ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Limbah cangkang kepiting bakau memiliki potensi sebagai bahan baku untuk pembuatan nanopartikel kitosan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mutu kitosan cangkang kepiting bakau (Scylla sp.) melalui analisis kadar air, abu, nitrogen total, derajat deasetilasi dan morfologinya serta mendapatkan karakteristik nanopartikel kitosan melalui analisis Particle Size Analyzer (PSA) dan Scanning Electron Microscope Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa rendemen kitosan cangkang kepiting bakau (Scylla sp.) sebesar 11,56%. Mutu kitosan menunjukkan nilai kadar air 0,14%, kadar abu 0,01% nitrogen total 0,77%. Derajat Deasetilasi yang diperoleh sebesar 76% sesuai dengan SNI No.7949 Tahun 2013, Protan Laboratory. Hasil karakterisasi nanopartikel kitosan dengan analisis Particle Size Analyzer menghasilkan ukuran sebesar 35,20 nm, dengan Polidispersity Indeks (PI) 0,274 dan intensitas 13,54 nm. Morfologi kitosan dan nanopartikel kitosan berbentuk tidak seragam (amorf).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Limbah cangkang kepiting bakau hasil budidaya kepiting soka yang menumpuk mengakibatkan pencemaran lingkungan. Salah satu cara tepat guna dalam penanganan limbah adalah mengolah cangkang kepiting bakau menjadi kitosan. Penelitian terkait modifikasi pada tahap demineralisasi perlu dilakukan karena kepiting bakau mengandung mineral yang sangat tinggi sehingga akan mempengaruhi karakteristik mutu kitosan yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan karakteristik mutu kitosan dari limbah cangkang kepiting bakau (Scylla sp) pada perlakuan tahap demineralisasi yang berbeda melalui analisis rendemen, kadar air, kadar abu, nitrogen total, Fourier Transform InfraRed (FTIR) dan derajat deasetilasi (DD). Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menujukkan nilai rendemen kitosan a(1:10) 29,69% lebih tinggi dari pada kitosan b(1:15) 4.66%. Nilai kadar air, abu, nitrogen total kitosan a(0,30%, 1,08%, 1,68%) lebih tinggi dari kitosan b(0,14%, 0,98%, 1,43%), namun keduanya sesuai dengan standar Protan Laboratory 1987, EFSA 2010, dan SNI No. 7949-2013. Hasil FTIR mengkonfirmasi kitosan standar dan kitosan hasil penelitian menunjukkan range serapan yang dekat sehingga tidak terlihat perbedaan signifikan. Derajat deasetilasi pada kitosan a(47%) belum memenuhi standar, sedangkan kitosan b(76%) sesuai dengan standar Protan Laboratory 1987 dan SNI No. 7949-2013 (≥76%) namun belum memenuhi standar EFSA 2010. Perlakuan demineralisasi yang berbeda berpengaruh terhadap karakteristik mutu kitosan cangkang kepiting bakau yang dihasilkan.