Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Subjek: Karagenan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH JARAK LOKASI BUDIDAYA METODE LONGLINE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KADAR KARAGENAN RUMPUT LAUT (KAPPAPHYCUS ALVAREZII)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH JARAK LOKASI BUDIDAYA METODE LONGLINE TERHADAP PERTUMBUHAN dan KADAR KARAGENAN RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) Abstrak Pengaruh Jarak Lokasi Budidaya Metode Longline terhadap Pertumbuhan dan Kadar Karagenan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jarak Lokasi budidaya metode longline terhadap pertumbuhan dan kadar karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii di perairan Tanjung Batu, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian dilaksanakan selama 45 hari (13 Februari–30 Maret 2026) menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jarak dari garis pantai, yaitu P1 (30 m), P2 (40 m), dan P3 (50 m), masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), kadar karagenan, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak lokasi budidaya berpengaruh nyata (P0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan SGR rumput laut. Perlakuan P3 menghasilkan bobot mutlak tertinggi (426,3±104,5 g) dan SGR tertinggi (4,95±0,53%/hari), sedangkan P1 menghasilkan nilai terendah. Perbedaan pertumbuhan ini disebabkan oleh kondisi oseanografi yang lebih stabil di lokasi yang lebih jauh dari pantai, meliputi salinitas yang lebih homogen, kecerahan perairan yang lebih tinggi, serta minimnya beban nutrien berlebih. Sebaliknya, jarak Lokasi budidaya tidak berpengaruh nyata (P=0,251) terhadap kadar karagenan, dengan nilai berkisar 9,52%–11,32% pada semua perlakuan. Parameter kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran optimal bagi pertumbuhan K. alvarezii. Disarankan pembudidaya menerapkan jarak lokasi budidaya >40 m dari garis pantai untuk mengoptimalkan pertumbuhan rumput laut. Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, jarak lokasi budidaya, longline, pertumbuhan, karagenan THE EFFECT OF CULTIVATION DISTANCE USING THE L.ONGLINE METHOD ON THE GROWTH AND CARAGENANCONTENT OF SEAWEED (KAPPAPHYCUS ALVAREZII) Abstract The Effect of Culivation Sue Distance Usng the Longline Method on the Gromh and Carageenan Contenl of Seaweed (Kappaphycus alvarezu) This study amed lo analyze the efect of cullvation sile distance using the longline method on the growth and carrageenan content of Kappaphycus alvarezll seavecd in the waters off Tanyung Batu, Tarakan Ciy, Nortl Kalimantan The study was conducted over 4S days (13 February -30 March 2026) usung a Randomısed Block Desıgn (RBD)with three Iratmenis based on distance from the shoreline, namely PI (30 m), P2(40m), and P3 (50 m), each wih thre replicates The parameters observed included absolute weight growth, specific growth rate (SGR), carrageenan content, and water quality The results showed that the dıstance of the culivation sıte had a significant effecr (P005) on the absolute werght growth and SGR of the seaweed Treatment P3 yelded the highest absolute weigh (4263±1045 g) and the hıghes SGR (495±053%day), whılst PI yielded the lowest values These dıflerences in growth were attributed to more stable oceanographic conditions al sites further from the coast, ineluding more homogeneous salinity, higher water clarity, and minimal excess nutrient loading Conversely, the distance of the cultivation site had no sIgnificant effect (P=02S1) on carrageenan contenl, with values ranging from 952% 101132% across all reatmenls Waler qualiy paramelers hroughoul the study remained wthin the optimal range for the growth of K. alvarezii It was recommended that cultivators maintain a cultivation site distance of >40 m from the shorelıne to optimize seaveed growh Keywords Kappaphycus Alvarezii, Culivation Site Distance, Longline, Growth, Carragcenan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MODIFIKASI JUMLAH CINCIN PADA METODE LONG LINE BUDIDAYA Kappaphycus alvarezii DI TANJUNG BATU TARAKAN, KALIMANTAN UTARA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modifikasi jumlah cincin pada konstruksi long line terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, dan kandungan karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di perairan Tanjung Batu, Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jumlah cincin, yaitu P1 (1 cincin), P2 (3 cincin), dan P3 (5 cincin), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Bobot bibit awal disesuaikan dengan jumlah cincin, yaitu P1 = 15 g, P2 = 45 g, dan P3 = 75 g, dengan masa pemeliharaan selama 45 hari. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap tujuh hari sekali, sedangkan analisis karagenan dilakukan pada akhir masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cincin berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap bobot mutlak, SGR, dan kadar karagenan. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P2 dan P3 pada parameter bobot mutlak, serta ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain pada parameter SGR. Nilai SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 6,2%/hari, sedangkan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 sebesar 133 g. Kadar karagenan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar 2,67%, diikuti oleh P3 (2,53%) dan P1 (2,27%). Penggunaan tiga cincin direkomendasikan untuk memperoleh kualitas karagenan terbaik, sedangkan penggunaan lima cincin lebih sesuai untuk meningkatkan produksi biomassa. Kata kunci: Cincin; Karagenan; Kappaphycus alvarezii; Long Line;Pertumbuhan  Abstract This study aimed to evaluate the effect of modifying the number of rings in a long-line cultivation system on the specific growth rate (SGR), absolute weight gain, and carrageenan content of Kappaphycus alvarezii cultivated in the waters of Tanjung Batu, Tarakan, North Kalimantan. The experiment employed a Randomized Block Design (RBD) with three treatments: P1 (1 ring), P2 (3 rings), and P3 (5 rings), each replicated three times. Initial seed weights were adjusted according to the number of rings (P1 = 15 g, P2 = 45 g, and P3 = 75 g), and the cultivation period lasted 45 days. Growth parameters were observed every seven days, while carrageenan content was analyzed at the end of the cultivation period. The results showed that the number of rings had a significant effect (P 0.05) on absolute weight gain, SGR, and carrageenan content. Duncan’s multiple range test revealed that P1 differed significantly from P2 and P3 in absolute weight gain, while all three treatments differed significantly from one another in SGR. The highest SGR was recorded in P1 at 6.2% day⁻¹, whereas the greatest absolute weight gain was obtained in P3 at 133 g. The highest carrageenan content was found in P2 (2.67%), followed by P3 (2.53%) and P1 (2.27%). The use of three rings is recommended for achieving the best carrageenan quality, while five rings are more suitable for maximizing biomass production. Keywords: Carrageenan; Growth; Kappaphycus alvarezii; Long Line; Ring

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MODIFIKASI JUMLAH CINCIN PADA METODE LONG LINE BUDIDAYA Kappaphycus alvarezii DI TANJUNG BATU TARAKAN, KALIMANTAN UTARA

2026•

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modifikasi jumlah cincin pada konstruksi long line terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, dan kandungan karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di perairan Tanjung Batu, Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jumlah cincin, yaitu P1 (1 cincin), P2 (3 cincin), dan P3 (5 cincin), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Bobot bibit awal disesuaikan dengan jumlah cincin, yaitu P1 = 15 g, P2 = 45 g, dan P3 = 75 g, dengan masa pemeliharaan selama 45 hari. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap tujuh hari sekali, sedangkan analisis karagenan dilakukan pada akhir masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cincin berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap bobot mutlak, SGR, dan kadar karagenan. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P2 dan P3 pada parameter bobot mutlak, serta ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain pada parameter SGR. Nilai SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 6,2%/hari, sedangkan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 sebesar 133 g. Kadar karagenan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar 2,67%, diikuti oleh P3 (2,53%) dan P1 (2,27%). Penggunaan tiga cincin direkomendasikan untuk memperoleh kualitas karagenan terbaik, sedangkan penggunaan lima cincin lebih sesuai untuk meningkatkan produksi biomassa. Kata kunci: Cincin; Karagenan; Kappaphycus alvarezii; Long Line;Pertumbuhan  Abstract This study aimed to evaluate the effect of modifying the number of rings in a long-line cultivation system on the specific growth rate (SGR), absolute weight gain, and carrageenan content of Kappaphycus alvarezii cultivated in the waters of Tanjung Batu, Tarakan, North Kalimantan. The experiment employed a Randomized Block Design (RBD) with three treatments: P1 (1 ring), P2 (3 rings), and P3 (5 rings), each replicated three times. Initial seed weights were adjusted according to the number of rings (P1 = 15 g, P2 = 45 g, and P3 = 75 g), and the cultivation period lasted 45 days. Growth parameters were observed every seven days, while carrageenan content was analyzed at the end of the cultivation period. The results showed that the number of rings had a significant effect (P 0.05) on absolute weight gain, SGR, and carrageenan content. Duncan’s multiple range test revealed that P1 differed significantly from P2 and P3 in absolute weight gain, while all three treatments differed significantly from one another in SGR. The highest SGR was recorded in P1 at 6.2% day⁻¹, whereas the greatest absolute weight gain was obtained in P3 at 133 g. The highest carrageenan content was found in P2 (2.67%), followed by P3 (2.53%) and P1 (2.27%). The use of three rings is recommended for achieving the best carrageenan quality, while five rings are more suitable for maximizing biomass production. Keywords: Carrageenan; Growth; Kappaphycus alvarezii; Long Line; Ring

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK KARAGENAN DARI RUMPUT LAUT DAN HASIL SAMPING GARAM KAPPAPHYCUS ALVAREZII DI KOTA TARAKAN MENGGUNAKAN PELARUT KALIUM HIDROKSIDA (KOH)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hasil samping garam merupakan hasil samping dari proses pengolahan rumput laut menjadi garam, yang diduga masih mengandung senyawa karagenan yang bernilai ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karagenan yang dihasilkan dari hasil samping garam rumput laut Kappaphycus alvarezii yang berasal dari Kota Tarakan menggunakan pelarut KOH. Parameter yang dianalisis meliputi rendemen, kadar air, kadar sulfat, kadar abu, dan viskositas, yang kemudian dibandingkan dengan karakteristik karagenan dari rumput laut segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil samping garam masih mengandung karagenan dengan karakteristik yang baik . Rendemen karagenan dari garam adalah 26,94 ± 4,46%, sedangkan dari rumput laut segar sebesar 29,10 ± 10,24%. Kadar air karagenan dari hasil samping garam lebih rendah (5,66 ± 2,08%) dibandingkan rumput laut segar (7,33 ± 2,51%), sementara kadar sulfat dan kadar abu pada kedua sampel menunjukkan nilai yang relatif tinggi. Viskositas karagenan dari hasil samping garam adalah 5,9 ± 0,17 cP, sedangkan dari rumput laut segar adalah 8,7 ± 0,51 cP. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil samping garam Kappaphycus alvarezii masih berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku karagenan alternatif. Pemanfaatan limbah ini mendukung upaya pengolahan hasil perikanan yang efisien dan ramah lingkungan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

karakteristik fisikokima karagenan rumput laut merah (kappaphycus alvarezii) di Tanjung Batu Kalimantan Utara

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kappaphycus alvarezii merupakan jenis rumput laut merah yang banyak di budidayakan di Kalimantan Utara yang memiliki potensi besar dalam pengembangan produk hasil perikanan sebagai penghasil karagenan yang memiliki berbagai manfaat baik dibidang farmasi, kosmetik dan lain sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah mengarakterisasi mutu karagenan dari rumput laut merah (Kappaphycus alvarezii) di Kota Tarakan Kalimantan Utara. Metode ekstraksi menggunakan larutan KOH dengan konsentrasi 7% (b/v) kemudian di filtrasi untuk selanjutnya di keringkan dan di blender sampai jadi bubuk keragenan. Hasil penelitian menunjukan bahwa uji organoleptik /sensori pada rumput laut (K. alarezii) yaitu pada Kenampakan 7,27 ± 1,55, Bau 6 ± 2,4, Tekstur 8 ± 1,00, nilai rendemen pada penelitian ini yaitu sebesar 19,86%, Nilai kadar air pada penelitian ini sebesar 5,67%, Nilai kadar abu pada penelitian ini yaitu 55,67%, Pada penelitian ini nilai viskositas menghasilkan 22,67 cPs, Nilai kekuatan gel pada penelitian ini yaitu 180,071 g/cm2. Uji Organoleptik parameter bau tidak memenuhi standar SNI, namun pada parameter kenampakan dan tekstur telah memenuhi standar SNI. Rendemen dan kadar abu belum memenuhi standar, namun pada uji kadar air, viskositas dan kekuatan gel telah memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh FAO dan SNI

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

pengaruh proses ekstraksi KOH dan penambahan NaCl terhadap struktur kappa karagenan dari Kappaphycus alvarezii

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH PROSES EKSTRAKSI KOH DAN PENAMBAHAN NACL TERHADAP STRUKTUR KAPPA KARAGENAN DARI Kappaphycus alvarezii Abstrak Pengolahan rumput laut di Tarakan masih dalam berbentuk kering sehingga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan inovasi dan hirisasi produk akhir dari rumput laut seperti pembuatan tepung karagenan. Tepung karagenan yang dihasilkan melalui proses ektraksi memiliki berbagai manfaat dalam bidang industri makanan, obat-obatan dan kosmetik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh konsentrasi KOH terhadap presentasi rendemen yang dihasilkan dari rumput laut Kappaphycus alvarezii, mengidentifikasi ekstraksi KOH dan penambahan NaCl terhadap sifat fisik karagenan. Metode penelitian ini dibagi beberapa tahap yakni tahap pertama preparasi sampel, tahap kedua ekstraksi KOH menggunakan konsentrasi KOH 0,1N, 0,3N, 0,5N dan tahap ketiga penepungan. Pengujian yang diamati meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, serat kasar, viskositas dan FTIR. Hasil pengujian karagenan dengan konsentrasi KOH 0,1N menghasilkan rendemen 23,6%, kadar air 6%, kadar abu 15%, serat kasar 20%, dan viskositas 8,00cP. Hasil pengujian karagenan dengan konsentrasi KOH 0,3N menghasilkan rendemen 41,6%, kadar air 6%, kadar abu 10%, serat kasar 30% dan viskositas 29,00cP. Hasil pengujian karagenan dengan konsentrasi KOH 0,5N menghasilkan rendemen 65%, kadar air 5%, kadar abu 12%, serat kasar 28% dan viskositas 32,00cP. Hasil pengujian Karagenan dengan konsentrasi NaCl 0,1N menghasilkan kadar air 6%, kadar abu 37%, serat kasar 5% dan viskositas 2,00cP. Hasil pengujian dengan konsentrasi NaCl 0,3N menghasilkan kadar air 5%, kadar abu 42%, serat kasar 11% dan viskositas 4,00cP. Hasil pengujian dengan konsentrasi NaCl 0,5N menghasilkan kadar air 4%, kadar abu 51%, serat kasar 3%, dan viskositas 3,5cP. Serapan FTIR konsentrasi KOH menghasilkan 847,5 cm-1 dan konsentrasi NaCl menghasilkan 848,5 cm-1.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail