ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik selulosa hasil ekstraksi dari rumput laut Chaetomorpha sp. dengan variasi konsentrasi NaOH sebagai pelarut delignifikasi. Rumput laut Chaetomorpha sp. memiliki potensi sebagai sumber selulosa alami karena mengandung komponen serat yang cukup tinggi, namun pemanfaatannya masih belum optimal. Ekstraksi dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pencucian, depigmentasi menggunakan NaOCl, delignifikasi dengan NaOH pada konsentrasi 0,5 M, 1 M, dan 1,5 M, serta depolimerisasi menggunakan HCl. Karakterisasi selulosa dilakukan melalui pengujian rendemen, kadar selulosa, kadar lignin, kadar hemiselulosa, X-Ray Diffraction (XRD), dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen tertinggi diperoleh pada konsentrasi NaOH 0,5 M sebesar 27,5%, sedangkan kadar selulosa tertinggi diperoleh pada konsentrasi NaOH 1 M sebesar 67,5%. Kandungan lignin terendah juga terdapat pada konsentrasi NaOH 1 M sebesar 20%, sedangkan kadar hemiselulosa meningkat seiring bertambahnya konsentrasi NaOH. Analisis XRD menunjukkan indeks kristalinitas selulosa sebesar 61,48% dengan ukuran kristalit 1482,693 nm, sedangkan analisis FTIR memperlihatkan gugus fungsi khas selulosa pada bilangan gelombang 3390 cm-1, 2903 cm-1, 1666 cm-1, 1412 cm-1, 1042 cm-1, dan 608 cm-1. Berdasarkan hasil tersebut, konsentrasi NaOH 1 M dapat dikatakan sebagai kondisi paling optimal untuk menghasilkan selulosa dari Chaetomorpha sp. dengan karakteristik yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik selulosa hasil ekstraksi dari rumput laut Chaetomorpha sp. dengan variasi konsentrasi NaOH sebagai pelarut delignifikasi. Rumput laut Chaetomorpha sp. memiliki potensi sebagai sumber selulosa alami karena mengandung komponen serat yang cukup tinggi, namun pemanfaatannya masih belum optimal. Ekstraksi dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pencucian, depigmentasi menggunakan NaOCl, delignifikasi dengan NaOH pada konsentrasi 0,5 M, 1 M, dan 1,5 M, serta depolimerisasi menggunakan HCl. Karakterisasi selulosa dilakukan melalui pengujian rendemen, kadar selulosa, kadar lignin, kadar hemiselulosa, X-Ray Diffraction (XRD), dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen tertinggi diperoleh pada konsentrasi NaOH 0,5 M sebesar 27,5%, sedangkan kadar selulosa tertinggi diperoleh pada konsentrasi NaOH 1 M sebesar 67,5%. Kandungan lignin terendah juga terdapat pada konsentrasi NaOH 1 M sebesar 20%, sedangkan kadar hemiselulosa meningkat seiring bertambahnya konsentrasi NaOH. Analisis XRD menunjukkan indeks kristalinitas selulosa sebesar 61,48% dengan ukuran kristalit 1482,693 nm, sedangkan analisis FTIR memperlihatkan gugus fungsi khas selulosa pada bilangan gelombang 3390 cm-1, 2903 cm-1, 1666 cm-1, 1412 cm-1, 1042 cm-1, dan 608 cm-1. Berdasarkan hasil tersebut, konsentrasi NaOH 1 M dapat dikatakan sebagai kondisi paling optimal untuk menghasilkan selulosa dari Chaetomorpha sp. dengan karakteristik yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Beras merupakan komoditas pangan strategis yang kualitasnya sangat dipengaruhi oleh proses pengeringan pada tahap pascapanen. Pengeringan secara konvensional masih banyak digunakan, namun sangat bergantung pada kondisi cuaca sehingga sering menghasilkan kadar air yang kurang seragam dan berpotensi menurunkan mutu beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mesin pengering tipe Vertical Dryer terhadap kualitas beras di Pabrik Beras CV. Sahi Jaya Mandiri, Desa Sajau Hilir, Kabupaten Bulungan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu metode pengeringan yang terdiri atas pengeringan menggunakan Vertical Dryer, sinar matahari, dan kering angin. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak sembilan kali sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar karbohidrat, rendemen beras, persentase beras kepala, persentase beras patah, warna beras, dan benda asing. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa metode pengeringan berpengaruh nyata terhadap kadar karbohidrat, rendemen beras, persentase beras kepala, dan persentase beras patah, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air. Secara deskriptif, seluruh perlakuan menghasilkan beras dengan warna normal dan bebas dari benda asing. Penggunaan mesin pengering tipe Vertical Dryer menghasilkan kualitas beras terbaik dengan kadar karbohidrat sebesar 78,39%, rendemen beras 66,33%, persentase beras kepala 82,22%, serta persentase beras patah terendah sebesar 17,78%. Seluruh perlakuan menghasilkan kadar air yang memenuhi persyaratan SNI 6128:2020, yaitu kurang dari 14%. Dengan demikian, penggunaan mesin pengering tipe Vertical Dryer merupakan metode pengeringan yang paling efektif dalam meningkatkan kualitas fisik dan kimia beras dibandingkan pengeringan menggunakan sinar matahari maupun kering angin.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Sargassum sp. merupakan salah satu rumput laut cokelat yang banyak ditemukan di perairan Indonesia dan mengandung senyawa penting berupa alginat. Alginat merupakan polisakarida alami yang banyak digunakan dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi Na₂CO₃ terhadap rendemen dan karakteristik natrium alginat yang diekstraksi dari rumput laut cokelat Sargassum sp. Alginat sebagai polisakarida yang banyak digunakan dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Metode penelitian menggunakan ekstraksi asam dengan variasi konsentrasi Na₂CO₃ sebesar 2%, 4%, dan 6%. Parameter yang dianalisis meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi Na₂CO₃ 4% menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 52,53%, kadar air 7,33%, kadar abu 58,33%, dan pH 7,28. Kadar air dan pH seluruh perlakuan memenuhi standar Food Chemical Codex (FCC), sedangkan kadar abu belum memenuhi standar. Konsentrasi Na₂CO₃ 4% merupakan perlakuan terbaik dalam menghasilkan natrium alginat dari Sargassum sp. dengan karakteristik yang relatif optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman Nipah (Nypa fruticans) adalah mangrove dari keluarga palem, dan pelepahnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber selulosa. α-selulosa merupakan adalah fraksi selulosa bermassa molekul tinggi yang tidak larut dalam NaOH 17,5% dan dianggap sebagai selulosa berkualitas tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh konsentrasi NaOH terhadap karakteristik α-selulosa dari delignifikasi pelepah nipah (Nypa fruticans) melalui pengujian rendemen dan kadar α-selulosa. Metode penelitian ini ada tiga tahapan yakni tahapan pertama preparasi sampel, tahap kedua delignifikasi sampel, tahap ketiga adalah analisis α-selulosa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai rendemen α-selulosa hasil dari delignifikasi pelepah nipah (Nypa fruticans) (Sig. > 0,05). Perlakuan terbaik adalah konsentrasi NaOH 10% dengan nilai rendemen sebesar 18,27% ± 0,01% dan kadar α-selulosa sebesar 81,58% ± 3,07%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pakan merupakan sumber nutrisi yang penting bagi biota akuatik. Salah satu permasalahan pakan yang dihadapi adalah mudah terdegradasi karena faktor lingkungan. Kerusakan ini berpengaruh terhadap kualitas nutrisi pakan. Solusi terhadap permasalahan tersebut adalah teknologi enkapsulasi. Keunggulan enkapsulasi adalah terdapat lapisan dinding polimer sehingga nutrisi pakan didalam dapat terjaga dan bertahan dalam waktu lama. Enkapsulasi dibuat dengan metode koaservasi dan dikeringkan untuk membuat pakan memadat. Tujuan penelitian untuk menguji karakteristik kualitas fisik dan kimia pakan terenkapsulasi dengan variasi waktu pengeringan. Penelitian dilakukan di Laboratorium nutisi pakan Fakultas perikanan dan Ilmu Kelautan dan Laboratorium LSIH Universitas Borneo Tarakan. Penelitian terdiri dari perlakuan waktu pengeringan yaitu 5, 10, 15 dan 20 jam. Parameter pengukuran yaitu stabilitas air, kadar air, abu, rendemen, protein, karbohidrat dan lemak secara duplo. Analisis data secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas air yang sesuai dengan SNI yaitu perlakuan 10, 15 dan 20 jam minimal 85 menit. Kadar air semua perlakuan sesuai SNI maksimal 12%. Kadar abu yang sesuai SNI (maksimal 13%) yaitu perlakuan 5 dan 10 jam sebesar 13 %. Rendemen yang tertinggi yaitu perlakuan 5 jam sebesar 51,31%. Kadar protein semua perlakuan sesuai SNI (maksimal 35%) dengan kadar protein tertinggi pada perlakuan 10 jam sebesar 36,8%. Kadar karbohidrat semua perlakuan sesuai dengan standar pakan yaitu 10-50%. Kadar lemak yang sesuai SNI (minimal 5%) yaitu perlakuan 10 jam sebesar 5,5% dan perlakuan 15 jam sebesar 5%. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan lama pengeringan mempengaruhi kualitas karakteristik pakan, dengan perlakuan terbaik dari semua parameter adalah pengeringan pakan 10 jam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Ikan bulan-bulan (Megalops sp) merupakan jenis ikan hasil tangkapan sampingan (HTS). Umumnya, daging ikan ini diolah menjadi berbagai macam produk diversifikasi, tetapi limbah hasil samping olahan tidak dimanfaatkan. Padahal, limbah ikan bulan- bulan memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis, seperti minyak ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Magnesol XL terbaik pada proses bleaching minyak ikan dan menganalisis karakteristik kimia minyak ikan bulan-bulan yang dihasilkan, seperti nilai rendemen, nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu ekstraksi jeroan ikan bulan-bulan secara dry rendering pada suhu 60oC selama 1 jam dan pemurnian minyak ikan melalui proses bleaching dengan penambahan adsorben Magnesol XL 1%, 3% dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan Magnesol XL terbaik pada konsentrasi 5%. Nilai rendemen minyak ikan bulan-bulan sebesar 72%. Karakteristik minyak ikan yang diperoleh, yaitu nilai asam lemak bebas 0,41%, nilai peroksida sebesar 3 mEq/kg, dan asam lemak dominan yaitu asam palmitat 32,20%. Kesimpulan penelitian ini adalah minyak ikan yang diberi adsorben Magnesol XL pada konsentrasi 5% memenuhi International Fish Oil Standard/IFOS (FFA: ≤ 1,50% dan PV: ≤ 5,00 mEq/kg).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kota Tarakan sebagai kawasan pesisir memiliki potensi hutan mangrove/bakau yang tinggi. Tepung buah nipah memiliki potensi sebagai bahan pengolahan pangan yang bergizi. Salah satu produk pangan yang dapat diolah dari tepung buah nipah adalah brownies. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai rendemen, menganalisis kandungan dan daya terima produk brownies yang diformulasi tepung buah nipah. Formulasi pada pembuatan brownies campuran tepung terigu dan tepung buah nipah terdiri dari P1= 100g:0g, P2 = 90g:10g, P3= 80g:20g, P4= 70g:30g, P5= 60g:40g. Parameter utama adalah uji hedonik dan dianalisis menggunakan ANOVA. Selanjutnya, Formulasi diuji analisis proksimat (kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein dan kadar karnohidrat). Hasil penelitian dengan menggunakan ANOVA formulasi terpilih adalah formulasi pada perlakuan P2 = (90g:10g), rendemen sebesar 28%, kadar air 23 %, kadar abu 2 %, kadar lemak 29,60 %, kadar protein 17,36 % dan kadar karbohidrat 28,04 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nata merupakan hasil proses fermentasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum yang dapat mengubah karbohidrat menjadi selulosa. Karbohidrat dibutuhkan oleh Acetobacter xylinum untuk berkembang dengan baik hingga menjadi nata. Kulit nanas, kulit pisang dan air kelapa memiliki kandungan karbohidrat yang cukup memadai dalam pembuatan nata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh terhadap ketebalan nata, rendemen nata, kadar air dan vitamin C, untuk mengetahui perlakuan mana yang menunjukkan hasil paling optimum terhadap karakteristik nata. Pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompk (RAK) dengan (3) perlakuan yaitu P1 ( kulit nanas), P2 (kulit pisang) dan P3 (air kelapa) dengan sembilan (9) pengulangan sehingga terdapat 27 satuan uni percobaan. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif yaitu ketebalan nata, rendemen nata, kadar air dan kadar vitamin C, sedangkan kualitatif meliputi hasil uji organoleptik terhadap rasa, aroma, warna dan tekstur berdasarkan tingkat kesukaan 20 panelis terhadap nata Yang dihasilkan, Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan ketebalan nata Yang memiliki nilai paling tinggi adalah P3 (air kelapa) sebesar 0,98 cm, rendemen nata Yang memiliki nilai paling tinggi adalah P3 ( air kelapa) sebesar 72,44%, kadar air yang paling tinggi adalah P2 (kulit pisang) sebesar 98,72 dan vitamin C yang memiliki nilai tertinggi yaitu P1 (kulit nanas) sebesar 13,11. Sedangkan nata dengan hasil uji organoleptik paling baik yaitu pada aspek aroma, warna dan tekstur namun kurang disukai pada aspek rasa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan bulan – bulan (Megalops sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang hidup di perairan pantai dan muara sungai. Di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, daging ikan bulan – bulan banyak dikomsumsi oleh masyarakat, tetapi bagian jeroan ikan tidak termanfaatkan. Salah satu upaya untuk memanfaatkan jeroan ikan bulan – bulan agar tidak menajdi limbah, maka dibuatlah produk minyak ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan rendemen tertinggi minyak ikan yang diekstrak secara dry rendering, dan mengkaji karakteristik minyak ikan bulan – bulan berupa rendemen, nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/ peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam pembuatan minyak ikan bulan – bulan (Megalops sp.) yaitu ekstraksi secara dry rendering pada suhu 40oC, 50oC dan 60oC selama 1 jam. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, selanjutnya diolah secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar lemak jeroan ikan bulan – bulan sebesar 17,8%. Rendemen minyak jeroan ikan bulan – bulan (megalops sp) yang tertinggi yaitu suhu 60oC sebesar 20,34%. Nilai asam lemak bebas/free faty acid (FFA) terendah yaitu pada perlakuan suhu 60oC sebesar 0,68%. Nilai peroksida/peroxide value (PV) yang terendah yaitu suhu 40oC sebesar 0,44%. Profil asam lemak minyak jeroan ikan bulan – bulan (megalops sp) diperoleh kandungan asam lemak jenuh/Saturated Fatty Acid (SFA) sebesar 49,6%, asam lemak tak jenuh tunggal/Monounsaturated Fatty Acids (MUFA) sebesar 32,97%, dan asam lemak tak jenuh ganda/Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA) sebesar 17,39%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rumput gajah merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung banyak nutrisi namun karena ukurannya yang sangat besar menyebabkan kambing ternak sulit untuk mengkonsumsinya. Universitas Borneo Tarakan telah membuat mesin pencacah rumput untuk membuat rumput gajah bisa dikonsumsi oleh kambing ternak. Namun perlu dianalisis terlebih dahulu kinerja serta nilai ekonomis mesin pencacah sebelum digunakan oleh masyarakat nantinya. Oleh karena itu, tujuan daripada penelitian ini adalah menguji kinerja dan menganalisis nilai ekonomis mesin pencacah rumput. Metode yang digunakan adalah pengujian serta analisis data yang dilaksanakan di peternakan pak roswan. Penelitian dilakukan dalam 3 kali percobaan dengan spesifikasi motor bensin daya 6,5 HP dan 3000 RPM. Nilai torsi yang didapatkan adalah 11,3 Nm. Nilai rata-rata kapasitas mesin pencacah rumput adalah 68,2 kg/jam. Persentase nilai rata-rata rendemen mesin pencacah rumput adalah 84,6%. Analisis nilai ekonomis produksi dari mesin pencacah rumput adalah Rp. 5.316.300. Mesin pencacah rumput skala rumah tangga dapat beroperasi dengan kapasitas diatas 50 kg/jam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kota Tarakan merupakan salah satu Kota di Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar diantaranya rumput laut dan buah pedada. Rumput laut dan buah pedada memiliki potensi sebagai bahan baku pengolahan produk pangan yang bergizi. Salah satu produk pangan yang dapat diolah dari rumput laut dan buah pedada adalah selai. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan karakteristik selai dari formulasi campuran rumput laut (Eucheuma cottoni) dan buah pedada (Sonneratia caseolaris). Formulasi pada pembuatan selai campuran rumput laut dan buah pedada terdiri dari P1=100:0g, P2=90:10g, P3=80:20g, P4=70:30g, P5=60:40g, dan P6=50:50g. Parameter utama adalah sensori dan dianalisis menggunakan Kruskal Wallis. Metode Indeks Efektivitas digunakan untuk menentukan formulasi terbaik. Selanjutnya, formulasi terbaik diuji rendemen, kadar serat pangan dan vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata pada atribut warna, rasa, dan aroma antara formulasi (sig>0,05), kecuali pada atribut tekstur yang memberikan pengaruh nyata (sig0,05). Berdasarkan uji indeks efektivitas, formulasi terbaik adalah selai campuran rumput laut dan buah pedada pada perlakuan P2 (90:10) dengan karakteristik sensori disukai dengan rata-rata skor sebesar 7,32, rendemen sebesar 86±2,82%, serat pangan sebesar 5,31±0,09%, dan vitamin C sebesar 21,8±10,6mg/100g
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selai lembaran merupakan pengembangan produk dari selai oles yang memiliki tekstur kompak dan tidak lengket sehingga praktis untuk disajikan. Selai lembaran dapat diproduksi dari rumput laut dan buah pedada karena kedua bahan tersebut dapat membentuk struktur gel pada selai serta mengandung gizi yang baik untuk kesehatan seperti serat dan vitamin C. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan karakteristik produk selai lembaran yang diproduksi dari rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan buah pedada (Sonneratia caseolaris). Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu preparasi, produksi, dan pengujian sampel. Data uji sensori dianalisis dengan Kruskal Wallis. Perlakuan terbaik berdasarkan uji sensori ditentukan dengan metode Indeks Efektivitas, dan selanjutnya diuji rendemen, kadar serat kasar dan vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata antar perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap atribut sensori warna, aroma, rasa, dan tekstur pada selai lembaran rumput laut dan buah pedada (sig > 0,05). Berdasarkan uji Indeks Efektivitas, perlakuan terbaik adalah selai lembaran dengan perbandingan rumput laut dan buah pedada sebesar 70:30 (D), dengan karakteristik sensori yang disukai dengan rata-rata skor sebesar 7,35, rendemen sebesar 60%, serat kasar sebesar 7,08% dan vitamin C sebesar 8,8 mg/100g.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Derawan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya, salah satunya adalah teripang. Teripang mengandung komponen bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, dan saponin yang bermanfaat untuk respon metabolisme tubuh, dan senyawa yang terdapat dalam teripang telah terbukti secara ilmiah memiliki sifat antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan rendemen ekstrak teripang, menganalisis aktivitas antioksidan, dan membandingkan komponen bioaktif dan toksisitas menggunakan pelarut metanol, etil asetat, n-heksana. Metode penelitian ini menggunakan proses ekstraksi dengan maserasi bertingkat pelarut metanol, etil asetat, dan n-heksana. Uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dengan analisis Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dilanjutkan uji lanjut duncan. Analisis komponen bioaktif menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Uji Toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Tets (BSLT). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rendemen ekstrak pasta teripang pada pelarut metanol sebesar 2,43%, etil asetat sebesar 0,66% dan n-heksana sebesar 0,47%. Aktivitas antioksidan ekstrak teripang menunjukkan ekstrak metanol sangat kuat (IC50 20,62 µg/mL), ekstrak etil asetat kuat (IC50 60,71 µg/mL), dan ekstrak n-heksana lemah (IC50 162,92 µg/mL). Hal ini didukung oleh komponen bioaktif yang terkandung pada ekstrak teripang yakni pada alkaloid, steroid, flavonoid, dan saponin. Uji Toksisitas mendapatkan nilai LC50 yaitu ekstrak metanol 109,63 µg/mL, ekstrak etil asetat 197,44 µg/mL, dan ekstrak n-heksana 499,22 µg/mL dikategorikan toksik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Ikan manyung (Arius sp.) merupakan salah satu ikan demersal yang hidup di Perairan laut dan estuari. Di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, daging ikan manyung banyak dikonsumsi oleh masyarakat, tetapi bagian hati tidak termanfaatkan. Salah satu upaya untuk memanfaatkan hati ikan manyung agar tidak menjadi limbah, maka dibuatlah produk minyak ikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui rendemen minyak ikan manyung (Arius sp.), serta mengkaji karakteristik kimianya, berupa nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam pembuatan minyak ikan manyung (Arius sp.) yaitu ekstraksi secara dry rendering dan wet rendering pada suhu 80°C selama 2 jam. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, selanjutnya diolah secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen minyak ikan manyung (Arius sp.) pada perlakuan dry rendering yaitu 14,25%, sedangkan pada perlakuan wet rendering sebesar 87,01%. Nilai kadar lemak hati ikan manyung sebesar 3,60%. Nilai asam lemak bebas/free faty acid (FFA) pada perlakuan wet rendering dan dry rendering secara berturut-turut yaitu 2,85%, dan 14,60%. Nilai peroksida pada perlakuan wet rendering sebesar 3,46 mEq/kg, sedangkan perlakuan dry rendering yaitu 7,73 mEq/kg. Profil asam lemak minyak ikan manyung (Arius sp.) pada ekstraksi wet rendering tidak terdeteksi, sedangkan pada dry rendering diperoleh kandungan SFA sebesar 0,0344%, MUFA sebesar 0,0220%, dan PUFA sebesar 0,1838%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hati ikan manyung dapat diproduksi menjadi minyak ikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Limbah cangkang kepiting bakau hasil budidaya kepiting soka yang menumpuk mengakibatkan pencemaran lingkungan. Salah satu cara tepat guna dalam penanganan limbah adalah mengolah cangkang kepiting bakau menjadi kitosan. Penelitian terkait modifikasi pada tahap demineralisasi perlu dilakukan karena kepiting bakau mengandung mineral yang sangat tinggi sehingga akan mempengaruhi karakteristik mutu kitosan yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan karakteristik mutu kitosan dari limbah cangkang kepiting bakau (Scylla sp) pada perlakuan tahap demineralisasi yang berbeda melalui analisis rendemen, kadar air, kadar abu, nitrogen total, Fourier Transform InfraRed (FTIR) dan derajat deasetilasi (DD). Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menujukkan nilai rendemen kitosan a(1:10) 29,69% lebih tinggi dari pada kitosan b(1:15) 4.66%. Nilai kadar air, abu, nitrogen total kitosan a(0,30%, 1,08%, 1,68%) lebih tinggi dari kitosan b(0,14%, 0,98%, 1,43%), namun keduanya sesuai dengan standar Protan Laboratory 1987, EFSA 2010, dan SNI No. 7949-2013. Hasil FTIR mengkonfirmasi kitosan standar dan kitosan hasil penelitian menunjukkan range serapan yang dekat sehingga tidak terlihat perbedaan signifikan. Derajat deasetilasi pada kitosan a(47%) belum memenuhi standar, sedangkan kitosan b(76%) sesuai dengan standar Protan Laboratory 1987 dan SNI No. 7949-2013 (≥76%) namun belum memenuhi standar EFSA 2010. Perlakuan demineralisasi yang berbeda berpengaruh terhadap karakteristik mutu kitosan cangkang kepiting bakau yang dihasilkan.