Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Sulfat
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Ekstraksi Pektin dari Kulit Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) Menggunakan Dua Pelarut Asam yang Berbeda

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kulit buah pedada merupakan limbah biomassa yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pektin alternatif. Kualitas pektin dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan dalam ekstraksi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penggunaan dua jenis pelarut asam, yaitu asam sulfat dan asam oksalat, terhadap kualitas pektin yang diekstraksi dari kulit buah pedada. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu preparasi sampel, ekstraksi pektin menggunakan asam sulfat sebagai perlakuan A dan asam oksalat sebagai perlakuan B, serta analisis kualitas pektin. Parameter yang diamati meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, berat ekivalen, kadar metoksil, kadar asam galakturonat, dan derajat esterifikasi. Data dianalisis menggunakan uji Independent-samples T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pelarut berpengaruh signifikan terhadap rendemen, kadar air, kadar abu, berat ekivalen, kadar metoksil, dan derajat esterifikasi pektin (p>0,05), tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar asam galakturonat (p>0,05). Ekstraksi menggunakan asam sulfat menghasilkan rendemen pektin yang lebih tinggi, yaitu 6,53 ± 0,04%, dibandingkan dengan ekstraksi menggunakan asam oksalat. Namun, pektin yang diekstraksi menggunakan asam oksalat menunjukkan kualitas yang lebih baik, dengan kadar air sebesar 15,17 ± 0,19%, kadar abu sebesar 3,51 ± 0,15%, berat ekivalen sebesar 333,58 ± 11,13 mg, kadar metoksil sebesar 22,32 ± 0,31%, kadar asam galakturonat sebesar 169,22 ± 0,47%, dan derajat esterifikasi sebesar 70,59 ± 0,87%. Dengan demikian, asam sulfat lebih efektif dalam meningkatkan rendemen pektin, sedangkan asam oksalat berpotensi digunakan sebagai pelarut alternatif untuk menghasilkan pektin kulit buah pedada dengan kualitas yang lebih baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK KARAGENAN DARI RUMPUT LAUT DAN HASIL SAMPING GARAM KAPPAPHYCUS ALVAREZII DI KOTA TARAKAN MENGGUNAKAN PELARUT KALIUM HIDROKSIDA (KOH)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hasil samping garam merupakan hasil samping dari proses pengolahan rumput laut menjadi garam, yang diduga masih mengandung senyawa karagenan yang bernilai ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karagenan yang dihasilkan dari hasil samping garam rumput laut Kappaphycus alvarezii yang berasal dari Kota Tarakan menggunakan pelarut KOH. Parameter yang dianalisis meliputi rendemen, kadar air, kadar sulfat, kadar abu, dan viskositas, yang kemudian dibandingkan dengan karakteristik karagenan dari rumput laut segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil samping garam masih mengandung karagenan dengan karakteristik yang baik . Rendemen karagenan dari garam adalah 26,94 ± 4,46%, sedangkan dari rumput laut segar sebesar 29,10 ± 10,24%. Kadar air karagenan dari hasil samping garam lebih rendah (5,66 ± 2,08%) dibandingkan rumput laut segar (7,33 ± 2,51%), sementara kadar sulfat dan kadar abu pada kedua sampel menunjukkan nilai yang relatif tinggi. Viskositas karagenan dari hasil samping garam adalah 5,9 ± 0,17 cP, sedangkan dari rumput laut segar adalah 8,7 ± 0,51 cP. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil samping garam Kappaphycus alvarezii masih berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku karagenan alternatif. Pemanfaatan limbah ini mendukung upaya pengolahan hasil perikanan yang efisien dan ramah lingkungan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakteristik karagenan dari bahan baku dan hasil samping pengolahan garam rumput laut kappaphycus alvarezii yang berasal dari pulau nunukan

2025•

Pulau Nunukan memiliki potensi besar dalam budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii, yang merupakan sumber utama karagenan. Selain itu, rumput laut jenis ini mengandung natrium dan kalium yang dapat dimanfaatkan dalam pengolahan garam, dengan hasil samping yang diduga masih menyisakan kandungan karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik karagenan dari bahan baku dan hasil samping pengolahan garam rumput laut Kappaphycus alvarezii yang berasal dari Pulau Nunukan menggunakan pelarut KOH. Parameter uji meliputi kadar air, kadar abu, kadar sulfat, dan viskositas. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karagenan dari bahan baku Kappaphycus alvarezii menghasilkan kadar air sebesar 12,67±0,58%, kadar abu sebesar 40,67±2,08%, kadar sulfat sebesar 1,74±0,47%, dan viskositas sebesar 6,90±0,6cP. Sementara itu, karagenan dari hasil samping pengolahan garam rumput laut Kappaphycus alvarezii menghasikan kadar air sebesar 3,33±2,31%, kadar abu sebesar 38,67±10,69%, kadar sulfat sebesar 2,99±0,30%, dan viskositas sebesar 6,10±0,17cP. Secara keseluruhan, karagenan dari bahan baku dan hasil samping pengolahan garam rumput laut Kappaphycus alvarezii telah memenuhi persyaratan mutu SNI 8391-1: 2017 pada parameter kadar abu dan viskositas.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail