 8,00cP. Hasil pengujian karagenan dengan konsentrasi KOH 0,3N menghasilkan rendemen 41,6%, kadar air 6%, kadar abu 10%, serat kasar 30% dan viskositas 29,00cP. Hasil pengujian karagenan dengan konsentrasi KOH 0,5N menghasilkan rendemen 65%, kadar air 5%, kadar abu 12%, serat kasar 28% dan viskositas 32,00cP. Hasil pengujian Karagenan dengan konsentrasi NaCl 0,1N menghasilkan kadar air 6%, kadar abu 37%, serat kasar 5% dan viskositas 2,00cP. Hasil pengujian dengan konsentrasi NaCl 0,3N menghasilkan kadar air 5%, kadar abu 42%, serat kasar 11% dan viskositas 4,00cP. Hasil pengujian dengan konsentrasi NaCl 0,5N menghasilkan kadar air 4%, kadar abu 51%, serat kasar 3%, dan viskositas 3,5cP. Serapan FTIR konsentrasi KOH menghasilkan 847,5 cm-1 dan konsentrasi NaCl menghasilkan 848,5 cm-1.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK GELEMBUNG RENANG IKAN ALU-ALU (Sphyraena jello) DAN KOLAGEN YANG DIHASILKAN MELALUI EKSTRAKSI Acid Soluble Collagen (ASC)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kolagen merupakan protein jaringan ikat silang yang tersusun oleh asam amino glisina, prolin dan hidroksiprolin yang banyak berada di kulit, tulang, sisik dan gelembung renang ikan. Gelembung renang diketahui memiliki kandungan kolagen yang cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengarakterisasi sifat fisiokimia gelembung renang ikan alu-alu (Sphyraena jello) dan kolagen yang dihasilkan melalui ekstraksi Acid Soluble Collagen (ASC). Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu preparasi sampel gelembung renang ikan alu-alu. Pre-treatment menggunakan NaOH 0,1M dan ekstraksi kolagen menggunakan asam asetat 0,50 M dengan rasio sampel dan larutan (1:10 b/v). Parameter yang dianalisis meliputi penentuan proporsi gelembung renang dari ikan alu-alu yang digunakan dan komposisi kimianya, penghitungan rendemen, nilai pH, pengujian FTIR dan analisis asam amino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelembung renang ikan alu-alu memiliki proporsi 1,06%, kadar protein 30,76±0,13. Rendemen kolagen yang diperoleh sebesar 6,67±0,30% dengan nilai pH 6,8±0,10. Kolagen gelembung renang ikan alu-alu menghasilkan karakteristik gugus amida (A, B, I, II, III) dan asam amino penciri glisin 10,78 mg/g, prolin 4,92 mg/g, alanin 4,60 mg/g. Gelembung renang ikan alu-alu terbukti memiliki potensi dijadikan sebagai sumber alternatif kolagen dari hasil perikanan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemurnian Minyak Ikan Bulan – Bulan (Megalops sp.) dengan Penambahan Adsorben Magnesol XL

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Ikan bulan-bulan (Megalops sp) merupakan jenis ikan hasil tangkapan sampingan (HTS). Umumnya, daging ikan ini diolah menjadi berbagai macam produk diversifikasi, tetapi limbah hasil samping olahan tidak dimanfaatkan. Padahal, limbah ikan bulan- bulan memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis, seperti minyak ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Magnesol XL terbaik pada proses bleaching minyak ikan dan menganalisis karakteristik kimia minyak ikan bulan-bulan yang dihasilkan, seperti nilai rendemen, nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu ekstraksi jeroan ikan bulan-bulan secara dry rendering pada suhu 60oC selama 1 jam dan pemurnian minyak ikan melalui proses bleaching dengan penambahan adsorben Magnesol XL 1%, 3% dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan Magnesol XL terbaik pada konsentrasi 5%. Nilai rendemen minyak ikan bulan-bulan sebesar 72%. Karakteristik minyak ikan yang diperoleh, yaitu nilai asam lemak bebas 0,41%, nilai peroksida sebesar 3 mEq/kg, dan asam lemak dominan yaitu asam palmitat 32,20%. Kesimpulan penelitian ini adalah minyak ikan yang diberi adsorben Magnesol XL pada konsentrasi 5% memenuhi International Fish Oil Standard/IFOS (FFA: ≤ 1,50% dan PV: ≤ 5,00 mEq/kg).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI EKSTRAKSI MINYAK IKAN BULAN – BULAN (Megalops sp) SEBAGAI SEDIAAN BAHAN BAKU DIETARY SUPPLEMENT

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ikan bulan – bulan (Megalops sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang hidup di perairan pantai dan muara sungai. Di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, daging ikan bulan – bulan banyak dikomsumsi oleh masyarakat, tetapi bagian jeroan ikan tidak termanfaatkan. Salah satu upaya untuk memanfaatkan jeroan ikan bulan – bulan agar tidak menajdi limbah, maka dibuatlah produk minyak ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan rendemen tertinggi minyak ikan yang diekstrak secara dry rendering, dan mengkaji karakteristik minyak ikan bulan – bulan berupa rendemen, nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/ peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam pembuatan minyak ikan bulan – bulan (Megalops sp.) yaitu ekstraksi secara dry rendering pada suhu 40oC, 50oC dan 60oC selama 1 jam. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, selanjutnya diolah secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar lemak jeroan ikan bulan – bulan sebesar 17,8%. Rendemen minyak jeroan ikan bulan – bulan (megalops sp) yang tertinggi yaitu suhu 60oC sebesar 20,34%. Nilai asam lemak bebas/free faty acid (FFA) terendah yaitu pada perlakuan suhu 60oC sebesar 0,68%. Nilai peroksida/peroxide value (PV) yang terendah yaitu suhu 40oC sebesar 0,44%. Profil asam lemak minyak jeroan ikan bulan – bulan (megalops sp) diperoleh kandungan asam lemak jenuh/Saturated Fatty Acid (SFA) sebesar 49,6%, asam lemak tak jenuh tunggal/Monounsaturated Fatty Acids (MUFA) sebesar 32,97%, dan asam lemak tak jenuh ganda/Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA) sebesar 17,39%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN PENELUSURAN SENYAWA AKTIF EKSTRAK GASTROPODA YANG TERSEBAR DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE DAN BEKANTAN KOTA TARAKAN

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gastropoda merupakan salah satu kelas dari filum moluska yang memiliki senyawa aktif dan berpotensi sebagai antibakteri. Antibakteri adalah senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri yang bersifat merugikan pada suatu biota maupun manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa aktif dan aktivitas anti bakteri pada ekstrak gastropoda Cassidula spp., Cerithidea obtusa, Telescopium spp., Chicoreus spp., Cerithidea cingulata, Nerita spp. Penelitian ini dimulai dari pengambilan sampel, preparasi, ekstraksi, pengujian senyawa aktif yang terdiri dari uji alkaloid, steroid, flavonoid, saponin (uji busa), fenol hidrokuinon dan tanin, serta pengujian aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak gastropoda yang digunakan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus yang memiliki zona hambat yaitu Chicoreus spp. (11 mm), Cerithidea obtusa (10 mm), Cerithidea cingulata (11,5 mm), dapat dikategorikan kuat, dan Cassidula spp. (5 mm), Nerita spp. (6 mm) dikategorikan sedang, dan Telescopium spp. (3 mm) dikategorikan kurang. Senyawa aktif yang terkandung pada setiap jenis gastropoda yaitu alkaloid, flavonoid, dan fenol hidrokuinon, sedangkan senyawa steroid hanya terdapat pada Telescopium spp., dan Cassidula spp., dan senyawa saponin terdapat pada ekstrak Nerita spp., Cerithidea obtusa, Chicoreus spp., dan Cerithidea cingulata.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakteristik Minyak Ikan Manyung ( Arius sp.) dengan Metode Ekstraksi Dry dan Wet Rendering

2023•

Ikan manyung (Arius sp.) merupakan salah satu ikan demersal yang hidup di Perairan laut dan estuari. Di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, daging ikan manyung banyak dikonsumsi oleh masyarakat, tetapi bagian hati tidak termanfaatkan. Salah satu upaya untuk memanfaatkan hati ikan manyung agar tidak menjadi limbah, maka dibuatlah produk minyak ikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui rendemen minyak ikan manyung (Arius sp.), serta mengkaji karakteristik kimianya, berupa nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam pembuatan minyak ikan manyung (Arius sp.) yaitu ekstraksi secara dry rendering dan wet rendering pada suhu 80°C selama 2 jam. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, selanjutnya diolah secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen minyak ikan manyung (Arius sp.) pada perlakuan dry rendering yaitu 14,25%, sedangkan pada perlakuan wet rendering sebesar 87,01%. Nilai kadar lemak hati ikan manyung sebesar 3,60%. Nilai asam lemak bebas/free faty acid (FFA) pada perlakuan wet rendering dan dry rendering secara berturut-turut yaitu 2,85%, dan 14,60%. Nilai peroksida pada perlakuan wet rendering sebesar 3,46 mEq/kg, sedangkan perlakuan dry rendering yaitu 7,73 mEq/kg. Profil asam lemak minyak ikan manyung (Arius sp.) pada ekstraksi wet rendering tidak terdeteksi, sedangkan pada dry rendering diperoleh kandungan SFA sebesar 0,0344%, MUFA sebesar 0,0220%, dan PUFA sebesar 0,1838%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hati ikan manyung dapat diproduksi menjadi minyak ikan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS SENYAWA BIOAKTIF PADA FAMILI Poaceae DAN Malvaceae MELALUI UJI HISTOKIMIA DAN UJI EKSTRAK ETANOL SERTA POTENSI PENERAPAN PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI

2022•

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati yang memiliki kurang lebih 3000 spesies tanaman yang berpotensi sebagai mengandung senyawa bioaktif. Salah satu daerah yang banyak ditemukan tumbuh-tumbuhan yaitu daerah kota Tarakan seperti famili tumbuhan yang dijumpai dihutan sawah lunto dan hutan persemaian yaitu famili Poaceae yang meliputi Rumput Bambu dan Rumput Gelagah kemudian Famili Malvaceae yang meliputi Seleguri, Kembang Sepatu dan Pulutan. Pada penelitian ini metode yang digunakan ialah melalui uji histokimia dan uji ekstraksi etanol dengan menggunakan reagen FeCl3 10% untuk identifikasi senyawa tanin, dan reagen CH3COOH pekat dan H2SO4 pekat untuk identifikasi senyawa steroid. Pengujian ini dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa tanin dan steroid pada masing-masing bagian organ daun, batang, dan akar pada famili Poaceae dan Malvaceae. Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada uji histokimia dan uji ekstraksi etanol identifikasi senyawa tanin dari lima spesies tumbuhan terdapat sembilan bagian organ yang positif mengandung senyawa tanin yang tersebar di daun dan akar Rumput Bambu, daun Rumput Gelagah, daun Seleguri, daun, akar dan batang Pulutan, daun dan batang Kembang Sepatu. Pada uji histokimia dan uji ekstraksi etanol identifikasi senyawa steroid dari lima spesies tumbuhan terdapat lima bagian organ yang positif mengandung senyawa steroid yang tersebar di daun dan akar Seleguri, daun, akar dan batang Kembang Sepatu. Pada penelitian ini potensi yang akan diimplementasikan dalam pembelajaran biologi berupa Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Panduan Praktikum, dan Bahan Ajar pada KD 2.2 Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan dan Hewan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Pada Famili Fabaceae Serta Potensi Penerapan Pada Pembelajaran Biologi

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati yang memiliki kurang lebih 3000 spesies tanaman yang berpotensi sebagai mengandung senyawa bioaktif. Salah satu daerah yang banyak ditemukan tumbuh-tumbuhan yaitu daerah kota Tarakan seperti famili tumbuhan yang dijumpai dihutan sawah lunto dan hutan persemaian yaitu famili Fabaceae yang meliputi Putri Malu, Daun Duduk, Kembang Telang, Kupu-Kupu dan Ketepeng Cina. Pada penelitian ini metode yang digunakan ialah melalui uji histokimia dengan reagen Vanilin 4% HCL pekat untuk identifikasi senyawa flavonoid, dan reagen CH3COOH pekat dan H2SO4 pekat untuk identifikasi senyawa steroid. Uji ekstraksi etanol dengan menggunakan reagen 0,1 logam Mg dan H2SO4 pekat untuk identifikasi senyawa flavonoid, dan reagen CH3COOH pekat dan H2SO4 pekat untuk identifikasi senyawa steroid. Pengujian ini dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa flavonoid dan steroid pada masing-masing bagian organ daun, batang, dan akar. Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya organ batang pada tumbuhan Kupu-Kupu saja yang negatif mengandung senyawa flavonoid dan steroid pada uji ekstrak etanol. Pada penelitian ini potensi yang akan diimplementasikan dalam pembelajaran biologi berupa Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Panduan Praktikum, dan Bahan Ajar pada KD 2.2 Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan dan Hewan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifkasi Senyawa Terpenoid pada Famili Tumbuhan Euphorbiaceae melalui Uji Kualitatif dan Potensi Penerapan pada Pembelajaran Biologi

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiiliki keanekaragaman tumbuhan tersebar diberbagai hutan tropis seperti hutan persemaian dan hutan sawah luntoh. Tumbuhan Ekor kucing (Acalypha hispida), Sablo (Acalypha wilkesiana), Teh-tehan (Acalypha siamensis), Kroton (Codiaeum variegatum), dan Patikan kebo (Euphorbia hirta L) merupakan spesies tumbuhan tergolong famili Euphorbiaceae yang dijumpai di hutan persemaian dan hutan sawah luntoh. Uji yang digunakan pada penelitian ini yaitu uji histokimia dengan reagen CuSO4 5 % dan gliserin, dan uji ekstraksi etanol dengan reagen HCl pekat 32 % dan H2SO4 pekat. Uji ini digunakan untuk mengidentifikasi senyawa terpenoid pada organ akar,batang dan daun. Hasil penelitian tersebut diketahui bahwa dari lima spesies tumbuhan famili Euphorbiaceae terdapat empat spesies yang mengandung senyawa terpenoid yang tersebar diberbagai organ akar, batang, dan daun. Pada spesies tumbuhan ekor kucing (Acalypha hispida) dari ketiga bagian organ akar, batang, dan daun tidak ada yang mengandung senyawa terpenoid. Pada spesies tumbuhan Sablo (Acalypha wilkesiana) masing-masing bagian organ akar, batang, dan daun positif mengandung senyawa terpenoid. Pada spesies tumbuhan Teh-tehan (Acalypha siamensis) bagian organ yang mengandung senyawa terpenoid hanya terletak pada bagian akar. Pada spesies tumbuhan Kroton (Codiaeum variegatum) bagian organ yang mengandung senyawa terpenoid terletak pada organ akar dan daun. Pada spesies tumbuhan Patikan kebo (Euphorbia hirta L) bagian organ yang mengandung senyawa terpenoid terletak pada bagian daun. Pada penelitian ini potensi penerapan pembelajaran biologi berupa Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Panduan Praktikum, dan Bahan Ajar.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail