Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

11 hasil
Subjek: FTIR
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Konsentrasi Pengikat Silang Asam Sitrat Terhadap Swelling Ratio Hidrogel Berbasis α-Selulosa Dari Pelepah Nipah (Nypa Fruticans)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hidrogel merupakan material polimer tiga dimensi yang mampu menyerap dan mempertahankan air dalam jumlah besar. Sintesis hidrogel berbasis α-selulosa memerlukan agen pengikat silang, salah satunya asam sitrat yang bersifat aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konsentrasi asam sitrat sebagai pengikat silang terhadap swelling ratio hidrogel berbasis α-selulosa dari pelepah nipah (Nypa fruticans). α-Selulosa diisolasi melalui delignifikasi menggunakan NaOH 10% dan pemutihan menggunakan H₂O₂ 30%, kemudian disintesis menjadi hidrogel dengan penambahan CMC menggunakan variasi konsentrasi pengikat silang asam sitrat sebesar 0%, 10%, 20%, dan 30% (b/v). Identifikasi gugus fungsi α-selulosa menggunakan FTIR dan dianalisis secara deskriptif, sedangkan kemampuan penyerapan air dievaluasi melalui uji swelling ratio dan dianalisis menggunakan One-Way ANOVA. Hasil analisis FTIR menunjukkan adanya pita serapan khas selulosa pada α-selulosa pelepah nipah, serta ketiadaan pita karbonil dan aromatik yang mengindikasikan keberhasilan proses isolasi α-selulosa. Hasil uji swelling ratio menunjukkan bahwa konsentrasi asam sitrat berpengaruh nyata terhadap kemampuan penyerapan air hidrogel (sig. 0,05), dengan nilai tertinggi diperoleh pada konsentrasi asam sitrat 20%, yaitu sebesar 592,66%. Dengan demikian, asam sitrat 20% merupakan konsentrasi pengikat silang terbaik untuk menghasilkan hidrogel berbasis α-selulosa pelepah nipah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EKSTRAKSI SELULOSA DARI RUMPUT LAUT (Chaetomorpha sp.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT DELIGNIFIKASI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik selulosa hasil ekstraksi dari rumput laut Chaetomorpha sp. dengan variasi konsentrasi NaOH sebagai pelarut delignifikasi. Rumput laut Chaetomorpha sp. memiliki potensi sebagai sumber selulosa alami karena mengandung komponen serat yang cukup tinggi, namun pemanfaatannya masih belum optimal. Ekstraksi dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pencucian, depigmentasi menggunakan NaOCl, delignifikasi dengan NaOH pada konsentrasi 0,5 M, 1 M, dan 1,5 M, serta depolimerisasi menggunakan HCl. Karakterisasi selulosa dilakukan melalui pengujian rendemen, kadar selulosa, kadar lignin, kadar hemiselulosa, X-Ray Diffraction (XRD), dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen tertinggi diperoleh pada konsentrasi NaOH 0,5 M sebesar 27,5%, sedangkan kadar selulosa tertinggi diperoleh pada konsentrasi NaOH 1 M sebesar 67,5%. Kandungan lignin terendah juga terdapat pada konsentrasi NaOH 1 M sebesar 20%, sedangkan kadar hemiselulosa meningkat seiring bertambahnya konsentrasi NaOH. Analisis XRD menunjukkan indeks kristalinitas selulosa sebesar 61,48% dengan ukuran kristalit 1482,693 nm, sedangkan analisis FTIR memperlihatkan gugus fungsi khas selulosa pada bilangan gelombang 3390 cm-1, 2903 cm-1, 1666 cm-1, 1412 cm-1, 1042 cm-1, dan 608 cm-1. Berdasarkan hasil tersebut, konsentrasi NaOH 1 M dapat dikatakan sebagai kondisi paling optimal untuk menghasilkan selulosa dari Chaetomorpha sp. dengan karakteristik yang baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EKSTRAKSI SELULOSA DARI RUMPUT LAUT (Chaetomorpha sp.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT DELIGNIFIKASI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik selulosa hasil ekstraksi dari rumput laut Chaetomorpha sp. dengan variasi konsentrasi NaOH sebagai pelarut delignifikasi. Rumput laut Chaetomorpha sp. memiliki potensi sebagai sumber selulosa alami karena mengandung komponen serat yang cukup tinggi, namun pemanfaatannya masih belum optimal. Ekstraksi dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pencucian, depigmentasi menggunakan NaOCl, delignifikasi dengan NaOH pada konsentrasi 0,5 M, 1 M, dan 1,5 M, serta depolimerisasi menggunakan HCl. Karakterisasi selulosa dilakukan melalui pengujian rendemen, kadar selulosa, kadar lignin, kadar hemiselulosa, X-Ray Diffraction (XRD), dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen tertinggi diperoleh pada konsentrasi NaOH 0,5 M sebesar 27,5%, sedangkan kadar selulosa tertinggi diperoleh pada konsentrasi NaOH 1 M sebesar 67,5%. Kandungan lignin terendah juga terdapat pada konsentrasi NaOH 1 M sebesar 20%, sedangkan kadar hemiselulosa meningkat seiring bertambahnya konsentrasi NaOH. Analisis XRD menunjukkan indeks kristalinitas selulosa sebesar 61,48% dengan ukuran kristalit 1482,693 nm, sedangkan analisis FTIR memperlihatkan gugus fungsi khas selulosa pada bilangan gelombang 3390 cm-1, 2903 cm-1, 1666 cm-1, 1412 cm-1, 1042 cm-1, dan 608 cm-1. Berdasarkan hasil tersebut, konsentrasi NaOH 1 M dapat dikatakan sebagai kondisi paling optimal untuk menghasilkan selulosa dari Chaetomorpha sp. dengan karakteristik yang baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI BIOPLASTIK BERBAHAN DASAR KARAGINAN DENGAN PLASTICIZER GLISEROL

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI BIOPLASTIK BERBAHAN DASAR KARAGINAN DENGAN PLASTICIZER GLISEROL Abstrak Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan komoditas perikanan potensial yang terus dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi tinggi serta ketersediaan bahan baku yang melimpah. Selain bersifat terbarukan dan mudah dibudidayakan dengan waktu panen relatif singkat, rumput laut ini juga kaya akan polimer alami berupa senyawa polisakarida. Karakteristik tersebut menjadikan K. alvarezii berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif dalam pengembangan bioplastik ramah lingkungan. Salah satu produk olahan rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah karaginan, yaitu senyawa hidrokoloid yang diperoleh melalui proses ekstraksi menggunakan air atau pelarut pada suhu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik bioplastik berbasis karaginan dengan penambahan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dan gliserol sebagai bahan pemlastis. Tahapan penelitian meliputi proses sintesis bioplastik serta pengujian sifat fisik dan mekanik, yang mencakup uji kuat tarik, uji perpanjangan, uji kelarutan, uji biodegradabilitas, pengukuran ketebalan, dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioplastik berbahan dasar karaginan dengan penambahan gliserol dan CMC berhasil dibuat. Ketebalan bioplastik yang dihasilkan telah memenuhi standar JIS ( 0,25 mm), dengan nilai ketebalan tertinggi sebesar 0,16 mm pada konsentrasi gliserol 2,5%. Nilai kuat tarik yang diperoleh sebesar 3,21 MPa belum memenuhi standar JIS (> 3,92 MPa) maupun SNI bioplastik (24,7–302 MPa). Namun, nilai perpanjangan mencapai 149,79%, sehingga telah memenuhi persyaratan standar SNI bioplastik (> 50%) dan JIS (21– 220%). Nilai kelarutan bioplastik berada pada kisaran 52,88% hingga 97,99%, sedangkan hasil pengujian biodegradabilitas menunjukkan bahwa bioplastik mengalami degradasi secara sempurna pada hari ketiga.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Aktivitas Antibakteri Kitosan Dari Kulit Udang Mantis ( Stomatopoda) terhadap Bakteri Vibrio parahaemolyticus

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kulit udang mantis merupakan limbah hasil perikanan yang dapat dijadikan sebagai bahan baku kitosan. Kitosan merupakan biopolimer hasil deasetilasi kitin yang bersifat biokompatibel, dapat terurai secara alami, tidak beracun dan memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi terbaik kitosan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penelitian ini dilakukan dengan cara deskriptif untuk analisis mutu kitosan dan aktivitas antibakteri pada faktor yaitu penambahan kitosan pada taraf 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1%. Dalam penelitian ini digunakan asam asetat sebagai kontrol negatif dan ampisilin sebagai kontrol positif. Hasil analisis menunjukkan bahwa derajat deasetilasi kitosan mencapai 76%, sesuai dengan ketentuan SNI No. 7949 Tahun 2013 serta standar dari Protan Laboratory. Morfologi kitosan memperlihatkan bentuk tidak teratur, bergelombang, dan berpori serta mengandung beberapa unsur yaitu C, O, Ca, dan AI. Uji aktivitas antibakteri kitosan terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus pada variasi konsentrasi 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1% menghasilkan diameter zona hambat berturut-turut sebesar 0,5 mm, 1 mm, 1 mm, 4 mm, 9,6 mm, dan 2,2 mm. Konsentrasi 1% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolitycus. Aktivitas kitosan pada penelitian ini termasuk dalam kategori lemah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK GELEMBUNG RENANG IKAN ALU-ALU (Sphyraena jello) DAN KOLAGEN YANG DIHASILKAN MELALUI EKSTRAKSI Acid Soluble Collagen (ASC)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kolagen merupakan protein jaringan ikat silang yang tersusun oleh asam amino glisina, prolin dan hidroksiprolin yang banyak berada di kulit, tulang, sisik dan gelembung renang ikan. Gelembung renang diketahui memiliki kandungan kolagen yang cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengarakterisasi sifat fisiokimia gelembung renang ikan alu-alu (Sphyraena jello) dan kolagen yang dihasilkan melalui ekstraksi Acid Soluble Collagen (ASC). Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu preparasi sampel gelembung renang ikan alu-alu. Pre-treatment menggunakan NaOH 0,1M dan ekstraksi kolagen menggunakan asam asetat 0,50 M dengan rasio sampel dan larutan (1:10 b/v). Parameter yang dianalisis meliputi penentuan proporsi gelembung renang dari ikan alu-alu yang digunakan dan komposisi kimianya, penghitungan rendemen, nilai pH, pengujian FTIR dan analisis asam amino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelembung renang ikan alu-alu memiliki proporsi 1,06%, kadar protein 30,76±0,13. Rendemen kolagen yang diperoleh sebesar 6,67±0,30% dengan nilai pH 6,8±0,10. Kolagen gelembung renang ikan alu-alu menghasilkan karakteristik gugus amida (A, B, I, II, III) dan asam amino penciri glisin 10,78 mg/g, prolin 4,92 mg/g, alanin 4,60 mg/g. Gelembung renang ikan alu-alu terbukti memiliki potensi dijadikan sebagai sumber alternatif kolagen dari hasil perikanan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AKTIVITAS ANTIBAKTERI NANOPARTIKEL KITOSAN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis PENYEBAB JERAWAT

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Cangkang kepiting bakau merupakan limbah hasil perikanan yang dapat dijadikan sebagai bahan baku kitosan. Kitosan memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antibakteri penyebab jerawat. Kitosan dilakukan modifikasi ukuran menjadi nanopartikel. Nanopartikel kitosan memiliki kemampuan adsorpsi yang lebih baik dikarenakan memiliki permukaan yang spesifik dan ukurannya yang lebih kecil. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mutu kitosan cangkang kepiting bakau yang digunakan, mendapatkan ukuran nanopartikel dan menentukan konsentrasi terbaik nanopartikel kitosan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus. aureus dan Staphylococcus epidermidis penyebab jerawat. Metode penelitian ini dengan cara deskriptif untuk analisis mutu kitosan dan aktvitas antibakteri menggunakan analysis of variant pada selang kepercayaan 95% dengan satu faktor yaitu penambahan kitosan pada taraf 0,20%; 0,25%; 0,50%; 1%; dan 1,25%. Asam asetat sebagai kontrol negatif dan Ampisilin sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan nilai derajat deasetilasi kitosan sebesar 76% sesuai dengan standar SNI No.7949 Tahun 2013 dan Protan Laboratory. Ukuran nanopartikel kitosan diuji dengan Particle Size Analyzer dan didapatkam hasil sebesar 47,04 nm. Aktivitas antibakteri nanopartikel kitosan dalam menghambat bakteri S. aureus dan S. epidermidis pada kosentrasi 0,20%, 0,25% , 0,50%, 1%, dan 1,25% menghasilkan zona hambat sebesar 16±1,41mm, 18±0mm, 19,5±0,7mm, 13±0mm, 9,5±0,7mm, dan 15,5±0,7mm, 19±4,24mm, 31±1,41mm, 13±1,41mm, 12±1,41mm. Konsentrasi 0,50% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan S. epidermidis. Aktivitas nanopartikel kitosan pada penelitian ini termasuk dalam katogori sedang hingga kuat.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi Laju Korosi Pada Material Stainless - 304 Di Lingkungan Asam Klorida Dengan Penambahan Inhibitor Estrak Kulit Buah Manggis

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kulit buah manggis mengandung senyawa tanin yang cukup besar sehingga berpotensi sebagai inhibitor organik yang dapat mengahambat laju korosi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan inhibitor ekstrak kulit buah manggis terhadap laju korosi, dan untuk mengetahui efisiensi inhibitor ekstrak kulit buah manggis terhadap laju korosi pada material baja stainless steel - 304. Penelitian ini menggunakan metode pengujian laju korosi dan pengujian FTIR untuk mengetahui jenis senyawa yang terdapat pada inhibitor estrak kulit buah manggis dan spesimen stainless steel – 304. Penelitian ini menghasilkan nilai laju korosi pada perendaman selama 30 hari yaitu 130,256 mpy tanpa inhibitor, 121,690 mpy dengan penambahan inhibitor sebanyak 200 ppm dan 137,012 mpy dengan penambahan inhibitor sebanyak 400 ppm. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh nilai efisiensi sebesar 6,576% dan (-5,187) %. Pada pengujian FTIR inhibitor estrak kulit buah manggis menghasilkan jenis senyawa utama yaitu senyawa 𝐻𝑦𝑑𝑟𝑜𝑥𝑖𝑑𝑒, senyawa 𝑀𝑒𝑡ℎ𝑦𝑙, senyawa 𝛽−𝑎𝑚𝑖𝑛𝑜 𝑘𝑒𝑡𝑜𝑛𝑒𝑠 dan senyawa yang cukup lemah yaitu 𝑆𝑎𝑡𝑢𝑟𝑒𝑑 𝑎𝑐𝑖𝑑 𝑐ℎ𝑙𝑜𝑟𝑖𝑑𝑒𝑠 sedangkan pada spesimen stainless steel – 304 menghasilkan jenis senyawa utama yaitu senyawa 𝐻𝑦𝑑𝑟𝑜𝑥𝑖𝑑𝑒, senyawa 𝐶𝑎𝑟𝑏𝑜𝑥𝑙𝑖𝑒 𝑎𝑐𝑖𝑑, dan senyawa Cyano and nitrile complexes.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakteristik Nanopartikel Kitosan Cangkang Kepiting Bakau (Scylla sp) dengan Asam Format Menggunakan Metode Gelasi Ionik

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Limbah cangkang kepiting bakau memiliki potensi sebagai bahan baku untuk pembuatan nanopartikel kitosan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mutu kitosan cangkang kepiting bakau (Scylla sp.) melalui analisis kadar air, abu, nitrogen total, derajat deasetilasi dan morfologinya serta mendapatkan karakteristik nanopartikel kitosan melalui analisis Particle Size Analyzer (PSA) dan Scanning Electron Microscope Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa rendemen kitosan cangkang kepiting bakau (Scylla sp.) sebesar 11,56%. Mutu kitosan menunjukkan nilai kadar air 0,14%, kadar abu 0,01% nitrogen total 0,77%. Derajat Deasetilasi yang diperoleh sebesar 76% sesuai dengan SNI No.7949 Tahun 2013, Protan Laboratory. Hasil karakterisasi nanopartikel kitosan dengan analisis Particle Size Analyzer menghasilkan ukuran sebesar 35,20 nm, dengan Polidispersity Indeks (PI) 0,274 dan intensitas 13,54 nm. Morfologi kitosan dan nanopartikel kitosan berbentuk tidak seragam (amorf).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KITOSAN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis PENYEBAB JERAWAT

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Cangkang kepiting bakau merupakan limbah hasil perikanan yang dapat dijadikan sebagai bahan baku kitosan. Kitosan memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antibakteri penyebab jerawat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mutu kitosan dari cangkang kepiting bakau melalui analisis Fourier Transform InfraRed (FTIR) dan Scanning Electron Microscope Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX) serta mendapatkan konsentrasi terbaik kitosan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis penyebab jerawat. Metode penelitian ini dengan cara deskriptif untuk analisis mutu kitosan dan aktvitas antibakteri menggunakan analysis of variant pada selang kepercayaan 95% dengan satu faktor yaitu penambahan kitosan pada taraf 0,25%; 0,5%; 0,75%; dan 1%. Asam asetat sebagai kontrol negatif dan Ampisilin sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan nilai derajat deasetilasi sebesar 76% sesuai dengan standar SNI No.7949 Tahun 2013 dan Protan Laboratory. Morfologi kitosan memperlihatkan bentuk tidak teratur, bergelombang, dan berpori serta mengandung beberapa unsur yaitu C,O,Ca,dan Al. Aktiviras antibakteri kitosan dalam menghambat bakteri S. aureus dan S. epidermidis pada kosentrasi 0,25%, 0,5% , 0,75%, dan 1% menghasilkan zona hambat sebesar 9,5±0,71mm, 10±0mm, 11±0mm, 13,5±0,71mm dan 9±0mm, 10±0mm, 11±0mm, 12,5±0,71mm. Konsentrasi 1% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan S. epidermidis. Aktivitas kitosan pada penelitian ini termasuk dalam katogori sedang hingga kuat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK KITOSAN DARI LIMBAH CANGKANG KEPITING BAKAU (Scylla sp) DENGAN PERLAKUAN DEMINERALISASI YANG BERBEDA

2022•

Limbah cangkang kepiting bakau hasil budidaya kepiting soka yang menumpuk mengakibatkan pencemaran lingkungan. Salah satu cara tepat guna dalam penanganan limbah adalah mengolah cangkang kepiting bakau menjadi kitosan. Penelitian terkait modifikasi pada tahap demineralisasi perlu dilakukan karena kepiting bakau mengandung mineral yang sangat tinggi sehingga akan mempengaruhi karakteristik mutu kitosan yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan karakteristik mutu kitosan dari limbah cangkang kepiting bakau (Scylla sp) pada perlakuan tahap demineralisasi yang berbeda melalui analisis rendemen, kadar air, kadar abu, nitrogen total, Fourier Transform InfraRed (FTIR) dan derajat deasetilasi (DD). Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menujukkan nilai rendemen kitosan a(1:10) 29,69% lebih tinggi dari pada kitosan b(1:15) 4.66%. Nilai kadar air, abu, nitrogen total kitosan a(0,30%, 1,08%, 1,68%) lebih tinggi dari kitosan b(0,14%, 0,98%, 1,43%), namun keduanya sesuai dengan standar Protan Laboratory 1987, EFSA 2010, dan SNI No. 7949-2013. Hasil FTIR mengkonfirmasi kitosan standar dan kitosan hasil penelitian menunjukkan range serapan yang dekat sehingga tidak terlihat perbedaan signifikan. Derajat deasetilasi pada kitosan a(47%) belum memenuhi standar, sedangkan kitosan b(76%) sesuai dengan standar Protan Laboratory 1987 dan SNI No. 7949-2013 (≥76%) namun belum memenuhi standar EFSA 2010. Perlakuan demineralisasi yang berbeda berpengaruh terhadap karakteristik mutu kitosan cangkang kepiting bakau yang dihasilkan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail