BookOpen AccessMetadata saja
2026•
Penggunaan plastik sintetis sebagai pengemas makanan, termasuk bumbu, telah menjadi masalah lingkungan yang serius karena sifatnya yang sulit terurai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik edible film berbahan dasar semi refined carrageenan (SRC) dari rumput laut Kappaphycus alvarezii yang diaplikasikan sebagai pengemas bumbu. Metode penelitian meliputi pembuatan tepung SRC dengan ekstraksi KOH 8%, dilanjutkan pembuatan edible film dengan variasi konsentrasi gliserol (0%; 0,1%; 0,3%; dan 0,5%) serta penambahan asam malat 0,3%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakteristik fisik edible film dipengaruhi secara signifikan oleh konsentrasi gliserol. Nilai kuat tarik tertinggi diperoleh pada konsentrasi gliserol 0,0% sebesar 43,7 MPa, sedangkan nilai terendah pada konsentrasi 0,5% sebesar 29,2 MPa. Seluruh sampel telah memenuhi standar Japanese Industrial Standard (JIS) untuk kuat tarik (minimal 0,39 MPa) dan ketebalan (maksimal 0,25 mm). Ketebalan film berkisar antara 0,023 mm hingga 0,036 mm, yang cenderung meningkat seiring bertambahnya konsentrasi gliserol. Nilai perpanjangan (elongasi) mengalami peningkatan dengan bertambahnya gliserol, mencapai nilai tertinggi 46,29% pada konsentrasi 0,5%, meskipun hasil ini belum mencapai standar minimal JIS sebesar 70%. Kelarutan film menunjukkan nilai terendah pada konsentrasi gliserol 0,3% yaitu sebesar 26,7%. Secara keseluruhan, edible film berbahan dasar SRC berpotensi sebagai alternatif pengemas bumbu yang ramah lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan plastik sintetis sebagai pengemas makanan, termasuk bumbu, telah menjadi masalah lingkungan yang serius karena sifatnya yang sulit terurai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik edible film berbahan dasar semi refined carrageenan (SRC) dari rumput laut Kappaphycus alvarezii yang diaplikasikan sebagai pengemas bumbu. Metode penelitian meliputi pembuatan tepung SRC dengan ekstraksi KOH 8%, dilanjutkan pembuatan edible film dengan variasi konsentrasi gliserol (0%; 0,1%; 0,3%; dan 0,5%) serta penambahan asam malat 0,3%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakteristik fisik edible film dipengaruhi secara signifikan oleh konsentrasi gliserol. Nilai kuat tarik tertinggi diperoleh pada konsentrasi gliserol 0,0% sebesar 43,7 MPa, sedangkan nilai terendah pada konsentrasi 0,5% sebesar 29,2 MPa. Seluruh sampel telah memenuhi standar Japanese Industrial Standard (JIS) untuk kuat tarik (minimal 0,39 MPa) dan ketebalan (maksimal 0,25 mm). Ketebalan film berkisar antara 0,023 mm hingga 0,036 mm, yang cenderung meningkat seiring bertambahnya konsentrasi gliserol. Nilai perpanjangan (elongasi) mengalami peningkatan dengan bertambahnya gliserol, mencapai nilai tertinggi 46,29% pada konsentrasi 0,5%, meskipun hasil ini belum mencapai standar minimal JIS sebesar 70%. Kelarutan film menunjukkan nilai terendah pada konsentrasi gliserol 0,3% yaitu sebesar 26,7%. Secara keseluruhan, edible film berbahan dasar SRC berpotensi sebagai alternatif pengemas bumbu yang ramah lingkungan.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•
Selai lembaran merupakan pengembangan produk dari selai oles yang memiliki tekstur kompak dan tidak lengket sehingga praktis untuk disajikan. Selai lembaran dapat diproduksi dari rumput laut dan buah pedada karena kedua bahan tersebut dapat membentuk struktur gel pada selai serta mengandung gizi yang baik untuk kesehatan seperti serat dan vitamin C. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan karakteristik produk selai lembaran yang diproduksi dari rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan buah pedada (Sonneratia caseolaris). Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu preparasi, produksi, dan pengujian sampel. Data uji sensori dianalisis dengan Kruskal Wallis. Perlakuan terbaik berdasarkan uji sensori ditentukan dengan metode Indeks Efektivitas, dan selanjutnya diuji rendemen, kadar serat kasar dan vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata antar perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap atribut sensori warna, aroma, rasa, dan tekstur pada selai lembaran rumput laut dan buah pedada (sig > 0,05). Berdasarkan uji Indeks Efektivitas, perlakuan terbaik adalah selai lembaran dengan perbandingan rumput laut dan buah pedada sebesar 70:30 (D), dengan karakteristik sensori yang disukai dengan rata-rata skor sebesar 7,35, rendemen sebesar 60%, serat kasar sebesar 7,08% dan vitamin C sebesar 8,8 mg/100g.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selai lembaran merupakan pengembangan produk dari selai oles yang memiliki tekstur kompak dan tidak lengket sehingga praktis untuk disajikan. Selai lembaran dapat diproduksi dari rumput laut dan buah pedada karena kedua bahan tersebut dapat membentuk struktur gel pada selai serta mengandung gizi yang baik untuk kesehatan seperti serat dan vitamin C. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan karakteristik produk selai lembaran yang diproduksi dari rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan buah pedada (Sonneratia caseolaris). Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu preparasi, produksi, dan pengujian sampel. Data uji sensori dianalisis dengan Kruskal Wallis. Perlakuan terbaik berdasarkan uji sensori ditentukan dengan metode Indeks Efektivitas, dan selanjutnya diuji rendemen, kadar serat kasar dan vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata antar perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap atribut sensori warna, aroma, rasa, dan tekstur pada selai lembaran rumput laut dan buah pedada (sig > 0,05). Berdasarkan uji Indeks Efektivitas, perlakuan terbaik adalah selai lembaran dengan perbandingan rumput laut dan buah pedada sebesar 70:30 (D), dengan karakteristik sensori yang disukai dengan rata-rata skor sebesar 7,35, rendemen sebesar 60%, serat kasar sebesar 7,08% dan vitamin C sebesar 8,8 mg/100g.