Abstrak
Kulit buah pedada merupakan limbah biomassa yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pektin alternatif. Kualitas pektin dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan dalam ekstraksi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penggunaan dua jenis pelarut asam, yaitu asam sulfat dan asam oksalat, terhadap kualitas pektin yang diekstraksi dari kulit buah pedada. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu preparasi sampel, ekstraksi pektin menggunakan asam sulfat sebagai perlakuan A dan asam oksalat sebagai perlakuan B, serta analisis kualitas pektin. Parameter yang diamati meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, berat ekivalen, kadar metoksil, kadar asam galakturonat, dan derajat esterifikasi. Data dianalisis menggunakan uji Independent-samples T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pelarut berpengaruh signifikan terhadap rendemen, kadar air, kadar abu, berat ekivalen, kadar metoksil, dan derajat esterifikasi pektin (p>0,05), tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar asam galakturonat (p>0,05). Ekstraksi menggunakan asam sulfat menghasilkan rendemen pektin yang lebih tinggi, yaitu 6,53 ± 0,04%, dibandingkan dengan ekstraksi menggunakan asam oksalat. Namun, pektin yang diekstraksi menggunakan asam oksalat menunjukkan kualitas yang lebih baik, dengan kadar air sebesar 15,17 ± 0,19%, kadar abu sebesar 3,51 ± 0,15%, berat ekivalen sebesar 333,58 ± 11,13 mg, kadar metoksil sebesar 22,32 ± 0,31%, kadar asam galakturonat sebesar 169,22 ± 0,47%, dan derajat esterifikasi sebesar 70,59 ± 0,87%. Dengan demikian, asam sulfat lebih efektif dalam meningkatkan rendemen pektin, sedangkan asam oksalat berpotensi digunakan sebagai pelarut alternatif untuk menghasilkan pektin kulit buah pedada dengan kualitas yang lebih baik.